Ada cinta yang tumbuh… bukan untuk dimiliki sepenuhnya, tapi untuk bertahan di hati yang sudah retak.
~ Zahra ~
Zahra menikahi Adnan, seorang duda yang kehilangan istrinya karena maut lebih dulu memanggil. Ia tahu, sejak awal, bahwa ia bukan cinta pertama. Ia hanya perempuan yang datang setelah sebuah kisah agung berakhir. Namun Zahra tetap memilih bertahan, menanam kasih di tanah hati yang sebagian masih ditumbuhi bayang-bayang masa lalu.
Setiap sudut rumah menyimpan kenangan yang bukan tentang dirinya dan Adnan.
Lalu sampai kapan sebuah hati sanggup bersabar?
Sampai kapan cinta bisa hidup tanpa benar-benar dimiliki?
Di antara kesetiaan, keikhlasan, dan luka yang tak pernah benar-benar sembuh… Zahra harus memilih: tetap berusaha mencintai, atau pergi menyelamatkan dirinya sendiri.
Sebab terkadang…
yang paling menyakitkan bukan tidak dicintai,
melainkan dicintai setengah hati oleh seseorang yang masih hidup di masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon picisan imut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Usaha Adnan
Tidak mudah untuk Zahra melupakan masa-masa ketidaknyamanannya selama di rumah suaminya. Wajar saja. Meskipun semula ia baik-baik saja. Atau lebih tepatnya, di paksa baik-baik saja demi anak. Tapi sekarang, ia rasa sudah tidak ada gunanya lagi bertahan. Tapi entah kenapa, seakan ada getir yang membuatnya tak bisa pergi. Berbanding dengan trauma yang membuatnya takut untuk melangkah bersamanya.
Semua kalimat yang terucap sebagai permohonan maaf dari Adnan serasa omong kosong. Zahra masih merasa itu hanya kepura-puraan. Atau iba sesaat yang kelak akan kembali lagi. Karena karakter seseorang, sepertinya akan sangat mustahil bisa berubah hanya dengan hitungan jam. Terlebih ia ingat, sebegitu mencintainya dia terhadap sang istri pertama. Membuatnya tak yakin bisa meraih hatinya secara utuh.
Ia mendorong tubuh yang masih merengkuhnya. Lalu menghapus jejak air mata yang membasahi pipi. Sementara Adnan terus menatapnya saat dimana Zahra justru memilih untuk memalingkan wajah.
"Tolong. Aku mau sendirian..." pinta Zahra. "Lagi pula, aku sudah meragukan hubungan kita."
Adnan ingat soal berkas perceraian yang sudah ia siapkan. Yang dimana itu artinya telah jatuh talak karena Adnan berniat menceraikan istrinya dengan sadar.
"Za, aku mungkin masih awam. Tapi aku selalu berusaha patuh pada aturan agama, apabila benar kita sudah tak lagi sah di mata Tuhan. Saat ini, Aku ingin merujuk kamu kembali menjadi istri aku yang sah di mata agama. Wallahi. Ku ucapkan ini dengan kesadaran penuh. Tulus, dan ikhlas. Aku mau, Kita mulai semua dari awal lagi? Menjalani rumah tangga yang sesungguhnya. Aku janji, tidak akan lagi memperlakukanmu sama seperti sebelumnya."
"Bagaimana dengan istrimu terdahulu? Apakah kamu bisa mengikhlaskan tempatnya untukku?"
Adnan bergeming saat Ia membalasnya dengan pertanyaan yang justru membuatnya tidak bisa menjawab. Dan, ya... Zahra tahu. Adnan memang tidak akan bisa di paksa untuk bisa mencintainya secara utuh. Dan ia yakin, ini hanya alasan saja untuk tujuan lain. Ia terpaksa mendekatinya demi orang tuanya.
"Aku nggak mau kasih kamu pilihan, Kak. Karena urusan hatimu, bukan wewenang ku untuk memaksa dicintai. Jadi? mari akhiri semuanya."
"Za?"
"Pulangin aku, Kak..." potong Zahra. Wanita itu kembali menoleh kearah Adnan dengan air mata menetes secara bersamaan. "Jujur, aku lebih bahagia di pandang sebagai perawan tua oleh semua orang seperti sebelumnya. Ketimbang berstatus istri, tapi aku tidak di perlakukan layaknya status itu. Setidaknya, aku akan baik-baik saja meskipun harus menjadi janda."
Adnan meraih tangan Zahra yang secepat itu pula di tolak.
"Kamu bisa percaya aku kali ini, Za."
Zahra menggeleng, dan memilih untuk merebahkan tubuhnya. Karena di rasa, perbincangan ini terasa sangat memuakan.
Pria di hadapanya tak bergerak. Ia memilih stay di tempatnya meskipun Zahra memintanya keluar berkali-kali. Adnan justru hanya pindah ke sofa, dan memantaunya tanpa memejamkan mata sekalipun. Zahra pun tak peduli, ia merebahkan tubuhnya dan kembali membelakangi Adnan.
...
Beberapa jam berikutnya, dokter telah mengkonfirmasi kepulangan Zahra. Karena kondisinya sudah cukup pulih. Umi, dan Mama mertua terlihat senang mereka mengucap syukur hampir bersamaan. Dan karena Zahra terang-terangan meminta pulang ke rumah orang tuanya. Abah dan Umi pun menurut karena Adnan juga telah mengizinkan. Meskipun Zahra merasa sedikit kesal ketika pria itu pun justru turut pulang ke rumah orang tuanya.
Si Workaholic itu turut pulang bersamanya. Meskipun ia tetap membawa laptopnya dan bekerja di sana sambil mencoba merawat istrinya.
Suatu malam, Zahra terjaga. Cahaya terang dari laptop suaminya menyorot langsung ke wajah pria itu. Adnan yang biasanya tidak peduli jika Zahra terjaga di tengah malam saat dia sedang bekerja di kamar. Kali ini berbeda, ia langsung menyimpan file-nya setelh itu menutup lapto sebelum ia letakan di nakas.
"kamu mau kemana?"
Zahra tak menjawab. Ia mengambil gelas mug yang telah kosong. Kemudia berjalan ke luar untik mengambil air. Pria itu pun sigap turun dari ranjang mendekati Zahra serta menahan istrinya untuk keluar.
"Biar aku aja."
"Nggak usah. Aku bisa sendiri..." Zahra menjawab dengan ketus. Namun pria itu bertingkah layaknya orang lain yang tak ia kenal. Mengecup keningnya setelah itu tersenyum tipis yang justru membuatnya merasa risih.
"Duduk aja. Biar aku yang keluar ambil airnya." Adnan mengambil gelas yang sudah berada di tangan Zahra. Kemudian ia keluar. Ia tidak tahu, mau sampai kapan pria itu bertahan di rumah ini. Yang jelas, ia tidak mau kembali ke istana yang penuh dengan duka.
...🍀🍀🍀...
Beberapa hari berikutnya. Zahra sudah kembali bekerja dengan normal. Tapi sikap Adnan masih sama, berusaha manis meskipun ia sudah berusaha mengabaikan perlakuan manis itu.
"Hari ini kamu bakal aku antar jemput," ucapnya saat wanita itu telah siap.
"Aku ada mobil sendiri, Kak."
"Tapi mobilmu masih di rumah kita."
Rumah kita? —Zahra mempertanyakan itu dalam hati. Apakah benar itu rumahnya? Bukankah itu rumah Adnan dan istrinya yang dulu.
"Kalau gitu aku pakai taksi aja."
"Aku bersedia nganter kamu, Za."
"Tapi aku nggak minta..."
"Aku yang mau." Adnan kekeh. "Sekarang ayo kita berangkat karena kita udah kesiangan."
"Kau mau naik taksi aja." Zahra melenggang pergi.
Adnan pun menghela nafas. Seperti inilah dia dulu memperlakukan Zahra. Tapi ia tak ingin menyerah sampai kembali mendapat kepercayaannya lagi.