Alka hanya ingin hidup sederhana, mengejar mimpi, menjaga orang-orang yang ia sayangi, dan membuktikan bahwa kerja keras bisa mengubah masa depan.
Namun tanpa ia sadari, langkahnya tak pernah benar-benar bebas. Di balik kehidupannya, ada dendam lama yang terus tumbuh, dendam dari seseorang yang seharusnya menjadi tempat pulang.
Fellisya menyimpan luka dari masa lalu. Dan tanpa disadari siapa pun, dendam yang ia pelihara perlahan merusak kehidupan orang-orang di sekitarnya, termasuk dirinya sendiri.
Hingga suatu hari, Lista ikut terseret dalam permainan yang tak pernah ia pahami. Persahabatan berubah menjadi luka, kepercayaan berubah menjadi pengkhianatan, dan mimpi-mimpi yang dulu terasa dekat… kini hancur tanpa sisa.
Karena dendam tidak pernah berhenti pada satu orang. Ia akan terus hidup, menjadi dendam yang diwariskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lautan Ungu_07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab: 30 Hari Tes
Pagi itu mobil Rian melaju pelan di jalanan. Suasana di dalam mobil terasa aneh. Sampai saat ini belum ada yang bersuara.
Rian fokus nyetir, tatapannya lurus ke depan. Lista duduk di sampingnya tapi fokus otak-atik ponsel.
Alka duduk di kursi belakang, lututnya naik turun tanpa sadar. Tangannya sesekali memgepal, lalu membuka lagi. Napasnya di atur, tapi tetap saja jantungnya tak bisa berdetak pelan.
Athar duduk di sampingnya, ia juga sibuk dengan ponselnya. Sesekali natap Alka sebentar.
"Bentar lagi gue masuk parkiran," kata Rian, melihat Alka dari kaca depan.
Alka menelan ludah. "Bang..." suaranya pelan.
"iya," Rian menyeritkan alis.
"Kalau gue gagal lagi--"
Athar langsung nyenggol pahanya. "Mulai. Masuk parkiran aja belum, udah mau nyiapin gagal. Fokus." omel Athar, ia memasukan ponselnya ke dalam saku.
Lista noleh ke belakang. "Lo kesini bukan buat nyari gagal, Ka." katanya pelan. "Lakuin apa yang lo mampu selama ini."
Alka mengangguk, walau wajahnya masih tegang.
Mobil itu kini masuk ke parkiran. Gedung Vantis Entertainment menjulang tinggi, kokoh. Kaca-kaca besar memantulkan cahaya pagi menjelang siang.
Mereka turun dari dalam mobil, melangkah masuk. Begitu masuk ke dalam ruangan, suasana langsung berubah.
Ruang tunggu dipenuhi beberapa peserta lain. Ada yang stretching, ada yang pakai headset, ada yang mondar mandir kecil sambil hafalin gerakan.
Alka langsung duduk, tangannya dingin.
Lista berdiri di depannya. "Ka," panggilnya.
Alka mendongak, keningnya mengerut. "Apa?"
Lista mencondongkan badan sedikit. "Masuk sana. Tapi keluar nanti, lo harus tetep jadi Alka yang gue kenal."
"Dan Alka yang gue kenal tuh keras kepala. Jadi jangan setengah-setengah." Athar ikut nimbrung.
Rian duduk di samping Alka, nepuk bahu Alka sekali lagi. "Gue tunggu di sini."
Alka berdiri, tapi matanya masih terus menatap ke arah pintu.
"Ta," katanya pelan.
"Hm?"
"Cakra sama Liona datang nggak ya?" tanyanya.
"Mereka masih ada kelas, nanti bakal kesini kok," jawab Lista.
"Udah jangan mikirin yang lain. Mereka pasti nyusul. Udah sana masuk." celeteuk Athar yang duduk di sebelah Rian.
Alka menarik napas dalam. "Oke. Do'ain gue ya!" katanya, sebelum ia benar-benar masuk ke ruang tes.
Di ruangan, suasana hening. Tiga juri duduk di depan meja panjang. Lampu terang. Lantai bersih, licin.
"Keandra, silahkan mulai."
Alka ngangguk. Berdiri tegap di tengah-tengah.
Musik kini di putar. Begitu beat pertama masuk, tubuh Alka bergerak otomatis.
Setiap hentakannya mantap. Putaran tajam. Lompatan bersih. Setiap gerakan keluar tanpa ragu, seolah ruangan itu adalah miliknya.
Salah satu juri saling pandang. Yang lain condong ke depan.
Gerakan Alka semakin intens. Napasnya teratur. Tatapannya fokus, nggak ada keraguan.
Sementara di luar, pintu lift kini terbuka. Liona dan Cakra keluar bersamaan, napas mereka masih terengah.
"Kita telat?" tanya Cakra cepat.
Lista langsung berdiri. "Baru aja masuk."
Liona berdiri di samping Lista, tangannya menggenggam tali tas. Matanya menatap ke pintu ruangan audisi.
Setelah menunggu cukup lama, pintu itu kini terbuka.
Alka keluar, tatapannya langsung jatuh ke Liona. Ia berlari kecil menghampiri, senyumnya lebar.
"Lioo," panggilnya.
"Iyaa," jawab Liona yang langsung berdiri.
Alka berdiri di depannya, napasnya masih berat. Tapi wajahnya penuh senyum. "Gue lakuin semuanya."
Cakra menatap dari samping. Lista tersenyum kecil. Athar mendengus pelan.
Liona nggak langsung jawab. Tapi senyum nya muncul pelan, hangat.
"Gue bangga sama lo," katanya pelan.
Alka ketawa kecil, masih ngos-ngosan. "Gue di akuin, Na."
Dan untuk pertama kalinya hari itu, semua yang ada di ruang tunggu itu percaya, mimpi Alka benar-benar sedang berjalan.
Hari kini telah berganti menjadi malam. Angin berhembus lembut, menggoyangkan daun-daun yang menggantung tenang di pohon.
Malam itu, ponsel Fellisya bergetar di atas meja riasnya. Satu pesan masuk dari nomor yang sudah lama ia simpan.
"[Tante, Alka sudah selesai tes audisi hari ini. Di agensi Vantis Entertainment.]"
Fellisya menatap layar cukup lama. Jarinya mengepal. Rahangnya mengeras.
"Cepet juga," gumamnya dingin.
Ia menaruh ponsel itu kembali ke atas meja dengan gerakan kasar. Perasaan kesal langsung naik ke dada.
Sementara di ruangan lain. Alka duduk berdua dengan Renata. Suasana hening tapi cukup hangat.
"Bu, kemarin aku di hubungi salah satu agensi. Hari tadi aku baru selesai tes," kata Alka cepat, wajahnya di penuhi senyum.
Renata tersenyum hangat, mengelus pelan punggung Alka. "Alhamdulillah."
Alka ngangguk cepat. "Do'ain aku ya, Bu. Semoga aja kali ini lulus."
"Iya, Ibu selalu do'ain kamu sama Lista." Renata nepuk pundak Alka pelan. "Yaudah, ini udah malam, kamu istirahat sana."
Alka langsung bangun dari duduknya. "Oke, Bu. Aku ke kamar ya," katanya, lalu pergi meninggalkan Renata yang masih duduk di ruang tengah.
Setelah kepergian Alka, kini Varel muncul dari kamar. Berjalan ke arahnya, baju kusut dan rambut berantakan.
"Gimana katanya?" tanya Varel, ia duduk di sebelah Renata.
"Udah di tes katanya, tinggal nunggu hasil akhir," jawab Renata sambil rapiin rambut Varel.
Dari arah tangga, Lista hendak turun untuk ngambil air minum. Tapi obrolan ringan Renata dan Varel menghentikannya. Lista berdiri lama di sana.
"Sampai kapan kamu sembunyi-sembunyi terus?" tanya Renata.
Varel membuang napas pelan. "Sampai urusan aku dan Felly selesai."
"Tapi mereka semakin dewasa?" Renata membenarkan posisi duduknya.
Varel lalu menatapnya. "Biarin, selagi nanti aku berani minta maaf dan nebus semuanya ke mereka. Itu nggak ada kata terlambat." suaranya lembut, sorot matanya hangat.
"Nggak mungkin aku minta maaf sekaligus ke mereka. Justru itu akan membuat mereka kaget. Jadi aku coba secara perlahan." lanjutnya sambil meraih tangan Renata.
"Semoga nanti, anak-anak bisa maafin aku. Kallista, Keandra. Suatu saat aku bakal nebus semua kasih sayang aku, yang belum mereka dapatkan dengan layak."
Senyum Renata semakin lebar. Ini yang selalu ia harapkan dari Varel. Bisa berdiri melindungi anak-anak, walaupun ada di belakang mereka.
Di atas tangga sana, bibir Lista juga ikut tersenyum. Ada harapan yang sama di hatinya. Percakapan itu terlihat dari jauh, terdengar samar, tapi rasa hangatnya terasa begitu nyata.
Lista kembali melangkah naik. Ia mengurungkan niatnya untuk ngambil air minum, sampai nanti Renata dan Varel sudah pergi dari ruang tengah.
selamat jalan alka