Alexa Alvarez, seorang gadis yang tomboi, ceria, ahli bela diri, jenius tapi sangat ceroboh.
Javier Hernandez, tunangan asli Alexa yang belum pernah ditemuinya, Zaidan Hernandez, pria datar, kejam dan arrogan, Dia CEO ZH, Crops, yang juga Paman Javier, dan pria yang tidak sengaja tidur dengan Alexa.
Sampai suatu saat, Alexa salah mengenali, Zaidan sebagai tunangannya dan Javier sebagai CEO ZH, Crops.
Kisah mereka pun dimulai, antara Alexa, Zaidan dan Javier yang salah target.
Bianca, adik sepupu dari Javier, musuh dalam selimut Alexa.
Bianca orang yang hidup kembali, jadi Dia tahu cerita selanjutnya, yang selalu berusaha untuk membunuh Alexa agar bisa menjadi Nyonya besar Hernadez.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vhiy08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Pencarian Alexa
"Apa! Alexa menghilang?!" Ucap Kenzo dengan suara yang meninggi.
"Bagaimana bisa?" Lanjutnya lagi dengan wajah yang sudah memerah.
Suasana mendadak menjadi mencekam, karena kemarahan Kenzo yang tidak dapat Dia bendung lagi.
Satu set meja dan kursi santai telah hancur berkeping-keping karena menjadi pelampiasannya.
#####
5 jam sebelum penculikan Alexa terjadi.
"Tuan muda... Anda diminta Tuan besar untuk kembali ke mansion lama." Ucap Antony, kepala Pelayan sekaligus asisten pribadi Darren.
"Aku sedang sibuk," Ucap Kenzo sambil memeriksa berkas dengan datar, dan terus saja melanjutkan pekerjaannya tanpa menghiraukan kehadiran Antony.
"Maaf Tuan muda, Anda diminta kembali oleh Tuan Darren, saat ini beliau sedang dirawat dirumah sakit khusus keluarga, dan ada yang ingin beliau sampaikan pada Anda, ini sangat penting," Ucap Antony sopan dan dengan sabar menjelaskan tujuan kedatangannya.
"Baiklah..." Sahut Kenzo setelah terdiam beberapa saat, sambil menghentikan kegiatan nya saat ini.
"Aland... Perintahkan pada keempat bocah itu, untuk datang sekarang juga untuk menjaga Alexa," Perintah Kenzo sambil mengibaskan tangannya.
Beberapa saat kemudian.
"Ada apa kak?" Tanya Zio dengan nafas yang masih tampak terengah-engah.
"Jaga Alexa untuk satu hari ini," Ucap Kenzo dengan serius saat keempat Tuan muda itu telah duduk di sofa dihadapannya.
"Saat ini aku ada urusan yang harus diselesaikan, segera setelah urusanku selesai aku akan cepat kembali lagi." Ucap Kenzo dengn suara yang enggan.
"Baik kak... Serahkan saja pada kami, kami pasti akan menjaga dan merawat kak Lexa dengan semua kemampuan kami." Ucap Han menyakinkan sambil menepuk dadanya.
Lalu Kenzo bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri bangsal tempat Alexa berada saat ini.
Alexa baru saja disuntik obat penenang, agar dirinya bisa kembali beristirahat. Setelah lewati serangkaian pemeriksaan akhir, barulah Alexa diperbolehkan pulang kembali.
Alexa seharusnya disarankan untuk menjalani pengobatan konsultasi di Psikiater, agar traumanya dapat disembuhkan.
Tapi, Kenzo percaya, jika dengan kasih sayang dan perhatian penuh darinya Alexa pasti akan perlahan sembuh.
Kenzo berpendapat, jika hanya kasih sayang dan perhatian dari orang yang berada disekelilingnya lah yang bisa menyembuhkan trauma Alexa.
"Aku keluar sebentar, setelah urusanku selesai, aku akan segera kembali, kau tenang saja, ada Han, Zio, Zul, dan juga Axel yang akan menjagamu." Bisik Kenzo dengan tangan yang mengelus lembut wajah Alexa yang sudah mulai memerah kembali.
"Honey... Aku pergi dulu." Lanjutnya lagi sambil melabuhkan kecupan lembut di dahi Alexa.
****
"Kami sebenarnya tidak ingin menganggu Kak Kenzo, tapi tidak ada jalan lain..." Ucap Axel seolah berputus asa.
"Kami sudah berusaha sekuat kami, tapi belum juga menunjukkan hasil." Lanjut Han dengan perasaan yang bercampur aduk.
"Maaf Kak, kami telah mengecewakan kakak..." Timpal Zio dengan menundukkan kepalanya menatap lantai dengan gelisah.
"Tenanglah, aku sudah menghubungi orang-orang ku, kita hanya tinggal menunggu kabar dari mereka," Ucap Kenzo dengan menghela nafas dalam-dalam.
"Sebelum menemui kak Kenzo kami sudah meminta bantuan dari Tuan muda Javier, tapi, Nyonya Laras melarangnya untuk membantu kami," Ucap Zul penuh emosi.
""Bahkan siluman itu sampai mengancam akan bunuh diri, jika sampai Javier membantu kami menemukan Kak Lexa." Lanjut Axel dengan raut wajah yang kecewa.
"Iya, mereka mengatakan jika Bianca telah diculik juga. Dan Javier harus mencarinya terlebih dahulu." Timpal Han dengan tangan yang mengepal, suasana ruangan itu mendadak menjadi mencekam, setiap orang disana sedang mengendalikan emosi masing-masing.
"Si pengecut itu, bahkan tidak bisa mengatakan tidak pada si penyihir itu. Benar-benar mengecewakan." Cibir Han, menarik semua perhatian dari semua orang yang hadir diruangan itu.
"Brengsek!!!" Teriak Kenzo sambil kembali berdiri dengan rahang yang mengeras.
"Tuan...! Ada petunjuk yang menunjukkan dimana keberadaan Nona muda saat ini!." Teriak Aland memotong umpatan dari mulut Kenzo, lalu terlihat Aland yang berjalan dengan tergesa-gesa dan dengan cepat segera menyerahkan laptop pada Kenzo.
Setelah menerima info itu, mereka bergegas berhamburan dengan mengendari kendaraan masing-masing, menuju ketempat yang telah mereka tandai setelah berbagi titik koordinat melalui GPS. Suasana tegang tidak bisa lagi mereka kendalikan, disepanjang pengejaran itu.
####
"Gue enggak menyangka, Lo butuh waktu selama ini buat menemukan keberadaan kami... Seperti nya gue terlalu memandang tinggi Lo." Seringai Albert dari balik masker yang digunakannya.
"Tapi, Lo terlalu berani, dengan datang sendirian ketempat ini, kali ini gue enggak akan biarin Lo keluar hidup-hidup dari tempat ini." Lanjut Albert lagi, lalu mengeluarkan belati dari balik jaket yang dikenakannya, dan mengarahkannya pada Alexa yang tampak terbaring lemah didalam peti kaca yang telah terpasang berbagai tombol untuk kode.
"Lepaskan gadis itu..." Ucap Kenzo datar dengan tatapan tajam dan dinginnya. Kenzo tetap berdiri tegap dengan kedua tangannya yang berada dalam saku celana setelah mengibaskan mantel panjang yang dikenakannya.
"Hehh... Jangan anggap kami remeh, Tyan muda Hernandez, ingat ini berada di wilayah kami," Sarkas Albert sambil memberikan kode pada para bawahannya untuk keluar dan mengepung Kenzo yang tetap berdiri tegap ditempatnya tanpa bergeming sedikitpun.
Bibirnya tersenyum miring, dan sekilas dari sudut matanya, Kenzo dapat melihat para sniper yang bersembunyi dibalik gelap.
Albert menatap Kenzo dengan penuh kebencian, rasa emosi dan bencinya tidak dapat Dia bendung lagi.
"Jika, Lo ingin jalang ini selamat, maka Lo harus ngikuti semua perintah gue... Jika tidak," Ucap Albert dengan tertawa seram lalu mengarahkan ujung belatinya ke tombol berwarna biru, lalu tampak beberapa jarum besar bergerak menuju kearah kepala dan tengkuk Alexa serta dadanya.
Kenzo menatap itu dengan emosi yang memuncak, tapi, dengan sikap yang sangat tenang, Kenzo melirik kembali kearah peti itu, dan dari sudut matanya Dia dapat melihat sudut bibir Alexa yang tampak bergerak. Dari sana Kenzo mulai dapat mengendalikan dirinya kembali.
"Jatuh kan semua senjata yang Lo bawa..." Ucap Albert dengan tangan satu lagi mengeluarkan pistol dari balik pinggangnya, lalu mengarahkan moncongnya pada Kenzo
"Akan gue buat Lo menyesal karena sudah mempermalukan adek gue..." Ucap Albert tinggi dan penuh emosi.
"Selanjutnya, jika Lo ingin jalang ini selamat, maka Lo harus meminta maaf pada adek gue, dan Lo harus mau melanjutkan pertunangan dengan nya." Lanjut Albert lagi.
Sementara Kenzo hanya tersenyum sinis, tak lama kemudian seluruh tubuhnya penuh dengan titik-titik merah, dari tempatnya berdiri Kenzo dapat melihat jelas, beberapa pria yang mengenakan jas Sneli, lengkap dengan atribut Dokter lainnya.
"Aku...? Menjadi tunangan adikmu, jangan harap...! Mimpi...!!!" Ucap Kenzo datar dan sinis,
"Kau tahu betul, jika aku tidak akan pernah datang dengan tanpa persiapan, kalian pikir aku bodoh, tidak tahu dan dapat membaca trik murahan kalian ini...? Dasar pecundang..." Sahut Kenzo sambil bergerak maju dengan tegap, tanpa menghiraukan sekelilingnya.
Detik berikutnya , tampak Kenzo mengangkat tangannya lalu menggerakkan ujung jari-jarinya, seakan tengah memberi kode pada bawahannya, dan sesaat kemudian terdengar benda bergedebugan dilantai