Pertemuan pertama Alana dengan Randy terjadi secara kebetulan, dimana Alana langsung terpesona dan jatuh cinta pada pandangan pertama. Tak disangka - sangka, ternyata Randy adalah pemuda yang dijodohkan dengannya oleh nenek mereka berdua karena persahabatan. Namun saat Randy mengajak Alana berbicara empat mata, pemuda itu mengakui bahwa ia telah memiliki seorang kekasih, dan ia bersedia menikahi Alana hanya karena tak ingin mengecewakan neneknya. Pada akhirnya Alana pun terjebak dalam pernikahan yang semu, yang membuatnya harus menyembunyikan cintanya di balik kisah asmara Randy dan kekasihnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Three Flowers, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TRAUMA MASA LALU
Akhir pekan Alana dikunjungi Neneknya dan Nenek Ranita. Alana merasa senang sekali karena kedua nenek itu bisa mengusir rasa kesepiannya di rumah itu.
"Kami sengaja kemari untuk menemanimu selama Randy di luar negeri," jelas Nenek Ranita pada Alana.
"Terimakasih, Nek. Saya senang sekali Nenek pulang ke sini lagi, apalagi mengajak Nenek saya," sahut Alana dengan wajah ceria.
"Nenek juga akan sekalian kontrol ke rumah sakit, Alana," ujar Nenek Mira.
"Iya, Nek. Semoga hasilnya selalu baik. Nenek terlihat sehat dan segar," sahut Alana.
"Aku juga akan mengajari kamu mendesain pakaian, Alana. Kelak, kamu adalah penerusku bersama Randy," Nenek Ranita berkata sambil mengeluarkan gambar - gambar rancangan dari salah satu tas yang dibawanya, lalu menunjukkan pada Alana.
"Bagus sekali desainnya, Nek. Ini Nenek yang menggambar?" tanya Alana.
"Iya," sahut nenek Ranita, "Menggambar desain tidak semudah yang dibayangkan. Ini perlu proses dan pengalaman. Kamu akan sering ikut dengan Randy untuk mengikuti acara fashion show, jadi akan lebih banyak referensi mode yang kamu miliki."
Alana menundukkan wajahnya mendengar hal itu. Ia tidak ingin dekat dengan Randy lagi sejak melihat video mesranya dengan Delia. Alana ingin menjalani hari - harinya tanpa bayang - bayang Randy agar ia cepat melupakannya. Tapi itu juga tidak mungkin, seperti yang Nenek Ranita katakan, ia akan selalu terlibat dengan kegiatan bersama Randy.
"Tapi saya masih sibuk kuliah manajemen dan bisnis, Nek. Kursus bahasa saya juga akan segera dimulai." Alana mencoba mengelak.
"Kegiatan itu tidak akan terlalu menyita waktumu, nak. Paling dalam sebulan kamu hanya perlu membolos kuliah 1 atau 2 kali," jelas Nenek Ranita sambil terkekeh.
"Baiklah, Nek," ujar Alana pasrah. Itu artinya, ia juga akan bertemu dengan Delia lagi. Membayangkannya saja sudah membuatnya malas.
Akhirnya selama seminggu Alana ditemani Nenek Ranita dan Neneknya di rumah itu. Nenek Ranita mengajarkan cara menggambar desain pakaian yang baik dan cara menerapkan desain yang unik pada praktik menjahit. Kebetulan di rumah itu juga ada mesin jahit milik Nenek Ranita.
"Kamu boleh memakainya, Alana," ujar Nenek Ranita menawarkan mesin jahitnya pada Alana.
"Terimakasih, Nenek. Dengan cara apa saya membalas semua kebaikan Nenek?" tanya Alana yang merasa terharu atas semua kebaikan Neneknya Randy itu, yang selalu menganggapnya seperti cucunya sendiri.
"Tentu saja dengan cara merawat, menjaga dan mencintai cucu kesayangan Nenek dengan sebaik - baiknya Alana," sahut Nenek Ranita sambil tertawa renyah, diikuti oleh Nenek Mira dengan wajah berseri - seri.
"Baik, Nenek. Saya akan melakukannya untuk Nenek." Alana terpaksa menjawabnya begitu meski hatinya sebenarnya ingin menjauhi Randy.
"Besok Randy akan pulang. Aku sudah rindu sekali pada anak itu," ujar Nenek Ranita.
"Iya, sudah lama sekali kita tidak berjumpa dengannya. Sebulan lebih, bukan? Kasihan, ia sangat sibuk bekerja. Kamu benar - benar harus menjaga kesehatannya, Alana," pesan Nenek Mira pada Alana.
"Baik, Nek." jawab Alana.
Malam itu Alana tertidur pulas di kamarnya karena mengobrol hingga larut malam dengan kedua Neneknya. Tiba - tiba pintu kamarnya terbuka. Ternyata Randy pulang lebih cepat dari jadwal yang diperkirakan Nenek Ranita. Dengan langkah yang sangat hati - hati pemuda itu masuk ke kamar mandi dalam dan mandi dengan air hangat. Suara gemercik air dari kamar mandi dalam akhirnya membuat Alana terjaga. Dilihatnya di sofa sudah ada koper milik Randy dan jaketnya yang digantung di tiang gantungan baju. Randy sudah pulang! teriak Alana dalam hati.
TIba - tiba lampu padam. Alana terkejut tapi dengan sigap langsung mengambil ponselnya yang berada di atas laci di samping tempat tidurnya. Kemudian suasana menjadi sunyi. Tidak ada suara apa pun dari kamar mandi.
Kenapa sepi sekali? batin Alana sambil berjalan ke arah kamar mandi dengan bantuan cahaya senter dari ponselnya.
"Randy? Kamu butuh penerangan?" tanya Alana.
"Alana, tolong aku ....," akhirnya terdengar suara Randy yang bergetar dari dalam kamar mandi.
"Kamu kenapa? Gelap sekali ya, cobalah untuk membuka pintu kamar mandi," Alana menjadi khawatir.
"Pintunya tidak dikunci, ..., Alana, cepat kemari ...," ujar Randy masih dengan suaranya yang masih terdengar bergetar.
Alana menjadi ragu. Kenapa dia tidak langsung keluar saja? tanya Alana dalam hati, apakah dia sedang mengerjai aku lagi? Tapi suaranya tampak lain, seperti orang gemetaran. Akhirnya Alana membuka pintu kamar mandi itu dan mengarahkan senter ponselnya ke sekeliling ruangan kamar mandi itu untuk mencari Randy. Tidak ada! teriak Alana dalam hati dengan panik. Jantungnya berdebar kencang.
"Randy? Di mana kamu?" Alana mencoba memanggil.
"Alana ...," Randy menyahut dan Alana segera menuju ke asal suara itu yang ada di balik tirai kamar mandi. Ia membuka tirai itu dan mendapati Randy terduduk di lantai sebelah bath tub sambil memegangi kedua lututnya yang bergetar hebat. Untungnya pemuda itu telah memakai handuk mandinya, sehingga Alana berani mendekatinya.
"Randy, kamu kenapa?" Alana berlutut di hadapannya.
"Alana, aku takut gelap, hiks...," Randy terisak. Alana terkejut bukan main, bagaimana bisa seorang lelaki menangis karena takut gelap? Tapi keadaannya sepertinya tidak main - main. Alana menyentuh lengan Randy, badannya panas sekali.
"Randy, jangan takut, aku di sini," Alana memegang lengan Randy, "Lihat ini ada cahaya ...."
Belum selesai Alana bicara, Randy langsung memeluknya. Seperti seorang anak kecil memeluk ibunya, ia terisak.
"Maafkan aku, Alana, ini memalukan, tapi aku benar - benar takut ...," ujar Randy. Ia terlihat seperti bukan Randy yang dikenal Alana selama ini. Kini Alana dapat merasakan suhu tubuh Randy yang sangat tinggi.
"Randy, kamu demam tinggi sekali, seharusnya tidak boleh mandi. Ayo, aku akan menuntun kamu ke tempat tidur," Alana pun segera membantu Randy untuk berdiri. Dengan tertatih mereka berjalan keluar dari kamar mandi menuju ke tempat tidur dan Alana membantunya untuk duduk di ranjang. Tiba - tiba lampu kamar menyala lagi. Alana dapat melihat kulit wajah Randy yang kemerahan, wajahnya menunduk dan kedua matanya meneteskan air mata. Rambut dan badannya masih basah, tampak belum dikeringkan dengan sempurna. Mungkin ia buru - buru mengambil handuk untuk menutupi bagian bawah tubuhnya dan tidak sempat mengelap kepala dan tubuhnya.
"Randy, kamu merasa sakit sekali, ya? Pusing? Kenapa sampai begini?" tanya Alana bertubi - tubi saking cemasnya.
Randy tak mampu menjawab, Alana segera mengambil handuk kering untuk mengeringkan rambut, wajah dan tubuh Randy. Lalu dengan cepat ia mengambilkan pakaian dalam dan piyama untuk suaminya itu. Alana membantu Randy memakai bajunya.
"Bisakah kamu pakai celana sendiri? Aku akan membantumu berdiri dan aku akan membalikkan badanku agar kamu bisa memakainya dengan leluasa," ujar Alana sambil membantu Randy berdiri, lalu ia membalikkan badannya, membelakangi Randy.
"Pakai saja pundakku untuk pegangan,' ujar Alana lagi. Dengan susah payah akhirnya Randy berhasil memakai celananya. Alana segera membantunya lagi untuk merebahkan diri di ranjang dan menutup tubuhnya dengan selimut.
"Aku akan mengambil obat," Alana hendak berlari untuk mengambil obat anti demam, tapi tangan Randy menarik tangannya.
"Jangan tinggalkan aku sendiri, aku takut ...," ujarnya dengan suara bergetar.
"Apa??" Alana seolah tak percaya dengan apa yang didengarnya. Ini seperti bukan penyakit biasa, tapi lebih mengarah pada penyakit psikologis.
"i-itu, obatnya di situ. Aku tidak akan meninggalkan kamar ini, " Alana menunjuk ke laci meja yang berada di depan tempat tidur. Randy pun melepaskan tangannya. Alana segera mengambil obat dan air minum yang telah tersedia di kamar itu.
"Minumlah," Alana meminumkannya pada Randy, lalu mengambil kain basah untuk mengompres kening Randy.
"Apa perlu aku panggilkan dokter? Sepertinya kamu butuh dokter," tanya Alana. Randy menggeleng lemah. Ia memejamkan matanya.
Alana duduk di kursi yang didekatkan pada ranjang tempat Randy terbaring lemah tak berdaya. Ia menatap tangan Randy yang menggenggam erat tangannya. Suhunya masih panas.
Alana bingung sekali. Mau menelepon Nenek Ranita takut mengganggu tidurnya. Akhirnya ia memutuskan untuk menunggu sebentar lagi sampai suhu tubuh Randy menurun. Tanpa lelah ia memantau suhu tubuh Randy, membolak balik kain kompres di keningnya. Akhirnya ia melihat Randy sudah bisa berkeringat dan suhu tubuhnya mulai turun, menandakan obatnya telah bekerja. Alana merasa lega. Akhirnya ia tertidur sambil duduk di samping Randy.
Pagi telah tiba, Randy membuka matanya dan mendapati Alana masih tertidur pulas dengan posisi duduk di kursi dan kepala terkulai di ranjang, tepat di samping tubuhnya. Tangannya masih menggenggam tangan Alana. Perlahan dilepasnya tangan itu, membuat Alana terbangun.
"Randy, bagaimana keadaanmu?" Alana segera menyentuh kening Randy. Masih hangat.
"Aku akan panggilkan dokter, ya?" Alana buru - buru mengambil ponselnya. Untunglah sejak awal Randy telah menyuruh Alana menyimpan nomor Dokter pribadi keluarga mereka.
"Alana, maafkan aku," ujar Randy lirih. Alana menatap mata pemuda itu yang masih nampak kemerahan.
"Kenapa harus minta maaf? Kamu sedang sakit, Randy," sahut Alana.
"Aku merepotkan mu," jawab Randy.
"Jangan pikirkan itu, lebih baik kamu istirahat saja. Aku akan mengambilkan teh hangat untukmu. Tunggu sebentar," Alana beranjak keluar dari kamar itu. Di luar, ia berpapasan dengan kedua Neneknya dan menceritakan bahwa Randy telah pulang tapi dalam keadaan sakit. Kemudian kedua Nenek itu menengok Randy di kamarnya. Setelah memberikan teh hangat pada Randy, Alana memasakkan bubur ayam untuk suaminya itu dan menyuapinya.
Tak lama kemudian Dokter pribadi datang dan memeriksa Randy.
"Alana, Randy pernah mengalami trauma karena Ibunya," cerita Nenek Ranita di ruang tamu, "Waktu masih kecil, ia pernah dikurung selama dua hari oleh ibunya di dalam gudang yang gelap."
"Astaga, kenapa bisa begitu?" tanya Nenek Mira dan Alana bersamaan.
"Ibunya selalu pergi meninggalkannya, sementara ayahnya masih di luar negeri. Suatu hari Randy kecil menahan ibunya agar tidak pergi meninggalkannya. Wanita itu marah dan menghukumnya dengan cara menguncinya di gudang agar ia bisa pergi berkencan dengan laki - laki lain. Untung saja aku datang dan mencarinya, lalu wanita itu pulang dan mengatakan lupa kalau telah mengunci anaknya di gudang. Karena itu aku mengusirnya.dan sejak saat itu Randy trauma bila berada di ruang gelap."
Alana dan Nenek Mira tertegun mendengar cerita itu. Tak terasa air mata Alana menetes. Pantas saja semalam Randy menangis seperti seorang anak kecil yang ketakutan. Karena ia berada di kamar mandi dan ponselnya tertinggal di luar sehingga tidak sempat menyalakan senter. Ia pasti sudah tak bisa menahan rasa trauma itu sehingga tidak mampu berdiri.
Alana segera berlari menuju ke kamar untuk melihat kondisi Randy. Dokter telah memberinya obat penenang. Alana menatap wajah Randy yang sudah tertidur pulas. Randy yang malang, bagaimana bisa aku berkeinginan untuk menghindari mu, sedangkan kamu begitu rapuh? Alana berkata di dalam hatinya sambil meneteskan air matanya dengan penuh penyesalan, apalagi saat mengingat kejadian semalam.
🥰🥰🥰 bahagia buat keluarga Randy dan Alana. semoga badai rumah tangga tak lagi menerpa ya...
tinggal menikmati hari2 bersama penuh kegembiraan...
nenek msh panjang umur, berkah ya Nek dn bahagia... cucumu udh kasih cicit yg cantik ❤
,, semoga gk dijodohin sama anakny Randy #ups...
Walau ada adegan keras tapi kayak nuansanya itu adem.
Mungkin karena itu, semua tokohnya mendapatkan happy ending.
Semangat Thor, siap baca cerita lainnya yang juga bikin penasaran dan gregetan.
ngeri banget nikah ama Delia. apalagi lumpuh pasti sifatnya makin wadidaw...
Selamat juga buat kehamilannya /Kiss/
Rasain tuh Devan. sepandai-pandainya menyembunyikan fakta pasti terkuak juga.