Arkanendra adalah seorang jaksa penuntut yang berdinas di kejaksaan agung, sepak terjangnya sebagai jaksa yang dingin dan tegas juga sering memenangkan kasus besar dan sulit, membuat Arka menjadi populer di kalangan penjahat. karena profesinya itu Arkanendra menghadapi bahaya yang sangat fatal, dia nyaris saja mati di racun oleh musuh nya.
sebuah pertolongan datang dari underworld, dia bisa tertolong namun dewa Hades memberikan syarat mutlak, Arkanendra harus menghisap energi hidup dari dewi Athena sebelum 40 hari, jika tidak maka dia akan mati dan binasa.
Dewi Athena yang tak pernah tertarik dengan pria, Dewi Athena yang lebih memilih menjadi Perawan seumur hidupnya, lalu apa yang terjadi ketika bagian dari kepingan jiwanya jatuh cinta pada Arkanendra yang notebene adalah kepingan jiwa dari Dewa Hades.
Apa sejarah akan berubah, atau jeratan cinta itu membuat Dewi perawan tak berdaya, cinta memang memiliki keajaiban luar biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vedyta Hyuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Arkanendra kepingan jiwa Dewa kematian.
"Ampun, Tuan! Ampun!" teriak sosok itu ketakutan. Arka menyeringai, memberi isyarat agar tulang‑tulang itu berhenti dan kembali ke dalam lantai.
"Maafkan saya… saya kira Tuan ini Dewa Hades," ucap sosok itu tiba‑tiba dengan suara yang jernih. "Siapa kamu sebenarnya hah?" tanya Arka tajam.
"Saya… nama saya Mark." Bayangan putih itu perlahan berubah wujud menjadi sosok pria tampan, hampir setinggi Arka, lalu dia membungkuk hormat. Napasnya masih tersengal kaget.
"Aku tak bertanya namamu. Jenis siluman apa kamu sebenarnya?" desak Arka.
Mark menunduk gemetar. "Siluman… siluman kucing. Maafkan keberanian saya masuk ke tempat ini tanpa izin."
"Apa katamu?" Arka melotot tak percaya. Ia baru tahu selain siluman rubah ada juga siluman kucing. Dalam hati dia bertanya‑tanya, berapa banyak jenis makhluk gaib yang sebenarnya ada di dunia ini.
"Apa maksud kedatanganmu? Aku tak punya urusan apa‑apa denganmu pergilah sana!" Usir Arka masih dingin dan tak bersahabat.
Mark mengusap lehernya yang terasa nyeri. "Saya terluka… beberapa hari lalu diserang dan digigit vampir. Ada yang bilang di tempat ini ada penawar yang ampuh..
"Kamu pikir aku dokter ya? Kalau sakit kenapa tak langsung ke rumah sakit saja?" Arka mengernyit heran.
Wajah Mark makin pucat. Dia diam membatin kesal pada teman yang memberitahu hal ini.
"Saya mohon, Tuan… teman saya juga terluka parah. Dia tak mungkin berbohong pada saya," Mohonnya.
Arka menghela napas panjang dan baru hendak berpikir, tiba‑tiba Nayyara muncul dari balik pintu kamar.
"Mas kamu disini? Aku mencarimu dari tadi," serunya, lalu tertegun melihat sosok asing di ruang tamu. "Siapa dia mas?"
"Astaga… kamu gadis kepingan Dewi Athena!"
Mark memekik kaget, lalu buru‑buru menutup mulutnya saat Arka menatap tajam. "Maaf… saya sudah seminggu mencari Nona. Akhirnya bisa bertemu juga."
"Diam kamu! Jangan berani‑berani mendekati kekasihku!" bentak Arka sinis.
"Maaf, Tuan… saya takkan berani berbuat salah," Mark membungkuk lagi. Nayyara justru tersenyum melihat kesopanannya.
"Mas, siapa sebenarnya dia?"
"Dia siluman," jawab Arka santai.
"Apa?! Siluman?!" Nayyara menjerit kecil ketakutan, lalu segera bersembunyi di belakang punggung Arka sambil mencengkeram baju pria itu erat‑erat.
"Maafkan kelancangan saya, Nona… tapi saya benar‑benar butuh bantuan dari anda sekarang," ucap Mark memelas.
"Diam atau kutusuk dadamu sekarang!" ancam Arka sambil mengacungkan belati. Mark gemetar ketakutan.
"Sudahlah mas jangan marah lagi, dia sudah berkali‑kali minta maaf," Nayyara menenangkan Arka, lalu menunjuk ke arah sofa. "Mari duduk dulu, Tuan. Ceritakan saja pelan‑pelan bantuan apa yang sebenarnya kamu butuhkan." Mark mengangguk lega, lalu duduk di depan mereka.
"Saya dan teman saya terluka parah. Beberapa hari lalu ada vampir yang mengamuk karena marah pada teman saya. Sebenarnya teman saya bersalah juga, sudah lama dia mengabdi pada vampir itu, tapi kemarin dia membuat tuannya marah lalu digigit habis‑habisan. Saya berusaha menolong, tapi ikut terkena gigitan juga. Kalau sampai matahari terbit besok pagi dan tak ada pertolongan, kami berdua pasti mati."
"Lalu kamu butuh pertolongannya berupa apa?" Potong Arka masih curiga.
"Konon hanya energi murni dari gadis kepingan jiwa Dewi Athena yang bisa menetralisir racun gigitan itu dan menyelamatkan nyawa kami."
"Kepingan jiwa Dewi Athena?" gumam Nayyara bingung, lalu menatap Arka yang tampak tenang seolah sudah tahu hal itu.
"Jadi Tuan datang kemari sebenarnya mencariku?" Tanya Nayyara tak percaya.
"Betul sekali… saya mohon Nona, tolong kami. Teman saya sedang sekarat," Mark berlutut di hadapan Nayyara, hingga gadis itu kaget dan menyuruhnya berdiri kembali.
"Mas, apa maksudnya itu?" tanya Nayyara bingung.
"Energi murni di jiwa kamu itu Nay, ada tanda putih di dahimu. Hanya makhluk bukan manusia yang bisa melihatnya. Tandanya memang sudah makin samar karena sering aku hisap energi murni kamu, tapi tetap masih ada juga," bisik Arka sambil memperhatikan dahi gadis itu.
"Astaga… ada tanda semacam itu di dahiku! Kok bisa??" Nayyara meraba dahinya tak percaya.
"Nona, kumohon… teman saya bernama Henry, dia makin lemah dan bisa mati kapan saja," desak Mark.
Nayyara merasa iba, lalu menoleh ke arah Arka dengan pandangan memelas.
"Baiklah, sepertinya aku tak bisa diam saja melihat keadaan begini," kata Arka akhirnya luluh.
"Sekarang sudah jam sembilan malam. Kalau sampai pukul dua belas lewat sedikit saja, nyawa temanmu mungkin bisa tak tertolong lagi," tambahnya.
"Ya Tuhan… jangan sampai terjadi!" Seru Mark cemas. "Di mana sekarang dia?" Tanya Arka.
Mark menggeleng lemah lalu menjelaskan kalau Henry dikurung di gudang gelap oleh vampir Nathan yang melukainya.
"Aku akan melacak keberadaan rohnya sekarang. Kalau rohnya sudah menyeberang ke sungai Styx atau masuk ke underworld atau padang Asphodel, aku takkan sanggup menolong lagi. Tapi kalau masih tertahan, aku bisa selamatkan dia," ucap Arka sambil memejamkan mata dan memusatkan kekuatan sebagai makhluk abadi.
Tak lama kemudian dia membuka mata kembali. "Dewa Thanatos belum menjemputnya, dia masih hidup. Tunggu di sini sebentar, aku akan menjemput tubuh dan rohnya sekaligus membawanya ke sini."
Nayyara mengangguk setuju, lalu menerima belati hitam yang diserahkan Arka.
"Benda ini akan melindungimu. Jangan biarkan dia mendekatimu sendirian. Ingat, siluman… jangan berani macam‑macam pada kekasihku atau kamu takkan bisa bereinkarnasi selamanya," Ancam Arka tajam.
"Terima kasih banyak, Tuan," Mark membungkuk lega.
"Hati‑hati mas, cepatlah kembali," pinta Nayyara cemas
"Iya Sayang, tunggu aku sebentar saja," jawab Arka. Dalam sekejap kabut hitam yang tebal menyelimuti tubuhnya, dan Arka lenyap seketika.
"Bagaimana keadaannya, Nona? Henry, kumohon bertahanlah!" Mark menggenggam tangan Henry yang terbaring lemah di sofa dengan tubuh sedingin es. Selama beberapa hari ini Henry dikurung, darahnya dihisap, dan nyawanya nyaris melayang. Tadi jiwanya sempat dibawa pergi, sebelum Arka datang menjemputnya kembali.
"Aku juga takut dia tak tertolong. Semoga cara ini berhasil," Gumam Nayyara. Dia sudah memeriksa kondisi Henry dan mengikuti petunjuk Arka, menyediakan handuk hangat lalu menyuruh Mark mengompres seluruh tubuh Henry agar suhunya sedikit naik.
Arka masuk ke kamar sebentar, mengambil sebuah kelereng hitam dari meja samping tempat tidur, lalu pergi ke dapur mengambil baskom kecil berisi air panas.
"Sayang… masukkan kelereng ini ke dalam air panas, lalu tempelkan telapak tanganmu tepat di dahi dan berdoalah agar dia selamat. Semoga kekuatan energi murni yang ada padamu bekerja," Perintahnya lembut.
Nayyara menurutinya. Ajaibnya air dalam baskom perlahan berubah menjadi putih bersih dan beraroma harum yang kuat. Dia terkejut sekaligus gembira melihat perubahan itu.
"Mas… bagaimana bisa begini?"
"Itulah energi murni yang dicari sama mereka. Minumkan pada Henry, dan kamu juga harus minum sedikit air itu sekarang agar kekuatanmu tetap seimbang," Jawab Arka.
"Baiklah, terima kasih banyak," Mark mengangguk hormat lalu perlahan menyuapi Henry dan meminumkan sisa air itu juga untuk dirinya sendiri.
"Uhuk… uhuk…"
"Dia sadar!" Seru Nayyara lega melihat Henry tiba‑tiba bergerak dan terbatuk‑batuk. Arka pun menghela napas panjang lega.
"Henry! Kamu selamat! Terima kasih Tuhan!" Mark memeluk bahu temannya yang sudah bisa membuka mata meski masih bingung. Nayyara tersenyum bahagia lalu menepuk‑nepuk punggung Henry pelan.
"Terima kasih, Tuan dan Nona. Kalian penolong kami !" Mark langsung berlutut hormat di hadapan Arka saat Henry sudah bisa duduk tegak.