Reza adalah mantan koki yang dipecat karena difitnah, tetapi ia menemukan tujuan hidup baru setelah mendapatkan Sistem Restoran Dunia Lain.
Kini ia mengelola Restoran di mana pintunya terhubung ke dimensi kultivator dan sihir, menyajikan makanan lezat yang menyelesaikan masalah para pelanggan dari berbagai dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Reza terbangun saat suara burung berkicau terdengar dari balik jendela kamarnya.
Dia bangkit dari kasur dan merenggangkan kedua lengannya yang terasa sedikit pegal.
'Hari ini adalah giliran dunia fantasi barat,' batin Reza.
'Aku harus bersiap menghadapi penyihir atau ksatria berarmor tebal.'
Dia segera turun ke dapur dan mencuci wajahnya di wastafel.
Reza membuka kulkas Sistem dan melihat bahan-bahan baru telah ditambahkan secara otomatis.
Ada bongkahan daging sapi segar, kentang, wortel, jamur, dan susu segar.
Bahan-bahan ini sepertinya sengaja disesuaikan dengan tema pelanggan hari ini.
"Sistem, apakah jadwal hari ini sudah dimulai?" tanya Reza sambil mengikat tali celemeknya.
"Sudah Host, pintu utama saat ini terhubung dengan Dimensi Fantasi Barat," jawab Sistem.
"Lokasi spesifiknya adalah sebuah gang di ibu kota Kerajaan Sihir Lunaria."
Reza mengangguk paham dan berjalan menuju pintu depan.
Dia memutar kenop pintu kuningan itu dan menariknya ke dalam.
Udara dingin yang sangat menusuk tulang langsung berhembus masuk ke dalam kedai.
Pemandangan di luar sana adalah sebuah gang sempit berbatu yang tertutup tumpukan salju tebal.
Langit terlihat sangat mendung dan butiran salju putih terus turun dengan deras.
Reza menggigil kedinginan dan segera melangkah mundur dari pintu.
Dia membiarkan pintu itu terbuka setengah agar cahaya dan kehangatan kedainya bisa terlihat dari luar.
Reza kembali ke dapur untuk membuat secangkir teh panas untuk dirinya sendiri.
Sekitar setengah jam berlalu tanpa ada tanda-tanda kehidupan di luar sana.
Suara langkah kaki yang terseret pelan menembus salju mulai terdengar mendekat.
Seorang gadis muda berjubah tebal berwarna ungu gelap muncul dari balik badai salju.
Gadis itu memegang sebuah tongkat kayu panjang berukir yang ujungnya bersinar redup.
Wajahnya terlihat sangat pucat dan bibirnya membiru karena kedinginan.
Dia berjalan gontai dan hampir menabrak daun pintu kedai.
Reza buru-buru meletakkan cangkir tehnya dan berlari ke depan.
"Nona, apakah Anda baik-baik saja?" sapa Reza sambil menahan bahu gadis itu.
"Silakan masuk ke dalam, di luar sana sangat dingin."
Gadis itu menatap Reza dengan mata biru mudanya yang sayu.
Dia mengangguk lemah dan membiarkan Reza membantunya masuk ke area makan.
Begitu gadis itu melewati ambang pintu, udara hangat dari kedai langsung menyelimuti tubuhnya.
Tongkat kayu di tangannya tiba-tiba berhenti bersinar terang.
Gadis itu tersentak dan menatap tongkatnya dengan panik.
"Mana milikku menghilang," ucap gadis itu dengan suara bergetar.
"Mantra penghangat tubuhku tiba-tiba terputus begitu saja."
"Anda tidak perlu panik, Nona," kata Reza menuntunnya duduk di kursi terdekat.
"Ini adalah efek dari kedai saya yang melarang penggunaan sihir di dalam ruangan."
Gadis itu menatap Reza dengan ekspresi tidak percaya.
"Menyegel sihir secara total tanpa lingkaran sihir yang terlihat?" tanyanya terkejut.
"Bahkan ketua menara sihir kerajaan tidak bisa melakukan hal gila seperti ini."
Reza hanya tersenyum ramah dan mengabaikan pujian berlebihan tersebut.
Dia sudah mulai terbiasa dengan reaksi para pelanggan dari dimensi lain.
"Nama saya Reza, pemilik kedai makanan ini," ucap Reza memperkenalkan diri.
"Boleh saya tahu siapa nama Anda?"
Gadis itu memperbaiki letak topi jubahnya dan menghela napas panjang.
"Namaku Alice, aku adalah murid penyihir tingkat dua," jawab Alice dengan nada lelah.
"Aku sedang mencari jalan pulang ke akademi namun tersesat karena badai salju sialan ini."
"Anda sangat beruntung bisa menemukan tempat ini, Alice," kata Reza ramah.
"Tunggu di sini sebentar, saya akan membuatkan sesuatu untuk menghangatkan tubuh Anda."
Alice menggosok kedua telapak tangannya mencoba mencari kehangatan dari udara kedai.
"Tapi aku hanya punya dua keping tembaga sisa dari membeli ramuan tadi," ucap Alice ragu-ragu.
"Apakah itu cukup untuk membeli segelas air hangat di tempat yang menakjubkan ini?"
"Tentu saja cukup, Anda tidak perlu memikirkan soal uang dulu," jawab Reza menenangkan.
Reza berbalik dan melangkah masuk ke area dapurnya yang bersih.
Dia melihat bahan-bahan di kulkas dan memutuskan menu yang paling tepat untuk cuaca salju.
'Sup krim jamur hangat dan roti panggang bawang putih,' pikir Reza.
'Itu adalah makanan terbaik untuk mengusir hawa dingin di dalam tubuh.'
Dia mengambil beberapa buah jamur segar berukuran besar dari dalam rak bawah kulkas.
Reza memotong jamur itu menjadi irisan tipis dengan pisau besinya yang tajam.
Dia memanaskan panci kecil di atas kompor dan memasukkan sedikit mentega kuning.
Aroma mentega yang mencair langsung menyebar harum ke seluruh penjuru ruangan.
Alice yang duduk di area makan tanpa sadar menelan ludahnya mendengar suara masakan itu.
Aroma gurih itu mengingatkannya pada roti mahal di pesta perayaan para bangsawan kerajaan.
Reza memasukkan bawang bombai cincang ke dalam panci dan menumisnya hingga layu.
Dia lalu menambahkan irisan jamur dan terus mengaduknya perlahan dengan spatula kayu.
Setelah jamur berubah warna, Reza menuangkan susu segar cair dan kaldu ayam buatan Sistem.
Dia membiarkan campuran itu mendidih perlahan di atas api kecil agar rasanya menyatu.
Sambil menunggu supnya matang, Reza mengambil dua potong roti tawar tebal.
Dia mengolesi roti itu dengan campuran mentega, sedikit garam, dan bawang putih halus.
Roti itu kemudian dipanggang singkat di atas wajan datar hingga berwarna kuning keemasan.
Hanya dalam waktu sepuluh menit, hidangan sederhana namun mewah itu sudah siap disajikan.
Reza menuangkan sup krim jamur kental ke dalam mangkuk keramik putih yang agak cekung.
Dia menaruh dua potong roti panggang renyah di atas piring kecil sebagai hidangan pendamping.
Dia membawa nampan berisi masakan harum itu menuju meja tempat Alice menunggu.
"Ini adalah sup krim jamur dan roti bawang putih," ucap Reza meletakkan nampan itu di meja.
"Silakan dinikmati selagi masih mengeluarkan uap panas."
Alice menatap makanan di depannya dengan mata berbinar-binar penuh minat.
Bentuk makanannya cukup sederhana, namun aromanya sungguh luar biasa menggoda iman.
"Apakah aku benar-benar boleh memakan makanan mewah ini?" tanya Alice memastikan sekali lagi.
"Tentu saja, itu memang saya buat khusus untuk Anda yang sedang kedinginan," jawab Reza tersenyum.
"Cara memakannya, Anda bisa mencelupkan rotinya ke dalam sup terlebih dahulu."
Alice mengambil sepotong roti panggang yang masih hangat itu dengan tangan yang sedikit gemetar.
Dia mencelupkan ujung roti ke dalam cairan sup kental berwarna putih tulang tersebut.
Gadis penyihir itu kemudian menggigit bagian roti yang sudah basah oleh kuah sup krim.