Amelia menikah dengan seorang laki-laki yang di cintainya, namun laki-laki tersebut justru sangat membencinya, setiap hari Amelia selalu di perlakukan kasar, bahkan ia sering di tuduh sebagai pembunuh kekasih suaminya.
Adrian Aditama laki-laki tampan yang tak lain adalah suami Amelia, ia sangat membenci gadis itu, dan ia selalu menyalahkan Amelia sebagai pembunuh kekasihnya.
Bagaimana kisah mereka? simak terus ceritanya, jangan lupa tinggalkan komentar kalian di bawah, dan berikan dukungan kalian ya dengan cara vote sebanyak_banyaknya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gadisti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Disaat Aku Mencintaimu
Happy Reading.
Sesampainya di rumah sakit, Ivan segera menemui dokter yang menangani Amelia untuk memberitahukan bahwa Amelia akan di bawa keluar negeri untuk menjalani pengobatannya.
Sementara Vino, ia segera masuk ke dalam ruangan dimana Amelia tengah terbaring lemah.
Vino menatap Amelia dengan pandangan yang begitu menyedihkan, bahkan air matanya pun turun menetes tanpa ia sadari.
Laras yang menyadari kedatangan Vino pun langsung menoleh ke arahnya, ia memperhatikan Vino yang kini tengah memandang Amelia dengan tatapan sendu nya.
"Kamu sudah sampai."
"Iya tante, hari ini saya akan membawa Amelia pergi."
"Baiklah, tapi saya minta kamu untuk menjaganya dengan baik, kalau sampai kamu menyakitinya, maka saya akan membawa Amelia kembali."
"Tante tenang saja, saya tidak akan pernah menyakiti Amelia, saya sangat mencintai Amelia dari dulu sampai sekarang."
"Saya percaya sama kamu, bawalah, dan berikan kebahagiaan untuknya." Ujar Laras sambil mengelus rambut Amelia dengan sedih.
Setelah itu, Laras pun memutuskan untuk pergi, ia sungguh tidak bisa menahan air matanya lagi, ketika ia harus kehilangan menantu kesayangannya.
"Amel mari kita pergi dari sini, kita bisa mulai kehidupan baru di sana." Gumam Vino dengan pelan, kemudian ia mengecup kening perempuan yang paling ia cintai nya.
***
Perusahaan Aditama Group.
Semenjak tadi pagi, perasaan Adrian sangat gelisah, entah mengapa rasa takut kehilangan Amelia tiba_tiba muncul dalam dirinya, sehingga membuat Adrian tidak fokus dengan pekerjaannya.
"Ya Tuhan kenapa perasaan ku tidak enak begini ya? Apakah terjadi sesuatu terhadap Amelia? Kenapa aku sangat takut kehilangannya? Aku harus menelpon mama sekarang, atau aku bisa gila." Gumam Adrian dengan pelan.
Adrian meraih ponsel yang berada di saku celananya, kemudian ia pun langsung menghubungi mama nya.
"Ada apa sayang?" Tanya mama Laras dari seberang telpon.
"Mah, bagaimana keadaan Amelia?"
Mama Laras terdiam mendapat pertanyaan dari anaknya tersebut, sehingga membuat Adrian sangat khawatir dan kembali bertanya.
"Mah, kenapa mama diam, bagaimana keadaan Amelia?"
" Amelia masih koma nak."
"Kenapa mama diam saja tadi? Mama tidak sedang menyembunyikan sesuatu kan?" Selidik Adrian dengan penasaran.
"Tidak ,, tidak sayang, mama tidak menyembunyikan apa_apa dari kamu, sudah lah, lebih baik kamu fokus dengan pekerjaanmu, kamu tidak perlu memikirkan Amelia."
"Ya sudah kalau begitu Adrian tutup dulu telponnya ya mah, kalau terjadi apa_apa dengan Amelia segera hubungi Adrian ya mah."
"Iya sayang, mama pasti menghubungimu."
Setelah itu panggilan pun berakhir, tetapi perasaan Adrian masih saja tidak tenang.
"Kenapa aku masih tidak tenang begini ya? Apa mama benar_benar menyembunyikan sesuatu dariku? Tapi apa? Apa aku pergi ke rumah sakit saja ya? Ah tapi pekerjaanku sangat banyak, tidak mungkin aku serahkan semuanya kepada Daniel, yasudah lah, lebih baik aku segera menyelesaikan pekerjaanku, lalu aku langsung pergi ke rumah sakit." Adrian bergumam dengan pelan.
Setelah itu, Adrian pun langsung kembali mengerjakan pekerjaannya, meskipun hatinya tidak tenang, tetapi ia berusaha untuk tetap fokus dengan pekerjaannya.
***
Restaurant xxx.
Alex dan juga Dita yang sudah tidak mendapat kabar dari sahabatnya Amelia, meraka sangat khawatir, pasalnya, semenjak dua hari yang lalu, mereka tidak mendapatkan kabar dari Amelia.
Biasanya, Amelia setiap hari selalu curhat kepada mereka berdua melalui sambungan telponnya.
"Dita, apa Amelia ada menghubungimu?" Tanya Alex selaku manager sekaligus sahabat Dita dan juga Amelia.
"Tidak ada Lex, apa dia ada menghubungimu?" Dita berbalik tanya.
"Sama, tidak ada."
"Bagaimana keadaannya ya? Aku sangat mengkhawatirkannya, aku takut terjadi apa_apa kepadanya."
"Aku juga sangat mengkhawatirkan Amelia, kita berdoa saja, semoga dia baik_baik saja, dan semoga dia segera terlepas dari suaminya yang brengsek itu."
"Aku juga berharap seperti itu, Lex, lagian sekarang Vino sudah kembali, dan Vino juga sudah menjelaskan kepergiaannya waktu dulu, aku harap Amelia kembali bersama Vino, dari pada bersama Adrian yang selalu menyiksanya."
"Semoga saja, yasudah lo kembali bekerja sana, nanti gaji lo gw potong."
"Eh sialan lo Lex, bukannya tadi lo yang ngajak gw ngobrol, malah mau potong gaji gw."
"Kan tadi, sekarang gw udah gak ngajak lo ngobrol lagi, jadi segeralah bekerja, sebelum gw benar_benar memotong gaji lo."
"Berani lo potong gaji gw? Gw juga berani potong burung lo yang kecil itu." Geram Dita.
"Eh ngapain lo bawa_bawa burung gw? Dan apa lo bilang tadi? Burung gw kecil? Emang lo udah liat burung gw?" Balas Alex dengan kesal.
"Meskipun gw belum pernah melihatnya, tapi, keliatan banget kalau burung lo itu kecil." Dita berucap sambil tersenyum mengejek.
"Sialan, gini nih, kalau bicara sama lo, lama_lama bikin gw kesel, lo tuh harus di rukiyah biar ngomong lo gak sembarangan."
"Idih, lo sendiri yang mulai tadi, sudahlah, ngomong sama lo, gak ada gunanya, lo itu selalu saja bikin gw naik darah, bukannya naik gaji, hmmm bye." Ujar Dita sambil mengibaskan rambutnya yang panjang tepat mengenai wajah sahabatnya tersebut.
"Dasar nyebelin, kalau bukan sahabat gw, udah gw lempar ke monas lo." Dengus Alex sambil melangkahkan kakinya pergi menuju ruangannya.
Alex dan Dita memang selalu bertengkar, ketika ada Amelia, maka Amelia lah yang menjadi penengah bagi mereka berdua, tetapi pertengkaran mereka hanya beberapa menit saja, setelahnya mereka pun kembali akrab, dan bertengkar kembali, begitulah Alex dan Dita.
***
Waktu menunjukkan pukul 15.05 sore, Adrian yang sudah merasa tidak tenang pun langsung bergegas menuju rumah sakit, begitu pun juga dengan Daniel, ia kekeh memaksa untuk ikut pergi ke rumah sakit.
Entah kenapa, di sepanjang perjalanan, rasa khawatir dan juga takut terus menyelimuti diri Adrian, bahkan Daniel yang sedari tadi mengoceh pun tidak ia hiraukan, sehingga membuat Daniel menggeram kesal.
Sesampainya di rumah sakit, Adrian langsung menuju ke ruangan Amelia, di bukanya pintu tersebut, dengan perasaan yang entah mengapa Adrian merasakan rasa takut yang begitu mendalam.
Dan benar saja, Amelia sudah tidak ada di dalam ruangannya, Adrian sangat panik ia berteriak_teriak memanggil nama Amelia.
"Amelia dimana kamu sayang?" Dengan suara yang tinggi Adrian terus memanggil nama Amelia, sementara Daniel yang baru tiba pun merasa terkejut.
"Adrian dimana Amelia?"
"Jangan tanya gw, gw tidak tau dimana dia sekarang."
"Lo tenang dulu, mungkin Amelia di pindahkan ke ruangan lain."
"Tapi, kenapa mama tidak mengabari gw, kalau Amelia di pindahkan?"
"Ya mungkin saja nyokap lo lupa buat ngabarin lo, lebih baik kita tanyakan langsung sama dokter yang menangani istri lo, ok."
Setelah itu, mereka berdua pun keluar dari ruangan tersebut, dan kebetulan sekali, mereka berpapasan dengan dokter yang menangani Amelia.
"Dokter, istri saya di pindahkan kemana? Kenapa di dalam tidak ada?" Tanya Adrian dengan cemas.
"Bukankah bapak sudah tau, bahwa istri bapak sudah di pindahkan sedari tadi pagi?"
"Apa? Maksud dokter, istri saya sudah di pindahkan dari tadi pagi? Kenapa dokter tidak memberitahu saya? Dimana ruangannya?"
"Ibu bapak yang menandatangani surat pemindahannya, dan istri bapak sudah di bawa keluar negeri dari tadi pagi."
Mendengar ucapan dokter tersebut, membuat tubuh Adrian seketika melemas, darah dalam dirinya seketika naik, tatapan matanya berubah menjadi gelap, amarah dan rasa takut bercampur menjadi satu, bagaimana mungkin mama nya tega melakukan itu semua terhadap dirinya? Bukankah tadi siang mama nya bilang bahwa Amelia masih berada di rumah sakit? Lalu kenapa dokter memberitahukan dirinya bahwa Amelia sudah di pindahkan sedari tadi pagi?
"Dokter jangan becanda sama saya, ini tidak lucu dok." Geram Adrian dengan mata yang mulai berkaca_kaca.
"Lo tenang dulu Dri, lebih baik kita temui nyokap lo dulu, ok." Daniel menenangkan sahabatnya tersebut, meskipun dirinya sendiri pun merasa sangat heran dan juga penasaran, mengapa mama Adrian berbuat seperti itu terhadap anaknya sendiri.
"Dokter jawaaaaab." Teriak Adrian sambil mencengkram kuat dokter tersebut, sehingga membuat dokter itu ketakutan.
"Adrian lo tenang dulu, mari kita pergi dari sini." Ujar Daniel sambil menarik paksa Adrian.
Karena tidak mendapat jawaban dari dokter tersebut, Adrian pun mengikuti ucapan sahabatnya, ia bergegas melangkahkan kakinya pergi dengan amarah yang masih memuncak.
***
Tiba di kediaman orang tua nya, Adrian langsung masuk tanpa permisi terlebih dahulu, ia mencari keberadaan mamanya, Daniel pun ikut masuk ke dalam rumah orang tua sahabatnya.
"Mamaaaa keluar." Teriak Adrian
Semua pelayan merasa sangat takut, tidak ada yang berani bertanya, apalagi menghampiri Adrian yang terlihat sangat marah.
"Mamaaaaa." Adrian kembali berteriak.
"Dri lo tenang dulu, tidak perlu berteriak seperti itu." Ujar Daniel.
"Gimana gw bisa tenang, sementara gw tidak tau keberadaan istri gw sendiri."
Daniel terdiam ketika mendengar ucapan Adrian, sementara itu, mama Laras dan pak Anggara keluar menghampiri anaknya tersebut.
"Ada apa Adrian, kenapa kamu berteriak seperti itu?" Tanya pak Anggara.
"Papa pasti tau kenapa Adrian berteriak seperti ini?"
Adrian menatap papanya, kemudian ia beralih menatap mamanya, lalu ia kembali berbicara.
"Mah, kenapa mama tidak memberitahu kan Adrian, kalau Amelia di bawa keluar negeri? Kenapa mama tidak meminta persetujuan Adrian? Kenapa mah?"
"Adrian maafkan mama, ini semua demi kebaikan Amelia, biarkan dia hidup dengan tenang dan bahagia."
"Mama becanda, bagaimana mungkin Amelia hidup tenang dan bahagia? Sementara dia sedang koma saat ini mah."
"Dia tidak sendirian Adrian, dan mama harap kamu melepaskan Amelia."
"Maksud mama apa? Aku tidak mengerti dengan ucapan mama, lebih baik mama kasih tau aku, di negara mana Amelia di rawat, Adrian akan menyusulnya sekarang."
"Mama tidak tau, yang mama tau, Amelia sudah di bawa pergi oleh laki_laki yang sangat mencintainya."
"Tidak mah, Amelia istri Adrian, hanya Adrian yang boleh memiliki Amelia, Adrian sangat mencintai Amelia mah, mama katakan siapa laki_laki itu mah? Kenapa mama tega melakukan ini kepada Adrian mah? Kenapa mah, kenapa?" Adrian berucap dengan frustasi, air mata di pipinya pun mengalir dengan cepat, rasa sesak dalam dadanya seakan_akan membuat dirinya sulit untuk bernafas.
"Laki_laki itu Vino, Adrian kesempatan mu sudah berakhir, sebulan yang lalu Amelia meminta mama untuk membantunya bercerai denganmu, tetapi mama meminta Amelia untuk memberikan kesempatan kepadamu, dan mama meminta waktu satu bulan, jika selama satu bulan sifatmu masih kasar terhadap Amelia, maka mama sendiri yamg akan mengurus perceraian kalian, dan mama sudah memintamu untuk berubah, tapi apa Adrian, perlakuan mu semakin parah, dan bahkan kamu membawa perempuan lain untuk tinggal bersamamu." Laras menghirup udara dalam_dalam kemudian ia membuangnya secara perlahan, lalu ia kembali berkata.
"Apa kamu pernah memikirkan perasaan istrimu saat itu? Apa kamu pernah mengucapkan kata maaf kepada istrimu setelah kamu memperlakukannya dengan buruk? Jika kalian tidak bertengkar malam itu, dan jika Amelia tidak mengalami kecelakaan dan koma, apakah sifatmu akan berubah? Pikirkanlah Adrian, renungkan kesalahanmu sendiri."
Setelah mendengar penjelasan panjang lebar dari mama nya, Adrian pun langsung terduduk lemah di lantai, air matanya tidak berhenti, ingatan_ingatan tentang Amelia terus berputar di kepalanya.
Menyesal? Tentu Adrian sangat menyesali perbuatannya, andai waktu bisa di putar kembali, mungkin dia tidak akan menyakiti Amelia, namun apalah daya, kita hidup di dunia nyata, penyesalan selalu datang terlambat setelah kita kehilangan.
Daniel yang mendengar semua penjelasan mama Laras pun merasa sangat kecewa terhadap sahabatnya itu, tetapi ia juga merasa sangat kasihan ketika melihat sahabatnya yang terlihat sangat frustasi.
Adrian mendongakkan wajahnya, ia menatap mamanya dengan sendu, air matanya terus menerus terjatuh membasahi wajah tampannya, tangannya yang bergetar mendekap kedua kaki mamanya, kemudian ia berkata dengan nada yang sangat rendah di iringi dengan tangisannya.
"Mah, Adrian tau selama ini Adrian telah salah, tapi Adrian sadar mah, bahwa sekarang Adrian sangat mencintai Amelia, Adrian berjanji, Adrian tidak akan pernah melukai Amelia, Adrian bersumpah mah, Adrian mohon, Adrian menyesal mah, Adrian sangat menyesal, izinkan Adrian untuk memiliki Amelia mah, Adrian mohon sama mama."
Laras yang melihat anaknya bersimpuh di kakinya pun sangat tidak tega, air matanya mulai terjatuh, begitu pun dengan para pelayan yang menyaksikannya, mereka semua menangis, melihat penyesalan dan kesedihan anak bosnya tersebut.
"Adrian bukankah gw selalu bilang sama lo, akan datang hari dimana lo akan menyesali perbuatan lo, setelah lo kehilangan Amelia, dan gw tidak menyangka, hari itu adalah hari saat ini, dan lebih tidak menyangka lagi, ketika gw melihat keadaan lo yang sangat menyedihkan sekarang." Ujar Daniel dengan pelan, tetapi Adrian dan juga kedua orang tua nya bisa mendengar ucapan sahabat anaknya tersebut.
"Bangunlah sayang, meskipun kamu seperti ini, mama tetap tidak bisa membantumu nak." Ujar Laras sambil meraih kedua bahu anaknya, sementara Anggara hanya bisa menatap kesedihan anaknya tersebut.
"Aku bersumpah, aku akan membawa Amelia kembali ke dalam pelukanku, walau pun aku harus mencarinya sampai ke ujung dunia, aku pasti akan tetap mencarinya, sayang tunggu aku menemukanmu, aku tidak akan pernah melepaskanmu, meskipun kamu sudah tidak mencintaiku lagi, aku pasti akan berusaha untuk membuatmu mencintaiku kembali, aku bersumpah sayang." Gumam Adrian dalam hati, tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, Adrian langsung pergi meninggalkan kediaman orang tuanya, ia pergi membawa luka dan juga amarah dalam dirinya.
"Tante, om, saya permisi dulu, saya takut kalau Adrian berbuat yang tidak_tidak." Ujar Daniel.
"Daniel om dan tante titip Adrian ya nak, kalau ada apa_apa segera hubungi om dan tante."
"Iya om pasti, Daniel permisi dulu." Setelah itu, Daniel pun keluar mengejar Adrian.
"Adrian tunggu gw."
"Ngapain lo ngikutin gw, puas kan lo melihat gw seperti ini."
"Ayolah Dri, sekesal_kesal nya gw sama lo, tidak mungkin gw seneng melihat lo seperti ini."
"Kalau begitu, lo cari tahu keberadaan Amelia, dan cari tahu, siapa sebenarnya Vino laki_laki sialan itu."
"Vino? Apa mungkin Vino anak dari pemilik perusahaan Sbastian?"
"Siapa pun dia, lo harus cari tau, gw tidak rela melepaskan Amelia, sampai mati pun gw tidak rela."
"Ok baiklah gw pasti bantu lo, lo tenang aja."
Setelah itu mereka berdua pun masuk ke dalam mobil, Kemudian Daniel melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sementara Adrian, tengah mengepalkan kedua tangannya dengan kuat.
"Sayang, aku pasti akan menemukanmu, dan kita akan hidup bahagia, dan untuk mu Vino, gw akan memberikan pelajaran, karena lo sudah berani membawa istri gw pergi." Gumam Adrian dalam hati, sementara itu, Daniel yang melihat sahabatnya masih seperti tadi pun hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar, kemudian ia memutar sebuah lagu, yang kebetulan lagu tersebut mengisyaratkan isi hati Adrian saat ini.
Mengapa kau pergi, Mengapa kau pergi
Di saat aku mulai mencintaimu,
berharap engkau jadi kekasih hatiku,
Malah kau pergi jauh dari hidupku,
Menyendiri lagi, Menyendiri lagi,
Di saat kau tinggalkan diriku pergi,
Tak pernah ada yang menghiasi hariku,
Di saat aku terbangun dari tidurku,
Aku inginkan diri mu, datang dan temui aku,
Kan ku katakan padamu, aku sangat mencintai dirimu,
Aku inginkan diri mu, datang dan temui aku,
Kan ku katakan padamu, aku sangat mencinta…….
Menyendiri lagi, Menyendiri lagi,
Di saat kau tinggalkan diriku pergi,
Tak pernah ada yang menghiasi hariku,
Di saat aku terbangun dari tidurku,
Aku inginkan diri mu, datang dan temui aku,
Kan ku katakan padamu, aku sangat mencintai dirimu,
Aku inginkan diri mu, datang dan temui aku,
Kan ku katakan padamu, aku sangat mencinta…….
Semoga engkau kan mengerti, tentang perasaan ini
Maaf ku telah terbuai, akan indahnya cinta
Maaf sungguh ku tak bisa, untuk kembali padamu
Maaf ku telah terbuai, akan indahnya cinta
Aku inginkan diri mu, datang dan temui aku,
Kan ku katakan padamu, aku sangat mencinta,
Aku inginkan diri mu, datang dan temui aku
Kan ku katakan padamu, aku sangat mencinta,
Aku inginkan diri mu, datang dan temui aku
Kan ku katakan padamu, aku sangat mencinta
By. Dadali band. Disaat Aku Mencintaimu😔
Bersambung.
buat ap kembali sma ardian...
kan lebih seru...
jangan sampai kmu balikan lg sma sikeparat mantan suami ...