Season 1
Pelangi adalah gadis cantik yang pernah mengalami kepahitan hidup karena perceraian orang tuanya.
Saat ia bertemu Bintang yang bernasib sama dan sering dijadikan bahan olok olok teman temannya karena perceraian kedua orangtuanya menumbuhkan simpati di hatinya.
Rasa simpati itu lambat laun berubah jadi sayang.
Bintang yang merasakan kasih sayang Pelangi berharap Pelangi bisa menjadi ibunya.
Akankah harapan Bintang terwujud?
Season 2
Bintang dan Pink kini telah dewasa. Bintang yang tumbuh besar bersama Pink, sangat menyayanginya.
Akankah Bintang tetap menganggap Pink sebagai adiknya ataukah perasaannya berubah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Rohyati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia yang Terungkap
Bintang berlari di lorong rumah sakit. Anggi mengejarnya. Ia ingin berteriak memanggil nama Bintang, tapi itu tidak mungkin ia lakukan karena ini rumah sakit. Ia nggak mungkin bikin kegaduhan. Anggi mempercepat langkahnya saat bayangan Bintang menghilang dari pandangannya.
"Kemana Bintang?" Gumam Anggi.
Matanya mencari cari ke sekelilingnya. Namun ia tak menemukan Bintang. Lalu ia melangkah mengikuti insting dan kata hatinya
"Semoga pilihanku benar. " Kata Anggi pelan.
Sementara itu Bintang yang berlari sambil menangis sudah jauh meninggalkan kamar Langit.
Brukk
Bintang menabrak seseorang yang baru keluar dari sebuah kamar. Bintang jatuh ke lantai.
"Eh, kamu nggak papa?" Tanya pria itu sambil membantu Bintang berdiri.
"Bintang, kenapa kamu ada di sini. Bukankah tadi kamu di kamar papamu?" Tanya Bima. Ya, orang yang Bintang tabrak adalah Bima.
"Om Bima. " Bintang cepat cepat menyeka air matanya. Ia tidak mau Bima melihatnya menangis
"Sudah.. Om sudah melihatnya. Sekali kali laki laki menangis itu nggak papa. Kamu kenapa? Cerita sama Om, siapa tahu Om bisa bantu. " bujuk Bima.
Bintang diam namun bahunya sedikit bergetar menahan isak tangis.
"Eh, kita ke kantin saja yuk! Biar enak ngobrolnya. " ajak Bima.
Bintang mengangguk. Mereka lalu berjalan ke kantin rumah sakit
"Bintang mau pesan apa?" tanya Bima saat mereka sampai di kantin.
"Apa aja Om." kata Bintang.
Bima lalu pergi memesan makanan dan minuman. Beberapa saat kemudian ia datang dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman.
"Minumlah.. lalu cerita ke Om!" kata Bima.
Bintang mengambil susu coklat yang ada dihadapannya. Mengaduknya dengan sedotan lalu menyedotnya. Setelah beberapa saat minum susu coklat, pikirannya agak tenang.
"Papa Om. Papa mau menikah lagi. " kata Bintang.
Uhuk.. uhuk.. uhuk..
Bima yang lagi minum kaget hingga tersedak dan batuk-batuk.
Jadi kata kata Langit tadi benar. Ia sudah melamar gadis itu. Dan sekarang ia memberitahukan pada anak anaknya. Tapi rupanya Bintang tidak menyetujuinya.
"Terus kenapa kalau papamu menikah lagi? Bukankah itu bagus, kalian jadi ada yang merawat. " Kata Bima.
"Tapi Bintang maunya papa menikah dengan tante Anggi bukan dengan orang lain. "
"Tante Anggi itu siapa?" Bima bertanya.
"Dia guru Bintang di sekolah."
"Ooo. Apa Bintang tahu papa akan menikah dengan siapa?"
Bintang menggeleng.
"Om kasih tahu ya.. papa akan menikahi wanita yang tadi mengantar kalian. "
Bintang kaget.
"Darimana om tahu?"
"Papamu tadi bilang ke om kalau ia sudah melamar Pelangi.. betulkan namanya Pelangi?"
Bintang mengangguk. Mukanya yang sedih berubah menjadi ceria. Ia lalu senyum senyum
Bima heran melihat perubahan anak itu.
"Makasih Om." Kata Bintang. Ia lalu melahap makanan yang ada dihadapannya dengan cepat dan menegak minuman di gelasnya hingga tandas.
Binatang berdiri dan membungkuk sebanyak tiga kali ke hadapan Bima.
"Makasih Om.. Makasih Om... Makasih Om. " Kata Bintang sebelum kemudian berlari meninggalkan Bima.
Bima ternganga tak percaya. Padahal tadi ia berharap Bintang akan menolak wanita itu menjadi mamanya sehingga Langit akan membatalkan niatnya. Dengan begitu ia punya kesempatan mendekatinya.
Anak aneh. Sebentar sedih sebentar bahagia.
***
Anggi masih berkeliling mencari Bintang.
"Tante."
Anggi mendengar suara Bintang memanggilnya. Ia menoleh dan melihat Bintang berlari ke arahnya.
Setelah sampai ke tempat Anggi, Bintang lalu memeluknya dengan erat.
Anggi tersenyum. Ia mengelus elus kepala Bintang.
"Kamu sudah tidak sedih lagi?" Tanyanya lembut.
Bintang melepaskan pelukannya. Ia menggeleng sambil menatap Anggi. Bintang tersenyum. Anggi juga tersenyum. Lalu Bintang memeluknya lagi.
"Terima kasih sudah mau menjadi mamaku. " katanya.
Anggi sangat terharu. Anak ini begitu menyayanginya. Ada rasa bahagia dihatinya namun juga ada rasa takut. Ia takut jika suatu saat melukai hati anak ini.
Apakah aku mampu menjadi mama seperti yang ia harapkan? Batin Anggi.
"Kita kembali ke kamar papa yuk! Papa pasti khawatir memikirkanmu. " Ajak Anggi.
Bintang mengangguk. Mereka lalu berjalan menuju kamar Langit sambil bergandengan.
****
"Pa, kok kakak lama perginya?" Tanya Pink pada Langit.
"Sabar, Tante Anggi masih mengejarnya. Papa yakin ia bisa membujuknya. "
"Pa.. apa kak Bintang nggak mau punya mama baru?" Tanya Pink polos.
"Papa yakin. Setelah mengenalnya nanti kakakmu juga akan bisa menerimanya. "
"Apa mama baru baik?"
"Apa Tante Anggi baik?" Langit balik bertanya.
"Iya, Tante Anggi baik. Pink mau punya mama kayak Tante Anggi. "
"Kalau itu maumu, kau akan mendapatkannya. " jawab Langit sambil mengelus kepala Pink.
Percakapan mereka terhenti saat terdengar pintu dibuka.
"Apa akau berhasil membawa Bintang?" Langit langsung bertanya karena mengira Anggi yang datang.
"Memangnya Bintang kenapa?" tanya Oma. Ya Oma datang untuk melihat keadaan anaknya.
"Oh.. mama. Bintang tadi ngambek dan lari keluar. Anggi mengejar untuk membujuknya. "
"Kenapa bisa ngambek?"
"Papa mau punya mama baru Oma, kakak nggak suka. " tiba-tiba Pink menjawab.
Pandangan Oma beralih menatap langit dengan serius.
"Apa kau sudah menentukan pilihan?"
Langit mengangguk.
"Siapa?" Tanya Oma.
"Pelangi." jawab Langit.
"Apa kau memberitahu Bintang siapa calon mama barunya?"
Langit menggeleng.
"Oh pantas dia ngambek. Kenapa kau tidak memberitahunya?" Oma berkata sambil memukul lengan Langit.
"Belum sempat Langit beritahu, ia sudah kabur Oma."
"Nggak mungkin ia kabur begitu saja tanpa sebab. Kau pasti mengatakan sesuatu. "
"Tadi Langit bilang kalau Langit tidak bisa memenuhi permintaannya untuk menikahi gurunya. Lalu ia kabur. " Kata Langit tanpa merasa bersalah.
Oma tertawa mendengarnya.
"Kenapa mama malah tertawa?"
Oma masih saja tertawa melihat Langit bingung.
"Assalamualaikum." Anggi masuk sambil memberi salam.
"Waalaikumsalam." Jawab mereka yang ada di ruangan.
Langit melihat Bintang bergelayut manja di lengan Anggi. Anak itu tampak bahagia. Langit bingung melihatnya namun juga ada perasaan lega.
"Oma dah datang. " Kata Anggi.
"Iya, Oma ingin tahu keadaannya. Apa perawat disini merawatnya dengan baik seperti permintaannya kemarin?" Oma menggoda Langit.
"Mama."
"Bintang sudah tidak marah sama papa kan?" Tanya Langit kepada anaknya.
Bintang menggeleng. Ia tersenyum.
"Kok kamu senyum senyum terus dari tadi. Mama juga tertawa tanpa sebab. Ada apa sih kalian?" Tanya Langit penasaran.
Bintang dan Oma masih tersenyum.
"Oma, Bintang. Ada apa sih?" Tanya Anggi yang juga penasaran.
"Nggak ada apa apa Bu Guru. " jawab Bintang lalu tertawa.
Langit yang mendengar Bintang menyebut Anggi dengan bu guru jadi memahami semua keanehan sikap mama dan anaknya. Ia kesal karena mereka tidak jujur bilang dari awal bahwa Anggi adalah gurunya Bintang.
"Kalian berdua sengaja kan?" Tanya Langit.
"Maaf Pa. Habis Oma yang minta Bintang buat diam. " jawab Bintang.
"Mama!"
"Ya.. kapan lagi mama bisa bersenang senang Langit. Kesempatan mengerjaimu kan tidak datang setiap saat. " Jawab Oma santai.
Anggi melihat semuanya dengan bingung.
"Ada masalah apa sih?" tanyanya
"Nggak ada. " jawab mereka bertiga kompak.
Anggi menghela nafas dan tidak ingin ikut campur lagi.
***
Sudah dua hari Langit dirawat. Kondisinya kian membaik. Setelah menjalani pemeriksaan, hari ini Langit diijinkan pulang.
"Kondisimu sudah membaik, tapi ingat jangan sampai kambuh lagi. Jangan bermain main dengan kesehatanmu!" Kata Bima mengingatkan.
Langit hanya tersenyum sambil meletakan telapak tangannya di kening mirip tentara yang memberi hormat.
"Siap bos. " Kata Langit.
"Apa kau sudah mengabari orang rumah jika hari ini kau boleh pulang?"
"Belum. Nanti saja jika mereka datang. "
"Kenapa nggak kau telpon saja biar sekalian menjemput?"
Langit hanya angkat bahu masih sambil tersenyum.
"Dasar aneh. Sok keren lu. " Kata Bima.
"Biarin.. memang aku keren. "
"Keren tapi penyakitan. "
"Biarin, yang penting laku. Daripada keren tapi nggak laku laku. "
"Dagangan kali, laku. "
Mereka masih terus saja bercanda dan saling mengejek.
(terdengar suara musik)
Ponsel Langit berbunyi.
"Halo, Ma!"
"Bagaimana hasil pemeriksaannya?"
"Baik Ma. Langit sudah diijinkan pulang. "
"Syukurlah.Mama akan suruh Pak Imron menjemputmu. "
"Ma.. bolehkan Langit minta tolong?"
"Apa?"
"Biarkan dia ikut menjemput Langit ya, Ma! Langit mohon!"
Mendengar Langit merengek manja Bima mengejeknya
"Cih.. sok imut. Manja. "
Langit menjulurkan lidahnya mendengar ejekan Bima.
Sedangkan di seberang, Oma tersenyum sambil geleng geleng kepala.
"Nani! Panggil Imron kemari!" Kata Oma.
Setelah Pak Imron datang.
"Imron, kami ke sekolah jemput Mbak Anggi dan Bintang. Lalu ajak mereka ke rumah sakit untuk menjemput Langit. Hari ini ia sudah diijinkan pulang!" Perintah Oma pada Pak Imron.
"Baik Nya. " Jawab Imron.
Dia lalu menuju ke garasi dan melakukan mobilnya menuju sekolahan.
mngkin Amelia anak temannya mama senja