Menikah tanpa dasar cinta, akankah bertahan lama ?
Kalaupun berjuang hanya seorang diri, mungkinkah akan bahagia ?
Fira menerima perjodohannya dengan Bara. Namun setelah menikah, Bara memberikan Fira beberapa lembar kertas perjanjian pernikahan mereka. Bara berkuasa atas segala peraturan yang dibuatnya.
"Kenapa kau melakukan semua ini hah?" tanya Fira, gemetar penuh emosi dan tak menyangka.
"Karena aku, tidak pernah menginginkan kehadiranmu!" seru Bara, menyentak Fira.
Bagaimanakah kelanjutan kisah antara Bara dan Fira ?
Apakah pernikahan mereka akan berlangsung lama atau Fira menyerah begitu saja ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Septiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggilan Khusus
Acara tukar cincin pun akan segera di laksanakan, Messy dan Adit kini naik, ke atas panggung kecil, disana mereka melangsungkan pertukaran cincin, dan tentunya, banyak sekali media serta wartawan yang mengambil potret kebahagiaan mereka.
Bara masih berdiam di tempat duduknya, sedangkan Fira dan Dion, kini mereka duduk di kursi yang berjejer di pinggir kolam, sambil melihat Adit dan Messy dari kejauhan.
“ Kamu kenapa ? ” tanya Dion, yang melihat Fira seakan memikirkan sesuatu.
“ Emm.. enga ” Fira mengerjapkan matanya.
“ Hmmm dulu aku berharap bisa berada di posisi itu bersama Adit, tapi... sudahlah... ” gumam Fira dalam hati, karena meskipun kini ia sudah menikah dengan Bara, Fira tak bisa membohongi perasaan nya yang masih tersisa untuk Adit, mungkin mulai malam ini, perasaan itu akan hilang.
“ Oh.. ya temanmu kemana ? dari tadi sepertinya tidak terlihat ” tanya Dion penasaran.
“ Oh iya.. ”. Fira kemudian berdiri, sambil menatap kesekeliling melihat keberadaan Bara. Dan kini ia mendapatinya, dilihatnya Bara yang sedang berjalan ke arahnya.
“ Oh iya itu temanku, aku akan mengajaknya kemari ” Fira melangkahkan kaki nya, ke arah belakang kursi, dan ketika ia berjalan di tepi kolam, kaki nya terpeleset karena menginjak sesuatu dan “ Byurrr ” Fira terjatuh ke kolam, ia melambaikan tangannya ke atas, meminta pertolongan. Namun karena shock Fira perlahan tenggelam dikarenakan kedalaman kolam ini mencapai 2 meter, sehingga Fira tak mampu menapakan kaki nya.
Seketika Dion, yang berada di situ, tak jauh dari Fira, ia segera meraih tangan Fira, namun tak kesampaian. Dion pun rasanya ingin menyebur menolong Fira, tapi sayang dia tidak bisa berenang.
“ Byur... ” seorang lelaki ikut menyebur ke dalam kolam. Dilihatnya oleh Dion, lelaki itu ternyata Bara.
“ Bara ” ucap Dion pelan. Pasal nya sebelumnya, ia tak menyangka kalau Bara akan hadir di acara ini.
Kini para tamu yang berada di lokasi, langsung mengalihkan pandangannya ke arah kolam renang. Dan tak lama Bara muncul ke permukaan, sambil memboyong Fira, yang pingsan. Seketika wartawan itu mendekati dan mengambil potret Bara yang kini sedang membaringkan Fira di pinggir kolam.
“ Fira... bangunlah ” Bara menepuk-nepuk pipi nya perlahan. Namun Fira masih pingsan tak bergerak.
Kini bara, memompa dada Fira, agar air yang masuk ke dalam tubuhnya, bisa keluar. Terus menerus Bara memompa dada Fira, namun Fira masih tergeletak tak bergerak.
Bara pun segera memangkunya, diboyongnya Fira dalam pangkuannya menuju mobil miliknya. Dion pun segera mengikuti Bara dari belakang.
Sesampainya di parkiran, Dion dengan segera membukakan pintu mobil Bara.
“ Di tolong antarkan aku ke rumah sakit ” ucap Bara, ia masuk ke dalam mobil nya di bagian belakang, sedangkan Fira ia baringkan di lahunananya.
Dion segera masuk ke dalam mobil, dan langsung melajukan mobil itu ke rumah sakit.
Sesampainya di UGD rumah sakit, Fira langsung di bawa ke ruang VVIP.
Kini seorang dokter dan seorang perawat masuk ke ruangan untuk memeriksa keadaan Fira. Dokter itu pun segera memeriksa keadaan Fira, serta memberikan pertolongan pertama, agar Fira bangun.
“ Siapkan wadah ” perintah dokter itu kepada perawat.
Perawat itu segera menyodorkan wadah yang di maksud oleh dokter ke arah Fira. Dan seketika Fira bangun dari tidur nya.
“ Oe... ” Fira memuntahkan cairan bening, dari mulut dan hidungnya, ke dalam wadah yang di pegangi perawat itu. “ Uhuk uhuk ”
“ Fira... akhirnya kamu sadar ” ucap Bara dan Dion bersamaan.
Fira pun kini tersadar
“ Aku dimana ” Fira memegang kepalanya, yang dirasa sedikit pusing.
“ Dirumah sakit ” seru Bara.
“ Dok jadi gimana keadaannya? ” tanya Dion mengalihkan perhatian.
“ Tenang saja, Nona ini tidak apa-apa, tadi dia kaget sehingga langsung pingsan. Malam ini juga sudah bisa pulang. Di rumah nanti istirahat saja dulu. Besok pun keadaannya akan membaik ” Ucap dokter itu
“ Syukurlah ” ucap Dion.
Dokter dan perawat itu pun pamit meninggalkan mereka. Kini hanya ada Bara, Dion dan Fira di ruang itu.
“ Kenapa bajuku basah ” Fira memegangi bajunya yang basah. Kemudian ia melirik ke arah Bara. Matanya terhenti ketika melihat pakaian yang di kenakan Bara, juga basah.
“ Kau juga... kenapa bajumu basah? ” tanya nya dengan polos.
“ Kau tadi tercebur ke kolam ”
“ Ahhh ya ampun, iya tadi aku terpeleset ” Fira baru mengingatnya.
“ Fira... maafkan aku ” ucap Dion tiba-tiba.
“ Untuk apa kak Dion meminta maaf padaku ? ” tanya Fira.
“ Tadi aku, tak bisa menolongmu, padahal jarak ku, yang paling dekat dengan mu ”
“ Sudah tidak apa-apa. Kak Dion juga kan sudah berusaha, aku sempat melihat Kakak tadi ingin meraih tanganku ” ucap Fira tersenyum.
“ Benarkah ? ”
“ Iya kak ” Fira menganggukan kepalanya.
“ Kak Dion ? Fira bahkan memanggilnya dengan panggilan kakak ? denganku saja dia tak mempunyai panggilan khusus ” gumam Bara dalam hati, sambil memperhatikan mereka.
“ Ya sudah ayo kita pulang ” ajak Fira.
“ Hmm baiklah ” timpal Bara.
Bara berjalan terlebih dahulu menuju pintu. Sedangkan Fira ia akan turun dari ranjangnya, dan di bantu oleh Dion.
“ Aw... ” lirih Fira, karena merasa kakinya sedikit sakit.
“ Apa kau baik-baik saja ? ” tanya Dion khawatir. Fira pun mengangguk, dan melepaskan tangan dion yang memegang pundaknya. Dion pun melepaskannya.
Fira berjalan perlahan namun kakinya masih terasa sakit.
“ Aw... ” Fira seakan jatuh, namun Dion dengan segera menahannya.
Bara berbalik, melihat ke arah Dion sedang menahan Fira, ia pun menghampiri mereka.
“ Apa kaki mu masih sakit ? ” tanya Bara, Fira pun menganggukan kepalanya.
“ Sudah biar aku yang gendong ” Bara menarik tubuh Fira dari dekapan Dion, dan langsung menggendong Fira dalam pangkuannya. Dion yang melihat sikap Bara, merasa sedikit aneh.
“ Ada apa dengannya ? kenapa dia terlihat begitu sensitif dari tadi ” gumam Bara pelan.
“ Oh ya kau pulang lah sendiri, Fira biar aku yang mengantarnya ” Ucap Bara, membelakangi Dion.
“ Baiklah, oh ya ini kunci mobil mu ” Dion memberikannya. Dan tangan Fira meraihnya.
Merekapun berjalan keluar dari rumah sakit itu. Kemudian Bara dan Fira masuk ke dalam mobil, sedangkan Dion ia kembali ke Hotel tadi menggunakan taxi, untuk mengambil mobil miliknya.
Kini Bara sudah melajukan mobilnya, di sepanjang jalan Bara masih penasaran akan hubungan Dion dengan Fira. Tapi ia enggan untuk menanyakannya, karena merasa gengsi.
“ Oh ya.. apa kau kenal dengan Kak Dion ” pertanyaan Fira tiba-tiba memecah keheningan di anatara mereka.
“ Iya kenapa memangnya ? ” tanya Bara, sambil fokus melihat jalanan.
“ Tidak.. hanya bertanya saja, karena aku lihat kalian begitu akrab ”
“ Kau kenal Dion sejak kapan ? ” akhirnya Bara memberanikan diri untuk bertanya perihal Dion kepada Fira.
“ Em... sudah lama mungkin sebelum aku kenal kamu ” jawab Fira dengan polosnya.
Tiba-tiba Bara mengerem mobil nya sekaligus.
“ Kenapa berhenti ? ”
“ Kau kenal Dion, sebelum mengenal aku? Apa sebelumnya kau mempunyai hubungan special dengannya ? ”
Fira merasa bingung dengan pertanyaan Bara, ia pun dengan reflek menggelengkan kepalanya.
Bara kemudian melajukan kembali mobilnya.
“ Aku kenal Kak Dion, karena dia sering belanja ke toko kue ku ” ucap Fira dengan jujur.
“ Kenapa kau memanggilnya Kakak ?
“ Em.. karena... ” Fira menghentikan ucapannya, karena ia sendiri tak tahu asalan ia memanggil Dion dengan sebutan Kakak.
Bara menautkan kedua alis nya, melirik tajam ke arah Fira.
“ Karena apa ? ” tanya Bara.
“ Karena dia yang meminta ”
“ Kau berteman dengan nya dan mempunyai panggilan khusus ” ucap Bara, seakan tak suka.
“ Ya sebenarnya tidak apa-apa sih, aku memanggilnya kakak, kan usia dia lebih tua dari aku ”
“ Lalu aku dan kamu ” ucap Bara pelan.
“ Aku dan kamu apa ? ” tanya Fira dengan polosnya.
Bara menarik nafas nya dalam-dalam, karena ia merasa sedikit kesal akan Fira yang tak mengertikannya.
“ Sudahlah ”
Kini Bara kembali fokus menyetir, matanya terus menyapu jalanan. Hingga kini ia sampai di area parkir apartemennya.
Bara pun kembali menggendong Fira dalam pangkuannya, di bawanya Fira sampai ke ruang apartemen milik mereka.
***
Pagi hari nya, Selesai menyiapkan sarapan, Fira masuk ke kamarnya bersiap untuk pergi ke rumah ayahnya. Setelah siap, Ia keluar dari kamar nya, kemudian berjalan, mengetuk pintu kamar Bara. Namun tak ada sahutan dari dalam. Fira pun membuka pintu kamar Bara, dan dilihatnya Bara yang masih tertidur, berbalutkan selimut di tubuhnya.
“ Sepertinya dia kecapean, lagi pula dia kan hari ini libur, tak tega kalau aku membangunkannya” ucap Fira pelan, menatap suaminya.
“ Ah.. tapi kalau aku tidak membangunkannya, mau sampai kapan aku menunggu nya bangun ” Fira pun berjalan, mendekati Bara. Kemudian Fira menggoyangkan tangan Bara, hingga Bara bangun dari tidurnya.
“ Ada apa ? kenapa membangunkanku ? ” tanya Bara, sambil mengucek kedua matanya.
“ Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu, aku akan pergi ke rumah ayah, mau mengantarnya ke dokter ”
“ Kenapa tidak bilang ? ” tanya Bara, membulatkan kedua matanya.
“ aneh, bukannya aku tak perlu meminta izin padanya jika ingin pergi ” gumam Fira dalam hati.
“ Barusan kan aku bilang ”
“ Kenapa gak dari kemarin! Sudah keluarlah, nanti aku mengantarmu ”. Fira pun keluar dari kamar Bara.
“ Hah lelaki freak, jalan pikirannya tak bisa di tebak ” gerutu Fira dalam hati, kini ia mendudukan tubuhnya di kursi meja bar, sekaligus menyiapkan sarapan untuknya dan untuk Bara.
20 menit berlalu, Bara keluar dari kamarnya, kini ia sudah bersiap, dengan oenampilannya yang rapih mengenakan, kaos hitam dan celana jeans abu nya. Tak lupa ia memakai hodie berwarna hitam dengan salur silver, membuat kharismanya semakin terpancar.
Bara duduk di samping Fira. Ia mulai melahap sandwich yang sudah di siapkan Fira untuknya.
“ Aku mempunyai permintaan untukmu ” ucap Bara tiba-tiba.
“ Permintaan apa? ” tanya Fira, yang kini sedang meminum segelas jus jeruk miliknya.
“ Panggil aku Mas Bara ” ucap nya dengan suara sedikit pelan.
“ Uhuk uhuk ” Fira tersedak minumannya sendiri. Ia mengerutkan dahinya, merasa aneh dan geli dengan ucapan Bara.
“ Kenapa aku harus -- ” belum selesai Fira berbicara, Bara sudah memotong nya terlebih dahulu.
“ Jangan protes, lakukan saja ”
“ Baiklah, Mas.. Bara.. ” Ucap Fira dengan cekikikan, tak tahan menahan rasa ingin tawanya, karena merasa geli dengan panggilan itu.
“ Oh... Ya ampun.. kenapa menggelikan sekali memanggil dia dengan sebutan Mas Bara ” gumam Fira dalam hati, sambil mengatupkan kedua bibirnya menahan tawa.
“ Kenapa ? ” tanya Bara menajamkan kedua matanya, melihat istrinya yang senyum-senyum sendiri.
“ Em... engga, gak kenapa-napa ” ucap Fira, meyakinkan.
“ Ya sudah ayo kita berangkat ” ucap Bara, yang kini sudah selesai dengan sarapannya.
.
.
.
.
Bersambung ~~~
.
.
.
Author juga geli deh.. ternyata seorang Bara yang dingin dan cuek, ingin di panggil Mas oleh istrinya haha 😂
Jangan lupa dukung author dengan cara **LIKE, KOMEN, & VOTE SEBANYAK-BANYAK NYA.
LOVE YOU** para readersku😘