Pernahkah kamu salah memilih pasangan hingga berujung maut?
Shanaya tewas setelah dipaksa menelan racun. Suaminya, Alvian, dan sepupunya, Anastasia, merampas perusahaannya. Mereka berdua bahkan membunuh ibu Shanaya demi uang.
Mati ternyata bukan akhir bagi Shanaya. Dia terbangun tujuh tahun di masa lalu, tepat tiga hari sebelum acara tunangannya dengan Alvian.
Shanaya menolak mati konyol untuk kedua kalinya. Dia menyusun siasat untuk membalas dendam. Targetnya adalah menghancurkan Alvian dan Anastasia.
Untuk itu Shanaya butuh panggung besar. Dia mengincar Steven Aditya, bos media televisi. Dulu Steven ikut andil dalam kehancurannya. Kali ini, Shanaya akan memaksa pria itu tunduk dan bekerja sama.
Satu kejutan menanti Shanaya. Bukan cuma dia yang kembali ke masa lalu. Ada satu orang lagi yang juga hidup kembali dan mengulang waktu. Siapa orang ini? Apakah dia sekutu yang akan membantu Shanaya, atau musuh yang jauh lebih mematikan?
Baca cerita ini dan temani Shanaya menagih balasa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Emosi Asing
Keesokan harinya bucket bunga itu masih tergeletak di atas meja kerja Shanaya, bersebelahan dengan tumpukan map draf peluncuran koleksi musim gugur Kesuma Fashion. Sebuah kartu kecil terselip di antara kelopak lili. Tulisan tangannya tegas dan maskulin.
Langkah semalam bersih dan presisi. Butuh kopi sungguhan untuk merayakan kemenangan kecil ini? R.
Shanaya menarik kartu itu. Ujung bibirnya melengkung. Sisa ketegangan dari konfrontasi tajam dengan Steven di workshop kemarin perlahan mengendur.
Ketukan dua kali terdengar dari pintu. Seorang resepsionis melongok masuk. "Maaf mengganggu, Bu Shanaya. Ada Mas Rio Pramana menunggu di lobi depan."
Shanaya menatap pintu ruangannya. Rio tidak pernah bergerak tanpa tujuan. Pria itu fotografer yang cerdas. Buket bunga ini pasti kunci pembuka untuk membicarakan proyek rahasia mereka.
"Suruh dia naik."
Dinda buru-buru menyingkir dengan raut penuh tebakan.
Tiga menit kemudian, pintu kembali terbuka. Rio melangkah masuk. Pria itu tidak memakai setelan jas kaku. Ia mengenakan kemeja linen biru muda dengan lengan digulung hingga siku. Senyumnya rileks dan menenangkan. Berbeda dengan pertemuan mereka di pameran Biennale, kali ini tidak ada kamera Leica yang menggantung di dadanya.
"Aku harap bunganya tidak memakan ruang kerjamu," sapa Rio. Ia berhenti tepat di seberang meja Shanaya.
"Cukup menyita ruang." Shanaya menunjuk buket itu dengan dagu. "Tapi bunganya indah. Terima kasih, Rio."
"Sama-sama." Rio memasukkan kedua tangan ke saku celana abu-abunya. Tatapannya lurus dan jernih, mengobservasi wajah Shanaya layaknya sedang membidik fokus lensa. "Pencahayaan di ruangan ini terlalu pucat untuk warna kulitmu. Tapi kamu kelihatan lebih santai hari ini."
"Media sedang sibuk memangsa Anastasia di luar sana. Aku punya waktu sepuluh menit untuk bernapas sebelum masuk ke ruang rapat direksi."
Rio tertawa pelan. Tawanya menular.
Shanaya mengamati pria itu. Rio membawa kehangatan ruang tamu rumah. Kontras dengan aura gelap Steven yang selalu berusaha menguliti pertahanannya dengan pertanyaan menjebak. Rio hanya berdiri di sana. Ia tidak melempar tekanan psikologis. Ia murni mengapresiasi keberadaan Shanaya.
Alis Shanaya bertaut. "Foto apa?"
Rio menatap mata cokelat terang perempuan itu. Ada ketertarikan yang tidak ditutup-tutupi di sana. "Untuk proyek pemotretan koleksi musim gugurmu bulan depan. Aku sudah menyiapkan studio independen di Jakarta Selatan."
"Manuver yang bagus." Shanaya tersenyum tipis. "Kamu mendekatiku murni untuk urusan portofolio bisnis, Rio."
"Awalnya." Senyum Rio bertambah lebar. Pria itu menopang dagunya sendiri. "Sekarang aku tidak yakin. Bagaimana kalau kita bahas kelanjutannya nanti malam? Makan malam. Tidak ada obrolan soal konsep foto, saham, atau angka margin. Hanya makan makanan enak dan mengobrol."
Shanaya terdiam. Serangan manipulatif Alvian sudah masuk dalam perhitungannya. Tuntutan dingin Steven bisa ia imbangi. Namun, transparansi dan kehangatan Rio membuatnya kehilangan kata-kata.
Pria ini menawarkan jeda.
"Aku tahu kamu sedang membangun tembok tinggi di sekitarmu," ucap Rio pelan. "Lensa kameraku bisa menangkap kelelahan yang kamu sembunyikan. Kamu tidak perlu memakai topeng baja itu di depanku, Shanaya."
"Ini bukan tembok." Shanaya menegakkan punggung. Matanya menatap lurus. "Ini baju zirah."
Rio mengangguk pelan. "Kalau begitu biarkan aku membantu membawakannya kadang-kadang. Baju zirah itu berat."
Dada Shanaya berdesir. Kalimat itu diucapkan dengan sangat tulus, tanpa tendensi memaksa atau menuntut balasan.
Ponsel Shanaya mendadak bergetar hebat di atas meja. Layar berkedip menampilkan nama Bi Inah, asisten rumah tangga kepercayaannya di kediaman utama Kesuma.
Interupsi ini datang membawa firasat buruk. Shanaya menyentuh layar dan menempelkan benda pipih itu ke telinga.
"Ya, Bi?"
"Maaf mengganggu, Non Naya." Suara Bi Inah terdengar berbisik panik dari seberang sana. "Ini darurat. Nyonya Restu baru saja datang ke rumah utama."
Aliran darah Shanaya mendingin seketika. Ibu Alvian.
"Mereka berdua sedang duduk di ruang tamu belakang," lanjut Bi Inah dengan napas memburu. "Nyonya Restu membawa tumpukan koran berita plagiat itu dan beberapa map berkas. Beliau menangis sejadi-jadinya, Non. Mengemis ke Nyonya Besar minta tolong."
Rahang Shanaya mengeras. Ular berbisa dari klan Restu akhirnya merayap keluar dari sarangnya. Perempuan tua itu tahu karir putranya berada di ujung tanduk. Ia sengaja datang saat Shanaya berada di kantor untuk memanipulasi Mama Kesuma yang berhati lembut. Taktik air mata palsu.
"Tahan mereka, Bi. Buatkan teh yang lama. Tumpahkan air panas kalau perlu." Suara Shanaya turun mematikan. "Jangan biarkan Mama menandatangani atau menyetujui pernyataan apa pun untuk media. Aku pulang sekarang."
Shanaya memutus panggilan. Ia meraup tas tangan kulit dan kunci mobil dari laci meja. Suasana hangat di ruang kerjanya barusan lenyap tak bersisa.
Rio ikut berdiri. Fotografer itu menangkap perubahan drastis pada gestur tubuh Shanaya. "Keluarga Alvian?"
"Ibu Alvian menemui ibuku diam-diam." Shanaya melangkah cepat menuju pintu keluar.
"Biar kuantar." Rio memblokir pintu. Langkahnya sigap dan tidak memberi celah.
"Tidak perlu, Rio. Ini urusan keluarga."
"Aku tahu." Rio menahan daun pintu. Tatapannya menembus kecemasan di mata Shanaya. "Aku tidak akan ikut campur urusanmu dengan mereka. Aku hanya memastikan kamu sampai di sana dengan aman. Kamu sedang dikuasai amarah. Jangan menyetir sendiri. Aku tahu jalan pintas untuk menghindari kerumunan wartawan di lobi bawah."
Shanaya menimbang sesaat. Pria ini tidak mencari celah untuk menguasainya. Ia hanya mengkhawatirkan keselamatan Shanaya.
Satu helaan napas pendek lolos dari bibir Shanaya. "Ayo."
***
Di lantai empat puluh gedung Aditya Media.
Steven bersandar kaku di kursi kebesarannya. Ruangan kerja itu digelapkan. Cahaya hanya berasal dari layar monitor utama raksasa di dinding. Rekaman mentah dari workshop Kesuma Fashion terus berputar tanpa suara. Wajah tegar Shanaya terpampang di sana. Perempuan itu mengunci emosinya rapat-rapat meski puluhan lampu sorot menelanjanginya.
Jemari Steven menyentuh panel kontrol di atas meja marmer. Ia memundurkan rekaman. Memutar ulang detik saat jarinya bersentuhan dengan jari Shanaya ketika menyerahkan jarum pentul. Permukaan kulit telunjuk perempuan itu yang kasar dan kapalan berdenyut samar dalam ingatannya.
Pintu ruang sunting terbuka tanpa ketukan. Bayu, asisten pribadinya, masuk membawa tablet.
"Mas Steven, laporan rating liputan eksklusif kita hari ini melonjak tajam." Bayu meletakkan tablet di atas meja kaca. "Video skandal Anastasia tembus empat juta penonton siang ini. Publik sekarang sepenuhnya berpihak pada Kesuma Fashion."
"Bagus." Mata Steven tidak lepas dari wajah Shanaya di layar monitor.
"Dan satu lagi, Mas." Langkah Bayu mundur teratur. Suaranya terdengar ragu. "Ini di luar urusan pekerjaan. Tapi lini masa media sosial sedang ramai membicarakan Mbak Shanaya."
Steven memutar kursi seketika. Ujung matanya menajam, siap menguliti siapa pun. "Ada jurnalis yang berani menyerangnya balik?"
"Bukan, Mas." Bayu menelan ludah kasar.
Steven merampas tablet itu tanpa bicara.
Di layar, ada foto buket mawar putih dan lili liar yang mekar sempurna. Di belakang buket itu, sosok Shanaya terlihat sedang menatap seorang pria berkemeja biru muda.
Pria itu Rio Pramana.
Dan Shanaya tersenyum padanya.
Udara tersedot habis dari paru-paru Steven. Matanya terpaku pada tarikan bibir Shanaya di foto itu. Senyum yang tulus. Senyum terbuka yang tidak pernah ia lihat. Perempuan yang mati-matian membangun benteng tebal di depannya, baru saja melepas pertahanan dengan sangat mudah di hadapan pria lain.
Emosi asing dan liar mencengkeram tenggorokan Steven. Rahang pria itu terkatup keras hingga otot di lehernya menonjol. Lengannya menegang kaku. Ruang kerjanya mendadak terasa membakar kulit.
Ia meletakkan tablet itu di atas meja marmer dengan kasar. Mengambilnya lagi. Menatap senyum Shanaya sekali lagi. Lalu meletakkannya kembali.