Tiba-tiba jadi keluarga mafia?!!!
Itulah yang dirasakan oleh seorang gadis cantik bernama Lily. Takdirnya secara mendadak membawanya pada dunia gelap yang tak pernah ia tahu sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nanastar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana si kembar
"Hentikan itu Zefran!" Ucapnya sembari menatapnya dingin. Untuk saat ini, ia sedang tidak ingin bercanda.
"Ahahaha lihatlah! Dia... Dia..."
Bugh!!
Satu pukulan mendarat dipipinya tanpa aba-aba. Zefran pun terdiam sejenak. Ia pun mendongkak menatap wajah sang kembarannya yang terlihat sedang menahan seribu gejolak emosi.
"Haha! Pukulan lo makin keras, ya" Ucapnya dengan tersenyum miring.
"Bukankah kita sudah sepakat untuk hal ini?" Tanyanya dengan tatapan meremehkan. Ia mendekati sang pemuda lalu memutarinya.
"Kita bahkan saling berjanji, akan menyaksikan hal ini bersama-sama bukan, Zevan?"
Deg!
Pemuda yang disebut Zevan itu pun menegang. Matanya bergetar saat mengingat kenyataan itu. Kenapa, rasanya ia tidak bisa mewujudkan janji itu?
"Itu.... Terjadi dimasa lalu sekali... Gue..."
"Lo cuma pura-pura lupa Zevan. Ingat bahwa keluarga kita hancur gara-gara mereka" Zefran pun menghampiri layar monitornya. Ia menunjukkan sesuatu pada Zevan.
"Dia... Zefran!! Cepat hentikan airnya! Dia gak bisa berenang!!" Zevan mencengkram kerah baju milik Zefran kasar. Ia begitu khawatir saat melihat gadis yang berada di dalam kotak kaca itu mulai tenggelam. Bagaimana jika ia mati?!
"Heh?" Zefran malah tertawa miring seakan mengejeknya. Mana mungkin ia akan melepaskan gadis itu dengan mudah. Zevan menoleh lagi pada layar monitor itu yang menampakan sang gadis telah tenggelam sepenuhnya. Ia terlihat berusaha membuka kotak kaca yang mengurungnya. Tubuhnya nampak terlihat semakin lemah dan pergerakannya mulai hilang.
Melihat itu, Zevan semakin kalang kabut. Ia beranjak mencari tombol untuk mengeluarkan air tersebut. Zefran tertawa getir melihat kembarannya kini tak memihaknya lagi.
"Gue kira lo bakalan suka hal ini" Zefran tersenyum dengan sendu dan menekan sebuah remot tombol. Seketika air yang berada di dalam kotak kaca itu pun berangsur-angsur keluar.
"Lo niat buat bunuh dia gak sih?" Tanya Zevan dengan kesal.
"Ahahaha!! Gue? Bunuh dia? Sejak awal yang rencanain semua ini itu lo, Zevan! Gak usah sok baik ama dia karena lo juga sama aja kayak gue!" Jawabnya sembari menatap layar monitor itu dengan wajah penuh dendam.
"Lo...?"
"Buat sekarang, gue gak niat bunuh dia dulu" Jawabnya yang membuat Zevan kesal. Apa dia sedang mempermainkannya?!
"Dia itu-"
"Hey! Kita kan kembar! Kalo lo mau bilang dia adik lo, berarti dia adik gue juga!" Kata Zefran memotong ucapan Zevan. Mendengar fakta itu entah mengapa Zevan tidak menyukainya. Walaupun memang itulah kenyataannya.
"Lalu, apa rencana lo selanjutnya?" Tanya Zevan berhati-hati. Zefran ini psikopat. Ia tidak bisa di kendalikan begitu saja.
"Gue? Entahlah haha!" Katanya sambil tertawa lalu keluar dari ruangan itu menuju tempat dimana kotak kaca itu berada. Zevan pun mengikutinya. Ia benar-benar tidak bisa memahami dan menebak apa yang akan di lakukan oleh kembarannya itu.
Krieettt....
Zreeesss!!!
Suara kaca digeser. Lily membuka matanya menatap ke depan. Ia terbaring lemah setelah hampir kehabisan nafasnya tadi.
"Kak..." Katanya lirih ketika melihat seulet manusia berjalan dengan perlahan kedalam kotak kaca.
"SUPRISE!" Teriaknya lagi dengan berjongkok melihat kondisi Lily yang sedang lemah. Ia menyunggingkan senyumnya yang tidak nyaman untuk di lihat.
"H-hah?" Lily mencoba duduk dan terperangah saat melihat ada dua Zevan. Yang mana yang asli? Atau dia sedang berhalusinasi akibat tenggelam tadi? Ia memijit kepalanya yang dirasa pening.
"Li..." Zevan menghampirinya dengan penuh khawatir dan mencoba untuk memberikan jas nya padanya agar tidak kedinginan. Namun dengan cepat Lily menjauhkan dirinya pada Zevan dengan reaksi ketakutan. Ia mulai terlihat menggigil dan menggigit jarinya.
"Li, pulang yu" Zevan mencoba untuk membujuknya agar ia tidak takut lagi padanya. Namun respon Lily malah diluar dugaannya.
"Pergi!! Kamu jahat!" Teriaknya. Zevan tak kuasa menahan gejolak emosi anehnya ketika Lily menolaknya. Ia pun memeluk paksa gadis itu hingga ia meronta-ronta minta dilepaskan.
"Lepasin aku!!! Aku gak mau pulang sama kamu!!!" Teriaknya yang tak di hiraukan Zevan yang masih terus mengukung gadis itu di pelukannya. Ada rasa sakit di dalam hatinya melihat kondisi gadis itu.
"Shhhh tenanglah, gue gak bakalan ngelukain lo Li...." Katanya dengan lembut sambil mengusap-usap kepala Lily. Gadis itu pun nampak berhenti meronta dan mulai terisak-isak. Zevan semakin mempererat pelukannya.
Sedangkan Zefran yang sedari tadi melihat itu hanya terdiam mematung. Ia menyadari bahwa kembarannya telah menyayangi gadis itu melebihi keluarga. Ya, Zefran tahu karena dia adalah seorang laki-laki. Jadi ia paham perlakuan Zevan tidak biasa untuk gadis itu.
"Zevan, gue gak ngerti ama lo" Ucapnya membuat Lily tersadar akan sesuatu. Bahwa seseorang yang sedari tadi diam disana bukanlah Zevan. Lantas siapa dia? Kenapa wajahnya mirip sekali dengan Zevan?
🍷🍷🍷
"Oh jadi... Kak Zevan ini punya kembaran, terus namanya Zefran? Kenapa kak Zevan gak bilang?" Tanya Lily yang kini mulai membaik. Ia memakai handuk yang dijadikan selimut untuk menghangatkan tubuhnya karena bajunya masih basah.
"Gue kira.... Lo udah tau..." Jawabnya dengan kikuk.
"Disini, seorang perempuan yang melahirkan anak kembar akan mendapatkan gelar tidak sempurna. Dan anak kembar disebut sebagai produk gagal!" Jelas Zefran sembari memakan buah apel.
"Hah? Produk gagal?" Lily mencoba mencerna ucapannya.
"Cacat" Zevan lebih menggaris bawahinya dengan yang mudah untuk dipahami.
"Hah?! Gak mungkin! Diduniaku yang kembar itu keajaiban!" Ucapnya tak sadar.
"Dunia lo?" Heran Zevan.
"Eh itu...Maksudku... Itu... Ummm..." Ia menutup mulutnya dan merutuki dirinya sendiri karena sudah keceplosan.
"Lo, beneran hilang ingatan ya?" Tanya Zevan dengan raut wajah yang sedih.
"Maaf, gue yang bikin lo jadi kayak gini" Zevan menyentuh kepala Lily lalu untuk yang pertama kalinya, gadis itu melihat senyuman yang berbeda dari pemuda itu. Senyuman yang paling-paling tulus yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Tak sadar, kedua pipi Lily bersemu merah.
Pada akhirnya, Zefran pun mengaku bahwa dulunya ia pernah meneror Lily. Bahkan ia pernah menjailinya dengan memasukanya kedalam gudang, menakutinya dengan memukul tembok keras dari kamar dan juga menjambak rambutnya. Namun Zefran hanya sebatas itu, tidak melakukan apapun lagi. Dan ia jugalah yang membajak hpnya.
"Acount lo kena hack kan? Udah gue banned acount lo tenang aja" Ujar Zevan pada Lily yang merasa bersalah karena tidak segera membicarakannya. Tapi kenapa mereka berdua bisa tau?
"Kok bisa tau?" Tanyanya. Lantas Zefran menjawabnya dengan enteng.
"Tau lah. Orang hp lo aja udah gue bajak juga"
Zevan dan Lily menatapnya kaget. Apa tadi, di bajak?!
"Lo bajak hp Lily?!" Zevan melayangkan tatapan menusuk padanya.
"Yah.... Gue gak ngintipin lo kok.... Lo kan adek gue, kan?"
"Gue colok mata lo pake obeng kalo berani liat yang gak perlu" Kata Zevan membuat Lily merinding. Kata-katanya sangat mengerikan.
"Jadi, apa gue boleh jadi kakak lo juga?" Tanya Zefran pada Lily.
"B-boleh...." Jawabnya ragu.
"Apa?!" Zevan menatap tajam kearah mereka berdua. Tidak! Jika Zefran ikut-ikutan hadir, waktu berduanya dengan Lily di rumah akan terganggu.
"Kita berdua sering tukeran tinggal di rumah sebenarnya. Kalo gak salah... Waktu itu gue gak sengaja mergokin orang yang lagi ciuman di gudang... Sialnya gue malah hampir ketauan penjaga jadi langsung pergi ga sempet liat siapa yang berani berbuat hal tidak senonoh itu di rumah kita!" Ucap Zefran membuat Lily mengulum bibirnya menahan malu. Sedangkan Zevan dengan santainya tidak bereaksi apapun.
"Lagian lo pake acara mau mergokin orang yang lagi mesra-mesraan segala"
"Zev, masalahnya itu di rumah gue! Gue gak suka liatnya! Gak modal banget. Kenapa gak di ajakin ke hotel aja. Dasar para pembantu mis-"
"Sudah-sudah. Gue sama Lily mau balik dulu. Lo diem aja disini, kita kayak biasanya aja nongol satu-satu" Ucapnya lalu mulai menuntun Lily untuk bangun.
"Hm... Oke" Zefran pun menyalakan tv nya karena mulai bosan. Melihat itu, Lily merasa kasihan juga pada Zefran yang hidupnya pasti lebih terkurung darinya.
'Aku bakalan bantu kamu Zefran!' Batinnya lalu keluar bersama Zevan.
Di dalam mobil, mereka berdua tidak berbicara sedikit pun. Hingga akhirnya Zevan memulai dengan memegang tangan Lily lembut.
"Li, jangan takut sama gue please" Katanya sambil menciumi tangan sang gadis lembut.
"Maafin gue juga.... Maaf... Maaf" Ucapnya yang membuat Lily menatapnya penuh tanya. Maaf buat apa? Kenapa dia terus menerus meminta maaf padanya?
Dan tanpa aba-aba Zevan melajukan mobilnya cepat hingga membuat jantung Lily rasanya mau copot.
Saat mereka akhirnya tiba di rumah, Zevan langsung membawanya ke kamar. Bukannya meninggalkannya untuk bersih-bersih dan istirahat, Zevan malah menciumi bibir gadis itu di atas ranjang miliknya. Ia seakan menuntut lebih dan lebih lagi ketika melumat bibir ranum sang gadis yang terasa manis dan memabukan baginya itu.
"Enghh... Kak... Stop..." Lenguh sang gadis saat lidah pemuda itu masuk kedalam mulutnya dan mengabsen setiap inci giginya. Ia bahkan melumat lidah sang gadis dengan rakus.
"Panggil gue Zevan..." Katanya dengan suara berat dan nafas yang tidak beraturan. Percuma saja Lily meronta mencoba menjauhkan tubuh Zevan darinya. Karena tenaganya lebih besar darinya.
"Kak, stop" Mohon Lily yang mulai merasa pusing. Namun Zevan seakan menutup telinganya rapat dan mulai menciumi gadis itu lagi dengan lebih kasar. Kedua tangannya ia cekal agar tidak lagi mendorongnya untuk menjauh. Lily hanya bisa terdiam dengan air mata yang mulai menetes lembut. Lagi-lagi Zevan berbuat seenaknya pada dirinya.
BERSAMBUNG