"Saat Setya membuang Arumi demi wanita muda yang lebih cantik, ia lupa bahwa rezekinya tertitip pada doa sang istri sah. Kini, setelah jatuh miskin dan dipecat, Setya terpaksa kembali bersimpuh hanya untuk mengemis pekerjaan di gudang milik Arumi—wanita yang kini menjadi bosnya sendiri."
Selamat membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisa Makanan dan Harga Diri yang Terkoyak
Malam itu, langit tidak memberikan ampunan sedikit pun. Hujan turun rintik-rintik, cukup untuk membuat pakaian kerja Setya yang tipis menjadi lembap dan mengeluarkan bau apek yang menusuk. Setya duduk meringkuk di trotoar, tepat di seberang gerbang Gudang Berkah Arumi yang sudah tertutup rapat. Perutnya berbunyi nyaring, rasa perihnya seolah sedang disayat oleh pisau tumpul. Tiga hari tanpa gaji dan tanpa jatah makan dari Arumi adalah hukuman mati perlahan bagi pria yang tidak punya simpanan sepeser pun sepertinya.
Ia menatap tangannya yang kotor. Kuku-kukunya hitam karena sisa-sisa pembersihan saluran air tadi siang. Setya tertawa getir. Dulu, tangan ini digunakan untuk menandatangani dokumen pengiriman kapal senilai miliaran rupiah. Kini, tangan ini bahkan tidak sanggup membeli sebungkus nasi kucing di pinggir jalan.
"Arumi benar-benar tega," bisiknya dengan suara serak. "Hanya karena air sabun itu ... dia membiarkan aku mati kelaparan di sini."
Setya mencoba berdiri, tapi kepalanya terasa berputar (vertigo) karena kadar gula darahnya yang merosot tajam. Ia terpaksa berpegangan pada tiang listrik agar tidak jatuh tersungkur ke aspal yang basah. Di tengah keputusasaannya, sebuah aroma harum tercium oleh hidungnya. Aroma ayam goreng rempah yang sangat ia kenali—bumbu rahasia hasil racikan Arumi.
Aroma itu berasal dari sebuah bungkusan plastik yang tergeletak di atas tempat sampah besar di pojok gudang. Setya menelan ludah. Logikanya bertarung hebat dengan egonya. Ia adalah mantan pejabat pelabuhan. Ia adalah pria yang dulu selalu makan di restoran berbintang. Haruskah ia mengais sampah?
Akan tetapi, rasa lapar tidak mengenal kasta. Dengan langkah gemetar, Setya mendekati tempat sampah itu. Ia melihat ada kotak nasi styrofoam yang masih tampak utuh, mungkin sisa dari salah satu supir truk yang merasa kenyang lebih awal. Setya membukanya dengan tangan bergetar. Benar saja, di dalamnya masih ada sepotong paha ayam yang hanya digigit sedikit dan sisa nasi yang tercampur sambal.
Tanpa pikir panjang, Setya menyuapkan sisa makanan itu ke mulutnya. Ia tidak peduli lagi pada kuman. Ia tidak peduli lagi pada kehinaan. Yang ia tahu, ia harus bertahan hidup. Saat ia sedang lahap memakan sisa makanan itu, lampu sorot mobil tiba-tiba menyinari tubuhnya yang sedang membungkuk di atas tempat sampah.
Setya membeku. Ia mengenali mobil itu. SUV putih milik Arumi.
Kaca mobil terbuka perlahan. Arumi duduk di kursi kemudi, sementara di sampingnya ada Dhanu yang pergelangan kakinya masih dibalut perban tipis. Di kursi belakang, Liam, Sekar, dan Arjuna menatap keluar jendela dengan mata membelalak.
"Bunda ... itu orang yang tadi ya? Kenapa dia makan dari tempat sampah?" suara polos Arjuna terdengar memecah keheningan malam.
Setya menjatuhkan tulang ayam dari tangannya. Ia merasa dunianya runtuh saat itu juga. Dilihat oleh mantan istri dan anak-anaknya saat sedang mengais sampah adalah penghinaan yang jauh lebih kejam daripada tamparan Arumi siang itu.
Arumi tidak turun dari mobil. Ia hanya menatap Setya dengan tatapan yang sulit diartikan—antara jijik dan miris. "Setya, aku tidak menyangka kamu akan jatuh serendah ini. Aku memberimu hukuman agar kamu belajar menghargai pekerjaan, bukan agar kamu menjadi pemandangan buruk di depan gudangku."
"Rum ... aku lapar..." suara Setya hampir tidak terdengar.
Dhanu menghela napas, ia mengambil dompetnya dan mengeluarkan selembar uang seratus ribu rupiah, lalu mengulurkannya dari jendela. "Ambil ini. Pergilah ke warung yang layak. Jangan biarkan anak-anakmu melihat pemandangan memuakkan ini lebih lama lagi."
Setya menatap lembaran uang itu. Rasanya seperti disiram minyak panas. Pria yang ia benci, pria yang ingin ia celakai, kini justru memberinya sedekah karena merasa kasihan.
"Aku tidak butuh uangmu!" teriak Setya dengan sisa tenaganya, meski tangannya sebenarnya sangat ingin menyambar uang itu.
"Setya, ambil atau aku panggil satpam untuk mengusirmu dari kawasan ini selamanya," ancam Arumi dingin. "Pikirkan ibumu. Kalau beliau tahu anaknya makan dari tempat sampah, beliau bisa serangan jantung."
Mendengar nama Ibu Aminah, pertahanan Setya runtuh. Ia mengambil uang itu dengan tangan gemetar. Mobil Arumi langsung melesat pergi, meninggalkan kepulan asap yang mengenai wajah kusam Setya.
Keesokan harinya, Setya terpaksa harus menghadapi kenyataan pahit lainnya. Ia harus mengunjungi Raya di penjara. Bukan karena ia rindu, tapi karena ia takut dengan ancaman Mbak Lastri yang disampaikan melalui pesan singkat dari ponsel salah satu petugas yang disuap.
Dengan sisa uang dari Dhanu, Setya membeli beberapa bungkus roti murah dan dua botol air mineral. Ia tidak sanggup membeli makanan mewah seperti yang diminta Raya.
Di ruang besuk, Raya muncul dengan kondisi yang mengerikan. Rambutnya lepek, ada bekas lebam di lengan kirinya, dan wajahnya tampak pucat pasi. Saat melihat Setya, Raya langsung menangis histeris di balik kaca.
"Mas! Kenapa lama sekali?! Kamu tahu tidak, aku di sini disiksa! Mereka menyuruhku tidur di lantai dekat lubang WC karena kamu tidak kirim uang!" teriak Raya.
Setya hanya menatapnya dengan pandangan kosong. "Aku sedang di hukum, Raya. Aku tidak punya uang. Ini saja hasil sedekah dari Dhanu, pria yang sekarang mendekati Arumi."
"Apa?! Kamu terima uang dari pria itu?! Kamu benar-benar pecundang, Setya!" Raya memukul kaca pembatas. "Cepat keluarkan aku dari sini! Jual apa saja! Sertifikat rumah ibumu, atau apa saja!"
"Sertifikat itu sudah dipegang Arumi sebagai jaminan sekolah anak-anak," jawab Setya datar.
"Kita sudah hancur, Raya. Mbak Sarah jadi buruh cuci piring, aku jadi tukang sampah, dan kamu di sini. Sepertinya doa Arumi memang menembus langit."
Raya terdiam. Ia tertawa gila. "Doa? Itu bukan doa, itu kutukan! Kamu harusnya bela aku, Mas! Jangan malah diam saja!"
Tiba-tiba, seorang petugas mendekati Raya dan menarik pundaknya dengan kasar. "Waktu habis! Masuk kembali ke sel!"
"Mas! Mas Setya! Jangan tinggalkan aku!" jerit Raya saat diseret kembali.
Setya berdiri dengan langkah gontai. Ia keluar dari lapas dan berpapasan dengan sebuah mobil box besar yang membawa ribuan botol "Bumbu Rahasia Arumi". Di badan mobil itu, terpampang foto Arumi yang sedang tersenyum cantik sebagai ikon produknya.
Setya menyadari satu hal yang sangat logis sekarang. Arumi tidak pernah menggunakan sihir atau cara kotor untuk menghancurkannya. Arumi hanya menarik seluruh keberuntungan yang selama ini Setya nikmati saat masih bersamanya. Tanpa Arumi, Setya hanyalah sebuah wadah kosong yang tidak punya nilai apa pun.
Ia berjalan menuju gudang Arumi, bersiap untuk menerima hukuman sikat toilet berikutnya. Ia tidak punya pilihan lain. Ia harus tetap berada di sana, melihat kesuksesan Arumi, mencium wangi parfum Arumi dari balik pintu toilet, dan menelan semua empedu penyesalan setiap kali Liam dan adik-adiknya memanggil Dhanu dengan sebutan "Om" yang penuh kasih sayang.
Hukum logika sedang berjalan: Siapa yang menanam pengkhianatan, akan memanen kehinaan. Dan bagi Setya, musim panen itu baru saja dimulai.
mantu baik harusnya dibela