Kisah Princess Mahreen dan Collin Lange
Mahreen Al Khalifa putri bungsu Malik dan Milly Al Khalifa adalah putri Sheikh yang suka hidup bebas tanpa aturan istana hingga Malik harus memberikan Collin Lange sebagai bodyguardnya. Tanpa keluarga Al Khalifa tahu, Collin adalah agen MI6 yang menyamar masuk ke istana Al Khalifa untuk mencari buronan internasional yang bersembunyi di Bahrain. Mahreen dan Collin bagaikan air dan minyak hingga gadis itu tahu misi sebenarnya pria tersebut. Setelah Collin menyelesaikan misinya, dia kembali ke Inggris namun Mahreen bertekad untuk mendapatkan bodyguardnya yang ternyata agen rahasia itu kembali ke dalam pelukannya.
Generasi Delapan Klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Collin Terkejut
Collin menghitung hingga dua ratus lima puluh saat Mahreen keluar dari toko aksesoris itu. Wajahnya tampak tidak bersalah saat melihat Collin menatapnya sebal. Mahreen malah memperlihatkan kantong belanja yang kecil ke Collin.
"Yang ini, aku bawa sendiri, Lange. Kamu jangan khawatir," senyum Mahreen sambil berjalan dan Collin mengikuti Princess of Bahrain itu.
"Tentu saja yang itu Anda bawa sendiri karena kecil! Bisa saja tinggal dimasukkan ke dalam tas Hermés Anda bukan?" balas Collin judes.
"Oh, iya ya. Kamu kok pintar sih Lange?" kerling Mahreen membuat Collin memutar matanya malas.
"Princesssss ...." Collin benar-benar kesal dengan putri satu itu.
"Sudah. Tidak usah marah. Sekarang tolong bukakan pintu mobilnya," pinta Mahreen saat mereka tiba di parkiran. Mahreen memang tidak mau ada pengawal dari keluarga Al Sharif. Dia hanya mau pergi berdua bersama Collin supaya tidak menjadi pusat perhatian.
Collin menatap sebal ke Mahreen. "Apa Anda tidak melihat bagaimana kedua tangan saya?"
"Lho kenapa?" balas Mahreen polos.
"Anda tahu kan tangan saya penuh? Bagiamana bisa saya meraih kunci mobil di saku depan celana saya!"
"Oh."
Collin semakin mendelik. "Oh?"
"Oke. Saku sebelah mana?" tanya Mahreen sambil mendekati Collin.
"Kanan." Collin terkejut saat tangan Mahreen dengan santainya merogoh saku celananya. Collin pun menahan napas karena jari Mahreen nyaris menyentuh sesuatu yang sangat sensitif. Akhirnya Mahreen mendapatkan kunci mobil itu dan membukanya.
"Sini, aku bantu masuk-masukan," senyum Mahreen sambil membuka pintu belakang Range Rover milik Aidan yang dipinjamnya.
"Finally. Anda sadar diri," sarkas Collin.
"Oh maap ya Collin. Aku tadi pengsan dan kerasukan jin shopping," balas Mahreen sambil mengedipkan sebelah matanya.
Collin hanya melengos dan menutup pintu belakang mobil mewah itu. "Kita pulang, Princess."
"Eh, cari makan dulu. Aku lapar." Mahreen pun lenggang kangkung berjalan ke kursi penumpang meninggalkan Collin yang menatapnya kesal.
"Ya ampun ... berikan aku kesabaran penuh, Tuhan!" gumam Collin sebal.
"Lange! Ayo! Cacing aku sudah demo!" teriak Mahreen.
Collin berjalan ke sisi kursi pengemudi. Dia pun masuk dan menstater mobilnya.
"Kenapa tadi tidak makan sekalian di mall?" tanya Collin sambil membantu Mahreen memasang sabuk pengamannya.
"Dengan tangan kamu yang penuh? Tidak, Lange. Aku masih ada rasa kasihan sama kamu." Mahreen menatap polos ke mata abu-abu Collin.
"Kasihan? Yang benar? Bukannya Anda suka melihat saya tersiksa dengan tas belanjaan dengan isi entah kapan dipakainya?" ejek Collin sambil memakai sabuk pengamannya.
"Sudah. Tidak usah marah-marah. Tandanya kamu lapar itu," balas Mahreen kalem. "Biar aku cari restaurant yang masih buka." Mahreen mencari tempat makan lewat layar monitor di mobil. "Nah, ada nih restaurant 24 jam. Aku sudah klik arahnya. Ayo, kita berangkat!"
***
Istana Al Sharif Muscat
"Mahreen belum pulang?" tanya Malik ke Milly usai ghibah dengan generasi ketujuh.
"Belum tuh pak Malik," jawab Milly yang sedang sibuk membersihkan wajahnya.
"Kemana anak itu?" gumam Malik sambil melepaskan kemejanya dan menaruhnya di keranjang baju kotor. Milly hanya menatap tubuh suaminya yang masih tetap terawat. Bulu-bulu di dada Malik, seringkali membuat Milly merasa sensasi tersendiri.
"Kan selama pergi bersama Collin, aman." Milly melihat Malik memakai kaos rumahnya.
"Apa kamu yakin?" tanya Malik dengan wajah skeptis.
Siapa kangen sama pangeran songong satu ini?
"Selama tidak bertemu kucing, sepertinya aman-aman saja deh!" gumam Milly dengan nada tidak yakin.
Malik menggelengkan kepalanya. "Cewek clumsy, bikin adiknya Marning yuk?"
Milly melongo. "Eh pangeran songong, aku sudah tutup buku!"
"Ah, siapa tahu bisa kebobolan. Biar Mahreen ngereog," kekeh Malik sambil menghampiri Milly dan mencium bibirnya.
"Kagak bisa Malih!" gelak Milly.
"Kok jadi Malih? Siapa itu Malih, Milly?" goda Malik sambil menggelitik pinggang istrinya.
Milly tertawa geli dan endingnya mereka berakhir diatas kasur. Usai percintaan yang panas, Malik kembali bertanya.
"Siapa itu Malih?" tanya Malik.
"Itu pelawak dari Betawi, pak Malik. Di Jakarta kalau lagi acara ledek-ledekan, biasanya bilang gitu. Tidak ada arti apapun cuma cari rima yang enak buat ngeledek," senyum Milly. "Tenang saja Malik, aku cuma cinta kamu kok."
***
Restaurant Saharan Muscat
Collin melihat sandwich panjang dengan isi beef slice, sosis, acar timun, bawang Bombay cincang, keju, mustard dan mayonaise. Di samping masih ada kentang goreng dan Collin juga melihat ada milkshake coklat, satu gelas es teh safron dan satu cangkir kopi. Mahreen masih memesan dua botol air mineral juga.
"Kita habis ini makannya?" tanya Collin.
"Habis lah! Aku kan lapar!" jawab Mahreen yakin.
"Saya kok tidak yakin." Collin mengambil pisau dan memotong sandwich itu jadi dua.
Mahreen lalu memakan sandwich itu, begitu juga Collin. Keduanya saling berpandangan dan sama-sama heboh.
"Enak!" seru keduanya.
Mahreen dan Collin menikmati makan malam yang tertunda. Tanpa banyak bicara karena sandwich yang mereka makan sangatlah enak.
"Ini semua pas! Cara grilled daging dan sosisnya, sausnya, acarnya ... semua pas! apalagi kejunya. Ugh, top!" puji Mahreen.
"Princess, apa Anda yakin bukan Nona Arletta yang seorang chef?" senyum Collin.
"Hhhmmm ... Mungkin karena sering kumpul dengan Mbak Letta ya?" gumam Mahreen.
"Setelah Anda lulus dari Leiden, apa yang hendak Anda lakukan?" tanya Collin.
"Aku? Kembali ke Manama, mulai menginventarisir semua karya seni dan budaya Bahrain. Termasuk peninggalan peradaban kuno. Semua ada di dalam museum. Selain itu, aku juga ingin memberikan kesempatan pada para seniman Bahrain untuk lebih dikenal dunia. Aku tidak mau kalah dari negara-negara para sepupuku. Aku ingin rakyatku bisa dipandang penuh penghargaan atas bakat dan talenta mereka. Karena basic aku adalah budaya sih," jawab Mahreen.
"Bagaimana dengan Pangeran Maxi?"
"Mas Maxi itu lebih fokus ke infrastruktur. Dia bahkan ingin meningkatkan irigasi di banyak perkebunan kurma, Tin dan delima. Bahrain adalah pengekspor delima terbaik. Dan mas Maxi ingin banyak ekspor demi perekonomian negara. Kenapa kita menggenjot ekspor? Karena di dalam negeri kami surplus! Alhamdulillah berkat kepemimpinan Abi dan kemampuan diplomasi Oom Hisyam, Bahrain menjadi negara yang diperhitungkan. Kalau Umi lebih fokus ke para atletnya. Bahrain tidak pernah absen piala dunia lho dua belas tahun ini! Meskipun prestasi paling bagus, ke perempat final."
Collin menatap Mahreen dan diam-diam dia kagum dengan pola pikir gadis di depannya. Usianya mungkin belum ada dua puluh tahun tapi Mahreen sudah mempersiapkan diri sebagai putri Sheikh Al Khalifa.
"Orang yang bisa mendampingi Anda itu harus yang bisa menjadi penyokong yang kuat. Anda punya banyak mimpi untuk memajukan Bahrain bukan?" ucap Collin.
"Benar. Itu bukan cuma kewajiban, bukan cuma tugas aku sebagai putri Sheikh Al Khalifa tapi karena aku memang ingin melakukannya! Sama halnya Mas Maxi yang ingin mengembangkan hutan di Bahrain. Mas Maxi berharap dengan banyak hutan di wilayah kami, bisa membuka kembali mata air-mata air agar tidak terjadi kekeringan. Abi sudah melakukannya dan Mas Maxi hendak melanjutkan." Mata hijau Mahreen tampak berbinar saat membicarakan rencananya dan rencana Maximilian.
Collin mengangguk. "Saya akan mendampingi Anda sebagai pengawal Anda."
Mahreen tersenyum. "Terima kasih Lange."
"Sama-sama."
***
Yuhuuu up Pagi Yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
#eh