NovelToon NovelToon
Three Princes And The Cat Who Knows Too Much

Three Princes And The Cat Who Knows Too Much

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Epik Petualangan / Keluarga & Kasih Sayang / Penyeberangan Dunia Lain
Popularitas:276
Nilai: 5
Nama Author: Rootea

Rumi terlempar ke dunia otome game yang sedang digandrungi. Tapi, dia bukan tokoh utama wanitanya.... Dia cuma seekor kucing!

Berbekal pengetahuan akan seluruh akhir cerita bersama tiga pangeran, Rumi bertekad mengatur jalur romansa agar semuanya berakhir bahagia.

Namun, kehidupan tidak pernah sesederhana permainan game....

Tiga pangeran berarti tiga jalan hidup. Tiga pilihan. Dan hubungan yang perlahan menghancurkan dari dalam.

Apakah yang dia ketahui masih cukup? Ataukah, pada akhirnya Rumi tidak bisa melakukan apa-apa....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rootea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 1 - Kehidupan Semula

Kadang kala—belakangan ini sepertinya cukup sering—aku bertanya-tanya sebenarnya hidupku ini untuk apa.

Bekerja keras setiap hari, tidak jarang mengorbankan waktu libur karena panggilan darurat, berulang kali melewatkan waktu makan siang karena jadwal yang padat, lalu pulang hanya untuk menyempatkan tidur tak lebih dari empat jam. Setiap kali membuka pintu apartemen, yang menyambut hanyalah kegelapan. Terkadang tubuhku terlalu lelah sampai tidak sempat mengganti baju dan tertidur di lantai, lalu terbangun dengan leher kram dan suasana hati yang buruk. Aku sudah tidak ingat kapan terakhir kali aku melihat matahari terbenam. Rencanaku untuk berlibur berulang kali terpaksa ditunda. Teman-temanku pun menyerah untuk mengajakku pergi. Pada akhirnya, lingkar pertemanan kecil yang aku miliki ini… semakin tiada. Kisah cinta? Ha ha. Hanya memikirkannya saja sudah membuat ingin menangis.

Untuk apa, sebenarnya?

Aku bahkan bukan seorang pengusaha dengan omzet milyaran, hanya pegawai biasa yang tidak bisa menolak tuntutan lembur.

Hari ini pun sama saja.

‘Hari ini’ pun aku baru meninggalkan kantor setelah hari berganti.

Kereta terakhir sudah lewat. Biarpun butuh waktu lebih lama dengan berjalan kaki dan waktu yang aku miliki sebelum jam kerja esok (nanti) hari hanyalah sedikit, aku tetap memilih pulang—seperti biasanya. Alasannya karena… rasanya menyedihkan sekali kalau sampai menginap di kantor dan menunggu pagi tiba. Lebih-lebih karena hari ini—kemarin—adalah hari ulang tahunku.

Ulang tahun ke 30 pun kuhabiskan dengan bekerja. Seperti tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya.

Betapa menyedihkan.

Langkahku gontai menyusuri jalanan Tokyo. Biarpun beberapa toko masih beroperasi, malam yang sudah larut tetap membawa keheningan yang khas. Suara sol sepatu terdengar cukup nyaring di telinga tiap kali aku menyeret langkah di atas trotoar. Udara malam di bulan Juli sungguh berat, panas—bahkan meski matahari tidak ada di langit. Rambutku terasa berkeringat dan lepek, sanggul kecil dengan pita biru sudah melorot tak berbentuk hingga beberapa helai rambut lepas. Make up di wajah pun aku yakin sudah berantakan, tidak lagi mampu menutupi lelah yang menggelayut berat di mata. Biasanya aku cukup peduli untuk merapikan sedikit penampilan bahkan dalam perjalanan pulang. Biasanya aku tidak selelah ini. Hari ini, aku tidak punya sisa energi untuk peduli. Bagaimanapun penjaga kasir minimart menghakimi… biarlah.

Tanpa lilin, tanpa tumpukan kado, dan tanpa seorang lain pun untuk menemani, aku merayakan ulang tahun (yang terlambat satu hari) seorang diri di apartemen yang gelap. Apartemen kecil dengan harga sewa mahal yang hanya aku pakai untuk tidur sepintas lalu. Petak tak seberapa yang bahkan tidak yakin bisa aku sebut rumah. Setidaknya, mochi roll yang kubeli sebagai pengganti kue ulang tahun (hanya itu satu-satunya ‘kue’ yang tersisa di minimarket!) cukup enak. Lapis mochi cake itu lembut dan kenyal, sementara krim didalamnya meleleh di mulut.

Bir dengan kadar alkohol sepuluh persen kembali melewati kerongkongan. Segar dan pahit yang familiar. Biasanya minum bir di penghujung hari cukup membuatku terhibur, membuat tubuhku cukup hangat sebelum bergelung di bawah selimut dan merengkuh tidur yang tak seberapa lama. Hari ini, entah kenapa berbeda. Tiga kaleng bir sudah kosong dan hatiku pun sama kosongnya.

Mungkin karena masalah di kerjaan hari ini. Mungkin karena teman kencan yang aku dapat dari aplikasi online membatalkan rencana bertemu hari sabtu nanti. Mungkin karena segelintir pesan yang masuk untuk memberi ucapan ulang tahun selalu diakhiri dengan pertanyaan senada— kapan menikah? Kapan mengenalkan kekasih? Kapan memiliki hubungan yang serius? Bla bla bla.

Mengesalkan.

“AKU JUGA MAU PUNYA KEKASIIH!!” Tanpa sadar aku berteriak sembari menggebrak meja dengan kaleng bir keempat. Isinya sedikit tumpah, membasahi karpet dan membuat tangan lengket—tapi aku tidak peduli.

Sedih. Kesal. Frustrasi. Berbagai emosi bercampur dalam dada. Rasanya ingin menangis. Mungkin tanpa sadar aku sudah menangis.

Mereka pikir aku tidak ingin punya seseorang yang menyambutku dengan pelukan hangat di penghujung hari??? Aku juga ingin dipuji betapa aku sudah bekerja keras seharian, betapa mereka bangga dengan apa yang sudah kulakukan. Tapi menikah tidak semudah itu!! Menemukan seseorang yang mencintaiku dan selaras denganku tidak semudah itu!

Aku tidak mau menikah lalu menjadi budak, terkurung di rumah dan hanya jadi mesin pembuat anak. Tidak mau!! Kalau bisa, aku tidak ingin punya anak…

Aku hanya ingin dicintai….

Denting notifikasi mengambil perhatianku. Aku merogoh ponsel dari dalam tas yang tergolek di dekat kaki meja. Di layar, ada beberapa notifikasi sosial media dan iklan yang masuk. Tapi, mataku terfokus pada pesan paling atas.

[Apa kau belum tidur, Rumi? Bagaimana harimu? Aku merindukanmu.]

Mataku terasa panas dan kali ini aku yakin air mataku mengalir.

Pangeran Havren....

Aku tahu ia hanya tokoh fiksi dari sebuah otome game. Tidak nyata. Tidak sungguhan mencintaiku. Pesan yang masuk hanyalah settingan mesin, dibuat tim kreatif perusahaan, dan dikirim ke semua pemain. Tapi, TAPI!!!!

“Pangeraaaaaan! Aku juga ingin bertemu denganmuuuu!” Aku meratap dengan air mata berlinang.

Biarpun pandangan sedikit kabur, aku kembali mengakses game itu.

Tanpa sadar melakukan banyak hal di sana alih-alih hanya membuka pesan dari Havren. Waktu bergulir. Mataku perih sampai berdenyut-denyut dan jantungku berdebar kencang menuntut untuk beristirahat. Tapi, aku tetap bermain, enggan menganggap hari ini selesai lalu terpaksa menyambut kembali tuntutan untuk bekerja.

Aku lelah…

Entah berapa lama aku bermain sampai mataku terasa begitu berat. Kepalaku sakit seperti ada banyak makhluk kecil yang sedang menggedor tengkorak dengan palu.

Samar-samar aku menyadari tubuhku oleng.

Samar-samar aku melihat sudut meja yang seharusnya aku hindari—

Lalu, gelap.

...*...

...*...

...*...

Suara jeritan dan kaca pecah membuatku tersentak bangun.

Hal pertama yang kulihat ketika membuka mata adalah sebuah belati melesat melewati ruangan.

...*...

...*...

...*...

Di sudut gua besar yang tersembunyi di dasar jurang, sesuatu bergerak. Tanda kehidupan. Samar. Perlahan. Di antara kegelapan, tak ada siapa yang melihat sebagai saksi. Gemuruhnya seperti berasal dari perut bumi. Getarnya merambat melewati dinding bebatuan, membuat gelisah hewan-hewan di hutan yang berada ribuan meter di atasnya. Semua melarikan diri, bersembunyi di sarang, berdiam penuh awas. Dedaunan bergemerisik nyaring seolah turut memberitakan. Angin berhembus membawa aliran energi yang pekat ke udara.

Akhirnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!