NovelToon NovelToon
Silent Serenade

Silent Serenade

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Dark Romance / Mafia / Identitas Tersembunyi
Popularitas:613
Nilai: 5
Nama Author: roster espe

Langit sore terlihat terlalu tenang untuk hari yang seharusnya dilupakan.
Jarinya membeku sesaat.
“Kalau mereka mulai menghubungimu langsung, berarti kita sudah terlambat.”
Dan mungkin memang sudah terlambat.
Di tempat lain, Han duduk di dalam mobil gelap, membongkar pistol dengan gerakan yang terlalu tenang untuk seseorang yang sedang diburu. Ponselnya bergetar.
48 jam!
Tidak ada nama. Tidak perlu.
Ia menatap kota di balik kaca depan. Lampu-lampu kota menyala seperti jebakan yang sengaja dibuat indah.
“Aku mau kamu ingat.”
Suara itu masih tertinggal di kepalanya.
Mereka tahu kebiasaannya. Pesanan kopinya. Jalur pulangnya. Bahkan ketakutan yang tidak pernah ia ucapkan.
“Kalau aku mundur sekarang, apa yang akan terjadi?”
“Mereka akan tetap datang.”
Karena sejak pesan pertama dikirim, semuanya sudah bergerak ke arah yang sama.
Dan beberapa pertemuan, tidak pernah dimaksudkan untuk menyelamatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roster espe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 13

Han tidak bergerak dari jendela, matanya masih tertuju ke sosok di bawah lampu jalan. Pria itu berdiri santai dengan tangan yang dimasukan ke kantong jaketnya, sebagian wajahnya tertutup bayangan tudung hoodie yang gelap. Dari jauh memang terlihat mencurigakan.

Nara yang mulai sadar perubahan ekspresi Han langsung ikut menoleh.

“Apa itu mereka?”

Han mengamati selama beberapa detik lagi.

Lalu…

“…bukan.”

Nara menghela napas lega.

“Syukurlah.”

“Tapi tetap masalah.”

“Itu bukan kalimat yang bikin tenang juga.”

Han tidak menjawab, ia malah berjalan menuju pintu. Nara langsung berdiri menatapnya.

“Kamu mau ke mana?”

“Bawah.”

“Sendirian?”

Han meliriknya sebentar.

“Kalau dalam lima menit aku belum balik, bangunkan Arga dan keluar lewat tangga belakang.”

“Han.”

Nada suara Nara membuat pria itu berhenti sesaat.

“…hati-hati,” lanjutnya pelan.

Han hanya diam, lalu mengangguk kecil sebelum keluar ruangan. Pintu besi ruangan itu tertutup pelan di belakangnya dan Nara berdiri menatap pintu itu.

Ia merasa aneh. Padahal ia belum lama mengenal Han. Sekarang tiap pria itu pergi sendiri, ia merasa tidak nyaman. Di sofa, Arga masih tidur lelap dengan damai seperti manusia paling tidak punya beban di dunia. Nara menatapnya tidak percaya.

“…dia emang ngga normal kayaknya.”

Sementara itu, Han menuruni tangga kayu tua tanpa suara. Langkahnya ringan dan waspada. Namun semakin dekat ke bawah, semakin jelas ia mengenali sosok itu. Begitu keluar bangunan, pria di bawah lampu jalan itu langsung menyeringai.

“Dah lama ngga ketemu.”

Han berhenti beberapa langkah darinya.

“Kamu masih hidup.”

“Wah.” Pria itu tertawa pendek. “Salam yang sangat hangat seperti biasanya.”

Cahaya lampu dari gedung sebelah akhirnya memperjelas wajahnya. Umur sekitar awal tiga puluhan. Rambut agak berantakan. Jaket kulit lusuh dengan bekas luka kecil di dagu.

Matanya tajam, tapi terlihat jauh lebih santai dibandingkan Han.

Namanya Damar.

Salah satu orang lama di distrik itu. Dan salah satu dari sedikit orang yang dulu pernah membantu Han tanpa banyak tanya.

Damar melirik ke arah jendela lantai dua yang remang.

“Lampunya nyala, gue pikir ada maling.”

“Harusnya kamu dah lama pergi.”

“Harusnya lu juga ngga balik ke distrik ini.”

Han diam.

Damar mengeluarkan bungkus rokok lalu menawarkan satu batang. Han menolak.

“Lu dah berhenti merokok?” tanya Damar heran.

“Tidak.”

“…terus?”

“Aku sedang tidak ingin mati lebih cepat.”

Damar tertawa kecil. “Edan..lu berubah banget.”

Han tidak yakin itu benar.

Damar memperhatikan wajah Han beberapa detik lebih lama sebelum senyumnya sedikit memudar.

“Lu  kelihatannya kusut banget.”

“Memang.”

“Masalah besar?”

Han menghela napasnya dan mengangguk pelan. “Helios…”

Ekspresi Damar langsung berubah, tidak panik tapi jadi sangat serius.

“Bangsat.”

Han hampir bosan mendengar reaksi itu. Damar menatap sekitarnya dengan  refleks sebelum mendekat sedikit.

“Lu dikejar?”

“Belum separah itu juga.”

“Kalau lu nyebut nama mereka sambil muncul lagi di distrik ini tengah malam…” Damar menunjuk Han pelan. “…artinya itu parah.”

Han tidak membantahnya dan Damar kembali melirik ke arah lantai dua.

“Ada siapa di atas?”

“Teman.”

“Lu punya teman sekarang?” Damar terlihat benar-benar kaget. “Wah…dunia mau kiamat.”

Han malas menanggapinya.

“Damar.”

“Oke, oke.” Damar mengangkat tangan menyerah. “Gue ngga bakal nanya lagi.”

Keduanya terdiam, sisa air hujan menetes pelan dari kabel listrik di atas mereka. Damar akhirnya menghembuskan asap terakhir rokoknya sebelum membuangnya ke aspal basah.

“Lu butuh bantuan?”

Han sebenarnya ingin bilang tidak. Kebiasaan lama selalu kerja sendiri, selesaikan sendiri. Tapi malam ini berbeda.

Ada Nara.

Ada Arga.

Dan Helios yang bergerak lebih cepat dari biasanya.

“…iya,” jawab Han.

“Siapa?”

“…perempuan” jawab Han singkat

Damar menatapnya beberapa detik sebelum tertawa kecil tak percaya.

“Gila.” Ia menggeleng pelan. “ngga salah nih, gue dapet momen langka kayak gini.”

Han mengabaikannya.

“Kami butuh makanan. Dan info kalau ada orang asing yang masuk distrik.”

Damar langsung mengangguk.

“Itu gampang.”

“Kamu ngga perlu ikut campur lebih jauh.”

“Lu pikir gue takut?”

Han menatapnya dengan datar.

“Aku pikir kamu tidak sebodoh itu.”

Damar menyeringai tipis.

“Tenang aja, distrik ini udah terlalu sering lihat orang orang aneh.”

Tatapannya naik ke jendela lantai dua lagi.

“Dia alasan lu balik?”

Han diam sesaat.“…sebagian.”

Damar langsung merasa tertarik.

“Wah….”

“Jangan mulai.”

“Gue belum ngomong apa-apa.”

“Tapi wajahmu sudah berisik.”

Damar tertawa cukup keras sampai Han mulai menyesal turun ke bawah.

“Gue ngga nyangka bakal melihat hari di mana Han menyeret cewek ke tempat persembunyian lamanya.”

Han mengusap pelipisnya pelan.

“Dia target.”

“Nah itu lebih romantis lagi.”

“Aku serius.”

“Gue  juga serius.”

Han benar-benar mempertimbangkan untuk meninju temannya sendiri. Damar akhirnya berhenti menggoda dan bersandar ke tiang lampu.

“Oke, oke.” Nada suaranya berubah lebih tenang. “Gue bantu semampu gue.”

Han mengangguk kecil.

“Terima kasih.”

Damar menatapnya sebentar lalu tersenyum samar.

“Sudah lama ngga dengar lu bilang itu.”

Sunyi lagi sesaat, lalu Damar bertanya pelan, “Lu masih mimpi buruk?”

Pertanyaan itu membuat tatapan Han sedikit berubah. “…kadang.”

Damar mengangguk kecil seolah sudah menduga.

“Kalau butuh tempat yang lebih aman, bilang.”

Han melihat ke sekeliling distrik lama itu. Gedung gedung tua, lampu lampu yang redup, jalanan sempit. Tempat yang dulu terasa seperti jebakan. Anehnya sekarang justru terasa sedikit lebih manusiawi dibanding dunia di luar sana.

“Aku cuma numpang lewat sebentar,” katanya akhirnya.

Damar mendengus kecil.

“Ah, lu selalu ngomong begitu...” kata Damar sambil nyengir

Dari lantai dua, Nara diam-diam memperhatikan mereka dari balik tirai. Ia tidak bisa mendengar dengan jelas percakapan mereka. Tapi untuk pertama kalinya ia melihat Han berbicara dengan seseorang tanpa wajah dingin dan penuh kewaspadaan. Dan itu terasa aneh yang menenangkan.

1
roster espe
💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!