Ren Nakajima seorang pria tampan memesona, jenius dan pandai menakhlukkan hati para wanita. Namun, tak ada yang tahu dia adalah sosok manusia berhati iblis yang pandai menyimpan karakter jahatnya melalui wajahnya yang teduh.
Jun Megumi seorang polisi sekaligus detektif tampan yang membuat orang-orang kagum dengan karakternya yang ramah, peduli, dan senang menolong bak jelmaan malaikat.
Suatu hari, Jun menangani kasus yang menghebohkan dunia hiburan Jepang. Insting detektifnya berkata bahwa Ren adalah pelakunya. Demi penyelidikan, Jun mendekati Emi, yaitu gadis yang menjadi teman dekat Ren. Siapa sangka, Sachi—adik kandung Jun—justru dekat dengan Ren dan keduanya saling jatuh cinta.
Ikuti kisah perjalanan dua pria tampan yang memiliki karakter bagaikan langit dan bumi serta jalan kehidupan yang saling bertentangan!
Genre: Dark romance, Misteri, detective, action, crime, and drama.
Rate : Dewasa 21++, not children.
Setting: Japan
Alur: Gabungan (maju mundur nyunsepp 😁)
POV : POV 3 (sudut pandang orang sok tahu)
Status: On going (update tiap hari)
Catatan penulis ✍️
Novel ini bersetting di luar negeri, tolong pikirannya ikut dibawa ke luar negeri karena kisah ini tidak mencerminkan budaya Indonesia. Banyak Kissing Scene and mature.
Bukan penulis handal, cuma penulis sandal. Tidak menjanjikan novel yang bagus, silakan baca dan nilai sendiri. Memilih bacaaan adalah soal selera, dan kuharap karyaku bagian dari seleramu.
Baca juga karya lainku di sini.
👍🏻Don't Say Goodbye (kisah cinta cowok berandalan si Pemain biola, tamat 156 chapter)
👍🏻Don't Forget (kisah pembalasan dendam ketua gangster/Yakuza, Tamat 149 chapter)
cover: Pinterest, edit by me
©2020, Aotian Yu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yu aotian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30 : Ren Menghilang
"Ren ...." Mata Sachi membulat melihat ranjang Rumah Sakit yang kosong, hanya ada bekas cairan infus yang masih menggantung di sana.
"Ke mana Ren?" tanya Jun menghampiri Sachi.
"Ta–tadi dia ada di sini!" Sachi menunjuk bangsal tersebut. Wajahnya tampak kebingungan. Dia menengok ke arah Shohei yang juga tak kalah bingung. "Ke–kenapa dia tidak ada?" tanya Sachi pada Shohei dengan suara gemetar.
"Aku ... aku tidak tahu! Mungkin saja dia pergi!" jawab Shohei seadanya.
Sachi menggeleng cepat. "Tidak mungkin! Mana mungkin dia pergi sementara kondisinya sangat lemah! Kau lihat sendiri 'kan kondisinya sangat parah saat dibawa ke rumah sakit."
"Mungkin keluarganya datang dan membawanya pulang," sambung Jun.
Sachi berpikir sejenak. Ya, selama mengenal Ren, dia tak tahu asal usul pria itu. Namun, bukankah jika keluarganya datang, berarti Ren menghubungi mereka sebelumnya? Sementara, dia belum juga sadar saat dipindahkan ke bangsal.
Sachi hendak melangkah pergi, tetapi tangannya langsung ditarik oleh Jun.
"Kau mau ke mana?" tanya Jun.
"Aku ingin mencari Ren! Mungkin dia masih di sekitar sini. Dia bangun dan bingung kenapa berada di rumah sakit, kemudian mencoba melihat sekitar. Bisa saja seperti itu, 'kan?" ucap Sachi mencoba menduga-duga apa yang sedang terjadi, "atau ... jangan-jangan dia diculik oleh orang-orang yang memukulnya tadi," lanjutnya lagi. Saat mengatakan kalimat penuh prasangka itu, wajah Sachi makin menunjukkan kepanikan akut.
Jun dan Shohei saling menoleh dengan memasang kening yang berkerut. Mereka heran melihat reaksi berlebihan yang Sachi tunjukan saat ini.
"Immouto-chan, tenang! Mungkin saja Ren memilih pulang ke rumah karena tidak mau berlama-lama di Rumah Sakit," duga Jun seraya memegang kedua pundak adiknya.
Sachi mengangguk setuju. "Ya, mungkin dia sudah pulang. Kalau begitu, kita pulang sekarang!"
Sachi langsung berjalan menuju pintu luar gedung. Lagi-lagi, Jun dan Shohei saling memandang heran. Namun, Jun berkata pada Shohei bahwa Sachi memiliki jiwa empati tinggi sehingga dia selalu mengkhawatirkan orang terdekatnya.
Waktu telah menunjukkan pukul satu dini hari. Shohei mengantar Sachi pulang ke rumahnya karena di luar sana masih gerimis. Begitu tiba, Sachi terburu-buru melepas sabuk pengaman dan membuka pintu mobil. Namun, Shohei mendadak memegang lengannya sehingga membuatnya tersentak.
Sachi menoleh ke arah pria itu. "Ada apa?"
"A ...." Shohei tampak berpikir sejenak. "Oyasuminasai (selamat tidur)," ucapnya sambil tersenyum.
Sachi mengangguk tipis, lalu bergegas turun dari mobil. Ia sempat melihat ke arah balkon kamar Ren yang gelap gulita menandakan bahwa pria itu tak ada di rumah. Sebab, pria itu selalu menghidupkan lampu balkonnya, sekalipun kamarnya tampak gelap.
Ketika Sachi telah masuk ke rumahnya, Shohei langsung menyandarkan tubuhnya ke kursi mobil. Dia menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskan perlahan.
"Hufftt ... Kenapa hanya untuk mengecup keningnya saja aku gemetar?" gumamnya kesal pada dirinya sendiri.
Sachi masuk ke kamarnya dan menuju balkon. Dia mencoba mengintip ke balkon kamar Ren yang begitu sunyi. Jika Ren tak ada di rumah, di mana Ren sekarang? Dia sungguh mengkhawatirkan keadaan pria itu.
Malam pun ia lewati dengan perasaan kalut. Ketika mentari memantulkan sinarnya ke jendela kamar Sachi, dia terbangun buru-buru hanya untuk kembali mengintip ke balkon kamar Ren. Ya, dia tahu pria itu selalu bangun pagi sama sepertinya dan akan pergi di waktu yang sama ketika dia hendak ke kampus. Melihat kamar Ren yang sepi, membuat hatinya makin risau. Sungguh, dia hanya ingin memastikan apakah pria itu sedang baik-baik saja?
Di kantor kepolisian Metropolitan, Jun dan inspektur Heiji tengah berunding tentang pengamanan lelang berlian yang akan diselenggarakan dalam beberapa hari ini.
"Berlian mendiang Nao akan dilelang di akhir acara. Apa kau yakin pencuri itu akan nekad datang ke tempat ramai?" tanya Heiji.
"Jika yang dia incar adalah berlian nyonya Nao, seharusnya dia datang. Kita harus memperketat keamanan gedung selama acara berlangsung."
"Ya, puluhan pasukan keamanan akan digerakkan. Ada beberapa penembak jitu yang berjaga-jaga dan bersembunyi. Aku sangat yakin, aksinya kali ini akan gagal, haha-haha ...."
Inspektur Heiji berbicara dengan percaya diri sambil tergelak, sementara Jun justru penasaran seperti apa dan bagaimana aksi si pencuri selama ini hingga bisa mengambil enam berlian dengan begitu mudah.
Selesai berbincang dengan inspektur Heiji, Jun menuju ke ruangannya. Matanya langsung tertuju pada sebuah cup coffe dengan label kedai kopi Okaffe. Dia mengambil cup coffe tersebut dan mengernyitkan mata karena wadah tempat kopi itu terlihat berbeda dari yang lainnya.
"Opsir Megumi, baru saja ada seorang barista yang menitipkan kopi itu padaku. Dia bilang itu dibuatkan khusus untukmu," ucap Shohei dari tempat duduknya.
"Sokka (begitu ya)." Jun mengangguk-anggukan kepala.
Ingatan Jun langsung mengarah pada Emi. Dia tersenyum tipis lalu membuka tutup cup. Aroma kopi yang khas langsung masuk di penciumannya. Ia meneguk kopi itu dan terhenyak seketika karena takarannya sangat sesuai seleranya.
"Apakah dia masih di gedung kita? Aku ingin mengucapkan terima kasih padanya." tanya Jun.
"Kurasa iya, karena dia baru saja keluar dari ruangan ini sebelum kau masuk," jawab Shohei.
Jun bergegas keluar ruangan, dari lantai atas dia melihat seorang perempuan berpakaian barista dengan rambut terkuncir tengah berjalan menuju pintu keluar gedung. Jun mengejar gadis itu dengan menaiki lift. Begitu sampai di lantai dasar, pria itu berlari mengejarnya.
"Nona Manekin!" panggil Jun pada gadis berkuncir itu.
Saat Jun tepat berada di belakangnya, ia kembali memanggil seraya melebarkan senyum. Namun, ketika gadis itu berbalik, senyum yang terpatri di wajah tampannya menghilang sekejab tatkala gadis yang dipanggilnya bukanlah Emi.
"Summimasen, aku salah orang," ucap Jun sambil menunduk. "Omong-omong, di mana Nona Hayase?" tanyanya pada gadis yang memakai seragam barista.
"Oh, Emi? Dia ada di kedai sedang melayani pelanggan lainnya," jawab gadis itu.
"Tolong sampaikan ucapan terima kasih dariku. Katakan padanya bahwa aku sangat menyukai kopi buatannya hari ini."
"Baiklah. Akan kusampaikan."
"Arigatou."
Senja telah datang memancarkan warna kemerahan di cakrawala. Sachi mengayuh sepedanya dengan laju agar segera sampai ke rumahnya. Dia ingin memastikan apakah Ren telah pulang ke rumahnya sore ini. Sungguh, hari ini ia tidak bisa konsentrasi di kampus karena terus memikirkan keadaan pria itu. Bertanya pada Mika pun tak menemukan jawabannya, karena gadis itu beralasan Ren tak menghubunginya.
Begitu sampai di rumah, pandangan Sachi langsung terarah pada pekarangan rumah Ren. Rumah itu tetap sepi! Gadis itu bergegas turun dari sepedanya. Dia menekan password rumah, lalu memegang gagang pintu. Menarik napas sesaat, dia berharap ketika membuka pintu rumahnya, akan ada Ren di dalam sana dan duduk di kursi sofa seperti yang biasa pria itu lakukan ketika ia pulang dari kampus.
Begitu pintu terbuka, tak ada siapapun di rumahnya. Ia menoleh ke arah sofa yang biasa diduduki oleh Ren. Pandangannya langsung jatuh, dan dia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Masih berdiri di depan pintu rumahnya, gadis itu seolah kehilangan selera untuk melangkah masuk.
Untuk pertama kalinya, dia merasa kehilangan seseorang yang bukan siapa-siapanya. Untuk pertama kalinya, dia merindukan seseorang yang bukan miliknya. Dan untuk pertama kalinya, dia ingin menunggu dan mencari tahu keberadaan pria itu meskipun tak memiliki alasan untuk melakukan itu semua."
"Sachi ...."
Suara seorang pria terdengar dari arah belakang. Sachi tersentak sesaat ketika mendengar namanya disebut. Memutar kepalanya dengan cepat, ia terlihat senang karena akhirnya Ren kembali. Sayangnya, pria yang memanggilnya bukanlah Ren melainkan Shohei. Pada saat ini, pria itu tengah berdiri di depannya dengan masih berseragam polisi.
.
.
.