Sandrina nekad tidur dengan pria yang dijodohkan dengan kakaknya, Bastian Helford. Lantaran kakaknya telah tidur dengan tunangannya.
Semua miliknya direnggut, dan Sandrina berjuang untuk mendapatkan kembali yang menjadi miliknya
"Dia satu-satunya milikku yang kurebut kembali"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farhati fara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sandrina sayang
,"Kau tidak perlu mengantarku," cicit Sandrina disamping Bastian saat dirinya dipaksa mengikuti langkah pria itu menuju mobil. Bastian berencana mengantar Sandrina untuk pulang ke rumah gadis itu
"Bukannya sudah kubilang--" kata Bastian seraya tangannya bergerak menggapai tas pegangan Sandrina. Pria itu sedang bersikap layaknya kekasih yang perhatian
"Mengatakan hal yang sama sampai dua kali itu tidak efisien. Aku sangat membencinya." lanjut pria itu yang kemudian berjalan melewati Sandrina yang terdiam. Bukankah Bastian akan melindunginya dan akan membawanya pergi dari keluarga durjana di rumahnya, dengan catatan Sandrina menjadi istri yang patuh. Sandrina tidak lupa pada perkataan pria itu, tapi dia merasa tidak enak saja jika Bastian sampai mengantarnya pulang. Pria itu sudah banyak berjasa melindunginya beberapa hari ini.
Sedang dari sisi Bastian, pria itu terpikirkan pada keadaan Sandrina saat terakhir kali gadis itu pergi dari rumah. Tubuhnya penuh memar dan kesakitan, tapi sekarang Sandrina berkata ingin kembali sendirian kesana, ke lubang neraka itu? Tentu tidak akan Bastian biarkan. Wanitanya tidak lagi boleh menunduk pada siapapun, apalagi jika sampai di kasari
"Duduklah didepan," kata Bastian seraya membuka pintu mobil untuk Sandrina
"Iya, terima kasih" Sandrina masuk dan mulai duduk dengan nyaman saat tiba-tiba Bastian mencondongkan tubuhnya padanya, Sandrina tersentak mengira pria itu akan menciumnya, namun pemikirannya langsung berubah saat tangan Bastian terulur meraih seatbelt(sabuk pengaman)
Bastian tentu saja menyadari reaksi yang Sandrina berikan, hingga Bastian bertanya-tanya apakah Sandrina tidak punya pengalaman berkencan sebelum ini? Gadis itu tersentak hanya karena di pasangi seatbelt.
"Apa jangan-jangan aku pria pertama yang bersikap manis seperti ini padamu?" komentar Bastian walau dirinya cukup tahu kalau Sandrina punya kekasih sebelum ini. Hubungan yang sudah berjalan selama dua tahun
"Tidak, ada orang lain kok" Sandrina langsung menjawabnya cepat dan jujur. Gadis itu berkata yang sebenarnya. Tommy, mantan tunangannya dulu selalu bersikap manis padanya hingga Sandrina bahkan tidak menyadari kalau pria brengsek itu sudah berkhianat dan berselingkuh dengan sang kakak.
Bastian yang mendengar sahutan cepat Sandrina tersenyum. Jawaban itu bahkan tanpa jeda dari pertanyaannya, namun Bastian merasa gadis ini terlalu unik, dan juga jujur. Setidaknya tidak ada hal yang coba ditutupi gadis itu dari Bastian, bukan?
Bastian bahkan merasa penampilan dan ekspresi Sandrina seperti ini sangat imut, hingga dirinya bertanya-tanya, apakah dia benar-benar sudah gila?
"Kau adalah wanita yang pertama bagiku" ucap Bastian untuk mengonfirmasi bahwa Sandrina adalah wanita pertama yang menerima perlakuan manis dari Bastian
"Apa?" Sandrina ternganga dengan ekspresi tidak percaya. Tidak mungkin pria seperti Bastian yang hampir bisa dikatakan sempurna tidak pernah berkencan, kan? Dan yang paling tidak masuk akal, pria itu sangat mahir dalam tindakan yang katanya pertama kali. Sungguh tidak dapat dipercaya.
Bastian yang melihat ekspresi tidak percaya di wajah Sandrina langsung mengalihkan tatapannya ke depan dan senyumnya juga menghilang berganti dengan wajah dinginnya. Bastian merasa dia memang pantas untuk tidak dipercayai. Sekian lama dia berkecimpung didunia bisnis yang dipenuhi siasat licik dan picik, hingga Bastian pun merasa tidak dapat mempercayai dirinya sendiri.
Setelahnya mobil mulai melaju dalam hening. Ditengah-tengah perjalanan sekali lagi Bastian melirik pada Sandrina, dan mata tajam pria itu dapat melihat kerisauan dari wajah Sandrina
"Dia pasti takut, apa seharusnya aku tidak mengantarnya pulang?" batin Bastian bertanya. Sungguh rasanya begitu muak jika harus berurusan dengan keluarga pak Gery.
"Tidak, sampai aku menyelesaikan M&A, aku tidak boleh melawan pak Gery," lanjut batin Bastian. Dia harus bisa menahan diri untuk bersiteru dengan ayah mertuanya sampai keinginan Bastian mengakuisisi AG Enterprice terlaksana. Dan untuk saat ini, Bastian harus terus mempertahankan aktingnya seakan baik-baik saja dengan keluarga itu.
Akhirnya mobil itu sampai di perumahan Bernabu dan berhenti tepat didepan rumah Sandrina. Gadis itu mengangkat wajahnya yang tadinya menunduk dengan penuh ke khawatiran. Matanya melihat rumah peninggalan ibunya, rasanya sakit ketika dia harus meninggalkan satu-satunya tempat yang dimana dipenuhi oleh kenangan sang ibu, tapi Sandrina juga tidak kuat lagi untuk terus bertahan dalam lubang neraka itu dan hidup bersama tiga iblis yang terus menyakitinya.
"Aku akan turun sendiri," kata Sandrina sendu saat Bastian terlihat akan turun dengan melepas seatbeltnya
"Tidak, aku akan segera pergi setelah menyapa. Jika aku menunjukkan sisi ramah diriku, bukankah itu akan memudahkan kita satu sama lain saat menikah?" sahut Bastian yang dengan segera turun lalu memutar mobilnya untuk membukakan pintu buat Sandrina. Walau Sandrina tidak memintanya, tapi pria itu melakukannya atas keinginannya sendiri.
"Terima kasih" ucap Sandrina saat dia menerima uluran tangan Bastian dan keluar dari mobil, lalu mereka mulai berjalan beriringan untuk masuk ke rumah Sandrina
Namun, seseorang yang berada didalam mobil di seberang melihat mereka. Dia bersegera turun lalu sedikit berlari menuju ke keduanya sembari berteriak memanggil
"Sandrin!" panggil suara seorang pria. Sandrina yang hendak berbalik untuk melihat pada si pemanggil dibuat terkejut saat tiba-tiba tangannya di cekal dengan kuat.
"Sandrin, apa-apaan ini! Kau akan menikah dengan orang lain?" tanya si pemanggil yang ternyata adalah Tommy, mantan tunangan Sandrina
"Kenapa Tommy ada didepan rumahku?" Sandrina yang terkejut hanya bisa membatin
"Lepaskan aku!" pekik Sandrina yang menarik tangannya kuat agar terlepas dari cekalan Tommy
"Aku salah! Aku tidak pernah tidur nyenyak setelah putus denganmu. Aku mohon! Aku bahkan akan memohon dengan berlutut jika perlu, jadi tolong jangan menikah dengan laki-laki lain, Sandrin." pinta Tommy dengan wajahnya yang memelas
"Tommy, apa kau gila!" ucap Sandrina yang merasa pria didepannya, si pengkhianat tukang selingkuh itu sudah benar-benar gila.
Bastian yang berdiri hanya menonton saja disana sembari membaca situasi. Otak cerdasnya dirancang untuk melihat dari segala sisi, bukan bersifat impulsif seperti pria yang tidak berpendidikan, sebagaimana contoh yang Tommy tunjukkan sekarang
"Pria ini, mantan tunangannya Sandrina! Ternyata tidaklah sebaik itu," batin Bastian yag menilai Tommy dengan rendah. Setelah ketahuan berselingkuh dan sekarang pria itu mohon-mohon untuk diterima oleh Sandrina kembali. Bukankah itu lebih rendah dari binatang sekalipun?
Dan apa yang Sandrina katakan sebelum ini jelas bukan kebohongan. Gadis itu memang pernah menerima perlakuan manis dari pria yang saat ini mulai merendahkan diri dengan meletakkan lututnya ditanah. Tommy meminta pengampunan Sandrina sampai berlutut. Apakah pria itu benar-benar mencintai Sandrina, dan perselingkuhannya yang terjadi sebelum ini hanyalah sebuah kekhilafan yang terjadi sesaat?
"Sandrin, aku mohon! Jangan menikah dengan pria lain! Apa yang terjadi saat itu, benar itu adalah salahku. Aku berlutut memohon padamu. Jadi, bisakah kita menikah sesuai jadwal?" kata Tommy lagi yang kini benar-benar telah merendahkan dirinya.
"Tommy, apa kau sudah gila? Bagaimana bisa kau mengatakan itu sekarang?" sahut Sandrina
"Benar, aku sudah gila karena kamu meninggalkanku," jawab Tommy yang memicu rasa muak bagi seseorang yang kini matanya menajam layaknya elang yang siap mencabik- cabik mangsanya.
Tommy hanyalah tunangan Sandrina yang telah menjadi mantan, jadi tidak ada alasan bagi Sandrina untuk mendengarkan pria itu lagi.
Bastian melangkah mendekat dan dalam sekejap merengkuh pinggang Sandrina seakan sedang memperlihatkan siapa pemilik gadis itu saat ini
"Sandrina sayang," panggil Bastian dengan tatapan memikat yang ditampilkan
"Bastian," Sandrina hanya bisa bercicit dalam rasa terkejutnya saat pinggangnya terasa direngkuh semakin dekat dengan Bastian
.
.
.
Welcome baby Damian 🙏
Buat Author, maaf kalau saya bacanya banyak di Skip, soalnya nunggu Sandrina balas dendam tapi kok cuman wacana doang, ga ada tindakan tegas yg sat set ala-ala wanita tegas, mandiri dan ga plin plan.. 😃🙏
Lagi pula orang kaya, CEO cerdas, pengusaha terkenal pula tapi kalau ga bisa cari hal kecil seperti ini mah.. Kelewatan 😃😃🤣🤣🤣
Kalau cuman segitu doang, harusnya dari dulu Bastian juga bisa, dan harusnya dari dulu Sandrina juga bisa melakukan kan sudah nikah dengan Bastian 🙄😤
Kan pengusaha terkenal 🤔🙄 minimal ada basic bela diri untuk melindungi diri sendiri 🙄 atau punya insting kuat jika ada bahaya.. Apa Bastian juga ga punya Bodyguard yang kuat untuk melindungi Boss nya?? Kan datang ke wilayah musuh harus nya ada persiapan matang 🙄😤 apalagi katanya bapaknya Sandrina seorang Senator / pejabat.. Harusnya tahu dong musuh yg dihadapi seperti apa 😤😤
Sandrina bisa nya nangis doang 😤
Ternyata dari kecil sudah banyak disiksa + disakiti mental nya 🙄 matanya dia ga punya keinginan untuk berontak / melawan, krn pasti disiksa tubuh + mental nya
Lo udah tahu Bastian ga cinta, cuman anggap diri Lo pemuas nafsu yg berlabel istri sah 😃 tapi masih juga diam ga ada perlawanan. Di perlakuan seperti pelacur, bukannya bangkit dan buat Bastian lihat dirimu lebih berharga dari pelacur.. Ehhhh malah pasrah dan diam saja 😤
Kalau begini terus, ya sudah.. Terima nasib saja jadi perempuan bodoh yg tidak bisa berjuang untuk mendapatkan kebahagiaan. 😤
Masalah warisan ibu mu + balas dendam tentang kematian nya belum selesai tapi dirimu masih saja fokus + pasrah jadi pemuas nafsunya Bastian 🤣🤣🤣
Jujur.. Sedih + prihatin lihat Sandrina.. Semoga otaknya terbuka dan bisa digunakan agar tidak terus dimanfaatkan orang lain.. Minimal.. Sandrina bisa menghargai dirinya sendiri dan sadar kalau dia berhak untuk bahagia dan mendapatkan laki-laki yang benar-benar mencintai nya dengan tulus 🙏🙏
Ga bisa apa berbuat sesuatu agar potensial diri bertambah, harga diri tetap utuh dan membuat Bastian terbuka otak nya untuk menghargai kamu sebagai istri nya??
Sudah bab berapa ini tapi kok ga ada perubahan nya, masih saja lemah, masih saja mau ditindas, masih saja mau di manfaatkan 😤 trus balas dendam nya kapan??? 🙄🤔
Jujur, benci banget lihat perempuan lemah yg tidak bisa tegas buat diri sendiri agar bisa dihargai orang lain dan suami, bukan cuman dimanfaatkan doang tanpa ada tindakan tegas 😤