#Terkadang yang kita anggap obat ternyata adalah luka terhebat#
Novel ini menceritakan seorang laki laki yang bernama Raka Pratama. Raka pernah berpacaran dengan seseorang 5 tahun. Tetapi Ia menjalin hubungan dengan perempuan yang Pondasi hidup nya berbeda. Sehingga Membuat kedua orang tuanya tidak merestui hubungan mereka. Dan akhirnya, Ia memilih menyerah.
Luka di hati Raka yang masih basah tersebut , Ia malah bertemu dengan perempuan yang sedang patah hati. mengapa begitu? Rara baru saja mendapatkan kabar bahwa kekasihnya itu dijodohkan dengan perempuan lain. Padahal mereka berdua sudah memikirkan untuk lanjut kejenjang lebih serius.
Dua orang yang sudah patah, bertemu dalam keadaan rapuh. Tanpa sadar mereka saling menjadi sandaran. Bagaimana mereka mengatasi perbedaan dan tekanan dari orang sekitar? Apakah mereka bisa saling menyembuhkan atau justru saling melukai atau bahkan orang yang mereka temui adalah " Jodoh Orang lain "?
Bagaimana kelanjutan ceritanya? Ikutin terus yaaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elga Rista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhir Yang Melegakan
Tapi ada satu hal yang berbeda.
Rara tidak lagi menoleh ke belakang.
Bukan karena lupa.
Bukan karena tidak peduli.
Tapi karena ia tahu…
hidupnya tidak berhenti di sana.
Dan untuk pertama kalinya…
ia benar-benar siap melangkah ke depan.
----------------------------------------------------------------------------------------
Hari Senin. Hari dimana hari yang membuat seseorang malas beraktivitas.
Alarm berbunyi seperti biasa. Jalanan kembali ramai. Orang-orang kembali pada rutinitasnya masing-masing, seolah dunia tidak pernah benar-benar peduli dengan apa yang sedang seseorang rasakan.
Rara berdiri di depan cermin kecil di kamar kosnya.
Seragam kerjanya sudah rapi. Rambutnya terikat sederhana. Wajahnya terlihat lebih segar dibanding beberapa hari lalu, meskipun masih ada sisa lelah di matanya.
Di belakangnya, Nayla masih sibuk merapikan tas.
“Balik ke dunia nyata,” gumam Nayla sambil menghela napas panjang.
Rara tersenyum kecil. “Iya.”
“Kamu siap?” tanya Nayla sambil menoleh.
Rara tidak langsung menjawab.
Ia menatap dirinya sendiri di cermin beberapa detik.
Lalu mengangguk pelan.
“Siap.”
Dan untuk pertama kalinya sejak semua yang terjadi…
kata itu terasa cukup jujur.
Hari yang Terasa Biasa… Tapi Tidak
--------------------------------------------------------------------------------------------
Di tempat lain, pagi itu terasa berbeda bagi Raka.
Ia sudah duduk di dalam mobilnya sejak beberapa menit lalu. Mesin menyala, tapi ia belum juga berangkat.
Tangannya menggenggam setir. Kuat. Seolah ada sesuatu yang sedang ia tahan. Pikirannya kembali ke beberapa hari terakhir.
Ke diamnya Kristiana.
Ke jarak yang semakin terasa nyata.
Ke pertanyaan yang belum sempat ia jawab dengan benar.
Dan hari ini…
ia tahu, semuanya harus selesai. Raka menghembuskan napas panjang. Lalu mengambil ponselnya. Tanpa banyak berpikir, ia mengetik satu pesan.
“Aku jemput kamu nanti pulang kerja.”
Pesan itu terkirim.
Tidak ada tambahan kata.
Tidak ada penjelasan.
Hanya itu.
Beberapa menit kemudian, balasan masuk.
“Nggak usah.”
Singkat.
Dingin.
Raka menatap layar itu cukup lama.
Lalu menghela napas pelan.
Ia tahu ini tidak akan mudah.
Tapi ia juga tahu… ia tidak bisa mundur lagi.
Sore hari tiba. Langit mulai meredup. Raka sudah berada di depan kantor Kristiana.
Ia bersandar di mobilnya, menunggu.Waktu berjalan lebih lambat dari biasanya.
Beberapa orang keluar masuk gedung.
Sampai akhirnya…
Kristiana muncul.
Ia berjalan keluar dengan langkah cepat. Wajahnya datar. Tangannya menggenggam tas dengan erat.
Saat melihat Raka, langkahnya sempat terhenti.
Hanya sebentar. Lalu ia kembali berjalan. Seolah tidak ingin terlihat ragu.
“Kamu ngapain ke sini?” tanyanya begitu sudah cukup dekat.
Nada suaranya tidak hangat.
Raka menatapnya tenang.
“Aku mau ngajak kamu ngobrol.”
“Kita bisa ngobrol di sini.”
Raka menggeleng pelan. “Nggak. Aku mau kita duduk.”
Kristiana terdiam.
Menatap Raka beberapa detik.
Seolah membaca sesuatu.
Lalu akhirnya…
ia menghela napas.
“Sebentar aja.”
Raka mengangguk. “Iya.”
Restoran itu tidak terlalu ramai. Lampunya hangat. Musiknya pelan. Tempat yang biasanya nyaman.
Tapi malam ini terasa berbeda. Raka dan Kristiana duduk berhadapan. Seperti beberapa hari lalu.
Tapi kali ini…tanpa canda. Tanpa tawa.Hanya jarak yang tidak terlihat.
Pelayan datang, mereka memesan seadanya.
Tapi tidak ada yang benar-benar berniat makan.
Beberapa detik berlalu. Bahkan makanan mereka hanya Kristiana yang hanya makan, Raka bahkan tidak menyentuh makanan yang ada di depannya sama sekali. Tidak ada yang mulai duluan untuk ngomong.
Sampai akhirnya…
Raka menarik napas panjang.
“Kris…”
Kristiana mengangkat wajahnya dengan Tatapannya datar. Dan meletakkan sendok nya.
“Iya.”
Raka menatapnya dengan Dalam.
Seolah ingin memastikan setiap kata yang akan keluar tidak salah.
“Aku udah pikirin semuanya.”
Kalimat itu cukup untuk membuat Kristiana menegang.Tangannya yang berada di atas meja perlahan mengepal.
“Dan?” tanyanya pelan.
Raka menunduk sebentar.
Lalu kembali menatapnya.
“Aku nggak bisa lanjut.”
Sunyi.
Seolah semua suara di restoran itu tiba-tiba hilang.
Kristiana tidak langsung bereaksi. Ia hanya menatap Raka. Lama. Seolah tidak yakin dengan apa yang baru saja ia dengar.
“Maksud kamu… apa?” suaranya mulai bergetar.
Raka menelan ludah.
“Aku nggak bisa menikah dengan kamu.”
Kalimat itu lebih jelas.
Lebih tegas. Dan lebih menyakitkan.
Kristiana tersenyum kecil Dengan Senyum yang dipaksakan.
“Kamu bercanda?”
Raka menggeleng pelan.
“Nggak.”
Senyum itu perlahan hilang.
Digantikan oleh sesuatu yang lebih dalam.
Lebih rapuh.
“Karena apa?” tanya Kristiana.
Nada suaranya mulai naik.
“Karena kamu nggak cinta lagi?”
Raka langsung menggeleng. “Bukan itu.”
“Terus apa?!” suaranya mulai pecah.
Beberapa orang di sekitar mulai melirik. Tapi tidak ada yang peduli.
Karena bagi mereka, ini bukan sekadar percakapan.
Ini perpisahan.
Raka menarik napas panjang.
“Karena aku nggak bisa ninggalin keyakinanku.” Kalimat itu keluar pelan.
Tapi tegas. Kristiana terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca.
“Jadi selama ini…” ia tertawa kecil, pahit. “Aku kalah sama itu?”
Raka menatapnya.
“Ini bukan soal kalah atau menang, Kris.”
“Buat aku ini soal semuanya!” balas Kristiana cepat.
Air matanya akhirnya jatuh.
“Aku nunggu kamu, Rak. Aku bertahan. Aku lawan orang tuaku. Dan kamu sekarang bilang nggak bisa?”
Raka menunduk. Dadanya terasa berat.
“Tapi kalau aku lanjut…” suaranya pelan, “aku bakal nyakitin kita berdua lebih jauh.”
Kristiana menggeleng cepat.
“Nggak! Kamu cuma cari alasan!”
“Aku nggak cari alasan,” jawab Raka.
“Kamu pengecut!” bentaknya.
Beberapa orang kini benar-benar menoleh. Tapi Raka tetap diam. Ia tidak membela diri.
Karena mungkin, ada bagian dari dirinya yang merasa itu benar.
Kristiana menyeka air matanya kasar.
“Kalau dari awal kamu tahu kamu nggak bisa…” suaranya bergetar, “kenapa kamu biarin aku sejauh ini?”
Raka tidak punya jawaban.
Atau mungkin…
ia punya.
Tapi tidak ada yang cukup benar untuk diucapkan sekarang.
“Aku minta maaf,” katanya pelan.
Kristiana tertawa lagi.
Lebih keras.Lebih sakit.
“Maaf?” ulangnya. “Kamu pikir itu cukup?”
Raka terdiam.
Ia tahu tidak akan pernah cukup.
Kristiana berdiri tiba-tiba. Kursinya bergeser cukup keras.
“Aku nggak terima,” katanya tegas.
Raka menatapnya.
“Aku nggak terima kamu mutusin aku kayak gini,” lanjutnya. “Setelah semuanya.”
Air matanya terus jatuh.Tapi ia tidak peduli.
Raka berdiri perlahan.
“Kris…”
“Jangan panggil aku begitu!” potongnya cepat.
Raka terdiam.
Kristiana menatapnya untuk terakhir kali. Tatapan yang penuh luka. Penuh kecewa.
Dan penuh hal-hal yang tidak sempat diperjuangkan sampai akhir.
Raka tidak menjawab.
Karena ia tahu, mungkin itu benar.Tapi tetap Ia tidak bisa kembali. Karena Ia tidak ingin melawan siapa pun. Antara melawan dengan kedua orang tuanya, kedua orang tua Kristiana, dan juga dengan keyakinan nya.
Kristiana mengambil tasnya. Lalu pergi. Tanpa menoleh.
Meninggalkan Raka sendirian di meja itu.
Seperti seseorang yang baru saja kehilangan sesuatu…
tapi juga melepaskan beban besar di waktu yang sama. Lega yang Tidak Sepenuhnya Ringan
Raka kembali duduk. Tangannya menutup wajahnya sebentar.
Dadanya sesak. Tapi bukan karena ragu.Lebih karena, akhirnya semuanya selesai. Ia menatap meja di depannya.
Makanan belum habis sepenuhnya
Seperti perasaannya sekarang.
Tidak hancur.
Tidak juga utuh.
Hanya… kosong.
Raka menghembuskan napas panjang.
“Maaf…” gumamnya pelan.
Entah untuk siapa. Untuk Kristiana. Untuk dirinya sendiri. Atau untuk semua yang tidak bisa ia pertahankan.
Ia bersandar di kursi.Menatap lurus ke depan.
Untuk pertama kalinya, tidak ada lagi yang menggantung. Tidak ada lagi keputusan yang ditunda.
Semuanya sudah selesai. Dan meskipun sakit…
ia tahu, ini yang terbaik.
Di luar sana, malam terus berjalan.
Orang-orang tetap tertawa.
Lampu-lampu tetap menyala.
Dan hidup…
tetap bergerak.
Tanpa menunggu siapa pun selesai dengan lukanya.
Karena pada akhirnya…
ada keputusan yang memang harus diambil.
Meski menyakitkan.
Meski tidak diinginkan.
Dan meski…
tidak semua orang bisa menerimanya.
(BERSAMBUNG…)
---------------------------------------------------------------------------------------
Ikuti terus kisahnya di bab selanjutnya ✨
Jangan lupa beri komentar, saran, dan like 💛
Karena dukungan kalian adalah semangat untuk author terus menulis 🌷Terima kasih 🤗
Maaf kalau menurut kakak alurnya terasa terlalu berliku. Aku memang mencoba membuat cerita dengan beberapa konflik dan kejutan supaya perjalanan para tokohnya lebih terasa ✨
Tapi aku tetap menerima kritik dan sarannya. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca ceritaku 🤍