NovelToon NovelToon
Luka Sebria

Luka Sebria

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Kantor / Wanita Karir / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:15.2k
Nilai: 5
Nama Author: ririn rira

Seolah luka sayatan di tetes cuka. Begitu lah seorang gadis bernama Sebria. Kekasih yang begitu dicintainya tidak sengaja membuat kesalahan besar yang mengantarkan hubungan mereka pada sebuah perpisahan. Bersamaan itu juga telah terungkap rahasia kenapa Sebria di besarkan di panti asuhan selama ini. Demi penyembuhan diri Sebria menarima tawaran mutasi dari kantornya sehingga mempertemukan dirinya dengan anak pemilik perusahaan. Hubungan mereka berlanjut sampai ke pernikahan tapi sayangnya. Istana yang di tempati Sebria tidak sehangat awal pernikahan. Semuanya berubah beku karena insiden yang terjadi menyebabkan kelumpuhan untuk Sebria.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririn rira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hanya sekretaris tidak lebih

"Tante." Anita merengek manja menjatuhkan tubuhnya di sofa.

"Kita nggak sedekat itu, kamu panggil tante."

Sahutan dingin bersamaan tatapan tegas. Membuat Anita salah tingkah. "Maaf." Ucapnya pelan. "Deric marah besar tadi bisakah Nyonya Laura membujuknya?"

"Saya sudah memberikan kamu kesempatan tapi kamu gagal. Jadi bukan kesalahan saya." Nyonya Laura tersenyum meremehkan. "Gadis seperti kamu jauh dari kriteria yang saya inginkan. Sekarang kamu mengerti, 'kan? Bagaimana anak saya. Kubur dalam-dalam niat kamu itu sampaikan juga pada ayah mu. Jangan menjual anak gadisnya untuk sebuah bisnis."

Wajah Anita merah padam bercampur malu. Ia bepikir kemarin Ibu Laura mendukungnya karena menerimanya dengan baik saat datang kesini bahkan memberikan nomor ponselnya.

"Saya nggak suka sama sekretaris Deric. Terlalu penuh aturan. Pecat saja dia." Ucapnya meluapkan amarahnya.

"Siapa kamu mengatur karyawan saya !" Sahut Ibu Laura lebih dingin lagi. "Anna antar tamu kita jangan biarkan dia datang lagi." Tanpa menatap wanita itu mengusir.

Anita mengepalkan tangan keluar dari sana sebelum Anna menyeretnya. Pupus sudah keinginannya menjadi menantu kaya raya. Selain di suruh papa nya mendekati Deric. Anita memang jatuh cinta pada pandangan pertama di pertemuan kemarin.

...----------------...

"Pak, silahkan makan." Sebria sudah selesai menyiapkan makan siang atasannya. "Selamat makan saya keluar dulu."

Deric tidak menyahut tapi juga tidak mengangguk tapi dari tatapan nya ingin di temani sayangnya lidah berharga itu sangat berat untuk berucap. Alhasil hanya hembusan nafas berat mengisi ruang sunyi itu seraya jatuhnya bobot tubuh di atas sofa. Manik mata indahnya menatap menu di atas meja terlihat enak tapi tidak menggiurkan. Selera makan mendadak hilang makan pun serasa malas.

"Permisi, saya boleh bergabung?" Sebria membawa beberapa kotak makanan di tangan berdiri di ambang pintu.

Wajah redup itu berseri diiringi kepala mengangguk pelan menyetujui. "Apa itu?" Deric bertanya penuh penasaran.

"Bapak harus coba." Sebria membuka satu persatu-satu. "Ini milik Zion."

"Kamu lebih perhatian sama dia dari pada saya?!" Ada rasa tidak suka di nada bicara itu karena di nomor duakan. "Kalau begitu kenapa kalian nggak makan bersama saja." Rasa senang sempat menyelinap tadi lenyap meninggalkan kesal.

"Zion beli sendiri, Pak. Tapi nitip ojek saya. Jangan marah terus nanti cepat tua dan nggak ada yang mau menikah sama bapak."

Deric menatap penuh selidik bukan karena perkataan Sebria tapi tentang makanan yang di beli sendiri itu. "Jadi benar Zion beli sendiri, bukan kamu?"

"Iya benar."

"Saya menggaji kamu untuk menghidupi diri kamu sendiri. Bukan menghidupi laki-laki."

"Bukan Bria yang menghidupi saya, Pak. Tapi saya yang ingin menafkahi dia." Kelakar Zion sambil masuk. "Dari pada mempermasalahkan hal kecil lebih baik kita makan saja. Setelah ini ada jadwal lagi."

"Kamu di kantor saja, saya berangkat sama Sebria dan bawahan kamu satu orang."

"Siap pak nanti saya minta Rufin buat ikut."

Usai makan siang dengan bumbu drama kesenjangan yang dirasakan Deric. Kini dia dan Sebria sudah berada dalam mobil mewah. Di ikuti beberapa pengawal di depan dan belakang roda empat itu membelah jalan. Di dalamnya suasana cukup hening tanpa percakapan. Sebria menikmati perjalanan sementara Deric fokus pada benda pipih di tangannya.

"Pak, kita sampai." Ujar Rufin bersuara dari depan.

Deric mengangkat pandangnya menoleh ke samping dimana tempat ia akan berkunjung. Merapikan baju sekilas lalu menapak kaki ke tanah. Sepatunya mengkilap hitam membungkus kaki di tambah lagi kaca mata hitam melekat pada tulang hidungnya yang mancung. Sungguh pesona yang sulit diabaikan tapi itu semua seolah tidak berlaku pada Sebria. Terbukti gadis itu biasa saja melihatnya.

"Selamat datang Pak." Seorang petinggi gedung menyambut dengan senang.

"Dipersingkat saja waktu nya." Deric berucap sambil melihat jam mewah yang melingkar di tangan.

"Baik Pak." Pria paruh baya itu mengerti jika kunjungan ini singkat. Ia gegas membawa Deric ke ruangannya. Didalam sana sekretaris dan asistennya menunggu dengan beberapa berkas di atas meja tamu. "Ini progres dari kerja sama kita."

Sebria menarik berkas itu lalu membuka nya sambil memperlihatkan. "Pak Deric, kita masih punya waktu untuk ke pabrik nya langsung."

Deric terlihat berpikir sejenak sambil membaca isi kertas-kertas di tangannya. "Saya mau lihat ke pabrik."

"Baik pak."

Mereka meninggalkan ruangan sambil berbincang mengenai produk yang akan launching sebentar lagi. Perusahaan itu beberapa waktu lalu bekerja sama dengan Deric untuk memproduksi sepatu. Karena keterbatasan mereka memilih mengajukan bekerja sama. Deric menyambut dengan baik menaungi perusahaan kecil itu.

"Hati-hati." Sebria memasang perlengkapan masuk pada Deric. Kemudian memasang ke tubuhnya sendiri.

Mereka melihat semua nya sedang berproses. Para karyawan bekerja dengan baik semua peralatan memenuhi standar. Bahan digunakan sama seperti yang diminta. Deric cukup puas melihat nya. Tidak membutuhkan waktu lama kini mereka saling mengucapkan selamat tinggal.

"Mampir ke toserba." Ucap Deric merasa pusing.

"Bapak butuh sesuatu?"

"Kepala saya pusing. Belikan air putih persedian disini habis."

"Maaf pak saya kurang memperhatikan." Seru Rufin merasa bersalah. Padahal tadi Lazion sudah memberitahu nya untuk mengecek persediaan di mobil.

Sebria turun membeli beberapa botol air mineral dan minuman manis dingin. Cuaca sangat panas bisa jadi atasannya itu kurang oksigen.

"Apa kepala nya sakit sekali?" Sebria membuka tutup botol memberikan kepada Deric.

"Iya." Sambil menjawab pria itu menyerahkan kembali botol itu.

"Longgarkan pakaian bapak, apa perlu kita ke rumah sakit?" Sebria meraih jas yang sudah di lepaskan Deric.

"Nggak perlu. Bangunkan saya kalau sudah tiba di kantor."

Sebria mengangguk lalu membiarkan Deric beristirahat. Menyetel kursi agak miring supaya atasannya itu nyaman.

...----------------...

Wajah malam begitu tebal menghitam. Cahaya berakar memancar di sudut mana saja. Angin menampar dari arah tidak terduga menerbangkan apa pun yang ringan. Semesta mulai tidak bersahabat menemani perjalanan pulang Deric ke rumah utama. Laki-laki berperawakan tinggi itu memilih pulang ke rumah sang mama terkait kejadian tadi.

"Selamat datang Tuan Deric." Sapa para asisten rumah berjejer di depan pintu masuk. Jarang-jarang putra tunggal pemilik rumah pulang.

"Dimana mama." Tanya Deric pada seorang kepala asisten rumah yang terlihat tua dari ibu nya.

"Di kamar tuan, anda mandi sekarang?" Wanita itu mengikuti langkah Deric.

"Nanti saja, saya tidak menginap."

"Baiklah."

Deric meneruskan langkah ke kamar Ibu Laura sementara kepala asisten rumah berhenti di anak tangga. Lalu memberi perintah kepada bawahannya untuk menyiapkan makan malam.

"Kamu pulang?" Ibu Laura menerima pelukan.

"Aku cuma mampir sebentar." Deric melepaskan jas nya. "Kenapa mama membiarkan orang itu datang ke kantor ku?"

Ibu Laura tersenyum memahami arah pembicaraan." Mama harus menunjukan bagaimana ketertarikan kamu. Kalau mama melarang gadis itu pasti dia nggak percaya. Jadi biar dia melihat langsung bagaimana kamu."

"Lain kali jangan seperti itu lagi, aku nggak suka orang asing datang ke kantorku kalau bukan urusan pekerjaan."

"Iya, makan dulu baru pulang atau menginap saja disini. Ganti baju sana sudah seharian pakai itu." Layak nya seorang ibu. Wanita mandiri ini juga cerewet.

"Nanti saja, kemarin Zion sudah mengurus data Sebria jadi dia sekarang bekerja sama aku. Pemberhentian, gaji, mutasi semuanya keputusan dari kantor ku nggak ada berkaitan sama mama lagi."

"Iya tapi ingat Deric. Dia akan tetap jadi sektretaris hanya itu nggak lebih. Kalau kamu mau punya pasangan mama bisa pilihkan. Pertemuan kalian lebih intens dari sebelumnya jangan memberi nya apa pun supaya dia nggak salah mengerti. Mama punya tipe menantu ideal."

"Mama mikirnya jauh sekali. Aku memindahkan Sebria nggak niat apa-apa. Hanya supaya dia nggak melawan sama aku. Kemarin saja dia membalas kata-kata ku karena dia bekerja sama mama."

1
Susi Akbarini
ya ampunnnn..
nyesek bnagettt..
masih mengutamakan shabat.

❤😍😍❤❤❤
Susi Akbarini
itu namanya tekakanan batin jehannnn..
ayusa pura2 baik2 saja..
padahal dia kan cinta ama jehan..
lama2 ya sakit2an gak terbalas cinta..
apalgipaaca melahirkan
😍😍😍❤❤❤
Wiwin niasari
kok ujian terus buat sebria...yg kuat ya sebria🤭
Wiwin niasari
kok nyesek ya jd jehan🥹🥹
Wiwin niasari
berawal dr buku yg berjudul MEMINJAM IBU SEHARI lagsung lari ke sini...& ternyata ceritumu se luarbiasa itu thor...semangat terus thor /Drool//Kiss//Kiss//Kiss/
Ririn Rira: terimakasih kak 🥰
total 1 replies
Lisa
ya lebih baik pisah supaya Bria tidak makin tertekan krn egonya Deric..utk Deric diliat aj apakah dia akan mendptkan istri yg lbh baik dr Bria..
Lisa
Jahat & egois Deric itu..moga aj dia yg bermslh jdi meskipun nnti dia nikah dgn wanita lain tetap tdk punya keturunan..
Lisa
ya Kak..kasihan Bria..suami yg egonya tinggi..cepat pulih y Bria..
Ayuwidia
Aku tunggu buku barunya, Kak 🥰
Ayuwidia
Benar kata Kanaga. Tapi sudahlah, biarkan Deric berteman rasa sesal dan biarkan Sebria mendapatkan kebahagiaan
Ayuwidia
Definisi suami jahat. Mau enaknya, nggak mau pahitnya. Kelak dia akan menyesal karena telah melepas batu permata, dan Bria akan diratukan oleh pria yg tepat. Aku berharap, pria itu Jehan
Ayuwidia
Deric suami yg teramat sangat egois. Merasa benar dan enggan mengalah sedikit pun
Human
smg yg bermslh tdk bs punya keturunan itu Deric sndri meskipun nanti menikah dgn perempuan lain,biar merasakan penyesalan seumur hidup ,gimana sakitnya dituduh tdk bs beri keturunan sprti Sebria,
Ayuwidia
Egonya bikin Gedeg

Next, lanjut Kak Ririn. 🥰
Ayuwidia
Jahattt banget omongannya!!!
Ayuwidia
Laki2 kaya' gini nggak patut dipertahankan jadi suami. Mungkin, hanya Jehan yg benar2 tulus pada Bria
Lisa: Ya Kak..makin hari makin menyebalkan kata² Deric itu..udh lebih baik pisah aj Bria..
total 1 replies
Ayuwidia
Betul, sosok mama mertua yang bijak
Ayuwidia
Deric suami yang teramat sangat egois. nggak memikirkan gimana perasaan istri. Seolah perkataan dan pemikirannya yg paling benar
Ayuwidia
Keona meski masih sangat muda, tapi pemikirannya dewasa dan tegas. Bisa menjadi pelindung Sebria 👍🏻👍🏻👍🏻
Ayuwidia
Aku merasa, hanya Jehan yang mencintai Sebria dengan tulus
Wiwin niasari: setuju
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!