Panggil saja aku Mocha. Saat ini aku sedang mencoba menulis novel per--tidak, sebenarnya bukan pertama, mungkin ke lima atau mungkin tujuh? Aku lupa. Sudahlah, baca saja kalau mau tau cerita novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon srizqya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Sel dalam otakku bekerja begitu cepat sehingga aku bisa merespon ucapannya. Aku mengerjapkan mataku untuk memastikan bahwa didepanku kini telah berdiri dirinya, si pemilik mata elang. Kalau pun ini sebenarnya mimpi, aku tidak ingin terbangun dari mimpiku untuk saat ini. Aku terlalu senang bahkan untuk sekedar memikirkan yang lain.
Elang banyak berubah dari segi manapun. Dalam kurun waktu tiga tahun itu cukup mengejutkan untukku. Dan dia jauh lebih... tampan dan ya Tuhan aku tidak bisa menggambarkannya. Aku... aku terlalu terpesona sehingga tidak mementingkan masalah kecil itu.
Elang mendekat kearahku dan sekarang tubuhnya tepat berada didepanku, "Apa kabar, Mo?" ia mengulang pertanyaannya sekali lagi.
"Ngg.. ba..ik.. lo?"
Elang tersenyum kecil karenanya, "Yep, baik." jawabnya. "Mendingan kita duduk di bangku taman biar lebih enak." Aku mengangguk dan menuruti sarannya.
Setelah duduk tidak ada pembicaraan diantara kami berdua. Suasananya sangat mendukung untuk berperilaku canggung. Aku ingin memulai pembicaraan namun aku bingung harus memulai pembicaraan darimana. Ada berjuta-juta bahkan lebih pertanyaan yang ingin kulontarkan untuknya. Namun, semua itu tertahan dalam diamku.
Terdengar Elang menghembuskan nafas, "Jadi, gue denger, bulan lalu lo udah lulus?"
Refleks aku menoleh kearahnya, "Tau darimana?"
"Alfa."
Aku mengernyitkan keningku. Elang yang bertanya atau Alfa yang memberi tahu? Kalau sampai iya bahwa Elang yang bertanya itu artinya... dia masih bertanya kabar tentangku? Aku berusaha menutupi rasa senangku dengan sebuah deheman.
"Oh.."
Elang tidak menjawab dan aku memaki diriku sendiri karena hanya melontarkan jawaban oh. Apapun, Mocha, Apapun! Tanyakan padanya tentang apapun!
Sekilas aku melihat jari-jarinya yang terpatri didepannya. Tidak ada cincin yang melingkar di jarinya. Melihat itu membuatku semakin ingin bertanya. Dimana cincin pertunangannya? Apa memang sengaja tidak dipakai? Atau mungkin yang terakhir, dia membatalkan pertunangannya dengan Thalita? Aku sangat berharap bahwa jawabannya adalah iya untuk pertanyaanku yang terakhir.
"Ngapain aja selama tiga tahun ini?" tanyaku pelan dan seketika aku menyesali pertanyaanku. Itu terdengar seperti sangat ingin tahu.
Elang mengangkat bahunya acuh, "Well... kerja, pastinya. Lo sendiri?"
"Kuliah, pastinya."
"Kenapa jarang pulang?" pertanyaannya membuatku kali ini benar-benar menoleh kearahnya. Dan yang kudapati ialah Elang yang sedang menatap lurus kedepan sembari tangannya bertautan satu sama lain.
"Kata siapa gue jarang pulang?"
Detik selanjutnya setelah aku menanyakan itu ia menoleh kearahku juga, "Gue."
Aku mengernyitkan kening, "Kenapa?"
"Ya udahlah, gak penting juga." Elang tersenyum kecil dan memalingkan wajahnya dariku. Kemudian ia bersender kebelakang dan tatapannya sekarang mengarah keatas.
"Lang.."
"Hm?"
"Lo.. masih sama.. Thalita?"
Belum ada jawaban dari Elang. Dengan debaran jantung yang kian cepat aku setia menunggu. Rasanya seperti sedang menunggu sidang saat ini. Aku juga belum menyiapkan reaksiku akan seperti apa jika ternyata Elang dan Thalita masih terikat. Sama sekali belum.
"Udah nggak, semenjak tiga tahun yang lalu."
Aku hampir terperangah mendengarnya. Apa yang dimaksud dengan tiga tahun yang lalu? Itu artinya dia sudah tidak dengan Thalita ketika aku benar-benar hendak memutuskan untuk pergi dari kehidupan Alfa dan Elang, bukan?
"Kenapa?" tanyaku.
Elang mendengus pelan, "Nggak cocok."
Hanya itu? Se-simple itu? Tidak ada alasan lain? Stupid Mocha! Memangnya kenapa jika se-simple itu? Dan memangnya aku ingin alasan lain yang seperti apa?
"Gitu," gumamku.
"Dan, lo? Kenapa putus dari Alfa?"
Aku mengangkat bahu pelan, "Alfa bukan takdir gue, mungkin?"
Elang terkekeh pelan, "Terus menurut lo siapa takdir lo?"
Aku mengangkat bahu kembali, "Gak tau."
Lagi, Elang tidak menjawab. Ada jeda beberapa saat diantara kami berdua dengan pikiran masing-masing. Udara malam kian menusuk sampai ke tulang menyebabkan aku harus menggosokkan kedua telapak tanganku agar aku tetap ingin hangat.
"Gue kangen lo, Mo.."
Lirih.
Suara itu terdengar sampai ke telingaku. Membawa berjuta-juta volt listrik ke seluruh tubuh dan mengalir dengan lancar kedalamnya. Rasanya aku sedang terbang ke langit ke tujuh bersama para bidadari sambil menari-nari. Namun kiasan itu sangat menjijikkan.
"Gue juga, El.."
Lirih aku menjawab.
Elang tersenyum karenanya, mengelus rambutku secara perlahan. Aku menikmati setiap sensasi dari gerakannya. Namun itu semua hanya sesaat ketika Elang mulai berdehem sebagai tanda ingin memulai pembicaraan kembali.
"Ada sesuatu yang pengin gue kasih ke lo."
Mataku langsung menyiratkan sorot ingin tahu, "Apa?"
Elang merogoh ke dalam jasnya hendak mengambil sesuatu. Mataku mengikuti setiap gerakannya. Sampai pada akhirnya ia mengeluarkan sebuah kotak merah marun berukuran sedang.
"Ini."
Elang memberikan kotak itu kepadaku. Dengan tangan sedikit gemetar aku menerimanya. Antara tidak sabar campur penasaran dengan apa isi didalam kotak tersebut. Aku membuka pita yang membungkus kotak tersebut sampai benar-benar terlepas dan menaruh pita tersebut di sisiku.
Tanpa sadar aku menahan nafas saat perlahan aku membuka kotak tersebut. Jantungku sudah benar-benar tidak karuan rasanya dan hatiku sangat campur aduk. Ketika kotak itu sepenuhnya terbuka, aku mendapati sebuah tulisan disana.
Tulisan dengan tinta emas.
Tulisan sebagai pertanda bumerang untukku.
Disana tertulis,
Namira Kanaya Putri (Naya)
&
Elang Angkasa Wijaya (Elang)
Seketika hatiku langsung mencelos dan tubuhku seakan ditimpa beribu-ribu palu godam. Tanganku sekarang benar-benar gemetar dan aku bahkan sampai menjatuhkan kotak tersebut. Aku sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi untuk saat ini. Pikiranku kosong dan mulutku seakan terkunci. Mataku sudah berkabut hendak mengeluarkan bulir-bulir mutiara di kelopak mata.
"Mbak.. Naya?" tenggorokanku tercekat saat aku mengucapkannya. Aku berusaha menahan gejolak didada dan meremas pahaku sendiri untuk melampiaskannya. "Kenapa... bisa?"
"Naya baik dan enak diajak ngobrol. Gue selalu cerita ke dia, tentang Thalita, semuanya. Tapi.. ternyata lama-lama perasaan itu jadi berubah."
"...lo bakal dateng, kan?" lanjutnya.
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Benakku memerintahkanku untuk meneriakkan kata tidak akan namun bibirku menolak untuk diperintahkan. Aku tidak mungkin berkata seperti itu didepannya kalau tidak ingin Elang tahu perasaanku yang sebenarnya.
"Gue... pasti gue dateng."
Bohong. Itu adalah bohong besar.
"Gue seneng kalo lo dateng," kata Elang.
Aku tersenyum pahit, "Gue turut... seneng," kali ini air mataku sudah tidak bisa ditahan lagi. Aku langsung berdiri dari bangku taman. "Sori... tapi kayanya gue harus ke belakang."
Tanpa menunggu jawaban Elang aku berjalan cepat meninggalkan taman diiringi dengan airmataku yang turun tanpa ada jeda sedikitpun. Berusaha mat-matian aku menahan airmata itu keluar namun semakin kutahan semakin airmata itu keluar dengan lancarnya. Aku tidak menyangka bahwa sebuah tisu menandakan sapaan hello dan goodbye.
Tisu pertama untuk perkenalan yang bodoh dan tisu terakhir untuk perpisahan yang menyakitkan.
***
"Gue nggak akan ngebiarin permohonan lo nggak terkabul," kalimat itu kini hanyalah segelintir kalimat belaka yang dihempas ke jalanan. Tak bermakna.
"Gue percaya takdir," dan aku memang bukan ditakdirkan oleh Elang.
Terlalu banyak aku menuliskan sebuah cerita-cerita dengan akhir yang bahagia. Dan karena terlenanya aku sampai melupakan realita yang ada, dengan kehidupan yang sebenarnya. Nyatanya memang seperti ini, dalam realita tak jarang semua akan berakhir bahagia namun tak jarang juga akan berakhir menyedihkan.
Aku salah satu yang berakhir menyadihkan.
Namun, aku selalu percaya bahwa akan selalu ada kebahagiaan diakhir keterpurukkan. Untuk sekarang, aku sedang menunggu datangnya kebahagiaanku. Entah kapan datangnya, esok hari, lusa? Aku tetap akan menunggunya.
Mochaccino
15, Nov 2013
***
Fin
samangat thor.... 💪💪😘😘