Malam pertama bagi setiap pasangan Yang saling mencintai adalah suatu malam Yang paling terindah. Berbagi cinta kasih dengan penuh kemesraan tanpa adanya hukum Yang membatasi setiap ungkapan sayang tuk melampiaskannya.
Berbeda dengan pasangan Kapten Jiandra bersama sang bos mafia Yang terlibat dalam sebuah kasus, Yang mengharuskan keduanya untuk saling mengikat janji suci tanpa ada perasaan Yang tercipta di hati keduanya.
bagaimana kisah kapten Dan si bos mafia menjalani cerita hidup berumah tangga mereka...?!
Akankah malam pertama Yang indah bisa mereka rasakan..?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jessica Je, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hati Memilih
"Agung telah kembali jian, kamu tidak mau menemuinya? "tanya ibra membuyarkan lamunan jian.
Jian lalu menoleh kepada andra. Andrapun seketika langsung menoleh kepada jian. Ekspresi andra tak bisa di baca. Jian gamang, ia tak tau harus bagaimana.
"Agung itu suamimu yang meninggal 3 tahun lalu kan? "tanya andra lembut, jian mengangguk
"Lalu kenapa ia kembali lagi? "tanya andra lagi
"Aku juga gak tau. sepertinya aku harus menemuinya dulu, untuk memastikan apa benar itu agung. kamu gak apa-apa aku tinggal sendiri?"tanya jian
"tadi kamu mau ngomong apa? "andra balas nanya, ada sedikit kekesalan hadir dihati andra saat jian akan pergi menemui laki-laki yang dulu pernah menorehkan luka di hati jian.
"Aku... aku.. aku akan bilang nanti saja, aku akan memastikannya nanti. aku pergi yah"ucap jian, ia hendak pergi tapi andra menarik tangan jian, sehingga jian jatuh ke atas tubuh andra. andra pun mengecup kening jian yang berada tepat di depannya. Jian menutup matanya meresapi kecupan andra.
"aku sayang kamu jian"ucap andra seraya memeluk erat jian, kecupannya masih menempel di dahi jian.
"Ayo"ucap ibra. Ia merasa risih melihat andra dan jian yang sedang romantis di depan mereka. Nayla lalu mencubit pinggang ibra.
"Apa sih"bisik ibra ke nayla
"iri bilang bos"ledek nayla, ia menaik turunkan alisnya yang tebal dengan sedikit senyuman.
seketika ibra pun melingkarkan tangannya ke pinggang nayla dan menarik nayla kedalam dekapannya. nayla mencoba mengelak, tapi tenaga ibra tak bisa ia imbangi, Tenaga tentara dilawan. Ibra mengecup bibir nayla. nayla membulatkan matanya, ia tak menyangka ibra akan melakukan hal yang sama dengan yang di lakukan andra tadi.
"mata kamu ntar keluar kalo di pelototin kayak gitu. "ucap ibra cekikikan seraya melepaskan kecupannya dibibir nayla. Nayla menampar pipi ibra. sedang jian dan andra terdiam menyaksikan tingkah ibra dan nayla.
"ih kamu main asal nyosor aja. kamu kira aku perempuan murahan, "nayla kesal
"Maaf.. maafkan aku.. aku tidak bermaksud begitu, aku gak nahan melihat kamu ledekin aku kayak tadi. kamu begitu menggemaskan "
"masa sih? "nayla wajahnya memerah tapi masih terlihat kesal
"Maafkan aku, aku janji takan mengulanginya lagi, kecuali.. "
"kecuali apa? "tanya nayla
"kecuali saat kamu sudah jadi istriku nanti"ucap ibra serius
"hei kalian, ntar aja lanjutin yang tadi, ayo kita ke lokasi,"ucap jian
"ayo,ndra kita balik ke lokasi yah,bye andra" nayla berjalan terlebih dahulu, ia tidak bisa berdekatan dengan ibra, jantungnya suka kumat kalo berdekatan dengan pria itu.
"Hei tungguin, kamu kenapa jalannya buru-buru amat? "
"cepetan, pekerjaan kita masih banyak"teriak nayla mencoba menghindar.
ibra melihat tingkah nayla hanya bisa terkekeh, sedang jian pikiran dan hatinya berkecamuk tak karuan. Ia tak pernah menyangka kalau agung akan kembali. walau sebelumnya ia pernah mengharapkan itu.
Selama dalam perjalanan hanya nayla dan ibra yang masih saja saling menjahili. sepasang sejoli itu kayaknya memang suka bercanda, bagai tom and jerry.sesampai di lokasi, ibra dan nayla segera turun dan langsung ke tenda. sedangkan jian masih terdiam di dalam mobil. ia bingung harus bersikap seperti apa kepada agung. kerinduan yang dulu ia rasakan sudah memudar karena ada andra yang sering menemaninya.
Sampai pintu mobil dibuka oleh seseorang. Jian terkejut. Ia melihat dengan seksama sosok yang sedang berdiri di depannya itu.
"hei... kamu melamun? "ucap agung
"eh.. "
"Kamu gak merindukan aku? "tanya agung
"hmmmm..kamu beneran agung? "tanya jian.
pikirannya masih kacau. Ia tidak tau harus bagaimana.
"iya ini aku agung, aku sudah kembali nanti aku jelaskan semuanya setelah tugas kita selesai. kamu gak ingin memelukku? " pinta agung.
jian tersenyum segan. ia enggan menjawab pertanyaan itu, perasaannya kalut.
Ia memikirkan andra yang berada di rumah sakit.
"Aku masih bisa memelukmu? "tanya agung kembali.. jian belum menjawabnya. ia masih terdiam, hingga tak lama ia pun menganggukan kepalanya. Agung lantas memeluk erat wanita yang pernah ia cintai itu.
Agung memeluk erat jian, jian pun membalas pelukan agung, tapi anehnya perasaan mereka berbeda. mereka tak merasakan debaran jantung mereka, dan ketika mereka memejamkan mata untuk meresapi pelukan itu, justru sosok orang lain hadir di pikiran mereka masing-masing. Agung memeluk jian tapi yang hadir di matanya hanyalah wajah ayana. begitupun jian, saat agung memeluknya pikirannya malah ke andra.
Jian menitikkan air matanya. Kegamangan hatinya membuatnya sedih. Perasaannya kini bercabang. Mengapa disaat hatinya telah memilih andra, agung datang mengacaukan kembali hatinya.
Mereka dengan refleks melepaskan pelukan itu. Pelukan itu terasa canggung. Tak ada kerinduan dalam pelukan itu, seperti saat mereka saling mencintai dulu. rasa yang pernah hadir itu kini seolah menguap seiring berjalannya waktu terbuang.
"Hei reuni nanti disambung lagi. ayo kita segera bereskan pekerjaan ini. biar kita bisa kembali dengan cepat. "teriak ibra.
Agung dan jian lalu saling menatap. mencoba merasakan Cinta yang dulu, tapi lagi-lagi tatapan itu hampa. tak ada siapa pun yang mengerti dengan tatapan masing-masing. mereka akhirnya memutuskan untuk bekerja kembali.
"Nay.. tolong kamu bantu aku mendiagnosanya, dia terlihat sangat kesulitan bernafas, saat aku menekan dada kirinya ia seperti meringis gitu. "jian memanggil nay yang tak jauh darinya..
Naylah tak menggubris ucapan jian. Nayla mengacuhkan jian yang meminta tolong kepadanya,nayla berdiri dan berjalan setengah berlari. matanya fokus di satu tempat.
"Nay.. nay"teriak jian.tapi nayla tetap berjalan menjauh dari jian. Ibra berada tepat di depan nayla pun ikut memperhatikan nayla. keningnya mengerut memperhatikan tingkah nayla yang sudah berubah lagi. tanpa sapaan seperti biasa nayla melewati ibra begitu saja. pandangannya seperti terlihat kosong. Ibra yang menjadi khawatir dan ia pun mengikuti nayla.
Sampai nayla berhenti di tepi pantai, di tempat itu tidak seperti tanah yg di sampingnya, tanah yang di tuju nayla seperti ada gundukan berbentuk oval.
"Ibu kamu sedang apa disini. "tanya nayla. Dimata nayla di tepat itu ada seorng ibu muda yang sedang menangis dan terus mencoba mengais-ngais gundukan pasir itu tapi tak bisa di sentuhnya. ibu tersebut sudah sangat pucat, dengan baju yang dipenuhi lumpur serta luka yang menganga di bagian kiri atas matanya sehingga membuat bola matanya sudah tidak ada lagi.
Lain halnya di penglihatan ibra, nayla terlihat seperti sedang berbicara sendiri, sehingga ibra meyakini bahwa nayla sedang berbicara dengan makhluk lain. ibra lalu mendekati nayla.
"hei nay kamu sedang apa disini? "
"ibra... ibra.. hiks... hiks... tolong.. tolong..
tolong kita gali pasir ini"ucap nayla dengan suara bergetar.. Ia menangis tersedu..
"hei.. sayang tenang.. tenanglah.. tenangkan dirimu... "
"ibraaa huwaaaaaa "Tangisan nayla pecah juga..
****
TBC
penasaran nih
lama Bgt nunggu nya