NovelToon NovelToon
Dukun Absurd Dan Kuntilanak Centil

Dukun Absurd Dan Kuntilanak Centil

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:11.7k
Nilai: 5
Nama Author: the last shadow

"Mas Kenzo! Pocongnya kabur lagi!" teriak Srini sambil ngemil ceker ayam._
"Bukan waktunya makan, sri! Itu pocong bawa kabur anak kepala desa!"

Kenzo, dukun muda nyeleneh dan Srini, kuntilanak centil juga narsis , harus menghadapi Gerombolan pocong pemburu nyawa,Pengkhianatan makhluk gaib yang mereka percaya ,Rahasia mengerikan di balik kematian orang tua Kenzo.

misteri apa yang terjadi mengapa bisa ribuan pocong mengepung sebuah desa dan mengapa orang tua Kenzo bisa mati secara misterius. temukan jawabannya di buku ini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon the last shadow, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

-

Blorong tertawa dengan histeris. "Aku belum serius!" ucap Blorong lalu dia mulai memejamkan matanya. Kedua telapak tangannya disatukan, lalu dia menempelkan tangan itu di dadanya. Mulutnya terus berkomat-kamit membacakan sebuah mantra.

"ULAR GILA! JANGAN KAU BACA ITU!" teriak Srimurni panik. Seluruh medan perang mulai bergetar hebat.

Srimurni langsung mengeluarkan jurus terkuatnya, menyerang pusaran hitam yang terbentuk dari mantra tersebut. Api panas melesat, menghantam pusaran itu.

"LARI!!" teriak Srimurni kepada semua orang.

Pasukan yang tersisa panik, sebagian sudah tidak bisa bergerak karena luka, sebagian mencoba menyeret tubuh mereka menjauh. Maya yang masih terduduk menoleh, matanya penuh ketakutan.

Dan saat semua orang panik, menunggu apa yang terjadi dengan nasib mereka—

Sebuah siluet bayangan melesat dengan sangat cepat, muncul di depan pusaran itu. Bayangan itu membentuk sosok wanita yang mereka kenal.

"Mengapa kalian panik hanya untuk menghadapi mereka ?" ucap Azura Mayang santai, melipatkan tangannya sambil menatap pusaran dengan tenang.

"Azura...? Kau masih hidup?" Srimurni terlihat senang, matanya berkaca-kaca. Rasanya dia ingin memeluk sosok di depan matanya, namun tubuhnya yang sudah sangat lelah sulit sekali untuk sekadar berdiri.

Dari dalam pusaran hitam itu akhirnya muncul tujuh sosok wanita. Aura yang sangat mengerikan terpancar dari masing-masing mereka. Begitu kemunculan mereka sempurna, Blorong langsung bersimpuh, berlutut, dan menangkupkan kedua telapak tangannya di atas kepalanya.

"Selamat datang, para Tujuh Sahyang Agung. Aku, Blorong, memanggil kalian karena ada musuh yang sangat berbahaya. Aku siap membayar dengan nyawaku untuk balasan memanggil kalian semua!" ucap Blorong dengan suara lantang. Meskipun terlihat jelas rasa takut di wajahnya, tekadnya sudah bulat. Dia tahu, hari ini mungkin hari terakhir hidupnya.

Salah satu dari mereka melangkah maju. Ia mengenakan kebaya berwarna hitam, rambutnya disanggul rapi dengan tusuk konde emas. Setiap langkahnya anggun, namun penuh wibawa. Saat dia berhenti, suaranya menggelegar seperti petir, mengguncang medan perang.

"Kau memanggil kami... hanya karena sesuatu yang remeh ini?!"

Suara wanita itu bergema, mencabik udara. Maya, Gwandra, Srimurni (Srini), dan seluruh pasukan yang masih hidup di medan perang langsung berlutut, tak tahan menghadapi tekanan aura para sahyang. Beberapa pasukan bahkan mati seketika, tubuh mereka hancur karena tak sanggup menahan kekuatan yang menindih.

Maya, Gwandra, dan Srini memuntahkan cairan hitam dari mulut mereka, tubuh mereka gemetar hebat.

Namun, di tengah semua kekacauan dan tekanan itu—Azura Mayang tetap berdiri tenang. Ia menatap ke depan dengan mata tajam, tak bergeming sedikit pun, seolah-olah tekanan itu tidak pernah ada.

"Kau masih sama, Kendasi. Sombong dan tak tahu malu. Apakah luka tusukan di perutmu belum cukup?" ucap Azura santai, tangan menyilang dan tatapan meremehkan.

Kendasi menatap tajam, tertawa pelan menghina. "Luka kecil dari pengkhianat sepertimu tak layak kuingat. Kau masih saja merasa paling kuat, Azura?"

"Kau lupa, kau hanya jin rendahan. Aku iblis," balas Azura santai.

Kendasi mengepalkan tangan, aura hitam membungkus tubuhnya. "Jangan terlalu tinggi hati, Azura! Di sini, kekuatan ditentukan keberanian dan pengorbanan, bukan asal usul!"

"Seharusnya dulu aku membunuhmu," desis Azura, aura membunuhnya makin kuat.

Kendasi tersenyum sinis, maju menahan tekanan. "Dan seharusnya aku menghabisimu saat kau lemah. Tapi kita di sini sekarang, dua makhluk abadi dengan penyesalan lama."

"Kau kira bawa enam temanmu aku akan takut? Dari dulu kau tak berubah, Kendasi."

Azura melangkah maju, aura membunuh menyebar. "Srini, bawa semuanya pergi dari sini!" perintahnya tanpa menoleh.

Srimurni menggertakkan gigi, menatap punggung Azura dengan mata yang berkaca-kaca. Tubuhnya sudah terlalu lelah, tapi hatinya menolak untuk meninggalkan Azura seorang diri.

“Maya, Gwandra, bantu aku bawa pasukan mundur!” ucap Srini dengan suara parau.

Maya yang masih gemetar mencoba berdiri dengan bantuan Gwandra, keduanya menoleh sekilas ke arah Azura yang berdiri tegak di hadapan tujuh sahyang agung.

“Azura… hati-hati,” gumam Maya lirih.

Sementara pasukan mulai perlahan mundur meski dengan kondisi terpukul, Azura tetap tidak bergerak dari tempatnya. Angin berputar kencang di sekeliling medan, aura dari tujuh sahyang kini mulai menyatu membentuk pusaran tekanan spiritual yang bisa menghancurkan tubuh lemah dalam sekejap.

Kendasi melangkah maju selangkah.

“Kau sungguh ingin mengulang kehinaanmu di hadapan kami?” ucapnya dengan suara setajam belati.

Azura tersenyum tipis, rambutnya berkibar tertiup aura kekuatan di sekitarnya.

“Jika hari ini harus kuhabisi kalian satu per satu agar bumi ini tenang… maka begitu jadinya,” ucap Azura dengan santai, namun tajam dan dingin.

Langit mendadak berubah gelap. Lapisan hitam mulai merambat dari ujung kaki Azura, menyebar ke tanah, menciptakan batas medan baru—tanda bahwa pertarungan sebenarnya akan dimulai.

Tentu, aku rapikan biar dialognya lebih tajam dan mengalir, tanpa mengubah inti ceritanya:

"Lasmi, apakah kau hanya diam di pojokan seperti pecundang!" ucap Azura sambil menoleh ke arah wanita berambut merah panjang yang memakai gaun hijau berhiaskan berlian, memegang tongkat panjang dengan ujung segienam dari berlian merah pekat.

Lasmi melangkah keluar dari barisan, tatapannya tajam meski ada kegelisahan di wajahnya. "Azura, kau tetap lancang. Aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk membuatmu bertekuk lutut."

Azura tertawa kecil, mengejek. "Waktu yang tepat? Atau kau memang penakut? Tongkatmu bersinar, tapi hatimu tetap rapuh."

Enam sahyang lain mulai menyebar, membentuk lingkaran. Lasmi berdiri di depan Azura, mengangkat tongkatnya yang mulai memancarkan aura panas.

"Kalau ingin menguji keberanianku, silakan, iblis. Tapi jangan menyesal kalau kau tak sempat menyesal," ucap Lasmi tajam.

Azura menyilangkan tangan, menyeringai dingin. "Aku menantikan pembuktianmu, pecundang berhiaskan berlian."

"Maju kalian semua!" seru Azura, melesat dengan mata biru berkilat petir. Azura menghindari setiap serangan, lalu tiba-tiba muncul di belakang Kendasi. "Satu!" ucapnya, meninju Kendasi hingga terpental jauh.

Keenam sahyang langsung menyerang serempak, tapi Azura menghilang dan muncul di samping sahyang berjubah putih. "Dua!" tendangannya membuat lawan terhuyung. "Tiga!" serunya, menghantam sahyang bercambuk sampai terpental.

Lasmi melompat, mengayunkan tongkat berlian, tapi Azura sudah di belakangnya. "Kau yang keempat," ucapnya, menghantam Lasmi dengan siku berselimut petir.

Sahyang kelima dan keenam mencoba bertahan, tapi Azura bergerak lebih cepat—"Lima. Enam."—menjatuhkan mereka satu per satu dengan pukulan nya.

Kini hanya Kendasi dan Lasmi yang tersisa. Azura berbalik, menatap tajam. "kalian Masih mau hidup atau kabur saja seperti dahulu?"

"Kau masih sama, lemah dan terlalu percaya diri!" sindir Kendasi, lalu merapalkan mantra yang membuat para sahyang yang tumbang bangkit kembali, luka mereka perlahan sembuh.

Azura melihat itu, langsung mengeluarkan jurus Absolute Lightning Storm. Tebasan petir biru melesat secepat cahaya ke arah mereka. Kendasi maju, melepaskan tusuk kondenya, menebaskannya seperti pedang—lesatan hitam muncul, beradu dengan petir Azura.

Lasmi tak tinggal diam, mengarahkan tongkatnya ke depan. Cahaya merah pekat menyelimuti lesatan Kendasi, memperkuat benturan dahsyat di udara. Ledakan besar terjadi, tanah pecah dan debu membumbung, Azura terpental namun tetap sigap berdiri, kini lebih serius.

"Kerja sama yang bagus," gumam Azura, matanya mulai bersinar petir. "Tapi kalian lupa siapa aku..."

1
SaNi
hantu hidung mbeler mampin nih kk...
feed back la yaa😍
Shen Yi
buset dah baru aja season 2 udah lawan final bos aje
⧗⃟☕︎⃝❥Lou Yi
Srini the beast.. akhirnya up juga thor
Shen Yi: besok up lagi kaya biasa
total 1 replies
🦊 Ara Aurora 🦊
cerita bagus aku suka cerita seperti ini
🦊 Ara Aurora 🦊: salin support ya? nama novel nya Abelia-can it terima kasih kak
total 2 replies
novi
ternyata oh ternyataa
novi
what?! segampang itu?
novi
lah iya jugaa wkwk
novi
hantu emg bisa ngerasain sakit?/Sob/
✿🅼🅾🅼 🅼🅴🅳🆄🆂🅰✿
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
novi
THOR KEREN SUMPAH! AKU SUKA BANGET, KOMEDINYA DAPAT BANGETT WKWKKWKW. SEMANGAT TERYS YAA THORR btw salam dari "Jejak di Balik Kegelapan " mampir yaa thor/Drool//Drool//Drool/
novi
emg yaa tuan sama peliharaannya tuh sama. kalo ini sama² kocak
novi
ga ekspek/Sob//Sob//Sob/
novi
sugoi njirr/Sob//Sob//Sob//Sob/
novi
bjir inimah kunti fans fanatik Idol kpop
novi
IKIMAH KUNTILANAK HAUS BELAIAN/Sob//Sob//Sob//Sob/ beneran horor komedi iki mahh
novi
PLS NGAKAK BANGET WOYY! LUCUU SERUU/Sob//Sob//Sob/
novi
NGAKAK TERNYATA AIR LIUR/Sob//Sob//Sob/
novi
bablas angin e/Sob//Sob//Sob/
novi
anjay mulut komat kamit mbah dukun baca mantra. mas dukun kenzo
✿🅼🅾🅼 🅼🅴🅳🆄🆂🅰✿
emang iya/Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!