NovelToon NovelToon
Once Again

Once Again

Status: tamat
Genre:Beda Usia / CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Tamat
Popularitas:24.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mesta Suntana

Terikat, membelenggu dirinya dalam ruang gelap yang dingin. Pewaris Perusahaan Shimizu, merupakan sebuah takdir yang terwariskan padanya. Lumi harus hidup sesuai darah yang sudah mengalir padanya.

Terang dan uluran tangan, bahkan ketulusan seseorang padanya dia kubur dalam-dalam. Baginya gelap dalam sebuah dendam yang tergenggam akan jauh lebih baik tanpa ada secerca cahaya apapun.

Tapi, kehidupannya sedikit terguncang akan dua sosok wanita yang mengisi relung pikirannya. Wanita yang dia rindukan tapi rupa wajahnya tidak Lumi kenali. Lalu satu sosok wanita yang tulus perhatian padanya meski mereka saling membenci.

Apakah, Lumi akan membuka tirai dan membiarkan secerca cahaya masuk dalam dunia gelap dengan penuh dendam?

Lalu, kemana hatinya akan berlabuh? wanita masalalu? atau wanita yang dia anggap pengacau sekarang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mesta Suntana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29 - Kecewa

Secangkir teh chamomile harum tersuguhkan pada Lumi. Kebul hangat menyeruak begitu lembut di udara. Hidung mancungnya berkedut samar kala seruak kebul yang hangat tak sengaja terhirup — menelusup masuk membawa manis. Seperti biasa manisnya khas.

Sesapan perlahan menyentuh bibir Lumi, meninggalkan kehangatan yang lembut menjalar ke tenggorokan. Hangat itu merembes ke dada, lalu naik memenuhi ruang pikirannya. Kekacauan di kantor mengendap—seolah terbungkus rapi dan diletakkan di sudut paling sunyi dari benaknya. Untuk sesaat, hanya ada ketenangan dan damai yang menyelimuti.

"Bagaimana kau tahu teh ini?" tanya Lumi pada Lana.

Lana tersentak ringan, tanpa mengurangi kesopanannya. 'Tidak biasanya Lumi memulai percakapan terlebih dahulu.'

"Saya tahu dari gerai langganan saya," jawab Lana tenang seiring dengan pikirannya yang mulai melayang — menjelajahi masa lampau. "Tapi gerai itu sepertinya sudah tutup sekarang," imbuhnya yang tidak pasti, kendati sudah lama Lana tidak tahu akan kondisi gerai tersebut. Karena gerai tersebut ada di masa lalunya.

Lana masih ingat wangi harum teh kering yang selalu menyeruak halus pada penciumannya. Semua jenis teh bertaburan pada setiap kotak kayu yang berjajar rapih di luar gerai tersebut — bertengger tepat di depan fasad kaca. Harum itu selalu terhirup saat Lana pergi dan pulang sekolah. Wangi yang mampu menenangkan dia dari kepenatan sekolah dan juga rasa malasnya pergi sekolah. Itu kebahagian kecil Lana di waktu yang sekilas terlewat.

"Kenapa kau merekomendasikan ini untukku?" Lumi kembali bertanya seraya menatap tajam Lana.

Matanya yang dingin berkilau layak lautan malam yang tenang — penuh harap, menanti jawaban yang dapat memenuhi rasa penasarannya. Bukan sekedar kenapa harus teh itu? tapi ada hal lain yang tersirat dari pertanyaan tersebut.

...•...

...Entah apa yang ingin aku harapkan. Pertanyaan yang mudah dan sepele — tapi aku menaruh harapan yang besar dari jawabanmu....

...Aku ingin kau tidak mengecewakanku....

...Aku merasa kau lebih mengetahuiku....

...Layaknya Teh chamomile yang selalu tersaji, ketika aku kalut dalam kekacauan yang begitu membebani kepalaku....

...•...

"Saya memilihnya bukan semata karena aroma manisnya yang menarik — tetapi kandungan dan manfaat teh ini cocok untuk Tuan. Sering kali saya melihat Tuan terlihat cemas dan sulit untuk tidur."

Nampak wajahnya yang acuh, namun sebenarnya Lumi mendengarkan Lana dengan seksama.

"Kandungan apigenin dan antioksidan dalam teh chamomile dapat mengurangi kecemasan dan juga meredakan saraf yang menegang. Hal itu bagus bagi Tuan, agar bisa tertidur nyenyak dan mengawali hari esok lebih ringan. Meski sedikit, setidaknya Tuan merasa tenang dan lega sejenak dari kepulangan Tuan," jelas Lana, dia terdiam sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya. Hatinya sedikit ragu dan bertanya-tanya.

'Aku ingin kau dapat membagikan beban itu padaku, mencari solusi dan memecahkannya bersama....' lirihnya simpati akan Tuan nya yang terkesan menanggung bebannya sendiri. 'Tapi kenapa aku ingin dia berbagi beban itu? Kenapa aku harus pedulu? Ini aneh.' Simpati itu luruh, kendati Lana menyadari hatinya yang ingin lebih mengenal Lumi.

'Kenapa kau peduli padaku?' tannya hati Lumi — hatinya masih kurang puas akan jawaban Lana.

"Keterbatasan dan juga bukan ranah saya untuk mengetahui apa yang membebani pikiran Tuan, akan sangat lancang jika saya ikut campur dan bertanya. Setidaknya hal kecil seperti ini bisa membantu Tuan. Walaupun memang itu tidak menghilangkan semua beban pikiran Tuan, tapi Tuan bisa memikirkan jalan keluar dari masalah itu dengan pikiran yang jernih," pungkas Lana seraya tersenyum sopan nan lembut.

Mata dingin Lumi tersentak seiring binar matanya yang bening terlihat cerah — merayap masuk dalam biri irisnya yang pekat. Lumi tertegun dengan senyum tipis yang terulas begitu lembut dan tulus. Bagaimana Lana tersenyum, mebawa ingatan lalu yang masih membekas — uluran tangan yang penah Lumi raih dan bertaut begitu kuat. Rasa ketulusan kembali dia rasakan. Bagaimana bisa waktu seketika berhenti saat senyum itu terulas begitu tulus.

'Bagaimana aku menyadari semua tentangmu begitu tulus. Bahkan tatapan matamu yang tenang penuh kesejukan dalam hutan — terlihat tulus di mataku.' Hati Lumi berdenyut samar, namun reaksinya luar biasa membuat Lumi merasakan sakit — sakit yang tidak dia benci.

'Hangat.... kenapa aku merasakan hal ini lagi?' pikirnya bingung — merasa benar dan salah akan hangat yang mudah mencuat dalam hatinya.

'Kenapa kau begitu peduli dan memperhatikan hal-hal kecil yang memungkinkan bisa menolongku.' Meski wajahnya tidak menatap Lana. Namun, di alam bawah sadarnya — dalam bayangannya, Lumi tengah memandangi Lana yang berada di sampingnya. Menatap penuh terang dan hangat dengan senyum yang saling tersuguhkan.

'Hanya untukku.... kau memikirkan hal yang tak mungkin orang lain berikan padaku — hal yang tak pernah terpikirkan oleh orang lain, termasuk aku. Perhatian kecil yang kau berikan, sungguh menggugah hatiku. Kau membuat diriku kacau.'

...•...

...Seketika, tanpa perantara, tanpa peringatan — gelap yang seakan menelanku, serta pandanganku. Entah bagaimana gelap itu sedkit, namun tidak banyak — nampak memudar akan secerca cahaya yang menembus lapisan es....

...Pandanganku mulai terbuka akan secerca cahaya yang membawa terang temaram — dalam gua es yang telah lama aku diami. Kemilaunya yang indah berwarna kuning keemasan membuatku tertegun, menyusuri arah cahaya itu datang....

...Hatiku tergugah, mataku kembali terbuka penuh kagum — kala langit-langit gua es tersebut membentang warna biru safir yang pekat hingga biru muda yang nyaris bening, begitu memukau. Guratan-guratan berpola alami, bagaikan alur air yang membatu —menciptakan kesan seolah langit-langit itu sedang mengalir diam-diam di atas kepala. Stalaktit yang aku kira rapuh, dan kapan saja akan jatuh menusukku. Kini aku terpana melihatnya, runcing yang aku takuti nampak seperti kristal yang berkilau, bagaikan permata yang menghiasi. ...

...Begitu tenang dan magis aku memandanginya....

...Untuk pertama kalinya, cahaya di luar yang membentang dapat masuk menembus lapisan es yang sudah lama membeku....

...Hatiku berdesir hangat, suasana terasa hangat — meski hangat tak benar-benar menyentuhku. Tapi, ini sudah cukup bagiku. Melihat terang di atas sana aku bisa merasakan kehangatannya....

...Untuk pertama kalinya, dingin yang selalu aku rasa kan, sejenak hilang — entah pergi kemana. Secerca cahaya kecil itu, tak pernah aku sangka akan membawa diriku dalam ketenangan....

...•...

'Apa aku merasa senang akan perhatiannya?' tanyanya dalam hati — yang tak ingin dia percayai.

...•...

...Meski terasa hangat, nyatanya — hangat tak mampu mencairkan bongkahan es yang sudah membeku bertahun lamanya. Lamanya waktu — tidak mungkin hancur begitu saja dengan waktu sekarang....

...Bahkan hangat yang aku rasakan hanya lah semu, kenyataannya aku tetap merasa kedinginan....

...Aku menyangkal ketulusan dan perhatiannya. Semua masih abu-abu bagiku. Apa yang aku peroleh akibatnya, masih bisa berubah. Aku takut dengan harapan yang berlebih....

...•...

"Jadi.... kau ingin merubah kebiasaanku — yang kau pikir buruk?" tanggap Lumi, menggurat senyum miring setelahnya.

Lana tersentak samar, nadanya yang pelan itu begitu dingin dan tajam. Bagaikan stalaktit pada langit-langit gua es — tajam, rapuh, dan siap untuk terjatuh. Begitu rentan, hingga gema suara mampu meruntuhkan.

Lana berada dalam posisi yang kurang mengutungkan sekarang. Sejenak dia terdiam kebingungan akan kesalah pahaman yang Lumi tangkap. Salah bicara, semuanya akan semakin runyam.

'Perasaan aku takut ingin mengubah kebiasaannya,' pikir Lana — sinis, 'dia tidak aneh-aneh.... kecuali kepribadiannya yang buruk itu, aku ingin sekali merubahnya,' dengus hati Lana — pikirannya masih mencerna tudingan Lumi.

Nyaris buntu — dan tak memiliki jawaban untuk memuaskan tuannya yang sekaligus sebagai pembelaan baginya. Mata Lana tanpa sengaja menatap cangkir yang tengah Lumi genggam. Akhirnya Lana mengerti — cangkir yang biasanya terisi warna hitam pekat dengan aroma pahitnya yang kuat. Kini kopi itu telah tergantikan dengan warna kuning bening akibat seduhan teh chamomile.

Rasa bingung dan cemas, perlahan surut — tergantikan dengan dengus kesal, hatinya merengut masam. 'Ah.... jadi cuman karena aku mengganti kopi dengan teh, mulutmu menyindir begitu tajam?' kesal Lana.

'Kalau kau ingin kopi kan tinggal bilang.... kalau kau tak mau teh kau juga tinggal tolak. Kau bisa memerintahku untuk membuat kopi, jika itu yang kau mau — perintahkan aku seperti yang selalu kau lakukakan," keluh Lana akan kesalahpahaman sepele yang dia tangkap.

"Sepertinya kau tahu sekali tentang diriku," celetuk Lumi yang kemudian meneguk kembali teh yang masih tersisa.

Lana hanya terdiam seakan bukan masalah — Namun hatinya begitu jengah menanggapi tuannya.

"Tolong maafkan saya Tuan, jika selama ini — Tuan merasa tidak senang dengan perubahan ini. Maafkan saya akan ketidak puasan Tuan dengan pelayanan saya berikan, saya akan memperbaikinya. Saya tidak bermaksud hati mengubah hal yang menjadi kebiasaan Tuan. Saya hanya ingin menjalankan pekerjaan saya dengan baik dan memuaskan sebagai seorang asisten."

Hatinya bergemuruh riuh — bak tanah es yang longsor. Seketika senyap, bagaikan lampu yang padam. Nyeri dalam kegelapan terasa berdenyut dalam dadanya. 'Kenapa aku marah?' tanya Lumi dalam hatinya.

'Kenapa aku kecewa, bukankah itu sesuai dengan apa yang telah kau pikirkan. Lalu dimana letak salahnya? Bagaimana setelah apa yang telah terjadi, aku berharap pada seseorang?' hati Lumi bimbang dengan penyimpangan antara hati dan pikirannya. Perlahan matanya mulai sayu, 'aku.... aku tidak terima — bahwa ketulusanmu hanyalah karena pekerjaan semata, bukan mutlak untukku,' lirih Lumi sendu, tapi amarah penuh kekecewaan yang mencuat.

...•...

...Langit-langit yang kupandang kagum penuh kemagisan dan ketenangan seperti kristal. Dalam sekejap menghilang tertimbun badai salju yang lebat. ...

...Gelap secara bulat melahapku kembali. ...

...Secerca cahaya bagaikan harapan, hangat yang seakan aku rasakan — bagaikan proyeksi akan harapan dan badai salju dengan gua yang mengurungku adalah kenyataan yang mutlak. ...

...Semua itu hanyalah semu tak pernah aku dapatkan. Kenapa aku selalu patah akan harapan? ...

...•...

"Pekerjaan yah," ucap Lumi begitu dalam dan miris.

Mata Lana berkedip akan ucapan Lumi yang terkesan menyindir, tetapi ada kejanggalan yang tersirat tipis — namun menyakitkan.

"Apa Tuan ingin kembali seperti biasanya? mulai besok setiap kepulangan Tuan, saya akan menyajikan kopi." ujar Lana.

"Tidak," tolak Lumi pelan, cangkir yang sudah kosong itu — dia letakan di atas nampan yang dipegang pelayan.

Lana hanya terdiam patuh, seakan tidak terjadi apa-apa. Kenyataannya Tuannya sedang direnggut rasa kecewa olehnya. Meski sebenarnya, Lana tidak memiliki salah.

Lumi mulai bangkit, sebelum langkahnya semakin jauh — dia sejenak terdiam berhadapan dengan Lana.

"Ada apa Tuan?" tanya Lana kala bayangan tubuh besar Lumi melahap dirinya.

"Tidak usah, lakukan saja sesukamu," lanjut Lumi, dimana kalimat sebelumnya memanglah belum selesai.

Melanjutkan kembali langkahnya yang terhenti, beriring dengan bayangannya yang mulai tersibak dari hadapan Lana. Para pelayan sudah membungkuk sopan seraya mengucapkan selamat malam. Sementara Lana hanya terdiam sejenak akan maksud lanjutan kalimat yang Lumi lontarkan. Bagaimana kalimat itu terlihat menusuk kepadannya, tapi Lana tak mengerti kenapa Lumi harus menusuknya — dimana Lana merasa tidak memiliki kesalahan.

Melihat raut wajahnya yang dingin dan datar seperti biasanya, tapi — mata birunya yang redup, menjadi kan birunya pekat menggelap. Tajam namun tampak sayu. Mata itu berkata lain. Lana melihat kekecewaan pada mata tuannya. Lalu, bagaimana Lumi berjalan seakan menghentak —

'apa dia marah?' terka Lana seraya mengikuti langkah Lumi, layak seekor kepiting yang mengimbangi lari seekor serigala.

'Ternyata mempunyai rumah sebesar ini ada kekurangannya,' keluh Lana dalam hatinya, seraya melangkah cepat.

Tapi pikirannya tetap merujuk pada suasana hati tuannya yang terlihat kacau. Tanda tanya terus bermunculan di setiap langkahnya. Kenapa? dan mengapa? itu yang terus bermunculan. Bahkan hatinya merasa aneh dan mempertanyakan dirinya sendiri, akan pertanyaan yang secara tidak langsung menjadi sebuah intropeksi diri.

'Padahal aku tidak salah apa-apa,' kesal Lana. 'Aku kan sudah menawarkannya kopi untuk mulai besok, tapi dia malah menolaknya. Sebenarnya makhluk ini kenapa sih?' cecar Lana kesal dan jengah.

Bergelut dengan umpatannya dalam hati. Tanpa Lana sadari pintu kamar Lumi kini mulai terlihat. Penglihatannya melebar lega. Kaki itu dengan cepat mendahului Lumi. Cepat dan tenang Lana membukakan pintu kamar Lumi.

"Silahkan Tuan."

Seperti biasa Lumi akan langsung memasuki kamarnya tanpa sedikitpun menoleh pada Lana.

Pintu yang terbuka lebar itu perlahan Lana tarik, melaju tanpa hambatan. Hingga hampir menyentuh batas — punggung tangan, dimana jemarinya mulai merapat erat memegang pinggiran pintu. Lana tersentak, akan pintu yang terhenti begitu juga yang menahannya. Pintu yang hampir tertutup itu kembali terbuka. Sosok Lumi terlihat di ambang pintu, auranya nampak muram.

'Apa lagi sekarang?' ucap Lana, jengah dalam hatinya. Bahkan dalam pandangannya Lumi seperti anak kecil yang tengah merajuk.

Kakinya mulai melangkah satu langkah lebih dekat dengan Lana. Pandangannya mulai merunduk menatap Lana yang tingginya — hanya sebahu dirinya.

Dalam kegelapan bayangannya dengan jarak yang terlalu dekat, dari tengadahan kepalanya — Lana melihat kembali mata sayu akan penuh kekecewaan. Bagaimana Lumi menuangkannya begitu sengaja, agar Lana melihatnya. Seakan kekecewaan yang dia rasakan, bahkan cahaya yang hilang dari matanya — adalah perbuatan Lana.

...•...

...Rasa kecewa yang tersuguhkan....

...Begitu menuduh diriku atas rasa yang kau rasakan. ...

...Apa aku yang memberikan rasa kecewa itu?...

...Sanggah....

...Aku tidak merasa sebagai pelaku....

...• ...

Kebingungan, suasana hati Lumi yang berubah-ubah membuat Lana kesulitan. Sorot mata itu terlihat begitu mengharapkan sesuatu. Tanpa sadar hijaunya mata menatap lekat mata biru Lumi — begitu dalam sedalam lautan yang dingin, mencoba menyelami apa yang pemiliknya itu inginkan. Tapi semakin diselami, Lana semakin tenggelam dalam kebingungan.

'Sebenarnya apa yang dia mau dengan tatapan seperti itu.'

Lana merasa aneh dan canggung karena Lumi masih termangu melihatnya. Kepala Lana terasa pegal karena harus menengadah. Terpaksa Lana mulai menurunkan kepalanya diiringi helaan nafas pendek. Kaki Lana mulai mundur kebelakang satu langkah memberi jarak yang dia rasa sedikit sesak saat Lumi melihatnya begitu rumit.

"Ada apa Tuan?" tanya Lana sopan — dalam hatinya dia merutuki Lumi.

Hanya sunyi yang menjawab, Lana merasa dipermalukan. Sudut bibir Lana mulai berkedut kesal.

'Dia mengabaikanku.' Lana mulai meremas jas Lumi yang tergantung di lengannya sedari tadi. Lana mencoba meredam rasa kesalnya dengan tenang.

'Sepertinya ini hanya perasaanku saja, dia memang menyebalkan, sebaiknya aku tinggalkan saja,' pikir Lana yang sepertinya Lumi memang sedang mengerjainya. 'Selain itu, aku merasa kan firasat yang buruk,' lanjutnya kala Lana menyadari ada amarah yang menggantung dalam rasa kecewa yang Lumi tunjukan.

"Kalau begitu saya permisi, selamat malam Tuan," pamit Lana yang tidak peduli tuannya akan tetap berdiri seperti patung disana.

Belum setengah Lana berbalik meninggalkan Lumi. Tubuh kecil Lana kembali berbalik arah. Tangan Lumi yang kekar itu memegang tangan Lana dengan erat. Satu tarikan yang begitu cepat, tubuh Lana tertarik ke dalam kamar Lumi secara kasar. Pintu itu tertutup bersamaan dengan Lana yang masuk ke dalam kamar. Sesuatu terjadi di dalam sana antara mereka berdua.

1
JEJE @●@
Punya sahabat gini asyikkk
MN.Aini
up lg dong thor🥺
Wang Lee
Mampir thor
Wang Lee
Ceritanya bagus
Aksara_Dee
cemas tanda suka gak sih 🫶
Aksara_Dee
aroma kayu putih biasanya bayi, lumi.
Aksara_Dee
Leta, hmm...
Aksara_Dee
thor aku masih ketuker² saat membayangkan tokoh lumi, lana, leta
Aksara_Dee
ibunya gak ada idekah?
Aksara_Dee
bener banget ini
Aksara_Dee
Terima kasih untuk karya bagusnya, kalimatnya sangat indah
Aksara_Dee
aahh aku jadi ngiler
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
halo kak aku mampir🤗 klo berkenan boleh mampir juga kecerita baruku "Falling Into You" makasih🥰
Tini Timmy
wahh dah lma bener gak up kak
Oma yeni*🦋
Oma sibuk kejar target misi baca novel lain jadi belum sempat mampir kesini 🤧🙏
Oma yeni*🦋: wkwkkw,, udah kecapean ya. Iya, harus byk istirahat apalagi kalo kesibukan real byk menyita waktu.
total 2 replies
Oma yeni*🦋
hai lumi, maaf baru mampir lagi 🤗
Tan
tau aja /Joyful/
Oma yeni*🦋
mungkin itu suara lana
Oma yeni*🦋
keren nih, cara menggambarkan hasratnya lumi sangat halus dan membuat nyaman pembaca
Oma yeni*🦋: iya syg, sama sama 🥰😘
total 2 replies
Oma yeni*🦋
semua berawal dari hal kecil ya lumi, lama lama benih itu akan tumbuh perlahan seiring waktu berjalan.
Tan: betul, apalagi hal-hal kecil itu sering datang dan bertumpuk banyak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!