Badai besar dalam keluarga Cokro terjadi karena Pramudya yang merupakan putra pertama dari keluarga Cokro Tidak sengaja menodai kekasih adiknya sendiri, yaitu Larasati.
Larasati yang sadar bahwa dirinya sudah tidak suci lagi kalut dan berusaha bunuh diri, namun di tengah usahanya untuk bunuh diri, ia di kejutkan dengan kenyataan bahwa dirinya sedang hamil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuning dianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mama elang
Perempuan paruh baya yang berpenampilan selayaknya ibu ibu sosialita itu berjalan dengan langkah cepat memasuki ruang kerja suaminya, raut wajahnya tampak kesal.
" brukk!!" perempuan itu membanting tasnya ke atas meja tamu.
" apa yang kau lakukan?" Cokro menatap istrinya yang berdiri di hadapannya itu dengan sorot serius, terlihat menahan diri atas sikap istrinya yang terkesan kurang sopan.
" kau kira ini rumah? Jadi kau bisa berbuat sesukamu?" lanjut Cokro, membuat mama Elang itu mundur dan Duduk di sofa tamu dengan hati hati.
" berhati hatilah dalam bersikap saat kau di kantor." suara Cokro tenang namun tegas.
" aku ingin memberitahu sesuatu, tapi aku tidak yakin kau akan mempercayaiku pa," akhirnya perempuan itu bicara meski hati hati.
" bicaralah dengan jelas, aku sedang dalam kondisi yang tidak baik sejak pagi karena beberapa hal berjalan tidak sesuai dengan harapanku." ujar Cokro,
" karena itu, aku takut kau akan marah kepadaku pa,"
" tentang apa ini?" Cokro menatap lebih serius,
" aku bermaksud menjenguk cucu cucu kita pagi pagi, aku juga membawakan beberapa cemilan dan susu untuk Laras,
tapi aku malah melihat sesuatu yang membuatku langsung berbalik pulang." wajah perempuan yang selalu di panggil ibu Cokro itu tampak masam.
" pernahkah papa berpikir, ini sudah seminggu, melebihi waktu yang kita tentukan,
Tapi Pram tidak juga mengantarkan Laras kembali kerumahnya,
Laras pun seperti enggan untuk kembali pulang kerumah orang tuanya?"
" sebenarnya apa yang kau lihat disana, langsung saja ke intinya?" tegas Cokro,
mama Elang itu terdiam sejenak,
Ia seperti ragu,
" kau ini, ya sudah kalau tidak ingin bicara, membuat pusing saja!" Cokro kesal.
melihat suaminya kesal, perempuan paruh baya itu akhirnya bicara,
" aku melihat Laras mengantar Pram berangkat bekerja,"
" apa yang aneh?!" Cokro semakin kesal,
" mereka berciuman pa. Mereka berciuman begitu mesra di depan teras rumah mereka, bahkan saling memeluk."
Deg...
Cokro membeku, laki laki itu benar benar terkejut dengan apa yang ia dengar.
Tidak mungkin bukan jika istrinya berbohong?
Ia tau, istrinya itu terkadang iri dengan keberhasilan Pram, namun Rista, nama istrinya itu, tidak akan mengarang sesuatu hal yang tidak benar.
" Perasaanku mungkin bisa salah pa, tapi mataku tidak,
Andaikan mereka hanya saling mengecup mungkin aku bisa salah melihat,
Namun mereka berciuman, bahkan seperti enggan berpisah,
Layaknya pengantin baru,
andai kata aku bisa merekamnya saat itu, namun otak dan tanganku tidak bisa bekerja sama, aku terlalu terkejut melihat mereka.
Nah, sekarang sudah jelas bukan,
Kita tidak perlu menebak lagi,
Pram dan Laras sudah saling jatuh cinta.
Akan menjadi hal yang sulit bagi kita untuk memisahkan mereka, apalagi ada anak diantara mereka.
Andaikata Laras masih membenci Pram seperti saat pertama mereka menikah,
Laras tidak akan menunggu waktu sampai seminggu untuk pergi dari samping Pram,
Nyatanya,
Mereka benar benar sudah jatuh cinta,
Laras melupakan Elang dengan begitu mudah." Rista terlihat begitu kecewa, wajah putranya terbayang bayang,
Bagaimana jika elang tahu akan hal ini, bagaimana ia harus menjelaskan,
ia tidak mungkin sanggup menerima kemarahan dan kekecewaan elang.
" sekarang nasi sudah menjadi bubur, tidak ada yang bisa kita lakukan.
Elang akan menerima luka yang sangat besar,
Ia bahkan masih satu setengah tahun menempuh pendidikan,
Bagaimana jika ia berontak dan lari karena hal ini?
menjadi seorang perwira adalah hal yang di dambakannya,
Hidupnya pasti akan berantakan, setelah ini pa.." membayangkan putranya akan mengalami kegagalan Rista tidak sanggup membayangkan,
Matanya memerah berkaca kaca.
" Selama aku masih hidup, dan Pram berada di bawah wewenang ku,
maka tidak ada satupun keputusanku yang bisa ia tentang.
kau tenanglah, biar kukembalikan semua di posisi semula,
Atau kau meragukan kekuatan suamimu ini?" Cokro menatap istrinya,
Sorot matanya tidak main main,
Seperti merencanakan sesuatu untuk membuat Pram tidak berdaya dengan segala keputusannya.
Happy ending.
Sy suka karya2 mb Ayu.
Sy tunggu karya berikutnya
sy sangat menunggu.
trima kasih mb ayu.
sehat selalu