Bella nama panggilan Arabella Dinara, gadis cantik berusia 20 tahunan, selama bertahun-tahun hanya tinggal berdua saja dengan bundanya.
Kedua orang tua Bella telah berpisah sejak Bella masih kecil. Bella tidak pernah tahu alasan perpisahan keduanya namun Bella sangat yakin kalau keduanya masih saling mencintai.
Bella yang terkadang pulang malam dan status bundanya yang single parent membuat mereka sering menjadi bahan gunjingan orang di sekitarnya.
Hal ini membuat mereka memutuskan untuk pindah dengan harapan di tempat baru hidup mereka akan lebih nyaman.
Selain itu Bella juga berharap dengan kepindahan ini, dia bisa melupakan cinta pertamanya.
Namun yang terjadi mereka kembali menjadi bahan gunjingan bahkan kali ini lebih buruk.
Di tempat baru ini pula Bella dipertemukan kembali dengan cinta pertamanya yang ternyata membuat bahan gunjingan tentang dia semakin memburuk.
Mampukah Bella dan sang bunda bertahan atau kembali menghindar dan mencari tempat baru untuk tinggal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Bara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30 : There Are No Secrets That Time Does Not Reveal (1)
Satu hal yang paling menyebalkan saat datang bulan adalah lupa menyimpan stok pembalut di rumah.
Dengan terburu-buru Bella berjalan menuju warung Bu Hana. Beberapa jam lagi Bella ada janji untuk bertemu dengan seseorang yang sangat spesial untuknya.
Beberapa pembeli terlihat mengantri di warung Bu Hana, Bella pun turut mengantri, menunggu pembeli yang duluan datang selesai dengan urusannya.
Drrrtt drrrrtt
Ponsel Bella yang sedang dalam mode getar bergetar saat ada panggilan masuk. Segera Bella menerima panggilan itu.
"Assalamu'alaikum, ya Bang."
"......................."
"Jadi Bang."
"…...................."
"Iya di Hotel Horison Ultima, ba'da dhuhur Bang."
"....................."
"Terserah Abang saja."
"....................."
"Iya sudah, Abang hati-hati di jalan ya."
"....................."
"Wa'alaikumussalam."
Setelah panggilan berakhir, Bella menyimpan kembali ponselnya di saku jaketnya.
Tanpa Bella sadari selama dia menerima panggilan telpon beberapa pasang mata diam-diam memperhatikan.
"Telpon dari pacarnya ya," seorang ibu yang juga sedang mengantri tiba-tiba bertanya kepada Bella.
Bella mengangguk dan tersenyum sebagai jawaban.
"Janjian ketemuan di hotel?" tanya berbau selidik terlontar dari ibu yang lain.
"Hati-hati lho, kalau laki-laki ngajak-ngajak ke hotel biasanya ada maunya," yang lain menanggapi.
"Kalau gadis baik-baik itu tidak ke hotel mainnya," celetuk seseorang.
"Ajak ketemuan ditempat lain saja, di mall atau di cafe."
"Bu tidak semua orang pergi ke hotel tuh untuk berbuat yang tidak-tidak," jawab Bella.
"Betul itu, dikira hotel gudang maksiat apa?" Bu Hana, sang pemilik warung yang sedari tadi menyimak turut bicara.
"Bella sama teman dekat Bella mau bertemu ayah di sana, ibu-ibu," jelas Bella.
"Kebetulan ayah sedang ada acara di hotel itu."
"Oh mau ketemu ayahnya, kenapa tidak di rumah saja?" pertanyaan lain menyusul.
Haduh ini mau beli pembalut saja banyak banget iklannya, keluh Bella dalam hati.
"Ayah sama ibu kamu tidak akur ya makanya tidak mau ketemu?"
"Pastilah, sepertinya ibunya Bella masih sakit hati karena dicerai."
"Eh, kenapa ayah sama ibu kamu cerai, ayahmu selingkuh ya?"
"Pasangan yang bercerai itu jarang yang bisa akur, mereka cerai itu pasti ada masalah kan, pasti masih ninggalin bekas lah makanya tidak bisa akur lagi."
"Betul itu, contohnya Bu Amara tuh setiap bertemu mantan suaminya kalau tidak saling mendiamkan pasti saling sindir, untung saja tidak saling timpuk."
"Iya iya, saya pernah lihat mereka ribut di depan rumah Bu Amara waktu mantan suaminya datang buat nengok anaknya."
Pembicaraan tidak penting ini terus berlanjut tidak tentu arah.
Terkadang beberapa orang selalu ingin tahu urusan orang lain. Ada juga orang-orang yang merasa tahu urusan orang lain.
Bella segera merangsek ke depan, kesempatan emas selagi para ibu sibuk membicarakan urusan orang lain, Bella bisa memotong antrian.
Setelah membeli apa yang dibutuhkannya, Bella pun pamit kepada ibu-ibu yang sepertinya masih betah berada di warung setelah mendapat bahan obrolan.
Pembicaraan tadi sedikit banyak mengusik Bella. Sampai saat ini Bella tidak pernah tahu alasan kedua orang tuannya bercerai.
Bella pernah mencoba bertanya kepada bundanya tapi sang bunda tidak memberikan jawaban yang jelas.
Kedua orang tuanya pada setiap kesempatan bertemu selalu terlihat akur. Mereka bicara biasa-biasa saja. Tidak seperti Bu Amara dan mantan suaminya.
Bunda Alya tidak pernah membicarakan kejelekan ayah Bella begitu pun ayahnya tidak pernah membicarakan hal-hal jelek tentang bundanya, malah selalu memujinya.
Bella merasa kalau ayahnya sampai saat ini masih mencintai bundanya, terlihat dari cara sang ayah saat berbicara tentang bundanya.
Sementara Bunda Alya melalui novel-novelnya selalu bercerita tentang kisah cinta yang terpaksa terpisah atau tentang penantian seorang wanita akan cintanya.
Bella rasa apa yang bundanya tuangkan dalam novelnya itu sedikit banyak dipengaruhi oleh perasaannya terhadap ayahnya.
Bella jadi semakin penasaran, mungkin ini saatnya dia harus mencari tahu.
Ayah Bella akan berada di kota ini selama tiga hari, mungkin sang ayah bisa memberi Bella jawaban.