Sabar bukan berarti lemah,bertahan bukan berarti bodoh.Itulah ungkapan Arumi menjalankan rumah tangganya.
Sejak menikah, Arumi harus banting tulang cari nafkah untuk suami, anak dan juga mertuanya.Tapi apa yang di dapatkan Arumi, hanya perlakuan kasar dari suaminya
Setelah mendapatkan perlakuan kasar dari suaminya.
Apakah Arumi masih akan mempertahankan rumah tangganya?
Jika ingin tahu kelanjutan ceritanya ikutin terus ya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selviana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Akhirnya ayah bebas
Hari ini proses persidangan akan di langsungkan.Tentu saja ,Arumi bersama maminya dan Aqilah sudah bersiap untuk berangkat ke pengadilan dan diantar oleh asisten ayahnya.Dia sangat berharap Gilang datang ke pengadilan dengan membawa handphone yang ada rekaman video percakapan Tuan Dikta dan Gerry karena cuma itu bukti yang dia punya saat ini untuk membebaskan ayahnya.
Sesampainya, mereka turun dari mobil, kemudian datang mobil lain yang ternyata itu Gerry dan Tuan Dikta, tampak mereka turun dari mobil.
"Adit, tolong bawa Mami aku dan Aqilah ke dalam, nanti aku nyusul!" titah Arumi.
" Baik, Non."
Arumi hanya menatap kepergian mereka yang kini memasuki pintu pengadilan lalu beralih menatap Gerry dengan tatapan tajam.
"Punya nyali besar juga kalian datang ke sini,setelah apa yang kalian lakukan.Tapi baguslah, jadi polisi tidak perlu bersusah payah lagi menjemput kalian," ucap Arumi yang tidak sabar lagi melihat mereka di penjara.
Ternyata keputusan dia untuk bercerai dengan Gerry sudah sangat tepat, bukan cuma jahat ,pria itu juga begitu licik.
Tetapi perkataannya itu tidak membuat mereka takut, justru mereka tertawa karena menganggap Arumi begitu percaya diri ingin menjebloskan dirinya di penjara.
" Arumi! Arumi! Kamu itu tidak punya bukti atas apa yang kami lakukan.Lagi pula handphone kamu itu sudah kami hancurkan.Itu artinya, ayah kamu tidak mungkin bisa bebas.Jadi mending kamu pulang! Atau.. kamu ikut denganku lalu kita menikah kembali? Lagi pula, aku sudah memiliki rumah yang begitu besar dan juga punya usaha sendiri, jadi kamu tidak perlu bekerja lagi jika kamu bersamaku nanti," ucap Gerry yang begitu bangganya apa yang telah didapatkan saat ini atas uang yang diberikan ayah Arumi dan juga bantuan Tuan Dikta.
" Jangan mimpi bisa menikahi Arumi kembali!Dia itu kekasihku!" celetuk Angga yang baru tiba.
Gerry tersenyum sinis." Hah.... Kekasih? Apa kamu yakin,menjalin hubungan dengan pria letoy seperti dia? Melawan aku saja dia tidak bisa,"sindirnya dengan meremehkan Angga.
" Pria letoy katamu? Emang kamu pernah melihat punyaku,hah..? Kalau berani lawan aku sekarang!" ucap Angga kesal.
" Siapa takut? Ayo! Tapi jangan di sini!" tatang Gerry.
"Sudah, sayang!Jangan pedulikan dia, untuk apa jagoan kalau hatinya busuk.Lagi pula, aku tidak sudi untuk kembali padanya!" ucap Arumi dengan penuh penegasan.
"Kamu dengar sendiri, kan? Jadi jangan pernah menganggu Arumi lagi!" Angga memperingatkan Gerry sambil menggenggam pergelangan tangan Arumi lalu pergi dari hadapan mereka.
Melihat hal itu, tentu saja Gerry kesal sampai mengepal tangannya.Tetapi itu tidak membuat Gerry untuk pulang sebelum menyaksikan hukuman yang didapatkan oleh ayah Arumi, hingga mereka masuk ke dalam lalu duduk di kursi paling ujung.
Di saat sidang pengadilan berlangsung.Angga sebagai saksi menjelaskan apa yang dia ketahui.Namun jaksa penuntut umum meminta bukti, bukan cuma perkataan saja yang ingin mereka dengar.Pengacara Ayah Arumi segera menjelaskan kalau mereka punya bukti hanya saja orang yang membawa bukti itu belum datang hingga meminta waktu untuk menunggu kedatangannya.Hakim pun tidak keberatan dengan hal itu hingga memberi waktu setengah jam.
Tak terasa setengah jam telah berlalu, tapi Gilang tak kunjung datang.Hal itu membuat Arumi cemas sembari menatap pintu pengadilan berharap Gilang segera datang.
'Di mana sih dia?' batin Arumi sambil meremas-remas tangannya.
Hingga Hakim angkat bicara."Karena bukti tidak bisa ditunjukkan, terdakwa mendapat hukuman ma---"
" Tunggu,Pak Hakim!" ucap Gilang yang baru saja memasuki area pengadilan membuat Arumi tersenyum sumringah.
Ternyata Gilang tidak mengingkari janjinya untuk datang ke pengadilan hingga pria itu segera memberikan handphone nya pada Hakim dengan memutar rekaman video tersebut dengan menaikkan volumenya supaya terdengar begitu jelas.
Tampak Gerry keringat dingin begitu juga dengan Tuan Dikta karena mereka sudah ketahuan apa yang mereka lakukan pada perusahaan Irawan dengan menyimpan barang narkoba ke dalam kemasan produk tersebut.Kemudian mereka bangkit dan mencoba kabur.Tetapi Arumi melihat hal itu hingga memanggil polisi yang bertugas di sana.
"Pak,orangnya ada disini! Tangkap mereka, jangan sampai kabur! titah Arumi hingga polisi segera bertindak dengan menahan mereka lalu memasang borgol di tangan mereka
Karena ayah Arumi terbukti tidak bersalah melakukan pengedaran barang narkoba hingga hakim membebaskan terdakwa dari hukuman.
Lalu Irawan mendekati Gerry dan Tuan Dikta sebelum di bawa ke kantor polisi."Rupanya kalian yang membuat aku masuk penjara?Tapi syukurlah aku di bebaskan, jadi sekarang kita gantian!Biar kalian juga merasakan seperti apa yang aku rasakan di dalam sel tahanan!" ucap Irawan sambil tersenyum sinis."Sekarang bawa mereka,Pak! jangan sampai mereka bebas!"
" Lepaskan aku,Pak! Aku tidak bersalah!" ucap Gerry yang masih membela dirinya.
" Iya,pak.Kami tidak bersalah.Jadi lepaskan kami! " sambung Tuan Dikta yang ikut membela dirinya.
Namun polisi itu tidak merespon, justru mereka di bawa ke kantor Polisi untuk di masukkan ke dalam sel tahanan.Sementara Aleta segera memeluk suaminya yang akhirnya dibebaskan.
Tetapi Aqilah tampak sedih melihat Gerry diborgol tangannya apalagi diseret oleh polisi.
" Aqilah, kenapa nangis sayang? Seharusnya Aqilah bahagia karena opa sudah bebas?"tanya Arumi sembari jongkok di hadapan putrinya.
"Itu, Ayah Aqilah Bunda! Jangan biarkan mereka menyakiti ayah," pikirnya.
" Dia itu bukan ayah kamu, aku---"
" Apa sih Gilang?" spontan Arumi menyela ucapan Gilang dengan membulatkan kedua matanya.Dia memberikan kode supaya Gilang tidak mengatakan yang sebenarnya tentang siapa ayah Arumi.
" Aku apa?" tanya Angga dengan penuh selidik.
"A-aku cuma mau bilang.Ayo kita pulang," dalih Gilang sampai gelagapan.
Tapi kalimat itu tidak nyambung membuat Angga mengerutkan keningnya karena bingung dengan perkataan adiknya.
"Aqilah, berhenti menangis ya! Nanti aku belikan boneka.Apa Aqilah mau?" bujuk Angga.
Aqilah mengiyakan sambil menganggukkan kepala hingga anak kecil itu berhenti menangis.
" Anak pintar!" celetuk Irawan sembari mengelus rambut Aqilah."Oh iya Gilang, terima kasih atas bantuan kamu, yang sudah memberikan bukti kejahatan mereka."
"Sama-sama,Om.Bukankah kita sesama manusia harus saling membantu?" ucap Gilang tampak bahagia mendapatkan respon baik apa yang telah dia lakukan pada ayah Arumi.
"Rupanya kamu ini pria yang baik.Jika tidak keberatan ,aku ingin mengundang kamu makan malam di rumahku!" ajak Irawan.
Hal itu membuat Arumi kurang suka apalagi ayahnya menghiraukan keberadaan Angga di sampingnya.Padahal, kekasihnya itu menjadi saksi di dalam persidangan, tapi ayahnya tidak menganggap apa yang dilakukan Angga.Dia lebih fokus menguji apa yang dilakukan Gilang.
' Akhirnya rencana ku berhasil.Sepertinya ayah Arumi akan berpihak padaku! Dia tidak bersikap dingin lagi terhadap aku, bahkan aku di undang makan malam di rumahnya,' batin Gilang yang tampak bahagia.
Jangan lupa mampir juga di karya teman aku.Ceritanya menarik dan keren untuk di baca 👇
KARYA: Mama Kasandra
Judul: Transmigrasi Ke Dalam Novel CEO
terimakasih Thor🙏
terimakasih Thor