Semoga kisah nikah dadakan Atun Kumal dekil, dan Abdul kere menang judi 200 juta ini menghibur para readers sekalian...🥰🥰🥰
Happy reading....!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dayang Rindu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kayak pembantu
Hari terasa begitu panjang bagi Atun, Isak tangisnya sahut-sahutan dengan detik jam berbunyi di ruangan sepi. Suara bentakan Abdul masih terngiang dan berputar-putar di kepala, sungguh kemarin Abdul seperti hantu yang menakuti Atun. Rapuh, lemas seluruh tubuh dan jiwanya. Hancur hatinya sungguh tega Abdul kepadanya.
Mata hari sudah meninggi, bahkan cahayanya menyengat kulit melalui celah jendela. Atun mendongak jam dinding sudah menunjukkan pukul dua siang.
Rasa lapar tiba-tiba terasa mendera. Teringat sejak pagi ia bahkan belum memakan apapun, bahkan air minum pun tak sempat ditelannya.
Ia beranjak menuju dapur, membuka tudung saji dan mendapati sayur kangkung sisa kemarin beserta tahu bacem dan sambal terasi.
Ia tersenyum getir, bahkan kemarin suaminya tidak makan sama sekali.
Atun mulai mengisi nasi ke dalam piringnya. Mengecek sayur kangkung, menciumnya mana tahu sudah basi.
"Masih bagus." gumamnya lalu mulai makan dengan lahap, menangisi Abdul juga butuh energi. Rasa lapar mengalahkan kegalauannya kali ini.
Sore pun menjelang, Atun mengganti masakan yang hampir basi itu dengan yang baru. Membuat nasi goreng telur ceplok beserta kerupuk. Atun sudah menyiapkan makanan untuk suaminya.
Tak lama kemudian, ternyata benar Abdul yang datang. Atun tersenyum tipis, senang suaminya pulang meskipun tadi pagi Abdul marah besar.
"Mau makan dulu, atau mau mandi Mas?" tanya Atun ketika Abdul sudah masuk, duduk di kursi kayu.
Laki-laki itu diam saja, hanya melirik sekilas lalu kembali memejamkan matanya.
Atun meninggal suaminya itu sendiri, ia tidak marah meskipun ucapannya tak di jawab. Tidak mau kejadian tadi pagi terulang lagi, Atun memilih masuk kedalam kamarnya, menunggu suaminya memanggil atau butuh sesuatu.
Tapi hingga malam Abdul tidak bersuara juga. Denting sendok terdengar dari dapur, tapi tidak mengajak Atun serta.
Atun mendesah berat, ia tidak tahu harus memulai darimana agar bisa berbaikan dengan Abdul.
"Apakah Mas Abdul marah karena aku terlihat lebih memihak emak kemarin itu?" gumam Atun sendiri, dia memikirkan cara untuk kembali memperbaiki suasana tak nyaman itu.
Dalam kebingungan ia tidur miring ke kiri dan ke kanan berulang kali. Hingga lelah sendiri dan rasa kantuk menguasai dirinya.
Dan pagi hari pula, Atun bergegas bangun membuat sarapan untuk suaminya.
Belum juga Atun selesai memasak, Abdul sudah bersiap-siap.
"Sarapan dulu Mas?" ujarnya kepada Abdul.
"Kamu aja." jawab Abdul kemudian berlalu.
Atun menghentikan aktifitas memasaknya. Tak ada guna bersusah payah memasak di pagi buta, suaminya sudah pergi tanpa menghiraukannya.
"Ya Allah, gini amat rasanya jadi istri tak dihargai." gumamnya, ia mematikan kompor dan bergegas menutup semua pintu dan jendela.
Tidak tahan hanya di dalam rumah dengan suasana hati yang kacau seperti itu. Sudah cukup kemarin ia menangis hampir seharian. "Masak iya, hari ini harus menangisi mas Abdul lagi." kesalnya.
Dering telepon tiba-tiba mengganggu.
Dengan malas Atun meraih benda pipih yang tergeletak di atas kasur itu.
"Mbak Ajeng." gumamnya.
Terdengar di ujung sana suara sang kakak keduanya itu, memintanya untuk datang ke rumah Rara.
"Iya." jawab Atun singkat, ia bergegas menutup pintu dan menguncinya.
Rencana awal ia akan ke rumah Marina untuk mengupas bawang. Tapi keburu Ajeng menelepon memintanya datang ke rumah Rara. Gara-gara terlalu fokus dengan Abdul, ia sampai lupa kepada emak tirinya yang sedang kesakitan karena bisulnya tak kunjung pecah.
Hanya tiga puluh menit saja, ojek yang Atun tumpangi sudah tiba di depan rumah Rara. Ia menatap satu persatu kendaraan yang terparkir di sana, ada tiga mobil dan dua sepeda motor. Tentulah sepeda motor itu salah satunya milik suami Ajeng.
"Assalamualaikum." ucap Atun seperti biasa.
Di dalam rumah besar itu ternyata sedang ada beberapa orang laki-laki gemuk dan berpenampilan rapi, tapi salah satunya adalah Ammar sang kakak iparnya juga. Mereka mengobrol bersama Bima. Atun tidak begitu peduli, melewati mereka dan langsung menuju dapur.
"Eh, Tun. Kamu sudah sampai." sapa Ajeng, perempuan yang selalu ber-make up tebal itu memang bersikap lumayan baik kepada Atun.
"Iya Mbak." Jawab Atun. "Emak bagaimana? Apakah sudah mendingan." tanya Atun duduk di kursi makan sambil memperhatikan kakak keduanya itu sedang menyiapkan kue dan minuman untuk tamunya Bima.
"Itu sebabnya aku minta kamu datang kesini. Kamu temenin emak, karena aku dan Rara sibuk."
"Oh." Atun mengangguk.
"Lagian kamu itu kemana saja, bukankah kemarin kamu bilang akan balik kesini lagi?" tanya Ajeng.
"Emaknya Mas Abdul datang ke rumah, menginap." jelas Atun singkat.
"Emak Asih? Tumben?" Ajeng penasaran.
"Iya, lagi ada urusan sama Mas Abdul."
Ajeng mengangguk, muncullah Rara membantu Ajeng membawa beberapa kue dan minuman untuk suami dan rekan suami mereka.
"Tak bantuin Mbak?" tanya Atun, ia sigap berdiri.
"Ndak usah, pakaian mu seperti itu nanti disangka pembantu." sahut Rara, seperti biasa ketus dan tidak peduli orang yang mendengarnya akan sakit hati.
Atun terdiam, urung mengangkat nampan berisi kue itu. Membiarkan kedua kakaknya sibuk, Atun meninggalkan dapur kakaknya itu menuju kamar sang emak.
Berhenti sejenak di depan kaca kamar emak, Atun menilik pakaian yang melekat di tubuhnya.
Ingin sekali menertawai dirinya yang sangat jauh berbeda dengan kedua kakaknya.
"Benar kata Mbak Rara, aku ini mirip pembantu." gumamnya, tiba-tiba rasa sedih menyerang dan menggulung hatinya , bukan lagi tawa getir tapi kali ini ingin menangis.
Sungguh menyedihkan hidup seperti ini.... gumam Atun di dalam hati.
"Tun." suara sang emak membuyarkan kesedihannya. Atun segera mengatur nafas untuk menghilangkan sesak di dada.
Entah mengapa kali ini ia sangat mudah tersinggung, padahal sejak dulu ia sudah biasa di hina.
"Emak haus." ucap Emak Rodiah bangun dari tempat tidurnya. Perempuan itu baru saja terjaga, tidur cukup lama karena pengaruh obat.
Atun segera mengambil gelas berisi air putih yang sudah di sediakan di atas nakas.
"Apakah suamimu sudah pulang?" tanya emak Rodiah tiba-tiba.
Atun tampak berpikir. "Kok Emak tahu?" tanya Atun.
"Rara yang ngasih tahu." jawab Emak singkat, ia meringis menahan nyeri di bagian pipinya.
Bengkaknya sudah berkurang, tapi bisul di bagian bawah itu belum juga menunjukkan akan meledak.
"Mas Abdul sudah pulang kok Mak." jawab Atun, ia menunduk.
Emak Rodiah memperhatikan wajah anak tirinya itu, tidak seperti biasa wajahnya polos dan bodoh. Kini terlihat sedih dan banyak pikiran.
"Kamu kenapa? Berantem?" tanya Emak Rodiah, dengan nada selalu ketus.
Atun menatap wajah emak Rodiah, sejenak saling menatap. Tapi Atun enggan menjawab.
"Orang yang sudah ketagihan main judi itu susah tobatnya Tun, kamu harus tahu itu." ucap emak Rodiah.
btw smg kk thor ttp lnjut dan smgt nukis meski sibuk juga