Seratus tahun telah berlalu sejak Shi Hao mengorbankan kultivasinya menggunakan Teknik Terlarang untuk menyelamatkan Alam Atas dari kehancuran Kaisar Langit. Di Alam Atas, kedamaian semu tercipta di bawah pimpinan Dewan Bersama (Raja Yan, Lei Zhen, Ao Zun).
Namun, di sebuah desa fana yang terpencil, Shi Hao hidup bahagia sebagai petani buta dan lumpuh bersama istri fananya (Gu Qing Yi yang menyembunyikan identitasnya). Kepompong fana Shi Hao perlahan-lahan menyehatkan jiwanya yang hancur, menanamkan pemahaman Dao Kemanusiaan yang belum pernah dicapai oleh Dewa mana pun.
Kedamaian itu hancur ketika Dinding Dimensi Alam Atas robek. Shen Yu, Dewa Iblis dari Semesta Sembilan Nether yang telah menaklukkan ribuan alam, akhirnya tiba bersama pasukan jenderalnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 35
Dunia Fana – Dapur Gubuk Keluarga Shi.
Udara di dalam dapur sederhana itu serasa membeku. Kayu bakar di dalam tungku berhenti berderak, dan uap dari panci kaldu ayam melayang diam di udara.
Di ambang pintu, Shi Hao berdiri. Mata kirinya yang tak lagi tertutup kain memancarkan pusaran Lautan Darah Asura yang sedang mendidih dalam tingkat yang belum pernah terjadi sejak zaman penciptaan. Tombak hitam legam di tangan beresonansi, melepaskan haus darah yang membuat dewa-dewa di alam baka menutup telinga mereka rapat-rapat.
Namun, saat mata Shi Hao menatap sosok Gu Qing Yi yang sedang memegangi kedalaman air mata berlinang, seluruh badai kosmik itu tiba-tiba terhenti.
Lautan darah di mata kiri sang Kaisar surut dalam sekejap mata. Niat membunuh yang bisa meremukkan Langit Tertinggi itu ditarik kembali secara paksa, ditelan ke dalam Dantian-nya hingga membuat sudut bibir sedikit berdarah akibat tekanan balik. Ia menolak membiarkan satu tetes pun hawa membunuh istrinya.
Tombak hitam di tangannya terjatuh begitu saja ke lantai tanah. Bruk.
Shi Hao melangkah maju. Gaya berjalannya yang biasa pincang dan santai kini berubah menjadi langkah yang sangat berhati-hati, seolah takut pijakan kaki akan menggoncang dunia.
"Istriku..." panggil Shi Hao, suaranya yang biasa setegar karang kini bergetar hebat.
Qing Yi mendongak, air mata kebahagiaan membasahi pipi pualamnya. Ia meraih tangan Shi Hao yang kasar dan kapalan, lalu menekannya dengan lembut tepat di atas perut ratanya.
Pada detik telapak tangan Shi Hao menyentuh perut itu...
Gali-gali... Gali-gali...
Sebuah getaran kehidupan yang sangat lemah, namun memancarkan kemurnian Mortal Dao (Jalan Kemanusiaan) dan garis darah Asura, mengalir langsung ke dalam jiwa Shi Hao.
Pria yang pernah berdiri di atas lautan triliunan mayat dewa, yang pernah memotong Mata Surgawi tanpa berkedip... kini jatuh berlutut di atas lantai dapur berdebu. Tangan kirinya mencengkeram erat pinggiran celemek istrinya. Sang Kaisar Asura menundukkan kepalanya, dan untuk pertama kalinya dalam jutaan zaman, setetes air mata jatuh dari sudut mata kirinya.
"Ada... ada kehidupan kecil di sini," bisik Shi Hao, suaranya pecah oleh emosi keagungan yang melampaui segala hukum semesta. "Darah daging kita...Seorang anak."
Qing Yi mengusap rambut hitam suaminya, tersenyum dengan kelembutan seorang ibu yang siap menantang dunia. "Ya, Suamiku. Surga telah memberi kita keajaiban."
Namun, momen sakral yang mengharukan itu terganggu oleh guncangan yang mengoyak kewarasan di luar angkasa.
Batas Langit Dunia Fana – Atas Desa Angin Lembut.
Di halaman belakang, Pohon Surga raksasa yang baru saja tumbuh dari benih, kini memancarkan cahaya hijau zamrud yang menyilaukan. Cabang-cabangnya yang merentang menutupi seluruh desa tiba-tiba bergetar menahan tekanan dari atas.
Langit tidak menjadi gelap, melainkan Kehilangan Warnanya. Langit biru, awan putih, dan sinar matahari memudar menjadi warna kelabu mati warna murni dari Ketiadaan.
Dari kedalaman Jurang Kekacauan Purba yang jaraknya terpisah oleh jutaan tabir dimensi, Leluhur Agung Ketiadaan memaksakan kehendaknya menembus hukum alam semesta!
"BENIH ANOMALI! GUGURLAH SEBELUM KAU MERENGGUT EKSISTENSI KAMI!"
Suara itu tidak terdengar oleh telinga fisik, melainkan langsung menyerang lautan jiwa setiap makhluk hidup. Cendekiawan Wu, yang sedang bersembunyi di tumpukan kayu bakar, menjerit histeris sambil memegangi kepalanya, darah mengucur dari ketujuh lubang di wajahnya. Harimau Perak dan Gagak Botak menggelepar di tanah, Inti Purba mereka nyaris pecah karena tekanan dari majikan tertinggi mereka.
Sebuah Tangan Raksasa Berwarna Kelabu, yang dibentuk dari miliaran hukum ketiadaan, turun dari atas langit. Tangan itu menembus atmosfer seperti hantu, mengabaikan segala bentuk perisai fisik, mengarah langsung untuk meremukkan gubuk bambu keluarga Shi lebih tepatnya, menargetkan rahim Gu Qing Yi!
Tangan itu adalah Kutukan Pemusnah Jiwa. Ia tidak akan menghancurkan gubuknya, tetapi akan menghapus keberadaan nyawa di dalamnya tanpa sisa.
Di dalam dapur, Qing Yi merasakan hawa dingin yang mengancam bayinya. Ia bersiap melepaskan kekuatan Raja Dewa-nya.
Namun, Shi Hao meletakkannya di bibir Qing Yi.
"Kau sedang hamil, Istriku. Jangan gunakan energi Qi-mu yang berharga untuk mengusir lalat yang berisik," kata Shi Hao.
Sang Kaisar berdiri. Wajahnya tidak lagi memancarkan kemarahan, melainkan Ketegasan dari seorang ayah yang pelatarannya sedang diganggu.
Shi Hao memutar tubuhnya dan menendang tombak hitamnya agar melesat naik ke genggamannya. Ia melangkah keluar dari dapur, berjalan ke arah halaman belakang.
Di halaman, Pohon Surga sedang mati-matian menahan Tangan Ketiadaan kelabu itu dengan sulur-sulur daun zamrudnya. Dahan-dahannya mulai retak.
“Pohon,” panggil Shi Hao datar. "Bentuk payung pertahanan. Jika satu tetes saja hawa kotor itu lolos dan membuat istriku mual, aku akan mencabut akarmu dan menjadikannya kayu bakar."
Pohon Surga itu bergidik ketakutan. Secara insting, ia tahu bahwa seribu kali lebih mengerikan daripada Ketiadaan Purba di atas sana. Pohon itu melepaskan seluruh Esensi Penciptaan Surgawi-nya, membentuk kubah hijau tak tertembus di atas gubuk.
Shi Hao mendongak, menatap Tangan Kelabu raksasa yang mencoba menembus kubah Pohon Surga. Mata kirinya yang merah darah mendidih.
"Kalian selalu berisik," gumam Shi Hao. "Dan sekarang, istri dan anakku membutuhkan lingkungan yang tenang untuk beristirahat."
Ia tidak mengarahkan tombaknya ke atas untuk menusuk tangan itu. Ia mengarahkan tombaknya ke arah garis lanskap.
Sang Kaisar Asura mengangkat tombak hitamnya tinggi-tinggi. Ia fokus pada Mortal Dao-nya, bukan untuk membunuh, melainkan untuk memutuskan hubungan sebab-akibat. Di dunia fana, jika ada layang-layang yang terbang terlalu pembohong dan mengganggu atap rumah, cara termudah adalah memutus benangnya.
"Teknik Asura."
SWUUUUSH!
Shi Hao menjepit tombaknya dalam satu tebasan melintang horizontal yang sangat panjang.
Sebuah pisau cahaya emas setipis jaring laba-laba melesat, membelah angkasa luar, melengkung memeluk seluruh planet fana itu, dan memotong putus segala jenis Tali Dimensi, Jembatan Karma, dan Terowongan Spasial yang menghubungkan planet tersebut dengan Tiga Ribu Dunia serta Jurang Kekacauan!
Dalam satu tebasan, planet fana itu terisolasi secara mutlak dari sisa alam semesta!
KRAAAK!
Di langit, Tangan Kelabu raksasa tiba-tiba membeku. Hubungannya dengan Jurang Kekacauan Purba telah dipotong paksa. Tanpa pasokan energi dari Leluhur Agung, tangan berhenti itu tertiup oleh angin musim semi dan memudar menjadi debu abu-abu yang tak berbahaya.
Di dasar Jurang Kekacauan Purba, Leluhur Agung Ketiadaan kumpulan lautan darah hitam. Jutaan matanya membelalak tak percaya. Saya kehilangan koneksi dengan Dunia Fana! Planet itu seolah-olah telah dihapus dari peta takdir kosmik oleh satu ayunan pisau potong yang presisi!
"DIA MEMUTUS JALUR DIMENSI KITA!" raung Leluhur Agung. "TIDAK BISA DIBIARKAN! JIKA BAYI ITU LAHIR, KITA SEMUA AKAN BINASA!"
Di tengah ketakutan, Leluhur Agung mengambil keputusan gila. Ia menyelamatkan nyawa sepuluh ribu Raja Leluhur Purba di sekitarnya. Darah dan daging mereka dilebur menjadi sebuah jarum kutukan yang sangat kecil dan kasat mata.
"Karena kita tidak bisa menyentuhnya...Biarkan kutukan ini meracuni tanah kelahirannya secara perlahan!"
Leluhur Agung melemparkan jarum kutukan itu sepersekian detik sebelum retakan dimensi Dunia Fana benar-benar tertutup rapat.
Dunia Fana – Halaman Belakang Gubuk Keluarga Shi.
Langit kembali biru cerah. Angin berhembus lembut menggoyangkan dahan Pohon Surga yang kini berdiri tegak sebagai penjaga pekarangan.
Shi Hao menurunkan tombaknya. Nafasnya sangat teratur.
Namun, Mata Emasnya tiba-tiba berdenyut. Ia menunduk menatap tanah di bawah kakinya.
Meskipun ia telah memutus hubungan dimensi luar, sebuah jarum kutukan terkecil dari Leluhur Agung berhasil memastikan masuk tepat sebelum pintu tertutup, dan jarum itu telah menusuk masuk ke dalam Urat Nadi Bumi.
Kutukan itu tidak menyerang Shi Hao atau Qing Yi secara langsung. Alih-alih, ia mulai menyebarkan racun prasejarah secara diam-diam ke dalam tanah, air sungai, dan energi vital benua fana. Tujuannya sangat licik: mengubah dunia tempat bayi itu tumbuh menjadi tanah mati, sehingga sang ibu tidak akan bisa menyerap nutrisi fana yang bersih untuk menyokong kehamilannya.
Shi Hao penuh gigi. “Licik layaknya lintah rawa.”
Gu Qing Yi melangkah keluar dari dapur, memeluk lengan Shi Hao. "Apa yang terjadi, Suamiku? Aku merasakan kematian di bawah tanah kita."
Shi Hao menatap istrinya, lalu beralih menatap tanah berdebu di halaman rumah mereka.
“Orang tua menusuk di seberang dimensi itu menanam racun rumput di ladang kita. Racun ini tidak akan membunuh kita, tapi perlahan-lahan akan membuat sumur air menjadi pahit dan tanaman menjadi layu,” jelas Shi Hao.
Tangan kasarnya mengelus pipi Qing Yi.
"Kau sedang mengandung, Istriku. Anak kita membutuhkan udara yang paling murni, udara yang paling jernih, dan buah-buahan yang bebas dari racun kekacauan. Aku tidak akan membiarkan anakku tumbuh di atas tanah yang sakit."
Qing Yi mengerutkan kening. "Lalu, apa yang harus kita lakukan? Aku bisa mencoba menyajikan seluruh benua dengan api terataiku—"
"Jangan memaksakan diri," potong Shi Hao dengan lembut, namun penuh ketegasan absolut. "Memurnikan racun hanya menunda masalah. Selama Jurang Kekacauan Purba masih ada, mereka akan terus membuang sampah ke halaman rumah kita."
Shi Hao memutar tombak hitamnya, lalu menancapkannya ke dalam tanah halaman belakang dengan bunyi debum yang berat. Tombak itu menyegel sisa-sisa kutukan agar tidak menyebar lebih jauh ke area gubuk.
Kain putih kembali ditarik dari saku raminya. Shi Hao mengikatnya dengan perlahan menutupi mata kirinya kembali. Niat pembunuhan dikunci, digantikan oleh resolusi sedingin es abadi.
Ia menatap ujung cakrawala.
“Istriku, tetaplah di sini dan biarkan Pohon Surga itu memayungimu,” ucap Shi Hao, nada suaranya setenang cermin air di musim dingin. "Aku harus pergi sebentar untuk membersihkan sarang hama itu dari akarnya."
Qing Yi menahan nafasnya. “Kau…kau akan pergi ke Jurang Kekacauan Purba sendirian?”
Shi Hao tersenyum tipis, merapikan letak kerah baju rami istrinya.
"Ya. Aku akan pergi ke sana, menjanjikan jurang mereka, dan menguburkan mereka semua di bawah tanah tanpa sisa," kata sang Kaisar Asura. "Tunggu aku. Aku berjanji akan pulang sebelum perutmu mulai membesar, dan aku akan membawa kembali alam semesta yang bersih untuk anak kita bermain nanti."
Dengan satu langkah santai, Shi Hao berjalan melewati pagar bambu, meninggalkan rumah hangatnya demi menyapu bersih Kiamat Tertua dalam sejarah Tiga Ribu Dunia.