NovelToon NovelToon
Istri Kedua Kepala Desa

Istri Kedua Kepala Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Henny

Sinta harus membayar hutang keluarganya dengan cara dia menikah dengan kepala desa dan menjadi istri keduanya.
Pernikahan ini diatur oleh mama sangat kepala desa dengan harapan agar Sinta bisa membuat sang kepala desa berpisah dengan istri pertamanya.
Sebuah pernikahan yang penuh misteri sampai akhirnya Sinta tahu rahasia yang membuat nya terjebak dalam pernikahan neraka ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Henny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harus Ke Kota

Selesai makan malam, mbo Sarmi melarang Sinta untuk membersihkan meja karena ada pelayan lain di rumah ini.

Sinta pun segera ke kamarnya. Ia memilih untuk mandi karena tubuhnya merasa panas.

Mahendra juga sudah naik ke lantai dua. Nampaknya ia juga akan mandi. Sinta tak mau mencari tahu apa yang dilakukan oleh suaminya itu. Sekarang hari Rabu. Gizel yang nantinya akan bersama Mahendra.

Mahendra yang berada di kamarnya pun sudah selesai mandi dan mengenakan celana rumahan dan kaos oblong berwarna putih. Ia menelepon asistennya yang ada di kota.

"Hallo pengantin baru? Bagaimana rasanya beristri dua?" tanya Fikri dari seberang. Fikri adalah sahabat dekat Mahendra. Keduanya bahkan kuliah di Amerika walaupun di universitas yang berbeda.

"Kamu tahu aku terpaksa melakukannya."

"Tapi istri keduamu itu terlihat manis. Walaupun memang tak bisa menandingi kecantikan Gizel. Oh ya, bagaimana bulan madunya?"

"Biasa saja."

"Apakah dia sudah tidak original? Kok kamu kedengarannya kurang bersemangat?"

Mahendra terkekeh. Hanya dengan Fikri ia dapat sedikit terbuka tentang kehidupannya. Fikri sudah teruji bisa menjaga rahasia.

"Masih original."

"Wah, rasanya beda kan, bro?"

"Sudah, jangan membahas istri keduaku. Kamu sendiri belum menikah. Tahu apa tentang pernikahan? Aku menelepon untuk menanyakan tentang perkembangan proyek pembangunan jalan tol."

"Aman, bro. Besok kalau tak sibuk dengan urusan desa, kamu boleh datang ke sini."

"Besok aku belum bisa. Ada rapat dengan aparat desa. Lusa saja aku ke kota."

Mahendra mengakhiri percakapan dengan asistennya itu. Ia kemudian merenggangkan badannya sebentar dan bermaksud akan tidur saat pintu kamarnya diketuk.

Wajah cantik Gizel langsung terlihat saat ia membuka pintu. "Sayang.....!" Gizel langsung memeluk Mahendra dan menciumnya.

Hanya sesaat ciuman itu berlangsung dan Mahendra segera melepaskannya.

"Kenapa? Kamu nggak kangen sama aku?" tanya Gizel. Ia sudah memakai gaun tidur tipis yang menampilkan lekuk tubuhnya yang seksi. Ia bahkan tak menggunakan apa-apa lagi dibalik gaun tidur itu.

"Bukankah aku pernah bilang, jangan datang ke kamarku jika aku tak memintanya?" kata Mahendra dengan tatapan dingin.

"Tapi aku menginginkan kamu. Bukankah hari ini adalah giliranku bersamamu? Aku hampir mengantuk menunggu di kamar namun kamu tak datang. Ayolah kita ke kamarku, sayang." Gizel menarik tangan Mahendra untuk keluar kamar namun Mahendra melepaskan pegangan tangan itu perlahan tanpa bersikap kasar.

"Aku lelah. Apakah kamu tak lihat seharian ini aku memeriksa banyak dokumen? Nantilah, Gizel. Aku ingin tidur." Mahendra mengecup pipi Gizel lalu menutup pintu perlahan. Gizel yang masih berdiri di depan pintu berusaha menahan tangisnya. Sebelum mereka menikah, Mahendra memang sudah jujur tentang siapa dirinya.

"Aku sebenarnya tak pernah mau menikah, Gizel. Namun keadaan memaksa kita menikah. Kamu harus tahu kalau hatiku tertutup untuk cinta. Namun sebagai suami aku akan memberikan nafkah yang cukup untukmu. Jangan harap aku akan bersikap romantis seperti suami-suami yang lain. Jangan harap aku akan memberikan kejutan saat ulang tahunmu. Aku adalah aku, yang tidak suka dikuasai oleh orang lain. Namun kamu tenang saja, selama kita terikat pernikahan ini, aku tidak akan pernah selingkuh darimu. Begitu juga yang ku harapkan darimu."

Mahendra memang memberikan uang bulanan yang banyak untuk Gizel. Mahendra bahkan terus terus mendukung usaha salon dan butik Gizel sehingga bisa maju seperti sekarang ini. Namun Mahendra memang suami yang jarang menemani Gizel di acara pesta atau pertemuan lainnya. Mahendra tetap seperti gunung es yang tak mencair selama 6 tahun pernikahan mereka.

Gizel pun kembali ke kamarnya dengan perasaan kecewa. Ia memendam hasratnya untuk menikmati malam yang panas dengan suaminya.

Tak lama kemudian ponsel Gizel berbunyi. "Asalamualaikum, ma. Ada apa? Papa kena serangan jantung? Baiklah ma. Aku ke kota sekarang." Gizel segera mengganti gaun tidurnya dengan celana jeans dan sweater. Ia sangat menyayangi papanya makanya ia tak mau menunda kepergiannya.

Gizel kemudian mengirim kabar pada Mahendra sebelum meninggalkan rumah. Pesannya hanya centang satu. Itu berarti Mahendra sudah tidur dan ponselnya tak aktif. Ia hanya memberitahukan pada mbo Sarmi yang mengantarnya sampai ke pintu.

Saat mobil Gizel menjauh, Risna yang melihat dari jendela kamarnya tersenyum. "Menjauh perempuan ular."

*************

Sinta bangun saat jam menunjukkan pukul setengah enam pagi. Ia keluar kamar setelah mandi dan membereskan kamarnya. Tak ada senyuman suami yang menyapanya selamat pagi saat mereka ada di tempat tidur seperti pernikahan impian Sinta.

"Aku harus membiasakan dengan pernikahan tanpa keromantisan ini." kata Sinta sebelum keluar dari kamarnya. Ia kaget menemukan ibu mertuanya sudah siap dengan seragam dokternya.

"Mama .....!" sapa Sinta.

"Baguslah kamu sudah bangun. Mama harus pergi ke kota karena ada pasien mama yang harus dioperasi. Gizel tadi malam sudah pergi. Aku singkirkan dia untuk sementara dan kamu harus menggunakan kesempatan ini untuk semakin memikat perhatian Mahendra. Segera siapkan kopi tanpa gula dan segelas air putih. Mahendra biasanya jam segini sudah bangun. Besok Mahendra akan pergi ke kota. Kamu harus punya alasan untuk ikut dengannya. Bilang saja jika kamu ada urusan di kampus atau apapun yang akan membuat Mahendra akan pergi denganmu."

"Aku memang belum sempat membereskan barang-barang ku di tempat kost."

"Bagus. Gunakan kesempatan itu. Mama pergi dulu!" Risna segera melangkah dengan senyum di bibirnya.

Sinta langsung ke dapur untuk membuatkan kopi bagi Mahendra. Tak lupa ia siapkan segelas air putih.

"Mbo, kamar bang Mahendra di mana?"

Mbo Sarmi menatap nampan yang Sinta pegang. "Nyonya mau ke kamar tuan? Sebenarnya tuan tak suka siapapun ke kamarnya jika ia tak memanggilnya."

"Begitu ya? Mama Risna meminta aku membawakan ini ke kamar bang Mahendra." Sinta jadi ragu.

"Pergilah, nyonya. Namun jika tuan bersikap dingin dan nampak tak suka, nyonya jangan merasa sedih ya? Sikap tuan memang seperti itu. Kamar tuan ada di lantai dua. Dari tangga belok kanan. Kalau belok kiri itu ke kamar nyonya Risna. Kamar tuan ada di ujung lorong, agak di ujung. Pintunya berwarna coklat tua."

Sinta mengangguk dan segera menuju ke lantai dua. Ia menarik napas panjang untuk menenangkan detak jantungnya yang sangat cepat.

Tok.....tok.....tok.....

Tangan Sinta bergetar saat mengetuk pintu. Tak lama kemudian, pintu terbuka. Nampak Mahendra yang sepertinya baru selesai mandi. Ia hanya menggunakan celana pendek tanpa atasan, dengan handuk kecil di tangannya yang ia pakai untuk mengeringkan rambutnya.

Mahendra menatap nampan di tangan Sinta.

"Mama...mama Risna meminta aku untuk membawakan kopi dan air putih untuk Abang. Apakah aku menganggu?" Sinta tertunduk.

"Masuk!" Mahendra melebarkan daun pintu.

"Masuk?" beo Sinta.

"Kamu belum tuli kan?" Mahendra memutar bola matanya. Ia membalikan badannya dan melangkah meninggalkan Sinta.

Perempuan itu menatap kamar besar Mahendra. Kamar ini nampak di bagi beberapa bagian. Ada sofa panjang yang diletakan di depan TV. Ada meja kerja di sudut ruangan.

Kemudian ada lemari pembatas ruangan yang tembus pandang ke arah tempat tidur.

"Letakan kopinya di atas meja." kata Mahendra sambil menunjuk meja di depan sofa.

Sinta meletakan nampan yang dipegangnya di atas meja. "Abang, ada yang ingin aku bicarakan."

Mahendra yang akan masuk ke dalam walk in closet menoleh sekilas ke arah Sinta. "Sebentar aku berpakaian dulu."

Sinta pun duduk di sofa sambil menatap seisi ruangan. Tak banyak perabot dalam kamar ini. Lukisan di dinding hanya ada sebuah lukisan kuda hitam. Ukurannya lumayan besar. warna interior dan dinding kamar adalah khas cowok. Putih dan hitam.

Mahendra keluar dari walk in closet menggunakan seragam PDH khaki. Sangat berwibawa sebagai seorang kepala desa. Ia berdiri sebentar di depan kaca besar, menggunakan Pomade untuk rambut hitamnya, menyisirnya dengan belahan sebelah kiri, menggunakan parfum yang sudah Sinta kenali baunya. Ia mencium bau parfum itu ketika mereka bercinta. Mengingat itu wajah Sinta langsung menjadi merah.

"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Mahendra setelah duduk di sebelah Sinta. Ia mengambil gelas yang berisi air putih kemudian meminum isinya sampai habis.

"Aku ingin ke kota besok. Masih banyak barang-barang ku yang belum dibereskan di tempat kost."

"Boleh. Kita berangkat bersama besok pagi. Aku harus meninjau proyek jalan tol sekalian menjenguk papa nya Gizel di rumah sakit."

"Terima kasih." Sinta berdiri. "Aku pamit dulu." Ia pun melangkah keluar dari kamar. Mahendra hanya menatap punggung istrinya itu sampai menghilang dibalik pintu. Ia kemudian mengambil gelas yang berisi kopi. Ia menyesapnya perlahan sambil menghubungi sekretaris desa. "Marfan, tolong siapkan ruang rapatnya. 30 menit lagi saya ke sana."

************

Selesai makan malam, Sinta sudah kembali ke kamarnya. Ia menyiapkan beberapa potong pakaian untuk di bawah ke kota.

Mahendra sendiri sedang bersama pak sekdes di ruang kerjanya. Mbo Sarmi yang menyiapkan kopi untuk mereka.

Sinta masih asyik membalas komentar teman-teman nya yang memberikan selamat atas pernikahannya. Mereka kaget Sinta menikah pada hal tak pernah pacaran. Semua juga mengangumi ketampanan wajah Pak kades.

Pukul 10 malam, ponsel Sinta berdering. Ada panggilan dari mama mertuanya.

"Sinta, di mana Mahendra?"

"Mungkin di kamarnya, ma."

"Mungkin? kenapa tak kau cari suamimu di mana?"

"Aku takut ke kamarnya, ma. Para pelayan bilang, tak ada yang boleh ke sana jika tak dipanggil."

"Kamu ini. Buat alasan apa gitu agar bisa ke kamarnya. Jangan hanya berdiam di kamarmu. Gunakan kesempatan di saat Gizel tak ada."

"Baiklah, ma." Sinta malas berdebat. Ia mengenakan kimono dari gaun tidurnya. Kebetulan ia haus dan ingin ke dapur.

Ketika ia tiba di dapur, nampak Mahendra yang baru saja keluar dari dapur sambil membawa segelas air putih.

"Abang belum tidur?" tanya Sinta menghilangkan rasa gugupnya. Mahendra hanya menggunakan celana training tanpa atasan. Rumah ini memang kosong jika malam hari. Semua pelayanan tinggal di rumah belakang.

"Aku akan tidur."

"Aku juga mau minum." Sinta bergegas melewati Mahendra namun sialnya, kaki Sinta justru menyenggol kaki meja dan ia hampir saja jatuh kalau Mahendra tak segera memeluk pinggangnya.

"Jangan ceroboh." kata Mahendra.

Sinta tak sadar kalau kimono gaun tidurnya terbuka dan menampilkan belahan dadanya yang tanpa dalaman itu.

Mahendra merasakan aliran darahnya tiba-tiba saja menjadi panas. Ia meletakan gelas yang ada di tangannya tanpa melepaskan tangannya yang ada di pinggang Sinta. Setelah itu Mahendra langsung mengangkat tubuh Sinta seperti koala, mencium bibirnya dengan hasrat yang tak terbantahkan sambil melangkah menuju ke kamar Sinta.

1
Eka ELissa
karna cinta♥️♥️♥️lah pak kades gimana cih 🤣🤣🤣🤣🤣
Azril Ali
dh lama bgt Bru baca lagi..💪 ka autornya.
Fitria Syafei
waduh Emak Gisel dan Arsen Emak... gimana nih ...😲 Emak cantik kereen 😘 terimakasih 😘
Maria Kibtiyah
duh semoga mahendra ma shinta bisa bahagia
Eka ELissa
bikin Hendra jatuh ♥️♥️♥️♥️dgn mu Sinta.....
nackal kan yg ajarin emak🤣🤣🤣🤣
Enny Olivia: nakal emak kayak gimana ya 😄😄
total 1 replies
Eka ELissa
dasar gizel gundik murahan...🫣🫣🫣 slingkuh ma pilot yg udh punya bini dan mreka ceray juga mungkin karna gundik mcem kmu kan gizel 😡😡🫣🫣
Eka ELissa
yg jawab ikan 🐟🐟🐟 tapi gizel GK ngerti bhsa ikan sungai 🤣🤣🤣🤣
Enny Olivia: ikannya bisa jadi panjang dan keras 🤣🤣
total 1 replies
Fitria Syafei
wow Emak cantik mantaf 🥰 kereen 🥰 terimakasih 😍
Maria Kibtiyah
semoga mahendra dan sinta nanti jatuh cinta
Fitria Syafei
Sinta kereeen 👏 Emak cantik mantaf 😍 terimakasih 😍
Maria Kibtiyah
bagus shinta buat si gizel tersisih
Eka ELissa
Nex.....Mak....♥️♥️🌹🌹🌹🌹
Eka ELissa
Abang bkln dtang ke pondok tau.....dia udh jatuh cinta dengan mu Sinta ♥️♥️♥️♥️♥️♥️
Eka ELissa
tunggu waktu khncuran mu gizel.....🤣🫣🫣
Eka ELissa
up nya jgn lma2 ya Mak...♥️♥️♥️♥️♥️♥️
Eka ELissa
dia cmburu dgn mu Sinta udh mulai ♥️♥️♥️cinta tu ma bini kedua 🤣🤣🤣👍👍👍
Fitria Syafei
Hendra cemburu nih Yee 🤪 Emak cantik kereen 😍 kereen 😍
Eka ELissa
maak....♥️♥️♥️kmna PK Kades mak
Eka ELissa
Nex Mak.....
Eka ELissa
akhir nya smpe cini juga Mak...♥️♥️♥️dri mlem kmrin kjar bab ♥️♥️♥️♥️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!