Hani tidak menyangka dia akan menikah di saat karirnya sedang bagus-bagusnya dengan Alex — seorang CEO yang tanpa sengaja dia temui di Paris.
Pertemuan mereka awalnya tidak bermakna, tetapi anehnya Alex melamarnya begitu sampai di Indonesia.
Awalnya Hani menolak tetapi karena umurnya sudah menginjak 27 tahun, kedua orangtuanya menyetujui lamaran Alex Dan dimulailah kehidupan pernikahan yang penuh keanehan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissTheolland_Reihan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PH | 30
Mata yang sudah sembab itu menatap pria tua yang masih terlihat gagah di usia tuanya dengan sedikit takut. Pria yang sudah berusia sekitar 60 tahun itu masih terlihat sehat di usia yang tidak muda itu lagi dan sekarang pria itu sedang mengobrol dengan seseorang yang entah darimana datangnya, tentunya seorang Chelsa tidak akan peduli.
Setelah cukup lama berbincang, salah satu dari pria itu berpamitan pergi dan tinggallah Chelsa dengan pria tua yang selalu dia anggap sebagai ayah mertuanya. Siapa lagi kalau bukan ayah Alex.
Ayah Alex menatap Chelsa dengan tatapan datar, persis seperti tatapan yang selalu Alex berikan kepadanya, dingin dan mengintimidasi. Namun, Chelsa selalu mengabaikannya, karena memiliki Alex adalah tujuan hidupnya, dan itu berarti dia juga harus bersikap baik pada ayah Alex.
"Chelsa, aku tidak menyangka aku harus berurusan dengan masalahmu," ucap ayah Alex masih dengan ekspresi datarnya, "kali ini kau harus merenung karena Alex saja lepas tangan denganmu kali ini. Itu berarti kali ini kau sudah keterlaluan."
"Maafkan aku, Yah," cicit Chelsa, "tapi ini semua karena wanita itu, Yah. Dia bermaksud memanfaatkan Alex, aku yakin itu."
"Apa maksudmu itu Hani?"
Chelsa mengangguk, "Dia menggoda Alex di Paris, Yah. Alex dijebak, Ayah harus menjauhkannya dari Alex."
"Itu bukan urusanku. Jika Alex memilihnya, berarti dia baik untuk Alex karena Alex mengerti antara yang pantas dia nikahi dengan yang tidak pantas," ujar ayah Alex lalu berbalik badan meninggalkan Chelsa.
Tidak terima jika kenyataan tidak berpihak padanya, Chelsa merasa Hani-lah yang membuat semua kehidupannya hancur. Jika saja Hani tidak muncul di hidup Alex, maka Alex akan memilihnya dan menikahinya, tapi kini Alex bahkan mengabaikannya. Meskipun sejak dulu Alex tidak begitu peduli dengannya, tapi kadang kala pria itu akan menyelamatkannya dari masalahnya. Namun kali ini berbeda, dia malah bermasalah dengan Alex sendiri, pria yang dia cintai.
***
Langit mendung.
Sepertinya akan turun hujan, batin Hani menatap langit gelap dari jendela di ruangannya.
Hani menggerakkan lengannya yang sedikit pegal. Dia baru saja menangani seorang pasien korban tabrak lari yang membuat korban mengalami patah tulang dan untung saja pasien sudah ditangani lebih lanjut oleh spesialis tulang di rumah sakit mereka.
Ia melirik jam tangannya lalu merasa perutnya mulai merasa lapar. Ia bergegas berjalan menuju bangsal, mencari seorang teman yang bisa diajak untuk makan siang bersama. Tepat beberapa langkah ia memasuki bangsal, matanya sudah menangkap keberadaan Aldo, sahabatnya itu.
Tanpa pikir panjang Hani mendekati Aldo, lalu menyenggol tangan kanan yang sedang menyangga kepala pria itu. Spontan Alex melirik dan mendapati Hani menyengir seolah ada maunya. Tepat, memang ada maunya.
Aldo melirik jam tangannya lalu menatap Hani seolah mengerti apa keinginan perempuan itu. "Lapar?" tanyanya. Dengan cepat Hani mengangguk, "Banget," balasnya.
"Kerjaan makan, tapi badan kurus, aneh, kaya orangnya," celetuk Aldo seraya merangkul Hani gemas. Itu spontan membuat Hani meronta dalam rangkulan Aldo. Ini memang selalu terjadi antara mereka berdua sehingga beberapa pasien serta orang di bangsal seolah biasa melihat pemandangan itu.
"Kenapa kalian tidak pacaran saja?" timpal seorang suster yang sedang mendorong kursi roda melewati mereka, "udah cocok," tambahnya lagi.
Aldo tertawa lantang membuat semua orang keheranan, "Kita pacaran kok, hmm... tapi bohong."
Hani hanya memutar bola matanya malas, sudah bosan dia dengan tingkah sahabatnya itu. Jika saja Aldo bukan sahabatnya, dia sudah akan memutuskan hubungan apapun dengannya, karena bersama Aldo hanya membuatnya semakin gila..
"Udah becandanya?" tanya Hani sinis, "ngerti nggak aku udah lapar?"
"Eh, maaf," kekeh Aldo.
Saat berniat berjalan meninggalkan bangsal, tiba-tiba seseorang memanggil Hani dan spontan Hani menoleh dan ternyata,
"Hai Hani, apa kabar?"
***
lanjut...
selamatkan alex... jangan biarkan bersama ulat bulu... kasian hani