Jeehan tak menyangka bahwa akhir persahabatannya dengan Harris harus berubah menjadi perasaan cinta dalam munajat panjang. Dengan rangkaian doa dan pinta, ia mencoba mengetuk pintu langit bersama nama Harris di hatinya. Berharap laki-laki itu jadi kekasih halalnya kelak.
Namun, ia tak menyangka bahwa perhatian yang sahabatnya berikan hanyalah wujud dari rasa simpati sebagai teman. Yang Harris cintai sebenarnya ialah seorang perempuan di masa lalunya yang tanpa sengaja kembali hadir.
Rasa cinta yang semula Jeehan miliki harus terpaksa ia hapus saat Harris menyatakan cintanya pada Alisha. Mau tak mau Jeehan harus menelan pahitnya kecewa sendirian, sebab setelah sekian lama bersahabat, Harris masih tak memahami diri juga perasaannya.
Sejak saat itu, Jeehan memilih untuk menutup rapat hatinya sebab kecewa bukanlah episode yang ingin ia ulang, apapun alasannya. Lalu, bagaimanakah perjalanan cinta mereka? Akankah Jeehan berhasil menghapus Harris dalam hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Disenchanted 30
Alina dengan tergesa meninggalkan salon dan datang ke rumah sakit setelah membaca pesan yang dikirim dari ponsel Hasya. "Kok bisa-bisanya sih Mas Hasya sakit sampai pingsan di kantor segala, bikin ribet aja deh!" gerutunya sambil melaju menuju ke rumah sakit.
30 menit berkendara, akhirnya Alina sampai di tujuan, ia langsung menuju ruangan yang sudah diberitahukan. Yang tak Alina tahu, Maura sudah menunggu kedatangannya di dalam.
"Mas, kok kamu—" ucapnya tertahan saat melihat sosok yang sepertinya ia kenali duduk di samping bed Hasya.
Maura menoleh, untuk sesaat, Maura seperti tak yakin dengan seseorang yang ia lihat di depannya.
"Kamu?" kata mereka secara bersamaan keduanya sama-sama terkejut dengan keberadaan masing-masing. Jantung Alina berpacu dengan cepat, rasa gugup dan bingung merambati dirinya sekaligus.
"Jadi, kamu orangnya kan?" tanya Maura tiba-tiba, ia bangkit dari duduknya dan menghampiri Alina yang masih berdiri mematung di dekat pintu.
"Ap-apa maksudnya? Aku tidak mengerti apa maksudmu," katanya tergagap. Otaknya berpikir keras alasan apa yang bisa ia berikan.
Maura mengangkat tangannya, menunjukkan ponsel suaminya, lalu menekan nomor telepon yang ia duga milik Alina. Dan benar saja, tak lama setelah Maura menekan tombol panggil, dering ponsel Alina terdengar.
"Takdir kadang memang sebercanda itu ya?" tanyanya entah pada siapa. "Aku masih ingat, Bu Alina ini kalau tidak salah wali murid yang minta ganti rugi untuk anaknya itu, kan?"
Alina tak berkata apa-apa, karena ia pun sama bingungnya. Terlebih lagi, ia tak pernah mencari tahu siapa sosok istri dari kekasih gelapnya itu.
"Akan kuanggap diam itu sebagai jawaban. Jadi, sejak kapan?" tanyanya seraya maju selangkah demi selangkah hingga akhirnya Alina terpojok. "Sejak kapan kalian bermain api di belakangku?"
Ada sorot kekecewaan, kesedihan dan luka yang menyatu di mata Maura. Nada suaranya menyiratkan kegetiran dan sesak yang amat nyata. Namun, belum sempat Alina membuka suara. Terdengar suara batuk-batuk dari arah belakang Maura. Suara itu tak lain dan tak bukan adalah suara Hasya.
Pria itu mengerjapkan matanya perlahan, berusaha menetralkan penglihatannya dengan langit-langit kamar rumah sakit yang dominan putih. Pelan tapi pasti, ia menggerak-gerakkan tangannya. "Aku di mana?" katanya pelan.
"Mas Hasya, kamu sudah siuman, Mas. Alhamdulillah." Maura yang lebih dulu mendekat ke arah bed Hasya pun berucap syukur.
"Maura? Aku di mana?" tanya Hasya lembut. Agaknya ia belum menyadari kehadiran Alina di sana.
Maura berusaha tersenyum, "Kamu di rumah sakit, Mas. Tadi rekan kerjamu bilang kalau kamu pingsan," terangnya dengan lembut.
Melihat interaksi antara Maura dan Hasya, mendadak Alina menjadi gerah, cemburu dan merasa kesal sendiri. "Kok kamu bisa sampai pingsan gitu, sih, Mas?" Alina bersuara, membuat Hasya seketika menoleh ke arahnya.
Raut wajahnya yang terkejut tak dapat lagi ia sembunyikan dari Alina maupun Maura. "Alina? Kamu di sini juga?" tanyanya dengan mata membola. Melirik Maura yang tak memberi respons apapun, Hasya menduga keduanya telah bertemu.m dan berbicara. Dadanya terasa berpacu lebih cepat.
"Aku—"
"Aku sudah tahu, Mas." Maura mengangkat wajahnya, menatap Hasya dengan sorot mata yang sarat akan luka. "Aku sudah tahu, kamu tidak perlu menjelaskan apapun lagi."
Hasya menggeleng, pikirannya mulai berpikir hal-hal buruk yang mungkin terjadi. "Dengarkan Mas dulu, Maura. Mas bisa jelaskan semuanya."
"Apa-apaan sih kamu, Mas?!" Alina menyela. "Kalau dia sudah tahu, ya biarkan aja kenapa sih?" ujarnya.
"Diam kamu, Alina! Jangan menyela ucapanku!" bentak Hasya merasa marah. Pasalnya, ia sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan istrinya itu.
"Waktu kita sudah habis, Mas. Mungkin takdir pernikahan kita memang cukup sampai di sini." Maura tertunduk, matanya sudah mengembun tapi sekuat tenaga ia tahan air matanya agar tak jatuh.
"Apa maksudmu, Maura?"
"Maksudnya, kalian seharusnya bercerai." Lagi-lagi Alina menyela, membuat sepasang mata Hasya menyorotnya tajam.
"Dia benar, Mas, seharusnya kita bercerai. Kamu tidak usah khawatir, aku akan mengurus perceraian kita," kata Maura tegas. Hasya menggeleng kuat, masih tak terima jika harus bercerai dengan Maura.
"Jangan lakukan itu, Maura, kita bisa cari cara lain. Tidak bisakah kamu menerima dia sebagai madumu?" Dengan suara memelas, Hasya meraih tangan Maura, berusaha membujuk perempuan yang selama beberapa tahun terakhir menemani hidupnya.
"Mas!" Alina tampaknya tak terima disebut sebagai madu. Matanya membola menatap Hasya.
"Aku tidak bersedia, sangat tidak bersedia dimadu. Ketika kita menikah dulu, kamu pernah berjanji akan menjadikan aku satu-satunya sekalipun tak cinta, hari ini ke mana janji itu Mas?"
"Aku masih bisa menerima kenyataan, meski belasan tahun bersama, kamu tetap tak bisa membuka hatimu, tapi apa kurangnya aku selama ini? Aku selalu berusaha jadi istri yang baik bagimu, menjadi ibu yang baik bagi Jeehan, anak kita."
"Tidak bisa, Mas, pernikahan bukanlah hal yang bisa kamu tawar-tawar seperti ini."
Hasya terdiam, tak mampu berbicara bahkan meski hanya sepatah kata, ia memang bersalah, salah karena menduakan Maura. Tapi di sisi lain, ia juga ingin memperjuangkan cintanya pada Alina.
Merasa tak ada lagi yang harus ia lakukan di sana, Maura meraih tasnya yang tadi ia letakkan di meja, menjinjingnya lalu berpamitan. "Aku akan pergi sekarang, jaga dirimu baik-baik, Mas."
"Oh, ya, Alina." Maura kembali berbalik pada Alina. "Tolong jaga suamiku baik-baik, ya, kini kuserahkan tanggung jawab untuk mengurusnya padamu." Maura tersenyum singkat lalu berjalan ke luar dari ruangan itu.
Maura menarik napas panjang, dadanya benar-benar terasa dihimpit sesuatu. Terduduk di kursi tunggu, ia terduduk sambil menunduk. Jeehan yang baru saja kembali dari kantin, kebingungan melihat sang ibu yang terduduk di kursi ruang tunggu sambil tergugu. "Ibu kok di sini?"
Maura mendongak saat merasakan sebuah usapan lembut jatuh tepat di bahunya. "Jee?" Cepat-cepat Maura mengusap air matanya dan memaksakan senyum. "Ayo kita pulang, Nak. Ayahmu harus istirahat, kita datang lagi nanti."
Jee merasa bingung. Bukannya tadi ibu bilang akan ada seseorang yang datang? Kenapa tiba-tiba sekarang mau pulang? Orangnya udah datang belum sih?
"Ayah, aku sama ibu pu—" sama halnya dengan
Maura, Jee sama terkejutnya dengan kehadiran Alina di sisi bed ayahnya. "Tante Alina?" tanyanya pelan sekali. Tak butuh waktu lama bagi Jee untuk tahu, bahwa Alina adalah orang ketiga dalam hubungan pernikahan orang tuanya.
"Jeehan! Ke marilah dulu Jee! Ayah mau bicara!"
Jeehan tak lagi peduli dengan panggilan Hasya yang memintanya untuk berhenti dan menghampirinya. Yang Jeehan tahu, ia ingin lari secepatnya dari sana. Jeehan berlari secepat yang ia bisa, air matanya tak lagi tertahan. Maura, terengah-engah mengejar langkah Jee yang menjauhi ruang tunggu hingga ke jalanan.
•••
Di ruang rawat, Hasya terpekur lama, kepalanya mendadak berdenyut sakit memikirkan pernyataan Maura tadi. "Aku tidak seharusnya melakukan hal ini," akunya lirih.
"Kamu bilang sesuatu Mas?" tanya Alina dengan nada ketus, tak suka dengan sikap Hasya yang sepertinya belum sepenuhnya merelakan Maura.
"Aku seharusnya tidak menyakitinya dengan cara seperti ini, Al. Dia perempuan yang baik, dia ibu dari anak perempuanku," katanya lagi. Pandangannya menerawang ke arah pintu, berharap bahwa Maura akan datang kembali dan berkata bahwa mereka tidak perlu bercerai.
"Kamu masih cinta dia, Mas? Kalau begitu kamu tidak mencintaiku, kan? Lalu apa balasan yang sudah kulakukan untuk kamu selama ini!" Dengan sifat egoisnya, Alina berteriak.
"Mas mencintaimu, Sayang. Mas hanya merasa bersalah pada Maura." Hasya meraih kedua tangan Alina dengan mengusapnya pelan.
"Bohong!"
"Sungguh, Mas sungguh-sungguh mencintaimu, jika Mas tidak mencintaimu, mana mungkin Mas memberikan segalanya kepadamu." Bujuk rayu Hasya nyatanya dapat meluluhkan Alina seketika.
"Kalau begitu, kita harus menikah secepatnya!"
"Tapi Mas belum bercerai, Sayang."
"Aku tidak mau tahu, Mas, kita harus meresmikan hubungan ini secepatnya, sesegera mungkin! Aku akan segera menghubungi vendor dan mengurus hal lainnya."
Setelahnya, Alina pergi ke luar, tak peduli dengan Hasya yang masih terbaring di ranjang rumah sakit.
Semangaaat Jee 💪
hiks.. hiks...
Gk usah buat sequelnya kk Hern..
sedih&kecewaku sdh Habis disini..
ikut Terbang bersama Jee
(eaaaaaaa lebay....)
wkwkwk
tp kl kk berazzam tuk itu..
yaahh dgn Terpaksa la aqu read
dgn syarat Jee hidup bahagia dgn pria lain.. NO HARRIS!!!!
(eh.. situ Siapa ya, kok ngatur Author..
hihiiiiiiiii)
walaupun itu sgt pahit.....
ternyata, thor..
begini jg alurnya???
kukira kyk drama di novel2,
bakal Harris yg kena getahnya
wkwkwk