Demi sebuah kekayaan dan ketenaran, wanita yang sudah berusia 28 tahun itu dengan tega menjual jiwa-jiwa orang yang tidak berdosa.
Bukan tak berdosa, hanya saja Kinan ingin membalas dendam atas sakit hati nya kepada penduduk kampung yang selalu menghina keluarga nya. Bahkan, ayah Kinan meninggal secara tragis di tangan kepala desa hingga membuat Kinan semakin yakin untuk membalas dendam.
Sangat mulus, ketika Kinan menumbalkan satu nyawa, maka harta kekayaan nya akan semakin bertambah. Namun, seiring berjalan nya waktu sesuatu yang instan itu tidak akan bertahan lama.
Tanpa sengaja, seorang anak pemuka agama dari kota sebelah jatuh cinta pandangan pertama pada Kinan. Di mulai dari perkenalan itu lah yang membuat hidup Kinan perlahan menjadi hancur.
Jangan lupa baca karya aku ya😊😊
Jangan lupa juga Like Vote Rate and Coment terimakasih😊😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30.Ibu Mau Kemana?
"Aku meminta pada mu untuk menghentikan perbuatan keji mu pada warga desa. Apa kau tidak pernah kasihan pada nyawa yang kau hilangkan?" Pandu mencoba meminta baik-baik pada Kinan.
"Kau mengajak ku bertemu hanya untuk membahas masalah ini?" tanya Kinan acuh.
"Hentikan ini semua, kau sudah terlampau jauh bersekutu dengan iblis." ujar Pandu yang masih mencoba menahan emosi nya.
"Kau hanya orang asing di kampung ini, jangan coba-coba menasehati ku." kata Kinan dengan sorot mata tajam nya.
"Tobat lah Kinan, setan telah membutakan mata hati mu. Kau pasti akan menerima karma nya!"
"Karma?" Kinan mengulangi kata-kata Pandu, "Tidak ada karma dalam kamus hidup ku. Kau hanya membuang waktu ku saja!" ujar Kinan bergegas pergi.
Pandu hanya bisa bergeleng kepala, menarik nafas dalam-dalam melihat sikap wanita itu. Pandu dapat melihat dengan jelas sorot mata amarah dan dendam dalam diri Kinan.
"Malam ini kau harus mati...!" ucap Kinan marah.
Benar saja, tepat di tangan malam Kinan melakukan ritual untuk menteror Pandu. Tiba-tiba saja gelas di atas nakas jatuh hingga membuat Pandu terkejut.
Pandu juga merasa jika leher nya terasa di cekik oleh seseorang tak terlihat. Sebisa mungkin pria ini membaca ayat-ayat suci untuk melawan nya. Perlahan-lahan cekikan tersebut menghilang. Kinan terpental di dalam kamar nya. Wanita ini mengeram marah pada Pandu.
"Ada apa Pandu?" tanya Rahmat yang baru saja bangun hendak melaksanakan sholat malam.
"Tidak tahu pak, leher Pandu seperti di cekik." ujar Pandu memberitahu bapak nya.
Pandangan Rahmat langsung tertuju ke leher anak nya, terlihat sekali bekas jari memerah di sana.
"Berbekas Pandu!" ujar Pak Rahmat.
Pandu langsung bercermin, melihat leher nya yang memerah bekas cekikan.
"Ambil wudhu, ayo sholat!" ajak pak Rahmat.
Anak dan ayah itu langsung mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat malam bersama-sama. Sedangkan Kinan kembali melakukan ritual nya untuk menghantam Pandu lagi namun diri nya lah yang kembali terpental hingga mulut nya kembali memuntahkan darah.
Tiba-tiba Kinan merasa tubuh nya begitu panas seperti ada yang menjalar, wanita itu menggeliat kesakitan. Suara terus menggeram, gumpalan darah kembali keluar dari mulut Kinan. Hingga rasa sakit dan terbakar itu membuat Kinan tidak tahan pada akhirnya Kinan tidak sadar kan diri.
Beralih pada Pandu dan bapak nya, mereka juga selesai memanjatkan doa-doa setelah sholat malam. sampai subuh menjelang anak dan ayah itu tidak kembali tidur.
"Bagaimana kita melawan nya pak, dia seorang perempuan?"
"Kita harus melawan nya Pandu, setetes darah yang mengalir dalam tubuh nya sudah di rasuki oleh iblis."
"Apa dia Memiliki guru pak?" tanya Pandu.
"Sudah pasti, menurut penglihatan bapak, guru nya bukanlah seorang manusia."
Pandu terkejut, wanita secantik Kinan ternyata bisa bersekutu dengan setan hanya demi sebuah kekayaan.
"Apa kita harus memberitahu para warga pak?" tanya Pandu.
"Jangan, warga akan main hakim sendiri nanti. Jatuh nya malah fitnah,"
"Tapi Kinan sudah benar-benar keterlaluan pak!"
Bingung sudah Pandu, yang dia lawan adalah seorang wanita yang sempat dia sukai dulu. Menjelang subuh Pandu dan bapak nya pergi ke masjid, lagi-lagi ada saja pemberitahuan orang meninggal dan hari ini ada dua orang.
Sedangkan Kinan, wanita ini kembali merasa panas ketika azan subuh berkumandang, dengan merangkak Kinan menuju kamar mandi lalu mengguyur tubuh nya. Setelah merasa nyaman, Kinan langsung membersihkan muntahan darah nya.
Sebenarnya tadi malam Kinan bukan hanya mengirim pada Pandu saja, wanita ini juga mengirim untuk Hana namun tidak sampai. Kinan mulai gelisah, sudah dua kali dia mengalami muntah darah karena kalah.
Seharian Kinan tidak keluar dari kamar, untuk makan saja Arka yang mengantarnya ke atas. Maryam tidak merasa aneh dengan sikap nya karena sudah biasa seperti itu.
Dari hari ke hari, perkampungan mulai sepi karena warga lebih memilih tinggal di rumah. Di sini lah kepala desa mulai mengumumkan pada warga nya untuk melakukan pengajian bersama di masjid malam nanti. Tidak ada yang menolak, warga di sini memang kurang pencerahan tentang ilmu agama.Masjid pun ramai setelah kedatangan Pandu dan bapak nya.
"Ibu mau kemana?" tanya Kinan yang melihat ibu nya begitu sibuk sejak magrib tadi.
"Ada pengajian di kampung, ibu akan datang!" jawab Maryam, "Kamu mau ikut Kinan?" tawar Maryam.
Kinan langsung gugup, "Anu bu, Kinan sedang bulanan!" bohong wanita itu.
"Ya udah, ibu berangkat dulu." pamit Maryam.
Kinan melipat ke dua tangan nya, menertawakan kelakuan orang di tengah kampung.
"Sekarang aja ingat Tuhan, dulu kemana aja?" ujar Kinan tertawa lucu.
..aku sukaaa 🥰