wanita bernama Ayu yang hidup dalam kemiskinan setelah menikah dengan suaminya yang bernama Sugi.
Sugi sang suami hanyalah pekerja serabutan yang penghasilannya tidak menentu, sehingga membuat Ayu mengambil jalan pintas dengan melakukan pesugihan yang mana mengorbankan anak atau anggota keluarganya.
Bagaimanakah kisah perjalanan Ayu, ikuti kisah selanjutnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode-30
"Shaleh," panggil Juni pada sosok sang adik lelakinya masih berusia satu tahun itu. Sang adik yang masih sangat bayi itu harus berjalan tertatih-tatih karena masih belum lancar dalam berjalan dan ia terlihat membawa makanan yang tidak jelas itu apa untuk diberikan kepada sosok wanita yang mengerikan itu.
Saat sosok wanita dengan wajah yang hancur itu menerimanya, ia memakannya, tampak mirip gumpalan kental berwarna merah pekat. Setiap kali ia memakannya, maka tubuh Juni akan merasa ngilu.
"Aaaarrggh, sakit, tolong, sakit," Juni mengerang memegangi perutnya yang seolah sedang dire-mas dan rasa sakit yang tiada terkira.
Setalah memakan sesuatu yang diberikan oleh Shaleh, kini Juni menyaksikan sosok itu berganti menyesap ujung kepala sesosok bayi yang baru saja dilahirkan hingga pucat pasi dan teriakan serta tangisan dari bayi mungil itu menggema diudara. Hingga dalam hitungan detik, sang bayi terdiam dan bergerak, lalu sosok itu melemparkannya begitu saja bersama tumpukan tubuh bayi yang lainnya.
Setelah itu, ia melihat sosok makhluk wanita itu mencambuk tubuh kecil Shaleh. Adiknya meraung kesakitan, namun sosok itu tak perduli.
Juni berteriak meminta pengampunan atas adiknya, tetapi sosok itu terus saja menyiksa sang adik yang kini terlihat tersungkur dilantai tanpa dapat lagi mengeluarkan sepatah kata pun.
Juni berlari mendekap sang adim. Anehnya kali ini ia dapat bergerak, bahkan berlari, bukankah ia sedang sakit dan terbaring? Lalu mengapa didalam ruangan yang berbeda ini, ia dapat melakukan semuanya? Tubuhnya terasa ringan.
Gadis bertubuh kurus itu menggendong sang adik. "Pergi, pergi sana, dasar iblis jahat!" teriak gadis itu dan berusaha mendekap tubuh Shaleh saat sosok itu kembali mencambuk tubuh mungil sang adik yang sudah sangat lemah dan penuh banyak luka memar akibat pecutan cambuk tersebut.
"Allahu Akbar," pekik Juni saat sebuah cambukkan mengenai tubuhnya.
Sesaat ruangan yang terbuat dari dinding goa itu bergetar dan seolah langit-langitnya akan runtuh.
Sosok itu melihat getaran istananya yang terasa sangat kuat dan hawa panas merubah suhu ruangan dengan sangat cepat.
Setelah getarannya mereda, sosok itu kembali melecutkan cambuknya dengan keras.
Taaak...
Sebuah lecutan kembali mendarat dipunggungnya dan menimbulkan rasa sakit yang luar biasa.
"Allahu Akbar," ucapnya lagi dengan rintihan yang menyayat hati.
Kembali ruangan itu bergetar kuat. Lalu suhu ruangan kembali berubah sangat panas, dan hal ini membuat sosok itu sangat marah. Lalu ia memanggil para asistennya yang tak lain mirip dengan para kuntilanak yang berusia muda untuk membawa Juni beserta dua adiknya ke dalam sel penjara yang ada diruangan paling dasar.
*****
Pagi menjelang. Sinar mentari bersinar sangat terang dan menyilaukan mata. Bagas baru saja pulang dari Mushola. Ia kembali masuk ke dalam rumah. Ia sedang tidak sekolah hari ini, sebab tanggal merah dan yang ia dengar sedang ada pesta besar dinegeri ini, yaitu pemilihan pemimpin negara beserta para barisannya.
Saat melihat garasi yang berjejer dua mobil mewah dan juga tiga buah motor, ia merasa jika itu adalah sesuatu yang sangat mengerikan. Dimana Bagas mendengar suara jeritan kesakitan dan kendaraan bermotor itu menampilkan wajah-wajah kesakitan dari wajah adiknya yang telah meninggal dunia, yaitu Shaleh.
Namun sesaat ia melihat wajah bayi mungil berusia satu hari dan juga Juni yang terlihat meraung kesakitan meminta tolong.
Seketika ia tersadar, lalu berlari kencang menuju kamar dan membukanya dengan sangat kasar.
Braaaaaak...
Laila yang sedang memasak di dapur tersentak kaget mendengar suara gebrakan pintu yang sangat keras, begitu halnya dengan Mei dan Nisa yang masih tertidur, harus terbangun karena ulah Bagas yang tiba-tiba saja masuk dengan kasar.
Bocah laki-laki itu berlari menghampiri Juni sang adik yang saat ini sedang terbaring tanpa reaksi apapun. Wajahnya terlihat sangat pucat dan tentunya tubuhnya sangat dingin, dingin sekali.
Bagas tercengang dan ia membolakan matanya dengan ekspresi yang tak dapat dijelaskan.
"Jun..., Juni!" panggilnya dengan mengguncang tubuh sang adik yang mana berusaha untuk membangunkannya.
Cairan pekat yang berwarna merah itu telah mengering dan tidak lagi merembes.
Nisa masih menatap bingung pada Bagas, begitu juga dengan Meli yang berusaha untuk tidur kembali karena masih mengantuk.
"Jun, Juni, bangun!" ucapnya sembari mengguncang tubuh dingin sang adik.
Bocah laki-laki itu merasakan sesuatu yang sangat buruk sedang terjadi. Bukankah ia baru saja kehilangan adik bayi yang bahkan ia tak sempat melihatnya, kini mengapa harus Juni?
Bagas beranjak bangkit, lalu berlari keluar dari kamar dan menggedor pintu kamar dengan sangat kencang.
"Pak.. Bapak, bukain pintunya!" ucap Bagas dengan sangat kencang.
Sugi tersentak oleh panggilan Bagas sembari berteriak dan menggedor pintu dengan sangat keras.
"Bagas! Bisa sopan, gak, sih!" sergah pria itu dan beranjak dari ranjangnya, lalu membuka pintu kamar dengan wajah kantuk, lalu menguap dengan sangat lebar. Ia masih sangat mengantuk.
"Pak, Juni, Pak!" teriak Bagas dengan wajah panik.
Sugi mengerutkan alisnya. "Juni, kenapa dia?" tanyanya dengan wajah penasaran.
Tanpa memberikan jawaban, Bagas mencengkram pergelangan tangan bapaknya yang jelas tiga kali lebis besar dari genggaman tangannya.
Ia menarik oria yang ia sebut bapak itu dengan tenaganya yang tak seberapa.
Kegaduhan itu menarik perhatian Laila yang sedang memasak dan bergegas mematikan kompor lalu ikut melihat apa yang terjadi, tak terkecuali dengan Ayu yang juga ikut melihatnya meskipun ia harus berjalan tertatih karena luka jahitan pada anunya masih basah.
Sugi dengan terpaksa mengikuti langkah puteranya yang terlihat tergesa-gesa.
Setibanya didalam kamar, ia membawa tubuh sang bapak menuju kepada tubuh Juni yang terbaring tanpa bergerak dengan wajah memucat dan suhu tubuh yang sangat dingin sekali.
Seketika kesadaran Sugi datang dengan cepat. Ia memeriksa kondisi detak jantung dan denyut nadi puterinya yang bahkan ia hampir saja melupakannya, sebab terlalu banyak anak sehingga ia tidak begitu memperhatikannya.
"Astaghfirullah, inna lillahi wa inna ilaihi raji'un," guman Sugi lemah. "Cobaan apa lagi ini, Ya Allah? Mengapa Kau ambil mereka satu persatu dariku," Sugi terisak dalam tangisnya.
Bagas tercengang mendengar ucapan sang bapak. Lalu ia menghampiri tubuh sang adik yang ternyata sudah meninggalkannya terlebih dahulu. Ia mendekap tubuh dingin dan kaku itu dalam luka hati yang tak dapat ia ungkapkan.
Saat bersamaan, Laila yang mendengar diambang pintu bersama dengan Ayu sang ibu berlari menghampiri tubuh sang adik dan menangis terisak dalam kepiluan.
Ayu yang mendengarnya dan melihat tubuh gadis kecilnya itu terbaring kaku, bersorak sorai dalam hatinya. Ia sudah membayangkan jika kamar rahasianya saat ini sedang dipenuhi tumpukan uang dan juga logam mulia serta perhiasan yang banyak.
"Wah, aku akan kaya raya, aku akan menjadi orang terkaya," pekiknya dalam hati dalam suka cita yang tak terbantahkan.
Sesaat Bagas melihat ke arah sang ibu yang berdiri menatap diambang pintu dengan wajah tampak sumringah. Ia beranjak bangkit dengan aura wajah penuh kemarahan. Meskipun tubuhnya sangat kecil, tetapi ia tidak menghiraukannya.
"Ibu jahat! Ibu jahat! Ibu sudah tega membu-nuh Juni dan juga Shaleh, begitu juga dengan adik bayi!" teriak Bagas dengan lancang.
Seketika Sugi tersentak kaget, begitu halnya dengan Ayu dan yang lainnya akan apa yang dikatakan oleh Bagas.
"Bagas, apa yang kamu katakan! Mengapa kamu tidak sipan pada ibumu!" hardik Sugi pada anak lelakinya.
Mendapat pembelaan dari suaminya, Ayu memasang wajah sedih. "Hiks... Hiks... Hiks.... Lihatlah Bagas, Kang, ia sudah terlalu durhaka padaku," ucapnya sembari menangis dengan air mata kebonya.
Bagas menatap tajam pada sang ibu. "Ibu jahat, ibu pembu-nuh, aku benci ibu!!" ucapnya dengan lantang dengan amarah dan kesedihan yang bercampur aduk.
Sugi menghampirinya, lalu..,
Plaaaaak...
Ia melayangkan tamparan pada pipi puteranya.
Seketika Bagas memandang sang bapak, menatap penuh kesedihan, lalu berlari keluar dari kamar dan terus berlari mengikuti langkah cepat kakinya yang membawanya entah kemana.
Laila ikut menyusul sang adik, ia takut adik lelakinya itu sampai melakukan hal yang tidak diinginkan.
untuk yang Mega J episode nya gak banyak jadi enak untuk dibaca
sampe baca 2x
oh aku ingat pelajaran Sugi yang cinta mati pada istrinya walaupun sudah tahu akan sipat nya
hidup Sugi
baru kali ini ana baca novel gini amat
Akhy Sugi kayaknya yang akan mendapatkan piala Oscar 2030 mendatang
Sugi genius
Sugi prosesor
Sugi
Sugi
Sugi
sugi.sugi
Sugi
Sugi cerdas