Dijodohkan sejak bayi, kemudian sempat dekat bahkan pacaran, sebelum akhirnya terpaksa memilih berpisah, Calista tidak menyangka jika pada akhirnya, ia akan kembali bahkan menikah dengan Sabiru, pria berusia 33 tahun yang sempat membuatnya sibuk menghindar.
Sebab demi melindungi Calista yang usianya terpaut enam tahun lebih muda darinya, Sabiru yang selalu bertaruh segalanya asal Calista baik-baik saja, berakhir mengalami patah tulang kaki maupun tangan kanan, selain pengusaha muda sangat bertanggung jawab itu yang juga sampai terkena cacar. Keadaan tersebut membuat Calista dan Sabiru harus secepatnya menikah, agar Calista bisa merawat Sabiru dengan leluasa, seperti yang Calista harapkan.
Menjalani pernikahan karena keadaan yang memaksa, dengan sosok yang pernah ada rasa dan selalu menjadikannya sebagai satu-satunya cinta. Ingin menghindar, tapi rasa peduli apalagi rasa sayang makin lama jadi makin besar. Semua itu membuat Calista menjalani setiap detik waktu yang dimiliki dengan dada berdebar-debar. Terlebih, sekadar menatap saja, Sabiru selalu melakukannya penuh cinta.
💗Merupakan bagian novel : Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia & Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta yang Kejam 💗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rositi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30 : Lahiran Dan Kesurupan
Resepsi pernikahan Brandon dan Lentera berlangsung meriah sekaligus mewah. Seperti biasa, kebersamaan mereka kembali diwarnai kekompakan sekaligus kehangatan keluarga. Namun yang membuat Sabiru tak habis pikir, Emran datang tanpa dosa. Emran bahkan tak segan menghampiri kebersamaan Sabiru dan Calista.
Padahal, selain jelas-jelas Sabiru dan Calista sudah menikah, harusnya Emran juga tahu bahwa Sabiru dan Calista saling mencintai. Belum lagi, Calista juga tengah hamil muda, sementara sana sini juga memuji keharmonisan hubungan Sabiru dan Calista.
“Kemarin kamu bahkan belum minta maaf, kan, saat istriku masuk rumah sakit?” sengit Sabiru sampai berdiri dari duduknya.
“Kata siapa aku belum minta maaf? Aku bahkan siap membiayai pengobatan bahkan hidup Calista andai Calista tidak menolak!” balas Emran yang jujur saja sangat kesal bahkan dendam kepada Sabiru.
Emran tak terima, justru Sabiru yang menikah dengan Calista. Lebih-lebih kini, Sabiru dengan lancang mendor-ong dada Emran sekuat tenaga menggunakan kedua tangan. Emran yang sudah langsung mental sekaligus sempoyongan, buru-buru membalas.
Karena pihak orang tua sedang berfoto ria di pelaminan sana, jadi para saudara yang segera menengahi. Mereka kompak menahan Emran agar tidak membogem wajah Sabiru.
“Mas Emran kelainan apa gimana?” heran Calista sembari berdiri kemudian menghampiri Sabiru.
Calista menatap tak habis pikir sekaligus marah Emran yang kali ini dikawal oleh seorang pria sangar.
“Jangan bikin keributan di acara orang!” ucap Mas Kim sengaja menegur Emran. “Jangan jadi perus-ak rumah tangga orang, padahal jelas-jelas, dari awal adikku selalu menolak kamu! Harusnya tanpa dibahas pun, kamu ngerti. Kamu ini sudah dewasa loh!”
“Satu-satunya luka di tubuh istriku, dan bekasnya enggak pernah hilang, itu karena ulah kamu!” jujur Sabiru yang menang dendam kepada Emran. Bahkan meski kejadian yang tengah ia bahas, sudah terjadi sangat lama. Sekitar lima bulan yang lalu.
“Selama satu minggu istriku tidak bisa jalan. Dan selama itu juga istriku kesakita-n! Sementara selama itu, kamu sama sekali tidak menampakan batang hidung!” lanjut Sabiru yang sudah sangat ingin menga-muk Emran, andai saja Calista tak mendekap lengan kirinya menggunakan kedua tangan, kemudian menahannya.
Sebagai orang yang ada di garda depan Sabiru, Rain yang memang tak mau keributan sengaja menawar. “Kita selesaikan di depan, jangan di sini. Masa iya, kamu mau nyusul Yasnia? Yasnia saja bentar lagi out dari penjara?”
Disinggung Yasnia, Emran sudah langsung mendengkus. Tentu ia belum lupa apalagi amnesia. Bahwa nama sekaligus sosok yang dimaksud, pernah bekerja sama dengannya. Malahan karena kerja sama mereka, Yasnia justru berakhir mendeka-m di penjara.
“Tapi kamu memang tuman! Istri orang kamu kejar-kejar. Padahal yang dikejar saja enggak minat dan memang sudah berulang kali ngamu-k kamu!” omel Rain refleks menimpuk kepala Emran. Yang ditimpuk dan awalnya tengah bertatapan sengit dengan Sabiru, sampai kaget.
“Kamu mau pergi sendiri, apa perlu diantar?” tegas mas Kim yang maksudnya memang mengusir Emran.
Emran yang paham maksud mas Kim refleks menghela napas kemudian berdeham. Ia melakukannya sambil melirik Sabiru maupun Calista. Meski berat, Emran yang sadar posisinya terancam sengaja berdalih bahwa dirinya akan kondangan.
“Yang undang dia siapa, sih?” heran Rain ketika Emran benar-benar pergi meninggalkan mereka.
Layaknya tamu undangan lainnya Emran antre di depan panggung menuju pelaminan keberadaan pengantin.
“Kakiku rasanya ngilu banget, Mas. Punggungku juga rasanya panas sakit juga. Istirahat yuk?” rengek Calista.
Mendengar itu, semua mata di sekitar mereka, langsung menjadikan Calista sebagai fokus perhatian. Semuanya kompak mengkhawatirkan Calista yang memang sudah dekat HPL.
“Ya sudah kita pulang!” sergah Sabiru langsung membopong Calista.
“Tapi aku pengin tiduran dulu. Punggung dan kakiku, sakit banget. Ini sampai gemetaran nih!” rengek Calista yang memang jadi tak berdaya akibat kesakitan yang tengah ia keluhkan.
“Ya sudah, kita pesan kamar hotel dulu,” sergah Sabiru yang juga meminta Rain untuk memboyong barang-barangnya maupun milik Calista.
“Aku jadi curiga, Emran memang bawa aura negatip, makanya si kembar saja sudah langsung ngereog bikin mamanya kesakitan!” komentar Rain sudah langsung mengemasi barang-barang Sabiru maupun Calista.
“Bentar, ini tadi Mas Sabiru lagi makan siomay, ya? Sini, aku bawa sekalian. Takut ngiler bapak sama anaknya. Sekalian aku juga mau, sih. Ngidam juga. Bedanya, aku ngidam terlalu dini! Ngidam janda ....” Rain heboh sendiri, dan lagi-lagi membuat yang lain kompak menggeleng tak habis pikir.
Bagusnya sifat Rain, meski pemuda itu memang berisik bahkan tengil, urusan patuh dan kesetiaan kepada yang lebih tua, Rain sangat bisa diandalkan. Layaknya kini, meski jadi kerepotan karena membawa tas Calista maupun Sabiru, termasuk juga beberapa mangkuk makanan, Rain tetap ceria menyusul Sabiru dan Calista.
Diam-diam, Emran yang mengawasi kepergian Calista dan Sabiru melalui lirikan, jadi kesal sendiri. “Apa yang bisa memisahkan mereka tanpa harus membuatku berurusan dengan polisi, atau setidaknya orang tua mereka?” pikir Emran. Karena jujur saja, ia merasa ngeri kepada pak Excel apalagi pak Helios.
“Cukup luk-ai bahkan bila bisa habi-si Sabiru saja. Setelah itu, aku berjuang lagi agar Calista mau menikah denganku!” yakin Emran dalam hatinya. Berbekal rencananya itu, ia sudah langsung mematangkan tekadnya. Menyingkirka-n Sabiru agar ia bisa bersama Calista, Emran sungguh akan melakukannya dalam waktu dekat.
“Kayaknya bakalan lahir sebelum hpl deh Mas,” keluh Calista sudah tak karuan.
“Enggak apa-apa. Hpl-nya kan memang besok atau lusa. Sementara sejauh ini, kebanyakan bayi kembar justru lahir prematur. Bismillah, sehat semuanya!” yakin Sabiru.
Seperti yang Calista khawatirkan, keesokan harinya, dirinya mulai merasakan kontraksi. Namun, keesokan harinya, pembukaan yang ia alami akhirnya sempurna.
“Ini beneran mau persalinan normal?” khawatir Sabiru mendadak parno lantaran kini menjadi pengalaman pertamanya akan menemani proses persalinan.
“Iya, Pak. Soalnya kepala bayinya juha sudah kelihatan. Dan istri Pak Sabiru juga sudah sangat siap untuk melahirkan,” ucap suster yang ada di dekat Sabiru.
Pada kenyataannya, Calista memang sudah berulang kali mengatur napas bahkan beberapa kali mengejan. Calista sudah tidak bisa menahan karena janin-janinnya sudah memberontak untuk dikeluarkan.
“Oke ... oke, bismillah!” ucap Sabiru benar-benar gugup. Ia jadi bingung mengambil posisi, tapi dengan segera, ia memegangi lengan Calista. Sebab ketika akan menggenggam tangannya, dokter menyarankan Calista untuk berpegangan pada kedua kaki.
Calista nyaris sepenuhnya duduk dan benar-benar mengambil posisi paling nyaman. Sementara Sabiru yang menemani, berangsur merangkulnya dari belakang.
“S-sayang, istighfar. Istighfar....” Sabiru berbisik-bisik dan sesekali menci-um ubun-ubun Calista.
“Ya ampun Mas, ini aku mau lahiran, bukan kesuru-pan!” kesal Calista masih merengek, menahan sakitnya dari proses persalinan yang membuat sekujur tubuhnya sakit semua.
Bukannya tegang, balasan Calista barusan justru membuat semua yang ada di sana, termasuk Sabiru, jadi menahan tawa. Barulah tiga detik berikutnya ketika bayi pertama berhasil Caista keluarkan, semuanya menjadi antusias.