MOHON UNTUK TIDAK LONCAT-LONCAT KETIKA MEMBACA KARENA BERPENGARUH TERHADAP RETENSI!
Demi membiayai pengobatan sang mama, Eleanor (23 tahun) rela menjual keperawanannya pada seorang pria kaya raya bernama Andrew Kingston (30 tahun). Akan tetapi, pengorbanannya sia-sia, mama tercinta meninggal usai menjalani operasi transplantasi jantung.
Hidup sebatang kara membuat Eleanor pergi meninggalkan tanah kelahirannya dengan harapan dapat membuka lembaran hidup baru. Namun, siapa sangka dia dipertemukan kembali dengan Andrew yang tak lain adalah CEO di perusahaan tempatnya bekerja.
Akibat sering bertemu, tumbuh benih cinta di antara keduanya. Namun, akankah cinta itu berlanjut ke pelaminan sedangkan status sosial antara mereka terbentang luas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon senja_90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Back to Japan
Bagai mendapat sambaran petir, tubuh Eleanor gemetar. Sudut matanya seketika berkaca-kaca, hidung terasa masam, dan dada pun terasa sesak. Lidahnya terasa kaku bahkan untuk mengucap satu patah kata pun rasanya sulit sekali. Gadis itu termangu di tempat dengan gawai masih berada di telinga.
"Jika memungkinkan, saya harap Nona bisa segera kembali ke rumah, Nyonya Florance sangat membutuhkan Anda." Kembali suara Suster Olivia terdengar di telinga saat tak mendapat respons apa pun dari Eleanor.
"Sementara waktu ini saya bisa mengatasi semua masalah yang ada, hanya saja saya tak menjamin dapat menangani masalah lainnya. Oleh karena itu, saya harap Nona Eleanor bisa pulang ke rumah sesegera mungkin."
Untuk beberapa saat Eleanor seperti kehilangan kemampuannya untuk berpikir. Dia pasti sudah ambruk ke lantai jika tidak bersandar di tiang penyangga yang ada di belakangnya. Berita ini sungguh mengejutkan sang wanita yang tengah menemani tuannya memantau proyek.
"Lalu ... apa dokter sudah memberitahu kondisi terkini ibuku?" tanya Eleanor saat tersadar dari keterkejutannya.
"Dokter masih melakukan serangkaian pemeriksaan untuk memastikan kondisi kesehatan pasien. Semoga keadaan Nyonya Florance baik-baik saja."
Eleanor meremas ujung pakaiannya dengan tangan dan tubuh gemetar. Wajah mulai memucat dan keringat dingin bercucuran membasahi kening kala bayangan kematian sang mommy berada di depan mata.
"Baik, aku akan mencari penerbangan tercepat. Tolong jaga mommy-ku sampai aku kembali ke sana."
Usai menerima telepon, Eleanor kembali ke tempat semula. Wanita itu berdiri di samping Andrew sambil otaknya berpikir keras, mencari cara untuk meminta izin pada Tuannya agar bisa kembali ke tanah air.
'Apa yang harus kukatakan pada Tuan Andrew? Haruskah aku menceritakan semuanya kepada dia? Bagaimana jika ternyata dia tak mengizinkanku pergi? Lantas, siapa yang akan bertanggung jawab jika terjadi apa-apa dengan mommy-ku?' tanya Budak Ranjang Andrew pada dirinya sendiri.
"Perhatikan kontruksi di bagian sebelah sana. Saya tidak mau ada complain lain terkait pembangunan ini," ujar Andrew mengakhiri percakapannya dengan anak buahnya.
"Baik, Tuan. Saya pastikan tidak ada kelalaian dari para pekerja di sini."
"Untuk hari ini cukup sekian. Kamu bisa kembali bekerja." Ketua pimpinan proyek mengangguk, kemudian undur diri dari hadapan Andrew dan Alfred.
"Tuan Andrew, tunggu!" seru Eleanor ketika melihat Andrew menjauh darinya. Dia bergegas untuk menyamakan langkah kakinya dengan Andrew agar tidak ditinggalkan pria itu.
Berhenti melangkah, Andrew membalikkan badan dan memandang tajam pada Eleanor. "Ada apa? Kenapa kamu terlihat gelisah sekali."
Wanita muda berusia dua puluh tiga tahun menjeda sebentar kalimatnya, menarik napas dalam seraya memejamkan matanya sebentar. "Suster Olivia baru saja menelepon dan memberitahu jika Mommy masuk rumah sakit lagi, dan dia minta saya untuk secepatnya pulang. Apa saya boleh pulang duluan ke Jepang? Saya ... ingin merawat Mommy di saat seperti ini." Dia menunduk, sesekali menggigit bibirnya karena gugup.
Andrew memandang lekat pada wanita berparas cantik jelita bak boneka Barbie hidup. "Trik apa lagi yang mau mainkan, Nona Eleanor? Setelah semalam pulang terlambat karena terlalu asyik berkencan lalu sekarang minta izin pulang lebih dulu dengan alasan ibumu masuk rumah sakit lagi, heh, sungguh cerdik sekali otakmu mencari berbagai macam alasan agar terbebas dari tugas dan tanggung jawabmu. Apa kamu tidak ingat siapa dirimu sebenarnya? Kamu itu cuma jal*ng jadi bersikaplah layaknya seorang budak!"
Hancur sudah hati Eleanor mendengar penghinaan Andrew. Martabat dan harga dirinya telah hancur saat dia menggadaikan kesuciannya pada pria kaya itu lalu sekarang haruskah dia kembali mendengar cacian dan makian dari pria yang telah merenggut mahkota yang dijaganya selama ini. Sungguh, hati Eleanor benar-benar terluka saat ini.
"Tapi yang barusan saya ucapkan adalah benar, Tuan, mommy sedang dirawat di rumah sakit sekarang. Jika tidak percaya, Anda boleh menanyakannya langsung pada Suster Olivia."
Tanpa pikir panjang, Eleanor segera mengeluarkan ponsel dari dalam sling bag lalu mulai melakukan panggilan telepon. Andrew terdiam saat mendengar berita buruk yang disampaikan perawat pribadi Nyonya Florance.
"Apa sekarang Tuan percaya jika saya sedang tidak berbohong? Ini menyangkut nyawa mommy saya, jadi mana mungkin saya bermain-main dengan Anda, Tuan." Eleanor memandang kecewa pada pria di seberangnya. Butiran kristal berkumpul di sudut mata, nyaris saja meluncur jika Eleanor tidak segera mengerjapkan mata.
Andrew tidak menjawab, tapi diamnya dia menunjukan bahwa sebenarnya pria itu percaya jika kehadiran Eleanor sangat dibutuhkan sekarang.
***
"Ini tiket pesawat dan koper Anda, Nona. Jika nanti Anda membutuhkan sesuatu terkait masalah uang, bisa segera menghubungi saya. Tuan Andrew telah melimpahkan semua tanggung jawabnya kepada saya," ucap Alfred sambil menyerahkan tiket dan koper kepada Eleanor.
Tangan Eleanor menerima koper dan tiket pemberian asisten pribadi Tuannya, lalu dia berkata, "Baik, Tuan Alfred. Terima kasih sudah mengantar saya ke bandara. Tolong sampaikan permintaan maaf saya pada Tuan Andrew, maaf semalam telah membuatnya marah besar."
"Namun, satu hal yang perlu Tuan Alfred tahu, jika saya tidak pernah mengkhianatinya siapa pun. Saya dan pria itu hanyalah orang asing, kami tidak saling mengenal. Dia hanya ingin menolong saya dari para pria jahat yang berniat menodai saya," ungkap Eleanor. Perkataan yang seharusnya dia sampaikan pada Andrew, justru disampaikannya kepada Alfred.
Alfred maju beberapa langkah ke depan lalu tangannya yang kekar menepuk bahu Eleanor. "Saya percaya jika kamu tak mungkin menduakan Tuan Andrew. Sudahlah, lupakan semua kejadian tadi malam. Yang perlu kamu pikirkan saat ini adalah kondisi mommy-mu, jangan memikirkan masalah lain, mengerti?"
Eleanor duduk di kursi tunggu sesekali menatap beberapa pesawat yang terparkir di pacuan lepas landas. Dia menatap burung besi tersebut dari sebuah dinding kaca transparan yang ada di ruang tunggu.
"Mommy, tunggu aku kembali. Aku akan segera pulang untukmu."
Lalu, tak beberapa lama kemudian, terdengar panggilan yang ditujukan untuk penumpang dengan tujuan Bangkok ke Jepang. Eleanor memeriksa kembali lembar tiket demi memastikan dirinya tak salah naik pesawat.
"Terima kasih Bangkok, sudah memberiku banyak kenangan. Meskipun hanya beberapa hari, tapi cukup membuatku terhibur. Aku janji, di lain kesempatan akan mengunjungimu lagi," ucap Eleanor sambil menarik koper. Dia berjalan bersamaan dengan para penumpang lainnya, memasuki pesawat yang akan membawa mereka ke Jepang.
...***...