NovelToon NovelToon
Dari Pembantu Jadi Mantu

Dari Pembantu Jadi Mantu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:124.5k
Nilai: 4.9
Nama Author: Momoy Dandelion

Tangan Scarlett gemetar, ia berusaha meraih celana yang lelaki itu kenakan sambil memejamkan mata.
"Aaa ...," jerit Scarlett. Ia terkejut saat tangannya tanpa sengaja menyentuh sesuatu yang keras.
"Kenapa?" Ethan ikut-ikutan terkejut mendengar teriakan Scarlett yang memekakkan telinga.
"I ... itu! Ada yang keras," ucapnya sambil menunjuk sesuatu yang dimaksud dengan ekspresi malu bercampur takut.

***

Akibat hutang yang ditinggalkan sang ayah, Scarlett harus bekerja keras melakukan apa saja yang dia bisa, termasuk menjadi pelayan di klab malam. Karena sering membuat kekacauan, ia diberi pekerjaan lain untuk merawat seorang kakek tua bernama Kakek Adam. Siapa sangka lelaki tua kaya raya itu akan menjodohkan Scarlett dengan cucunya. Tidak disangka, Cucu sang kakek adalah Ethan, mantan pelatih panahan saat SMA dan merupakan cinta pertamanya. Namun, kondisi Ethan ternyata lumpuh.

Scarlett kira orang lumpuh tidak akan punya hasrat apapun. Ternyata ....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momoy Dandelion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Kecurigaan Aiden

Aiden baru saja turun dari mobil setelah hari yang melelahkan di kampus. Ia menenteng tas ransel dan membuka pintu rumah besar keluarga Andalas yang megah dan sunyi. Langkahnya masuk ke ruang tengah terhenti ketika samar-samar terdengar suara dua orang berbincang dari arah dapur.

Suara itu adalah milik ibunya, Suliya, dan pelayan baru yang belum lama bekerja di rumah itu—Marta.

"Jangan sampai lupa, Marta. Obatnya harus diminumkan tepat waktu. Dosisnya sudah ditambah. Jangan sampai tertinggal, mengerti?" ujar suara Suliya tegas namun pelan.

"Baik, Nyonya. Saya akan pastikan semuanya diminum sampai habis," jawab Marta dengan nada hormat.

Aiden memperlambat langkah. Ia berdiri beberapa meter dari ruang dapur, mendengarkan percakapan itu dengan dahi mengernyit. Obat? Dosis ditambah? Kak Ethan semakin buruk? Ia tak terlalu paham, tapi kalimat-kalimat itu cukup menimbulkan rasa tidak tenang dalam hatinya.

Begitu ia memutuskan masuk dan menyapa, suara itu langsung terputus.

"Ibu!" serunya sambil mendekat. Pembicaraan mereka sepertinya penting dan rahasia.

Suliya berbalik cepat. Senyum lebar langsung tersungging di wajahnya begitu melihat putra bungsunya. "Sayang! Kamu sudah pulang!"

Tanpa ragu, wanita itu memeluk Aiden dan mencium pipinya. "Gimana kuliah hari ini? Capek, ya? Kamu mau makan atau sudah makan di kampus? Ibu tadi baru saja menyuruh Marta untuk ke apartemen Ethan. Dia harus mengantarkan obatnya."

Marta hanya menunduk lalu berpamitan dengan sopan, membawa tas kecil berisi obat-obatan.

Aiden masih menatap ibunya penuh tanya. "Tadi... aku dengar sedikit, Bu. Kak Ethan kenapa? Ibu bilang kondisi kakak makin buruk dan dosis obatnya ditambah?"

Suliya meraih tangan Aiden dan membawanya duduk di sofa empuk ruang tamu. "Itu hanya obat biasa untuk terapi, Sayang. Kak Ethan masih lemah, jadi harus terus minum obat agar tidak tambah parah. Kamu tidak perlu terlalu memikirkannya. Tugasmu sekarang belajar yang rajin, cepat lulus, dan bantu ayah mengurus perusahaan, ya."

Aiden tidak langsung menjawab. Matanya menatap kosong ke arah meja teh, seolah mencerna sesuatu yang mengganjal.

"Tapi... kalau memang kondisinya makin buruk, kenapa kita tidak bawa Kak Ethan ke rumah sakit saja? Setidaknya dicek langsung oleh dokter, kan? Kenapa harus terus-terusan di apartemen?"

Suliya tersenyum kecil. Ada sedikit getar kesal yang tertahan di ujung bibirnya. "Sudah ada dokter keluarga kita yang menangani. Lagipula, rumah sakit terlalu merepotkan. Di sana juga tidak nyaman. Scarlett sudah merawatnya dengan baik. Kita percaya saja."

Aiden semakin mengernyit. "Kenapa Ibu bisa percaya pada Scarlett, sih? Dia kan sudah mencuri perhiasan Ibu? Bagaimana kalau dia berniat jahat pada Kak Ethan? Atau terjadi hal buruk padanya?"

Suliya mendesah pelan, menatap putranya penuh kasih sayang seperti biasa. "Ibu sudah mewanti-wanti Scarlett. Kalau sampai terjadi sesuatu pada Ethan, Ibu akan bawa dia ke pengadilan. Ibu sudah mengatakannya langsung ke dia. Itu juga kemauan Ethan sendiri untuk tinggal bersama istrinya."

Hati Suliya justru sedang berbunga-bunga. Ia memang belum yakin obat-obat itu benar-benar bekerja seperti yang dijanjikan dokter Raka. Satu hal yang pasti, Ethan semakin lemah dari waktu ke waktu. Jika Ethan... benar-benar tidak bertahan lama, maka hanya tinggal dua anaknya yang akan menjadi pewaris: Regan dan Aiden.

Ia tidak akan membocorkan rencana besarnya itu pada Aiden, tentu saja. Anak itu terlalu polos, terlalu baik. Kalau tahu ibunya berharap kematian kakaknya demi warisan, pasti ia akan menolak keras.

"Kamu tidak usah terlalu khawatir, Sayang," ujar Suliya sambil menepuk tangan Aiden. "Ibu hanya ingin kamu fokus pada masa depanmu. Scarlett... biar ibu yang awasi."

Aiden masih tampak tak puas. Ada perasaan ganjil yang belum bisa ia ungkapkan. Scarlett mungkin menyebalkan dan keras kepala, tapi ia juga bukan tipe yang bisa ditekan begitu saja. Dan Ethan... kakaknya itu terlalu tertutup. Aiden merasa seolah semua orang menyimpan sesuatu, tapi ia tidak tahu apa.

Setelah percakapannya dengan Suliya, Aiden tidak langsung menuju kamarnya. Ia sempat berdiri lama di depan rak buku ruang kerja ayahnya, sebelum akhirnya melangkah pelan ke lantai dua menuju kamarnya. Pintu dibuka tanpa suara, dan segera ia menjatuhkan tas ke atas ranjang.

Ia menatap meja belajarnya yang rapi, lalu duduk dengan gerakan lesu di depan laptop. Setelah menarik napas panjang, ia membuka browser dan mulai mengetik: “efek samping obat penenang jangka panjang dosis tinggi.”

Beberapa hasil pencarian muncul, dan semakin banyak ia membaca, semakin dingin tangannya. Efek seperti melemahnya organ vital, penurunan kesadaran, bahkan potensi koma bila dikombinasikan dengan kondisi tubuh lemah.

‘Apa ini yang dikonsumsi Kak Ethan?’ pikirnya ngeri. Kakaknya memang lumpuh sejak mengalami kecelakaan. Tapi, kondisinya sama sekali tidak membaik dalam tiga tahun terakhir. Meski hubungan mereka tidak dekat, Ethan sangat peduli dengan kakaknya. Ia bahkan lebih mengidolakan Ethan dibandingkan dengan Regan.

Ia mengetik nama obat yang sempat dilihatnya di label botol saat Marta menjinjing tas obat tadi—nama itu masih ia ingat samar-samar. Hasil pencariannya memperlihatkan bahwa itu adalah jenis obat penenang psikotropika kuat yang seharusnya hanya diberikan dalam pengawasan ketat.

Pintu kamarnya mendadak terbuka. Aiden cepat-cepat menutup laptop.

Reganmuncul dengan pakaian kasual, kaus mahal dan jaket kulit hitam. Aroma parfum maskulin menyengat menguar dari tubuhnya. Di tangannya tergenggam kunci mobil.

“Woy, anak kecil! Malam ini kita keluar, yuk. Aku tahu tempat baru yang keren. Banyak model yang cantik-cantik juga,” serunya semangat.

Aiden mengangkat alis, menahan rasa sebal yang muncul tiba-tiba. “Enggak, Kak. Aku capek.”

Regan mendekat, duduk seenaknya di ujung ranjang. “Yah, sampai kapan kamu mau jadi biksu? Usiamu sudah legal untuk main ke klub malam. Hidup itu dinikmati. Jangan terus-terusan mengurung diri dan jadi anak baik seperti ini. Lama-lama bisa frustasi sendiri… bisa gila.”

Aiden menatap kakaknya dengan pandangan datar. “Kak Regan nggak bosan ya, tiap malam keluyuran, Ganti-ganti cewek, juga mabuk-mabukan? Bukannya umur Kakak sudah cukup untuk memikirkan pernikahan?”

Regan tertawa kecil. “Hahaha… hidup itu kan cuma sekali. Lagian nanti aku yang akan mengurus perusahaan, kamu cukup kuliah yang rajin, lulus, nanti akan langsung aku beri jabatan. Biarkan kakakmu ini bersenang-senang dulu.”

Aiden menahan emosi. Ia tahu, bicara panjang dengan Regan hanya buang waktu. Kakaknya itu tidak akan pernah berubah. Ia hanya mengangkat bahu dan berdiri.

“Kalau Kak Regan tidak ada urusan lain, aku mau istirahat.”

Regan terkekeh. “Oke, oke. Anak baik. Tapi kalau berubah pikiran, hubungi saja kakakmu. Akan aku tunjukkan keindahan dunia yang sebenarnya.” Setelah mengucapkan itu, Regan keluar dari kamar Aiden.

Begitu pintu tertutup kembali, Aiden mendesah pelan. Ia menatap layar laptop yang kembali ia buka. Di sana, tertulis jelas efek samping lain dari obat yang dikonsumsi Ethan.

‘Ini harus dihentikan,’ bisiknya dalam hati.

1
Lusy ani
q suka alur ceritanya
Jelita S
lanjut thor suka banget ceritanya
Arnad
kak author aq ikut baca ya
Dian Soedarminto
kok gak dilanjut lg critanya?
semoga sehat2 ya
Momoy Dandelion: cari waktu buat bisa lanjut 😊
total 1 replies
Arif Arif
Digi sama iklan dong biar semangat
Arif Arif
lanjut 1 hari 1 capter
Dian Soedarminto
duh kirain
ceritanya tamat...ternyata belum to?
ayuk Thor...ojo sue2...aq menunggu lanjutannya♥️
Momoy Dandelion: belum, kak. lagi malas up 🫣
total 1 replies
Dian Soedarminto
bagus ceritanya
lanjoottt
sara sara(^◇^)
apa??? matthias??
Berliana Marpaung
lanjuk
Bunda alzatafa
ceritanya bagus
Angel nirwana Desvino anggara
lanjut kak...ga sabar nunggu kelanjutannya
Angel nirwana Desvino anggara
ayo kak kelanjutannya....aeru banget
Susy Wahyuni
😍😍
Uswatul Khasana
lanjut
reza indrayana
Luar biasa
reza indrayana
Lanjuaiutatt....👍🏻👍👍🏻💛💙💛😘😘😘
reza indrayana
Mampir Thor....👍🏻👍💙💛💙😘😘
Nayosha
ko blm up date jg ya🤔
Bunda Ida
bahasanga bagus dan ceritanga cukup menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!