Takdir mengubah semuanya ketika Brixzia Agatha William tak sengaja membantu seorang wanita paruh baya ketika wanita itu sedang dalam butuh bantuan seseorang. Tanpa dia sangka, wanita tersebut adalah orang yang cukup terkenal dikota itu. Setelah menerima bantuan dari Brixzia wanita paruh baya itu meminta sesuatu yang membuat Brixzia atau kita panggil saja Zia terdiam ditempat, dengan lantang wanita itu berkata "Menikahlah dengan putraku". Menikah? Tak pernah sedetikpun dia berpikir untuk menikah dan entah angin apa dia bertemu dengan seorang wanita paruh baya yang memintanya untuk menikah dengan putranya yang sama sekali tidak dia kenal.
Aaron Jay Alexander seorang Presdir terkenal dikota itu dikenal dengan ketampanan, keangkuhan, kekejaman dan kesombongannya. Pria dengan seribu pintu es ini dengan tiba-tiba menerima permintaan sang ibunda untuk menikahi wanita yang bertemu dengan ibunya "Menikahlah dengan wanita pilihan mama Aaron".
(Belum Revisi)
Bagaimanakah kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AGK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Such a broken feeling
Setelah mendengar semua penjelasan Zura, Zia meminta untuk meninggalkannya sendiri dikamar itu. Bahkan Zia belum mandi, dia masih terduduk menangis di atas kasur itu. Apakah ini yang selama ini Aaron sembunyikan darinya? Dan apakah hubungan semalam berkaitan juga dengan hal ini? Lalu bagaimana dengan Axel nanti? Apa yang harus dikatakan jika anak itu mempertanyakan keberadaan ayahnya? Apa yang harus dia jawab nanti? Tidak mungkin kan jika dia mengatakan bahwa Aaron mungkin sedang dalam bahaya? Pikirnya.
Ponsel Aaron tidak aktif! Sudah dari tadi Zia mencoba untuk menghubungi lelaki itu, namun sayang! Ponsel Aaron tidak aktif! Mungkin lelaki itu sengaja mematikan ponselnya agar supaya Zia tidak tahu akan keadaannya.
"Lihat saja Aaron!...aku akan...sangat membencimu jika kau kembali dalam...keadaan lain!" isaknya memandang foto sang suami yang berada dalam ponselnya.
Zia mengalihkan pandanganya ke arah balkon kamar, disana ia menatap memperhatikan betapa indahnya langit pagi ini "Kau begitu...tega...Aaron!...".
"Apa yang harus aku katakan kepada Axel, Aaron?! Kau tahu?...aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika kau meninggalkanku!! Dulu aku bisa tanpamu! But not anymore! I can't! I'm so scared if you leave me!" lanjutnya masih dengan isakannya.
Tokk! Tokk! Tokk!.
Suara ketukan pintu kamarnya terdengar bersama suara anak kecil yang meneriakinya.
"MOMMY! OPEN THE DOOR MOM! I WANT TO GO IN!...MOMMY?...".
Dengan segera, Zia langsung menghapus air matanya. Dia berdiri dan berjalan mendekati pintu itu. Sesampainya, dia memegang gagang pintu itu lalu membukanya dan terlihatnya seorang anak kecil yang begitu tampan dengan wajah yang sama persis seperti Aaron, namun ini dalam versi anak kecil.
Zia berusaha menunjukkan senyumnya kepada putranya itu "Kenapa sayang?".
Anak itu memperhatikan manik ibunya yang nampak sembab "Kenapa Mommy menangis?".
"Ahh! Itu...Mommy...baru saja meny-...".
"Sudahlah Mom! Ayo kita sarapan, Axel sudah sangat lapar!" potong anak itu sembari mengelus perutnya yang sudah menyanyi didalam sana! Haha!.
Zia kembali tersenyum sembari mengelus-elus kepala putranya "Axel pergi saja ya? Mommy akan menyusul, Mommy harus mandi dulu".
Axel mengangguk paham "Baiklah Mom, Axel akan menunggu Mommy! Jangan lama ya Mom!".
"Of course my son!".
Anak itupun pamit, Zia kembali menutup pintunya lalu beralih ke dalam kamar mandi. Disana dia belum melakukan apapun, ia menatap pantulan dirinya dalam cermin itu. Perlahan namun pasti air matanya mulai keluar, namun sesaat kemudian dengan cepat ia menghapusnya.
Zia menarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan "Calm down Zia! Jangan menangis didepan putramu! Kamu harus kuat demi putramu! Dan yakinlah! Suamimu pasti akan baik-baik saja!" ucapnya mantap. Namun tetap saja! Walau ia berkata seperti itu, akan tetapi apa yang ia katakan tidaklah sama dengan isi hatinya.
Sementara disisi lain, tepatnya dimarkas Pavel. Aaron dan Nico sedang duduk dalam ruangan Aaron. Mereka akan tinggal di markas itu hingga peperangan ini benar-benar usai.
Nico menatap Aaron dengan tatapan dalam "Kita harus tahan Aaron, sebenarnya aku sangat ingin untuk menghubungi istriku, namun aku tidak bisa! Aku tidak ingin membuatnya semakin terluka!".
Aaron membalas tatapannya dengan nafas yang ia Hela panjang "You're right, but...I'm not sure about any of this. Will we survive?".
Nico tersenyum hambar "I don't know for sure about that and I'm not sure about this".
"Tapi Aaron, aku harap kita kembali dalam keadaan yang baik-baik saja. Will you promise?" lanjutnya.
"I can't promise, but I can only pray for the smooth running of all this. Maybie satu di antara kita harus ada yang berkorban...dan...I'll do that..ak-...".
Brukk!
Nico memukul meja itu dengan keras, ia kemudian berdiri dengan tegas sembari menatap Aaron penuh amarah "Are you crazy?! Aku tidak akan membiarkan hal itu! Never! Kita harus kembali bersama-sama! Tidak ada yang kembali hanya satu di antara kita! Nothing!".
Aaron menghela nafas "Mau tidak mau, kita akan melakukan itu. Jaxton itu adalah salah satu orang yang sangat berbahaya! Kau tidak akan mampu untuk melawannya Nico! Yang bisa melawannya hanyalah lawan yang setara dengannya dan itu adalah aku".
"Won't! I won't let you do that! Ingat Aaron! Kita sama-sama memiliki istri dan anak yang masih kecil! Apa kau tega untuk melakukannya?" protes Nico.
Aaron terdiam sebentar, lalu kembali menjawab "I know that one of us will come back under different circumstances. Ak-...".
Nico menatapnya penuh dengan amarahnya "Kau! Listen to me carefully! Aku tidak akan pernah meninggalkanmu sekalipun kita harus mati bersama! Aku tidak ingin satu diantara kita harus kembali dalam keadaan lain. I hope you understand that" Nico langsung pergi meninggalkan Aaron yang masih menatapnya.
Aaron menatap kepergian Nico dalam diam [Maafkan aku Nico, tapi aku sudah sangat mengetahui seperti apa Jaxton itu] batinnya.
Aaron mengaktifkan ponselnya, lalu mengirimkan istrinya sebuah pesan kemudian kembali mematikan ponselnya. Ia menyimpan ponsel itu ke dalam laci mejanya dan ia sudah berjanji bahwa ia tidak akan menyentuh ponsel itu lagi sebelum masalah ini selesai.
{Baby! Aku benar-benar minta maaf tentang apa yang terjadi! Tapi aku harus melakukan ini untuk keselamatan dirimu dan anak kita. Do you know? I love you and our son so much! You guys are everything to me! Everything! Sekali lagi aku benar-benar minta maaf baby! Aku mencintaimu!}.
"Brengsek!" umpat Zia ketika membaca pesan itu. Jujur saja itu adalah kali pertama Zia berkata kasar.
Zia menggenggam erat ponselnya dengan kedua matanya yang sudah akan menangis "Jika kau berani meninggalkanku, maka lihat saja nanti!".
Tadi pagi Zia tidak sarapan, ia hanya menemani putranya untuk sarapan, begitu juga dengan Zura. Keduanya sama-sama tidak tenang karena isi kepala mereka hanyalah para suami.
Zia terduduk di lantai dengan kasur sebagai tempat sandarannya. Dia menangis tersedu-sedu dengan memeluk kedua kakinya, sungguh! Dia benar-benar tidak tahu apa yang akan terjadi jika Aaron meninggalkannya. Dulu memang baginya bisa-bisa saja, namun sekarang tidak lagi! Sekarang sudah berbeda! Dulu dia bisa melakukannya karena kebenciannya terhadap Aaron, akan tetapi sekarang sudah berbeda! Dia tak bisa karena mereka saling mencinta! Bahkan bukan itu saja, sekarang ada Axel! Axel lah salah satu kebahagiaannya, Axel adalah salah satu yang bisa membuatnya tenang walaupun hanya sesaat.
To be continued...
{Note: Halo! Sebagai informasi, author mungkin akan jarang update ya! Sekarang ini author sedang disibukkan dengan persiapan untuk merayakan hari natal! Tapi author akan usahakan untuk update! Setidaknya, dua hari sekali.
Sekian dan terimakasih! Bye!}.