JANGAN DIBACA! KALAU TIDAK AMU SAKIT KEPALA. TULISAN MASIH ANCUR, BANYAK TYPO DAN NARASI YANG TIDAK SESUAI.
SEDANG DALAM TAHAP PERBAIKAN
Nayrela Louise dan Rory Ace Jordan. sepasang kekasih yang akhirnya bisa menikah. Mereka berpikir kehidupan bahagia mereka akan di mulai, namun siapa sangka mereka masih harus menghadapi hal lain di luar dugaan mereka.
Sosok baru yang hadir dan mencintai mereka seolah menguji cinta mereka. Akankah Nayrela berpaling dan mengkhianati pernikahan mereka? atau justru Rory yang akan berpaling?
Apakah cinta mereka akan tetap utuh dan tetap setia pada cinta mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Kabar Buruk
Waktu seolah berjalan dengan sangat lambat, dimana Nayla bersama empat temannya yang senantiasa menutupi wajah mereka telah menunggu selama tiga jam namun tidak ada tanda-tanda pesawat yang dinaiki Rory akan tiba untuk mendarat.
Martin, Thomas, Ethan dan Nathan memeriksa ponsel mereka saat merasakan notifikasi pesan masuk dan segera membukanya. Mereka terdiam sejenak dan saling pandang satu sama lain, serentak menoleh kearah Nayla yang masih tetap menunggu kedatangan Rory dalam diam.
'Kenapa kamu masih belum datang juga?' keluh Nayla dalam hatinya.
Nayla bangun dari duduknya, membuat empat pria yang ada disekitarnya tersentak dengan gerakan tiba-tiba Nayla hingga membuat mereka ikut berdiri.
"Kamu mau kemana?" tanya Thomas berusaha senormal mungkin.
"Toilet," jawab Nayla singkat.
"Aku temani," cetus Martin tanpa sadar.
"Boleh saja, jika kau siap mendapatkan lemparan sandal atau sepatu ke wajahmu," sahut Nayla dengan intonasi datar.
"Itu hanya akan terjadi jika aku masuk kedalam," sanggah Martin.
Nayla hanya menaikan bahunya dan melenggang pergi begitu saja tanpa menoleh diikuti Martin dibelakangnya. Sementara Thomas memberikan tatapan khawatir pada Nayla jika dia mendengar apa yang sebenarnya terjadi.
"Tidak bisakah kita mengatakan yang sebenarnya saja?" tanya Ethan.
"Tidak, tidak sekarang," jawab Thomas menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana jika Nayla mendengar dari orang lain? Bukankah dia akan lebih kecewa pada kita?" tanya Ethan lagi.
"Pikirkan juga kondisinya sekarang," sambut Thomas.
"Bagaimana jika itu justru mempengaruhi kandungannya? Dan itu juga berimbas pada tubuhnya sekarang. Kau tentu ingat bahwa kondisi Nayla bisa menurun secara mendadak bukan?" imbuhnya bertanya.
"Tentu saja aku ingat, itu juga yang dikatakan Chris pada kita. Tapi, sekarang Chris bahkan sedang tidak ada disini," keluh Ethan.
"Cepat atau lambat Nayla akan tetap tau kabar ini," sambung Nathan tidak kalah cemas.
Nathan sekali lagi membaca pesan yang ia terima dari Kevin beberapa saat lalu.
[[ Pesawat yang dinaiki Rory hilang kontak, pastikan Nayla tidak mendengar hal ini sampai aku mendapatkan kabar pastinya. @Kevin ]]
"Sikap yang kita tunjukan sekarang tentu sudah membuat dia curiga, tapi aku benar-benar buntu tentang apa yang harus aku lakukan," erang Ethan mengusap kasar wajahnya.
"Kita alihkan saja perhatiannya sebaik yang bisa kita lakukan," jawab Thomas frustasi.
"Jangan lupakan satu hal, dia akan langsung tau ketika kita berbohong. Aku bahkan merasa dia sebenarnya sudah curiga, namun memilih diam hanya untuk membuat kita lengah_,,," Ethan seketika tersentak ketika teringat akan sesuatu dan tidak melanjutkan kalimatnya.
"Oh,,, Sial," umpat Ethan segera berdiri.
"Kenapa?" tanya Nathan tanpa sadar ikut berdiri.
"Nayla belum kembali dari toilet," decak Ethan merasa kesal pada dirinya sendiri.
"Oh,, Tidak,,," desis Thomas segera bergerak menyusul Martin seolah baru saja menangkap apa yang dimaksud Ethan.
Mereka serentak berlari untuk menuju toilet dimana Martin berada.
"Nayla pasti sudah curiga terjadi sesuatu, itu sebabnya dia memisahkan diri dari kita," ucap Thomas disela larinya.
"Dan Nayla sedang mencari tau karena dia tidak akan mendapatkan jawaban dari kita," sambung Nathan baru saja tersadar.
Mereka melihat Martin berdiri tidak jauh dari toilet wanita dan memberikan tatapan heran pada tiga temannya yang menghampirinya.
"Kenapa kalian kemari?" tanya Martin.
"Dimana Nayla?" tanya Thomas tidak sabar dan mengabaikan pertanyaan Martin.
"Masih didalam," jawab Martin.
"Jangan konyol!" sergah Thomas.
"Dia tidak mungkin di dalam selama itu," timpal Ethan.
Tanpa banyak bicara, Nathan melesat kearah toilet wanita dan mencegat wanita yang akan masuk kedalam.
"Maaf, nona. Saya ingin minta tolong," ucap Nathan.
"Ya?" sambut wanita itu menatap Nathan skeptis karena ia menutupi wajahnya.
"Bisakah anda tolong lihat di dalam apakah ada wanita hamil? Dia teman saya dan belum keluar sejak tadi, saya hanya khawatir," harap Nathan tanpa melepas maskernya.
Wanita itu terdiam sejenak, memperhatikan Nathan yang memakai masker dan topi. Mempertegas pada yang melihatnya bahwa ia tidak ingin dikenali atau tidak percaya diri dengan penampilannya.
"Baiklah, tunggu sebentar," jawab wanita itu pada akhirnya.
Lima menit berlalu, wanita itu keluar dan kembali menghampiri Nathan.
"Tidak ada wanita hamil didalam, hanya ada dua wanita yang baru saja masuk," papar wanita itu.
"T-Terima kasih," ucap Nathan terbata.
"Saya permisi," pamit wanita itu.
Nathan menganggu dan mengucapkan terima kasih sekali lagi sebelum menghampiri teman-temannya.
"Kita berpencar!" ucap Nathan.
"Nayla tidak ada didalam," ungkapnya.
"APAA,,???"
Mereka serentak berseru kaget, tidak menyangka Nayla akan menyadarinya lebih cepat.
"Tapi, sejak kapan? Bagaimana caranya dia pergi? Aku bahkan tidak melihatnya keluar," cecar Martin bingung.
"Bahas hal itu nanti!" tukas Thomas. "Sekarang kita cari Nayla," imbuhnya dengan wajah khawatir.
"Salah satu dari kita pergi ke pusat informasi, karena hanya itu tempat yang akan di tuju Nayla. Tapi, kita tetap berpencar agar bisa mencegahnya untuk sampai disana," papar Nathan.
"Aku saja," ucap Martin.
Mereka mengangguk setuju dan segera berpencar. Menghubungi ponsel Nayla disela pencarian mereka. Menajamkan penglihatan mereka dan terus mengedarkan pandangan mereka berharap bisa menemukan Nayla.
Sementara itu, di pusat informasi kedua orang tua Vincen, Gloria dan Kevin telah berada disana. Terus menunggu kabar dari pihak bandara yang juga tengah menunggu balasan dari pesawat yang telah hilang kontak.
Kepanikan yang memenuhi pikiran dan hati mereka membuat merka tidak menyadari Nayla juga telah berada disana. Mendengar apa yang dikatakan tentang pesawat dimana suaminya menjadi salah satu penumpang.
Satu tangannya mengenggam kuat ponsel yang terus berusaha menghubungi suaminya namun tidak terhubung.
Hatinya terus berkata bahwa suaminya akan baik-baik saja dan meminta maaf seperti biasa karena telah mengabaikan pangggilannya. Namun di saat yang sama suara suaminya yang terus mengucapkan maaf berulang kali berputar dipikirannya.
Hingga kalimat yang dikatakan sang petugas membuat Nayla membeku ditempatnya berdiri.
"Pesawat xxx dengan nomor penerbangan xxx dari xxx menuju xxx hilang kendali dan jatuh ke laut,"
Gloria mengangis dalam dekapan suaminya, sementara Vincen juga tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Kevin jatuh terduduk sembari mengusap wajahnya dengan kasar, tidak bisa menahan air mata yang jatuh bebas dipipinya.
Pihak bandara masih berusaha untuk mencari adakah korban yang selamat atau tidak dalam kecelakaan pesawat dengan mengerahkan tim pencari di titik terjatuhnya pesawat.
Nayla merasakan seolah dunianya telah runtuh, hingga tanpa sadar menjatuhkan ponselnya, menimbulkan suara yang cukup untuk menarik perhatian mereka untuk mengarahkan pandangan mereka kearahnya.
Tepat saat mereka dikejutkan dengan Nayla telah berada disana, Martin muncul dengan nafas terengah-engah.
"N-Nay,,,," desis Kevin tercekat.
Gloria dan Vincen terkejut dengan kehadiran Nayla hingga tidak bisa mengatakan apapun, sementara Kevin berusaha untuk mengendalikan perasaannya dan segera menghampiri Nayla, menariknya kedalam pelukannya.
Tanpa dikatakanpun Martin segera mengerti bahwa Nayla telah mendengar sendiri tentang apa yang terjadi pada suaminya. Ia segera mengirim pesan pada teman-temannya bahwa Nayla berada di pusat informasi.
Nayla masih bisa merasakan ketika Kevin memeluk tubuhnya dengan erat, karena Kevin tentu saja akan berpikir Nayla akan histeris mendengar kabar itu. Namun hal yang terjadi justru sebaliknya, Nayla bergeming dalam pelukan Kevin.
"Bohong,,,!"
"Bohong,,,!"
"Itu tidak mungkin benar,,,!"
Nayla terus bergumam pelan, namun cukup untuk di dengar Kevin dengan sangat jelas, membuatnya mengeratkan pelukannya.
Mereka yang menyaksikan bagaimana cara Kevin memperlakukan Nayla memilih menjaga jarak. Meski demikian, kesedihan di mata mereka tidak bisa disembunyikan ketika mendengar kabar bahwa pesawat yang di naiki Rory jatuh ke laut.
To be Continued...
terimakasih kak Zira 🙏🙏🙏
semoga selalu sehat dan bahagia 🤲🤗
terima kasih kaka..
ikut bantu koreksi Thor🙏
tahu ngga Noel , penelitian tentang literasi anak2 di Indonesia khususnya minat membaca buku itu cuma 0,01 % . dan mungkin kamu salah satu dari 0,01% itu. 👍👍👍