Pertemuan tak di sengaja di sebuah pesta menjadi jalan dua anak manusia menyelesaikan masalah yang pernah terjadi di antara mereka. Sayangnya pihak perempuan alias Luna merasa enggan untuk berurusan kembali dengan Adnan. Dia berusaha menjauh tapi Adnan tidak pernah membiarkan itu terjadi. Sebab apa yang ada di tangan Luna adalah sebuah anugerah yang dia tunggu selama ini.
Akankah kisah mereka berkahir manis atau tragis? Silahkan baca dan kasih komentarnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuryanthi Sudarma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Langkah cepat itu membawa Adnan keluar dari ruangan namun malah berpapasan dengan sang ayah.
"Mau ke mana kamu?"
"Ada urusan sebentar di luar, Pa."
"Gak bisa kemana-mana. Kamu harus menjelaskan ke pala apa yang terjadi kematin, Adnan?"
Jelas yang ditanyakan pria tua berambut putih itu soal gagalnya proyek besar yang harusnya mereka dapatkan. Menjabat sebagai komisaris tentu laporan itu akan sampai di telinganya dalam hitungan detik.
"Pa, ceritanya panjang banget. Nanti Adnan ceritakan semua ke, Papa."
Saat Adnan membuka pintu mobil sang ayah pun melakukan hal yang sama. Pria itu masuk dan duduk di sebelah Adnan.
"Pa?" Adnan menoleh pada sang ayah yang tengah memasang seat bell.
"Kalau hal penting itu soal perempuan, papa harus ikut. Papa harus tau dan memastikan kalau bukan karena perempuan itu kamu gak fokus dalam proyek."
Gak mau menghabiskan tenaga untuk berdebat, Adnan pacu kendaraan lebih cepat dari kecepatan maksimum. Sampai-sampai pria tua di sampingnya harus berpegangan kuat dan menahan nafas. Bibir yang biasanya jarang menyebut asma Allah, kini terdengar lantunan kecil dari sana.
"Kantor polisi?" tanya pria itu saat mobil berhenti di halamannya.
Adnan tak menjawab, sudah dia bilang kan kalau dia ada urusan penting. Tak mau kehilangan informasi, ayahnya Adnan pun turun dan mengikuti langkah Adnan.
"Kita sudah menemukan sebuah rumah yang kemungkinan besar digunakan sebagai markas oleh mereka. Sebagian petugas sudah ada di sana berjaga dan mengawasi. laporannya akan kami update terus pada anda."
"Pastinya kapan anak itu bisa di bawa pulang?" tanya Adnan yang tak sabar kembali bertemu Vano. Sedangkan ayahnya menatap bingung dengan percakapan antara polisi dengan anaknya.
"Malam ini kami akan melakukan tindakan. Semoga operasi ini berhasil."
"Selain menginginkan Vano pulang, saya ingin dalang di baliknya juga diungkap."
"Pasti, kami akan melakukan yang terbaik, Pak."
"Apa saya boleh ikut?" tanya Adnan.
"Tidak bisa, Pak. Biarkan tim ahli saja karena kita tidak tahu bahaya apa yang ada di sana, maka penting kita meminimalisir korban."
Adnan mengangguk, "baiklah, saya percaya polisi akan bekerja maksimal. Semoga mendapatkan hasil terbaik."
Setelah berjabat tangan, Adnan kembali ke mobil dengan mendapat serentetan pertanyaan dari ayahnya.
"Papa mencoba mengerti, tapi tetep gak ngerti Adnan. Maksudnya apa, Vano itu siapa, kenapa kamu yang sibuk? Ah papa gek menemukan jawaban."
Mobil mulai bergerak meninggalkan kantor polisi.
"Vano itu anakku, Pa."
"Anak kamu?" Pria berambut itu melotot tak percaya. "Anak dari Mana? Dari Meta? Bukannya perempuan itu sudah nikah lagi?"
Adnan membuang nafas kasar. Bingung karena niatnya dia akan memberi tahu keluarga tentang Vano itu saat Luna mau berdamai dan menerimanya. Keadaan seperti ini yang tak pernah bisa diprediksi, ternyata memaksa Adnan harus memberi penjelasan pada ayahnya. Tentunya pria itu akan terlibat dalam masalah sekarang.
"Mulut kamu masih berfungsi buat bicara kan, Adnan? oh atau jangan-jangan kamu menghamili anak gadis orang dan lepas tanggung jawab begitu saja."
"Yang papa katakan itu benar," jawab Adnan.
"Benar? Berhenti di sana." Maheer menunjuk pinggir jalan.
Sebuah tamparan didapat Adnan saat mobil belum benar-benar berhenti. Tidak hanya sekali maher juga memberikan bogem mentah pada bagian perut.
"Papa pikir kamu pintar karena meniru mama-mu. Ternyata bodoh. Bodoh. Di mana perempuan itu?"
"Ini juga mau ke sana, Pa," jawab Adnan mengisi pipi yang panas sampai berdengung ke telinga.
Tiba di sana bertepatan dengan tiga orang yang batu saja keluar dari rumah Luna. Mereka berhenti melangkah saat melihat ada mobil yang mendekat.
"Pak Adnan?" sapa Adam, "ada kabar terbaru?"
"Ya, bisa kita bicara di dalam," balas Adnan sekaligus bicata pada Luna. Sebelum masuk dia sempat bertatap muka dengan Aziz.
Ngapain dia di sini? Cari muka?
Mereka kembali ke ruang tamu begitu juga Adnan bersama ayahnya. Tak langsung mengatakan informasi, Adnan menunggu Luna yang lebih dulu menyediakan air untuk tamunya. Meski rasa bencinya pada Adnan belum hilang, tapi pria tua di samping Adnan tidak punya masalah dengannya. Jadi Luna masih menghormatinya.
"Silahkan di minum, Pak," ujar Luna.
"Terima kasih, ini ibunya Vano?" balas Maheer.
Luna mengangguk.
"Ada hal lain yang sebenarnya ingin saya bicarakan dengan anda, Bu?"
"Luna, Pak."
"Iya, Bu Luna. Tapi keselamatan Vano juga penting."
Luna dan Aas saling lirik tak mengerti tapi tetap mengangguk pada akhirnya.
"Jadi polisi sudah menemukan lokasi-"
"Jadi Vano sudah ketemu, di mana dia?" potong Luna tidak sabar. Tentu saja melihat dan memeluk buah hati dalam keadaan selamat adalah keinginannya yang selaku dia pinta pada Tuhan.
"Polisi baru menemukan lokasi yang dianggap markas, tapi mereka belum memastikan Vano ada di dalam atau tidak. Malam ini mereka akan melakukan penggerebekan."
"Ya Allah Alhamdulillah," ucap Luna diiringi derai air mata.
"Apa kita akan ke sana?" tanya Adam.
"Polisi bilang jangan, tapi saya akan ke sana."
"Kalau begitu saya ikut," ujar Luna.
"Ini terlalu berisiko karena kita gak tahi lawan kita seperti apa, Lun. Mungkin lebih baik kamu menunggu di rumah." Meski tak tega Adnan tetap harus menempatkan Luna dalam posisi aman.
"Kalau begitu saya yang ikut," ujar Aziz membuat semua menatap padanya. Begitu juga dengan Maheer yang bergantian menatap antara Aziz dan putranya.
"Papa setuju. Tambahan tiga personil ini bisa menjadi bantuan untuk para polisi."
Ingin menolak dan protes tapi Ada taku bagaimana ayahnya di masa muda. Tentu kalau di minta pulang egonya akan sangat bahaya. Lagi pula dia juga belum siap jika Serena-ibunya tahu tentang Vano secara dadakan.
"Mas Adam juga," timpal Aas. Dia merasa ada atmosfer tidak enak antara Adnan dan Aziz. Biarlah suaminya nanti jadi penengah kalau ada hal-hal yang tak terduga. Bukan tak percaya dengan pria tia yang belum diketahui namanya itu, tapi berhak-jaga itu harus.
"Iya, saya juga akan ikut." Adam mengangguk.
Setelah berdiskusi sebentar, mereka berangkat menggunakan dia mobil. Sebelum masuk ke dalam mobil, Adnan kembali mendekati Luna yang berdiri bersama Aas di teras.
"Percayalah semuanya padaku, Luna. Aku akan membawa pulang anak kita. Tolong kamu tetap di rumah, karena di luar kita tidak tahu bahaya apa yang sebenarnya mengintai."
Luna mengangguk, membiarkan mobil mereka menjauh. Saat merasa jarak sudah aman, dia mengambil jaket serta kunci motor.
"Luna!"
"As, aku gak bisa berdiam diri di rumah. Aku harus menyelamatkan anakku." Luna melewati Aas, mengeluarkan motor dan menghidupkannya.
.
.
. Terima kasih banyak pada teman-teman yang sempat membaca dann memberikan like. Kalau sempat tolong bantu share, dan tinggalkan juga jejak di kolom komentar. 💚💚💚 love banyak-banyak.