Menceritakan seorang remaja muslim yang baru saja lulus dari sekolah pesantrennya. Dia bernama Muhammad Al-Fatih. Sebagai remaja yang baru lulus dari pesantren, ia mencoba menjalani kehidupan sehari-harinya di lingkungan yang baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ryn_Frankenstein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 : Anita Gladys.
Anita Gladys, itulah namanya, dia seorang perempuan berumur 22 tahun. Dirinya terlahir dari kedua orang tua yang berbeda keyakinan. Pernikahan kedua orang tuanya tidak direstui oleh keluarga mereka masing-masing. Ibu dan ayahnya sama-sama terlahir dari keluarga penganut agama Nasrani.
Ibunya terlahir dari keluarga yang kaya, sedangkan Ayahnya, terlahir dari keluarga yang biasa saja. Mereka memilih tetap untuk menikah tanpa persetujuan dan restu dari keluarga mereka. Setelah hampir satu tahun menikah, ibunya sedang mengandung Nita. Meski berbeda hidup sederhana, mereka bisa hidup dengan rukun.
Dan keluarga dari ayahnya perlahan membuka hatinya untuk menerima pernikahan mereka, mengingat mereka akan memiliki cucu, sedangkan keluarga ibunya, masih sulit untuk menerima kenyataan itu. Nita pun lahir, akan tetapi dia terlahir secara sesar, dan ibunya koma. Ayahnya tak memiliki dana yang cukup untuk membayar tagihan mereka berdua.
Keluarga ibunya memberi tawaran, mereka akan membantu membiayai tagihannya asalkan dirinya menceraikan ibunya serta memberikan Nita yang baru lahir kepada mereka. Ayahnya tidak bisa berfikir dengan jernih, ia tidak punya pilihan, akhirnya ia menerima tawaran itu asalkan istrinya dan anaknya tetap sehat.
Setelah sadar dari komanya, ibunya diceraikan ayahnya. Nita yang masih bayi dibawa Ibunya kembali pulang ke keluarganya. Setelah Nita berusia 4 tahun, ibunya akan dijodohkan oleh keluarganya, karena dirinya ketahuan diam-diam bertemu dengan mantan suaminya yang tak lain ayahnya Nita, mereka berdua masih saling mencintai.
Setiap bertemu, ibunya juga tak lupa selalu membawa Nita untuk bertemu dengan ayahnya. Akan tetapi, sehari sebelum menikah, ibunya bunuh diri. Tentu saja ayahnya sedih atas meninggalnya mantan istrinya itu. Ayahnya berusaha mengambil alih hak asuh Nita, akan tetapi nihil. Akhirnya ayahnya menyerah dan pergi meninggalkan Jakarta.
Nita dibesarkan oleh keluarga mendiang ibunya. Mereka memberitahu Nita kalau kedua orang tuannya telah meninggal saat dirinya masih balita. Akan tetapi, Nita ragu, karena ia masih sedikit mengingat masa kecilnya. Setelah Nita berusia remaja, dirinya akhirnya ia mengetahui kalau ayah kandungnya masih hidup. Karena pada saat itu, ayahnya datang ingin bertemu dengannya.
Akan tetapi ayahnya dihalangi oleh keluarga mendiang ibunya. Nita yang masih memiliki sedikit ingatan waktu balita, ia tak meragukan keberadaan ayahnya itu. Dan ia terkejut saat mendengar ayahnya berdebat dengan kakek dan neneknya ketika membahas atas kematian ibunya. Dengan tegas ia ingin memilih ikut dengan ayahnya. Tapi lagi-lagi keluarganya itu menghalanginya.
Ayahnya pulang dengan penuh kesedihan, meski dirinya hanya bisa memeluk putrinya itu sekilas saja. Dari situlah, Nita mulai berulah menjadi remaja yang nakal, meski ia rutin pergi ke Gereja setiap minggunya. disamping kenakalannya, ia berusaha mencari tahu tentang ayahnya. Dan akhirnya ia bertemu dengan saudaranya ayahnya.
Nita terkejut saat saudara ayahnya memberitahunya kalau ayahnya telah Mualaf setelah 2 tahun setelah kematian ibunya, dan Ayahnya kini tinggal di Semarang. Disamping itu, Nita juga memiliki banyak teman Muslim di sekolahnya, dan itu dimulai dirinya untuk mengenal islam, karena ayahnya telah Mualaf, maka ia harus mempelajari agama yang dipilih ayahnya.
Nita mulai mempelajari islam berawal dari Al-Qur'an, dan juga dari perlaku temannya yang begitu taat dengan agamanya. Dirinya mulai tertarik untuk terus belajar islam. Akan tetapi, dirinya tidak langsung Mualaf, ia ingin memantapkan diri untuk benar-benar yakin kalau ia akan ikut agama ayahnya.
Tapi ternyata, setelah bertahun-tahun berteman dengan teman-teman Muslimnya, satu persatu mereka berubah. Mereka memilih mengikuti majunya zaman, dan mulai mengabaikan kewajibannya sebagai kaum Muslim. Dari situlah Nita kecewa, dan dia memilih tak menganut apapun.
Dan sekarang, Nita berada di Semarang, ia ingin bertemu dengan ayahnya yang sekarang tinggal di kota tersebut. Ia barangkat dari Jakarta tanpa memberitahu siapapun, termasuk keluarga dari mendiang ibunya, bisa dibilang ia nekat pergi, lagi pula, ia sudah punya penghasilannya sendiri, karena ia telah menjadi foto model pakaian.
Nita datang ke tempat tinggal ayahnya, ia ingin melepaskan rasa kerinduannya. Ia cuma tinggal satu minggu disana, dan ia tidak peduli keluarga mendiang ibunya nanti marah besar kepadanya. Rupanya ayahnya telah menikah lagi setelah beberapa tahun meninggalnya mantan istri tercintanya, dan memiliki anak laki-laki yang kini sudah berusia 12 tahun.
Istri kedua ayahnya sangat baik, dia seorang muslimah, dia bersikap baik tanpa memandang dirinya yang bukan bagian dari kaum Muslim. Nita senang memiliki ibu sambung seperti dia. Bahkan saat hari minggu kemarin, ibu sambungnya mengingatkan dirinya untuk pergi ke gereja, tapi Nita memilih tidak akan pergi.
Nita menjelaskan semua kalau dirinya sudah tak menganut agama manapun, dan lagi pula keluarga dari mendiang ibunya juga tidak melarangnya. Reaksi ibu sambungnya malah tersenyum, dia meminta dirinya untuk mempelajari islam lagi, tetapi belajarlah kepada orang yang tepat.
Lalu Nita meminta kepada ibu sambungnya untuk menjelaskan seperti apa itu islam. Ibu sambungnya menjelaskan dasar agama islam serta mejelaskan tentang kewajiban dan larangan dalam agamanya. Nita cukup mengerti, akan tetapi ia merasa belum puas dengan penjelasan ibu sambungnya.
Sudah saatnya Nita akan pulang ke Jakarta, sungguh berat rasanya ingin meninggal keluarga kecil ayahnya. Ayahnya menawarkan untuk mengantarkannya ke stasiun, tapi Nita menolak, karena tak ingin ayahnya telat berangkat kerja, lagi pula jadwal berangkat keretanya di siang hari.
Akan tetapi, Nita merasa tidak beruntung, karena kartu ATMnya ketelan mesin ATM. Padahal ia sudah yakin memasukan angka sandinya. Lalu ia mencoba membeli tiket kereta secara online, karena mengingat masih ada saldo di aplikasi D4nanya, dan juga bisa membeli tiket kerera di aplikasi tersebut. Namun sepertinya keberuntungan tidak memihaknya, kouta internetnya habis.
Tak kehabisan akal, Nita mencoba menelefon ayahnya, ia ingin meninta bantuannya. Dan lagi-lagi keberuntungan tetap tidak memihak kepadanya. Nita benar-benar frustasi. Ia sempat berfikir untuk pulang kembali ke rumah ayahnya. Mengingat tiket kereta yang berangkat pada jam satu siangan mungkin sudah tidak bisa, karena sekarang sudah jam 11 siang.
Hingga akhirnya, seorang remaja Muslim menghampirinya. Dia bernama Muhammad Al-Fatih, dia berniat membantunya. Nita menolak, karena tak percaya laki-laki asing. Apalagi laki-laki ini terlihat lebih muda darinya. Tapi, Nita mulai menyampingkan masalahnya, karena remaja ini sungguh unik, karena cara perilakunya berbeda dengan teman-teman Muslimnya.
Terlintas di dalam pikirannya untuk kembali mempelajari islam lagi, sekaligus menguji remaja yang bernama Fatih itu bisa menjelaskan tentang teman-teman Muslimnya yang berperilaku yang tidak mencerminkan diri mereka seorang Muslim.
Dan alangkah terkejutnya, penjelasan remaja itu sangat masuk akal menurutnya. Terlebih lagi, mendengar remaja itu melantunkan tiga ayat suci Al-Qur'an dari Surat yang berbeda, Nita merasakan ada getaran dalam dirinya.
Disisi Fatih, ia baru saja menjelaskan arti potongan ayat Surat An-Nisa Ayat 76. "sesungguhnya tipu daya setan itu lemah."
Setelahnya, Fatih masih terus menjelaskan. "Jadi, bila dalam pikiran kita tiba-tiba muncul tentang keburukkan, lebih baik jangan lakukan, atau kita biarkan saja, cukup mengucapkan Istighfar dengan sungguh-sungguh."
"Itulah salah satu tipu daya setan yang berupa bisikannya untuk kita agar melakukan sesuatu yang berujung keburukan. Contoh salah satunya adalah lingkungan, kalau kita barada di lingkungan yang salah, pasti muncul akan rasa penasaran dan ingin mencoba masuk ke dalam lingkungan itu."
setahu saya pengabdian itu semacam bekerja di sana tanpa dibayar, atau dengan bayaran seadanya tanpa dipatok.
salut untuk penulis, semoga ALLAH SWT selalu
memayungi penulis dengan banyak keberkahan serta kesehatan terus.
luar biasa Author satu ini, ada selipan syiar di dalam karya novel ini...😊
saluuutt saluuuutt...terus syiar dalam tulisan ya Thor...👍👍👍
semangaaattt 💪💪💪
sehat terus & terus sehat Thor 💪