"Pulanglah, Nak!" Caroline menghubungi Sarah dan memintanya pulang. Sudah bertahun-tahun Sarah meninggalakan rumah seorang rumah seorang pembunuh berantai, kini ia kembali. Kembali menghadapi cinta yang dia miliki untuk ayahnya dan tubuh yang di kubur di sana.
Ada rahasia yang belum terungkap di dasar Mile Stone yang terkenal kejam. Sarah harus menghadapi, dan mencari tahu apa yang sebenaranya tersembunyi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPILOG
Satu Tahun Kemudian
Banyak yang berbeda dari Mile Stone, rumah itu kini penuh warna, sebab Sarah mengganti cat dinding, pintu dan jendelanya menggunakan warna-warna cerah. Perpaduan warna merah muda, biru langit dan ungu terang.
Rumah itu juga kini nampak asri dengan sentuhan air terjun buatan yang di bawahnya terdapat kolam ikan mas, serta di sekelilingnya di tumbuhi warna warni bunga-bunga mawar, melati dan bunga aster.
Ya, Mile Stone kini nampak berbeda, tapi Sarah tak merubah bentuk bangunannya. Ia tak ingin merubah apa yang telah di buat oleh Ayahnya, Sarah ingin Ayah dan Ibunya tetap hidup dalam rumah ini.
Sarah tersenyum ketika mendengar deru mesin mobil yang masuk ke kediamannya, ia langsung menaruh selang air yang ia gunakan untuk menyiram tanaman-tamananya dan bergegas menuju halaman depan untuk menyambut kedatangan Brandon.
Sudah sebelas bulan mereka membina rumah tangga, dan kini mereka siap menyambut kedatangan buah cinta mereka yang bersemayam di dalam perut Sarah. Sepuluh bulan lalu, ketika Sarah mendengar deru mobil Brandon masuk ke halaman rumah, Sarah akkan berlari dan melompat ke pelukan suaminya, tapi kini setelah perutnya membesar jangankan berlari, berjalan saja rasanya sudah sesak dan berat.
Brandon sudah melarangnya, biarkan dia yang menghampiri Sarah di dalam rumah, namun Sarah tetap melakukannya, seharian di tinggal bekerja oleh Brandon membuatnya sangat merindukan suaminya.
Sarah tiba di pintu depan ketika, Brandon menaiki tangga teras. Pria itu berhambur ke pelukan istrinya, dan mendekapnya erat. "Bagaimana harimu di pabrik?" tanya Sarah, tenggelam dalam pelukan Brandon.
Sejak lulus dari bangku sekolah menengah atas, Brandon bekerja di pabrik tekstil. Entah suatu keberuntungan atau apa, beberapa bulan yang lalu dia di naikan jabatannya yang semula operator menjadi seorang supervisor. Sarah sudah berjanji dengan dirinya sendiri, akan menerima berapa pun hasil yang Brandon berikan kepadanya tanpa menuntut lebih, ia tak ingin Brandon seperti ayahnya yang mengambil jalan pintas untuk memenuhi tuntutan istrinya. Sarah memilih untuk membantu Brandon dengan berjualan kue bika ambon dan lapis legit yang ia jual secara online, tapi sejak dua minggu lalu Sarah tidak lagi berjualan, ia memilih untuk berkonsentrasi menyambut persalinannya.
"Tadi capek, tapi sekarang tidak karena aku sudah menemukan obatku." Brandon menghujani kepala Sarah dengan banyak ciuman. Belasan tahun, sejak pertama kalinya mereka berkenalan Brandon sudah jatuh hati pada Sarah, dia telah banyak membuat kesalahan pada wanita yang paling ia cintai. Dia pernah menciumnya dengan cara yang tidak benar, dan dia pun pernah marah pada Sarah selama dua belas tahun.
Kini semua kesalahpahaman itu sudah selesai, Sarah sudah menjadi istrinya, dan dia selalu ingin mencurahkan semua cintanya kepada Sarah. Begitu pula dengan Sarah, ia pun telah mencintai Brandon sejak pertama mereka berkenalan. Sarah tak bisa membayangkan jika dulu ayahnya lebih memilih mengikuti saran ibunya untuk membunuh Brandon, tentu kini ia tak akan menikah dengan pria yang ia cintai.
Samuel memilih Sarah, sebab Sarah lebih menginginkan memiliki orang tua yang bertanggung jawab ketimbang orang tua yang kaya raya dari hasil bersekutu dengan jin, karena Samuel tahu putrinya mencintai Brandon dan percaya jika suatu hari Sarah dan Brandon akan menikah dan hidup bahagia.
"Lalu bagaimana dengan bayi kita hari ini? Apakah dia bergerak aktiv?"
Sarah mengongak, menatap wajah Brandon. "Selalu," jawabnya sembari tersenyum lebar. Brandon mendekatkan bibirnya ke bibirnya Sarah, kurang beberapa inci lagi bibinya mendarat di bibir Sarah, Sarah meringis kesakitan.
"Awww..." satu tangan Sarah meremas perutnya, sementara tangan yang lain memegang yang lain mencengkram lebgan Brandon.
"Ada apa sayang?" Brandon cemas, tapi juga bahagia mengingat minggu ini adalah minggu kelahiran anaknya. "Apa Rey mau keluar?"
Sarah menggeleng. "Entahlah, tapi yang jelas aku ingin minta maaf karena aku ngompol." Ia menunduk melihat air menjalara di kakinya.
"Astaga sayang," Brandon semakin terlihat bahagia. "Itu bukan ngompol, tapi air ketubanmu pecah." Ia buru-buru memapah Sarah menuju kamar untuk mengganti pakaian dan mengambil tas bayi yang sudah mereka persiapkan sejak bulan lalu.
Brandon mengamati Sarah yang tengah mengganti pakaian. "Brandon, mengapa kau menatapku seperti itu?" Ada perasaan tak percaya diri dengan tubuhnya yang besar setiap kali Sarah telanjang di depan suaminya.
"Kau sangat cantik, Saa." Brandon mendekat dan membantu istrinya mengenakan pakaian, sebelum menutup tubuh istrinya dengan short dress Brandon mendaratkan bibirnya di perut Sarah sembari berbisik. "Sebentar lagi kita akan bertemu."
...****************...
Hanya butuh waktu sekitar tiga puluh menit untuk mereka tiba di rumah sakit, Sarah sudah pembukaan sempurna, artinya Sarah sudah untuk melahirkan. Setelah melewati serangkaian persiapan, Sarah mulai mengejan sesuai dengan arahan dokter. Sarah meremas tangan Brandon setiap kali ia mengejan, meninggalkan luka cakar di tangannya. Namun Brandon sama sekali tak peduli, ia tetap memberikan tangannya untuk Sarah yang tengah berjuang melahirkan buah cinta mereka.
"Ayo bu Sarah, kepalanya sudah terlihat," ucap sang dokter.
Setelah beberapa kali mengejan, Sarah mendengar suara tangis dari bayi kecilnya. Sarah begitu takjub melihat bayinya ketika perawat menaruhnya di dadanya, dan ia sedih ketika perawat mengambilnya kembali untuk di bersihkan dan menjalani pemeriksaan awal, memastikan bayinya lahir sempurna.
...****************...
Sarah kembali tersenyum saat ia dan bayinya sudah berada di ruang rawat inap. Sarah bisa mulai menyusui bayinya. Brandon yang duduk di samping Sarah tertawa ketika bayinya dengan cepat mengenali put*ng susu ibunya. "Dia seperti ayahnya," ucap Sarah tersenyum ke arah Brandon.
"Tapi aku tak berharap dia sepertiku yang mencium gadis dengan menjegalnya, karena tak bisa menahan rasa cemburu mendengar obrolan kakak-kakak kelas di kantin yang mereka menyukaimu. Aku ingin jadi orang yang pertama menciumu."
Kejadian itu memang menyebalkan bagi Sarah, padahal ia berharap memiliki moment romantis pada ciuman pertanya tapi justru sebaliknya. Namun Sarah sudah memaafkan Brandon, kini ia memiliki banyak moment romantis bersama suaminya. "Ya, tak lama setelah itu aku di cium oleh pria," ucap Sarah.
Brandon terkejut, ia langsung merubah posisinya menatap Sarah. "Benarkah siapa yang berani menciummu? Apa kau menyukainya?"
"Ikan yang di tangkap oleh Daddy di sungai," Sarah tertawa terpingkal-pingkal, kemudian ia mengelus lengan Brandon. "Aku tidak pernah pacaran, hanya ada Daddy, ikannya dan kau yang menciumku."
"Ikan sungai tak perlu di hitung," jawab Brandon lega, sama halnya dengan Sarah dia pun tak pernah pacaran.
Di tengah obrolan hangatnya bersama suaminya, tina-tiba Sarah di kejutkan oleh kedatangan ibunda Brandon. Wajah Sarah berubah menjadi pucat pasi, di tengah kegembiraan yang ia rasakan selama sebelas bulan menikah dengan Brandon, terselip rasa kegundahan yang Sarah rasakan sebab ibunda Brandon tak merestui pernikahan mereka.
"Jangan khawatir, dia ibuku," bisik Brandon, melihat Sarah meremas selimut, dia langsung tahu jika istrinya ketakutan. Brandon memaklumi ketakutan istrinya, sebab selain tak merestui pernikahannya, ibundanya kerap melintarkan kata-kata pedas terhadap Sarah.
Wanita paruh baya itu menatap bayi yang berada di dada Sarah lekat-lekat. "Aku sangat membenci ayah dan ibumu, kami telah memberi ayahmu pekerjaan di toko kami tapi dia malah menumbalkan suamiku," ucap ibunda Brandon dengan gemetar menahan tangisnya. "Tapi kau dan cucuku tidak ada kaitannya dengan maslah itu, jadi bisakah aku melihat cucuku?"
Sarah mengangguk, tanpa ia sadari air matanya menetes di pipinya. Perlahan Sarah mengulurkan bayinya kepada ibu mertuanya. Ibunda Brandon menggendong Rey dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya merangkul Sarah. "Maafkan aku, tak seharusnya aku melimpahkan kemarahan dan dendamku kepadamu," ucapnya. "Aku seharusnya berterima kasih karena kau telah membuat putraku bahagia."
Dua kebahagiaan yang Sarah rasakan sekaligus dalam satu hari ini, kelahiran putranya dan kedatangan ibu mertuanya, Sarah memeluk ibu mertuanya dengan erat seolah ia memeluk ibu kandungnya sendiri.
END
...****************...
Hi Readers,
Terima kasih sudah membaca hingga selesai, jangan lupa tulis di kolom komen ya kesan kalian membaca 30 BAB novel HOME.
Terima kasih❤
semua dibikin teka teki smpai mnuju bab2 akhir...
Ga ada clue alasan atau apa yg melatarbelakangi Samuel melakukan pesugihan/kejahatan...membuat reader mencoba menebak nebak apa yg terjadi 🤭🤭
Overrall ceritanya seru dan menarik..
pesan dari cerita ini.., hiduplah dengan rasa syukur yg telah Tuhan berikan..jangan pernah brrsekutu pada jin utk menghalalkan segala keinginan kita.
akhir yg bahagia utk mereka
tp paling tidak Sarah bs melihat wajah ibunya yg sperti dulu
Apakah ini alasan ibunya Sarah..agar sarah pergi dan jangan pulang ke rumah? agar tidak diambil darahnya...
apa dia mahluk yg menyebabkan ayahnya Sarah melakukan pesugihan..
berarti selama ini Sarah juga tauu klu ayahnya melakukan pesugihan...