Terakhir aku merasakan kehadiranmu, saat dia menolong aku dari angin puting beliung di sawah yang sedang ku tanami cabai rawit.
Aku tergapar di sela-sela bedeng tanaman cabai bergelut dengan bedengan yang basah habis diairi air sungai.
Sedang adik keponakanku bergulung-gulung dibawa angin itu hingga ke tepian barisan sawah terakhir di bawah sana.
Ketika itu muncul sekawanan kuntilanak dan pocong dalam gelapnya awan mendung. Hanya keponakanku itu yang bisa melihat. Aku hanya bisa merasakan dari mata batinku.
Terima kasih Pangeran... Kamu selalu menolong, membantu, mengawasi, mengawal dimana saja keberadaanku. Seperti suami tapi bukan suami. Masak iya bersuamikan Pangeran ghaib.
Tampan sih wajahmu dengan mahkota itu, tapi engkau hanya amongku. Among penolong yang dikirim eyang buyutku yang tak lain adalah sunan Lawu.
Amongku Kuwi ULO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon deasy desiant, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misteri Loteng Kos Atas eps.2
"Kamu siapa ?"
"Kamu belum tau aku ?" kata mahasiswa yang tak menginjakkan kakinya di bumi itu.
"Mari kita kenalan." tanyaku dengan jantung berdebar kencang tanda tanda aku hampir pingsan.
"Tak usah aura tubuhmu sangat panas. Tak seperti kebanyakan gadis lain yang bisa ku kibuli setiap waktu."
"Dasar buaya darat. Eh manusia jadi-jadian."
"Aura tubuhmu sangat panas. Bangsa lelembut pun tau tanpa kamu memperkenalkan dirimu."
"Peduli amat."
"Dasar gadis tengil. Sombong."
"Suka suka aku dong. Aku mau kenal siapa. Aku pun juga gak mau kenal kamu. Cowok tak menginjak kaki di bumi."
"Heh kamu tau siapa aku ?"
"Terang aja aku tau. Kamu kan yang suka tebar pesona di kos ini."
"hah....pinter juga kamu rupanya."
"Kamu Roro, semester 1 anak Faperta kan ?"
"Idih akurat amat data penerimaan mahasiswa baru kamu. Aku aja belum kenal semua teman angkatanku kok. Boro-boro teman fakultas lain. Jos top markotop!" sambil ku acungkan 2 jempol ke arah cowok misteri itu.
"Heh...aku gitu Lo. Cowok teknik sipil angkatan 50."
"Wadidauuuu... Tua sekali kau. "
"Sudahlah aku males berdebat sama kamu. Gadis ingusan. kamu telah mengganggu semediku untuk aku bisa menggoda manusia. Aku akan mengenyahkanmu. "
"Tamat dong ceritanya, Mbah. Hehehehe...."
"Banyak alasan kamu." sambil Mbah mahasiswa itu komat Kamit memelototkan matanya tajam memerah bikin aku setengah takut.
"Aduh panas...panas... apa-apaan kamu. Gadis sialan. Belum apa-apa sudah mengucap mantra. Awas kamu. Tubuhku tubuhku mengecil. Panas. Aaaaa...Kamu dahsyat ya ternyata. Tunggu pembalasanku nanti."
Alhamdulillah akhirnya mahasiswa jadi jadian itu menghilang dan tak tau terbang kemana. Eh ternyata si mahasiswa itu sudah embah-embah. Tapi namanya jadi-jadian dia bisa ngrubah diri jadi berapapun dia bisa. Mau jadi mahasiswa atau dosen yang setiap ngasih kuliah malam kakinya tak nyentuh tanah juga bisa. Pokoknya bismillah aja, In Syaa Allah, Allah bakal nglindungin aku.
"Siapa suruh nggangguin aku menikmati malam ini. Siapa juga yang baca mantra. Enak aja emang aku dukun." Cerocosku sambil ngedumel.
Sringggg sorot mahkota di kepala sang Pangeran mendekat ke arahku.
"Mana mahasiswa jadi-jadian itu ? Apakah sudah pergi ?"
"Ah telat kamu Pangeran. Udah lari ngibrit begitu kamu datang."
"Syukurlah dia sudah pergi dan tau kalau aku datang."
"Alah ngibul kau, Pangeran."
"Iya tau dirilah aku. Orang tuh makhluk lari terkencing-kencing begitu tau kamu disini. Hawa kamu kan panas, Ro. "
"Nhah kok Pangeran Ndak takut Ndak panas ?"
"Emang aku hantu ? Aku bukan hantu, Ro. Aku hanya Pangeran Ular dari bangsa ghoib. Aku juga sholat seperti kamu. Aku juga mengenal Allah."
Begitulah perdebatan kita kalau ketemu seperti musuh.
"Eh ada yang mau datang kesini, Ro. Dia baru menaiki tangga."
"Siapa Pangeran ?"
"cowok di bawah."
"kamu Ndak menghilang ?"
"Ngapain menghilang yang bisa lihat aku kan cuma kamu."
"O iya Ding." sambil aku tepuk jidat berlagak pilon.
Aku terdiam di tepian bangunan. Kembali menghirup udara malam sepoi-sepoi dengan ditemani Pangeran tampan disebelahku.
"Dik Roro..."
"Eh iya kak Agus." sambil ku tengok ke arahnya.
"Kamu Ndak takut di loteng sendirian?"
"Ndak i kak biasa saja."
"Emang ada apa kak ?"
"Katanya disini tuh...."
Dia menceritakan panjang lebar tentang loteng ini. Dan aku hanya menganggukkan kepala. Sambil sesekali melihat pangeran dengan mengernyitkan kening.
"Mana pengganggu itu ?" teriakku.
terusin sampai tamat Thor..🙏
Mampir juga ya😊