Kehilangan selamanya istri yang sangat dicintainya bukanlah hal yang mudah dihadapi oleh Dokter Danny. Ayah Dokter Danny selalu menyuruh Danny untuk menikah lagi.
Akankah Danny menikah lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ding-dong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harus mau lah.
"Kamu berani tidur sendiri?" tanya Dokter Danny tiba-tiba.
"Mm...." Ayudia belum sempat melanjutkan kalimatnya.
"Kalau nggak berani, saya tunggu di kamar, ya," sahut Dokter Danny dengan tersenyum lalu meninggalkan Ayudia yang masih mencuci piring.
Ayudia menghela napas panjang.
"Bik Nur ..., cepat sembuh dong. Biar aku nggak tidur di kamar Dokter Danny terus," gumam Ayudia dengan memajukan bibir nya.
Sudah pukul sebelas malam, tetapi Ayudia masih belum juga datang ke kamar Dokter Danny. Sedari tadi Dokter Danny menoleh ke arah pintu beberapa kali berharap Ayudia segera masuk ke dalam kamarnya.
"Kok lama? Apa dia pingsan di dapur?" gumam Dokter Danny. Ia pun mulai khawatir lalu bangkit dan keluar dari dalam kamarnya.
Dokter Danny menuruni tangga dengan sedikit tergesa-gesa supaya segera sampai di dapur. Sesampainya di dapur, ia tidak melihat Ayudia di sana.
"Kok nggak ada. Ke mana dia?" gumam Dokter Danny sedikit merasa kecewa karena tidak menemukan Ayudia di dapur. Ia pun kembali naik ke lantai atas menuju kamar Ayudia.
Sesampainya di depan pintu kamar Ayudia, Dokter Danny langsung membuka pintu kamar itu tanpa mengetuk nya terlebih dahulu seperti dulu. Ia merasa Ayudia sudah menjadi istrinya meskipun belum seutuhnya karena itu ia masuk tidak pakai permisi.
Ketika pintu sudah terbuka, Dokter Danny melihat Ayudia duduk di sofa dengan memakai mukena. Dia pun berjalan mendekat dan ternyata Ayudia tertidur dengan Al-Qur'an terbuka di pangkuannya.
"Sepertinya dia ketiduran," gumam Dokter Danny. Ia pun mengambil Al-Qur'an itu lalu menutup dan menaruhnya di atas meja. Setelah itu ia berpikir, membiarkan Ayudia tidur di sofa atau memindahkannya ke atas tempat tidur?
"Udah lah biarin aja. Nanti dipindahin malah marah-marah lagi," gumam Dokter Danny. Ia tahu kalau Ayudia masih belum bisa menerimanya sebagai suami. Kalau Ayudia tahu Dokter Danny yang memindahkannya ke atas tempat tidur, bisa mencak-mencak dia, pikir Dokter Danny.
"Biar aku saja yang tidur di ranjang nya," imbuh nya sambil mangut-mangut.
"Ibu... Ibu... Ibu ." Terdengar Ayudia mengigau memanggil Ibunya.
Dokter Danny yang baru saja naik ke atas tempat tidur menoleh pada Ayudia yang memanggil Ibunya dengan mata terpejam.
"Dia mengingau?" gumam Dokter Danny seraya menautkan kedua alisnya.
"Bu, aku rindu sama, Ibu," imbuh Ayudia.
Tidak lama kemudian terdengar isak tangis. Dokter Danny segera turun dari tempat tidur lalu membangunkan Ayudia dengan menggoyang bahunya.
"Ayu, bangun!" ujar Dokter Danny dengan menggoyang bahu Ayudia. Namun, Ayudia tidak segera bangun, malah air mata mengalir di pipinya.
Dokter Danny mendesah pelan. Ia pun membuka mukena yang dipakai Ayudia. Tampaklah keringat membasahi leher dan dada Ayudia. Kebetulan Ayudia sedang memakai tank top, sehingga Dokter Danny bisa melihat dengan jelas keringat di leher dan dada Ayudia.
"Ayu, bangun!" ulang Dokter Danny dengan sedikit mengeraskan suaranya.
Tidak lama kemudian Ayudia membuka matanya. Napasnya memburu sehingga dadanya terlihat naik turun. Ia melihat Dokter Danny yang berdiri di depannya.
"Kenapa Mas ada di sini?" tanya Ayudia seraya menatap Dokter Danny. Kemudian ia melihat mukenanya ada di tangan Dokter Danny dan melihat tubuhnya sendiri yang hanya memakai tank top. Ia pun terkejut dan buru-buru menarik mukenanya dari tangan Dokter Danny untuk menutupi tubuhnya.
Dokter Danny pun tertegun melihat Ayudia yang hanya memakai tank top di tubuhnya. Karena itu ia bingung harus menjawab apa.
"Mm... kamu nggak tidur di kamar saya?" tanya Dokter Danny.
"Nggak," jawab Ayudia singkat lalu mengusap air matanya.
"Berani tidur sendiri?" tanya Dokter Danny lagi.
"Berani," jawab Ayudia.
"Kemarin kok enggak?" tanya Dokter Danny lagi.
"Sekarang sudah baca Al-Qur'an. Makanya berani," jawab Ayudia lalu berdiri dan duduk di tepi tempat tidur.
"Kamu mimpi apa sampai menangis seperti itu?" tanya Dokter Danny mengikuti Ayudia dan duduk di tepi tempat tidur juga.
"Kamu rindu ya sama Ibu kamu?" tanya Dokter Danny lagi seraya menatap Ayudia, Ayudia menganggukkan kepalanya. Terlihat sekali kalau sekarang dia sedang menahan tangis.
"Kalau mau menangis, menangis saja. Nggak usah ditahan," ujar Dokter Danny yang melihat Ayudia memajukan bibirnya.
"Malu," balas Ayudia dengan cemberut.
"Kenapa malu?" tanya Dokter Danny seraya mengerutkan keningnya.
"Ada Mas Dokter," jawab Ayudia seraya menatap Dokter Danny dengan malu-malu.
Dokter Danny tersenyum lalu membentangkan kedua tangannya.
"Inilah gunanya suami. Kalau istrinya nangis, suami yang peluk," ucap Dokter Danny seraya menganggukkan kepalanya supaya Ayudia mendekat dan masuk ke dalam pelukan nya. Ayudia menatap dengan enggan. Tiba-tiba Dokter Danny menarik tangan Ayudia dan memeluk tubuhnya. Tubuh Ayudia pun bergetar. Tangisnya pecah di dalam pelukan Dokter Danny.
"Akhir pekan ayo kita ke rumah Ibu kamu. Menginap satu hari cukup kan?" ujar Dokter Danny.
Ayudia melepas pelukan Dokter Danny dan menatapnya.
"Beneran, Mas?" tanya Ayudia seakan tidak percaya Dokter Danny akan mengantar nya menemui Ibunya.
"Iya," balas Dokter Danny dengan tersenyum.
"Terima kasih, Mas," ucap Ayudia lalu memeluk Dokter Danny dengan gemas.
"Eh, maaf," ucap Ayudia lalu melepas pelukannya pada Dokter Danny.
"Nggak apa-apa. Ayo tidur, sekarang sudah malam," ajak Dokter Danny lalu mulai berbaring di atas tempat tidur Ayudia.
"Mas mau tidur di sini?" tanya Ayudia.
"Iya. Kenapa? Nggak boleh?" tanya Dokter Danny balik.
"Mm... boleh, tapi...." Ucapan Ayudia terputus karena Dokter Danny tiba-tiba menarik tangannya supaya segera berbaring.
"Sebentar, Mas. Aku mau melepas mukena dan ganti piama dulu," ucap Ayudia seraya menolak untuk berbaring.
"Nggak usah ganti kenapa?" cegah Dokter Danny.
"Masa aku tidur pakai tank top begini?" Ayudia tidak mau tidur hanya memakai tank top. Apalagi ada Dokter Danny di dalam kamarnya.
"Nggak apa-apa," balas Dokter Danny lalu menarik mukena Ayudia dan menaruhnya di atas nakas.
Ayudia membelalakkan matanya saat Dokter Danny dengan berani menarik mukena nya dan melihat tubuhnya yang hanya memakai tank top. Ia pun buru-buru berbaring dan menarik selimut hingga menutupi lehernya. Dokter Danny pun ikut masuk ke dalam selimut yang sama dan menoleh pada Ayudia kemudian tersenyum.
"Ayu, boleh tanya sesuatu?" tanya Dokter Danny.
"Iya," sahut Ayudia.
"Mm... kamu masih perawan atau sudah enggak?" tanya Dokter Danny seraya menggigit bibir bawahnya. Sebenarnya ia sedikit ragu untuk menanyakan hal itu, tapi ia ingin tahu.
"Kalau masih kenapa? Dan kalau sudah enggak kenapa?" tanya Ayudia balik.
"Ya... saya berhak tahu kan? Kan sekarang saya suami kamu," balas Dokter Danny.
"Kalau masih kenapa?" tanya Ayudia lagi.
"Kalau masih, ya... alhamdulillah dong, saya jadi yang pertama," jawab Dokter Danny dengan tersenyum senang.
"Memangnya saya mau?" balas Ayudia dengan menyengir.
"Ya harus mau lah. Sampai kapan kamu akan menolak saya?" balas Dokter Danny dengan tiba-tiba menindih tubuh Ayudia.