Tak dihargai dan dianggap sebagai Istri. Akankah Serra tetap mempertahankan pernikahannya dengan Leo yang sejak awal sudah tidak sehat?!
Tidak ada cinta di dalam pernikahan mereka!!Serra menikahi Leo karena terpaksa. Keluarga angkatnya memiliki hutang yang sangat besar pada keluarga, Leo. Dan karena tak bisa melunasi semua hutang-hutangnya tersebut. Maka Serra yang harus ditumballkan, dan demi balas membalas budi pada keluarga angkatnya, Serra rela menikah dengan pria tak punya hati seperti Leo.
Kehadiran orang ketiga dalam pernikahan mereka, membuat Serra sadar, jika tak ada alasan lagi baginya untuk mempertahankan pernikahannya tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusica Jung 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terserang Penyakit
Serra mengubah posisi tidurnya. Kini tubuhnya menghadap ke kanan. Di mana langsung disambut dengan wajah rupawan seseorang. Yang tak lain adalah suaminya. Serra tersenyum.
Luis Qin, adalah sosok yang sempurna. Lahir dengan wajah rupawan dan berasal dari keluarga yang lebih dari kaya. Dan Serra menjadi istri sah seorang Luis Qin. Pastinya Serra bahagia bukan?
Dan jawabannya iya, Serra sangat bahagia memiliki suami seperti Luis. Yang mencintainya dengan tulus, dan menerima dia apa adanya.
Bahkan Luis tak mempermasalahkannya meskipun dia tak bisa memberikan keturunan padanya.
"Pagi," Luis menyapa dengan kedua mata yang masih tertutup sempurna. Serra tersenyum dan membalas sapaan suaminya dengan kecupan manis dibibir Kiss able-nya. "Jangan memancing ku, Nyonya!!" ucap Luis setelah apa yang dilakukan oleh Serra.
Bukannya meminta maaf pada suaminya. Serra malah terkekeh melihat ekspresi Luis yang menurutnya sangat menggemaskan. "Dasar messum!! Jangan bilang jika sosis beruratmu langsung berdiri setelah aku mengecup bibirmu?" tebak Serra seratus persen benar.
"Kau bisa melihatnya sendiri!!" ucap Luis lalu membuka selimut yang membungkus setengah tubuhnya. Dan benar saja, senjata tempurnya berdiri tegak sekarang.
Menyaksikan Hal itu membuat Serra tertawa keras. Tanpa rasa bersalah sedikit pun. Wanita itu meninggalkan Luis begitu saja dan pergi meninggalkan kamarnya. Serra Pergi ke dapur untuk membantu ibu mertuanya menyiapkan sarapan.
Luis mendengus. Lagi-lagi Serra menggodanya. Dan dia tidak bisa menyerangnya sekarang. Karena Serra Sedang kedatangan tamu bulanan, mungkin dia harus bermain solo daripada kedutan itu menyiksanya lebih lama lagi.
.
.
"Pagi, Ma."
Nyonya Qin menarik sudut bibirnya dan tersenyum lembut menyebut kedatangan menantu kesayangannya. Dia bergeser ke kanan dan memberi tempat untuk Serra. "Pagi juga, Sayang." Nyonya Qin membalas sapaan menantunya.
"Apa yang sedang Mama masak? Aromanya sangat menggugah selera, aku jadi tidak sabar untuk segera mencicipinya," ucap Serra.
Kemudian Nyonya Qin mengambil sendok dan memberikannya pada Serra. Menantunya bilang dia ingin mencicipinya. "Nah, cobalah." Pinta Nyonya Qin. Dengan senyum lebar menghiasi bibir ranumnya. Serra mengambil sendok itu dari tangan ibu mertuanya.
"Masakan Mama memang yang terbaik, sangat lezat."
"Terimakasih, Sayang. Apa kau dan Luis jadi pergi hari ini?" tanya Nyonya Qin. Serra dan Luis berencana pergi ke luar negeri.
Nyonya Qin meminta mereka pergi ke sana. Serra mengatakan dia sangat merindukan ibu dan kakaknya. Makanya Nyonya Qin meminta Serra berdua untuk pergi mengunjungi mereka.
"Tidak, Ma. Mungkin akhir bulan nanti. Luis ada pekerjaan yang tidak bisa dia tinggalkan. Jadi kami tidak jadi pergi hari ini," jawab Serra.
"Baiklah kalau begitu. Sarapan sudah hampir siap. Segera panggil suamimu dan setelah ini kita sarapan bersama." Ucap Nyonya Qin dan di balas anggukan oleh Serra.
"Baiklah, Ma."
.
.
Laki-laki paruh baya itu menghampiri Leo yang sedang meringkuk tak berdaya di lantai. Beberapa hari ini Leo dalam keadaan yang kurang sehat, entah apa yang terjadi padanya tiba-tiba dia menggigil seperti orang kedinginan.
Paruh baya itu menyelimuti Leo dengan selimut miliknya. Berharap selimut itu bisa mengurangi rasa dingin yang dia rasakan. "Leo, apa perlu aku panggilkan petugas supaya mereka mendatangkan dokter kesini?" ucap paruh baya itu.
Leo menggelengkan kepala. "Itu tidak perlu, Paman. Aku tidak apa-apa," ucapnya meyakinkan.
"Tidak apa-apa bagaimana, jelas-jelas kau tidak baik-baik saja. Bahkan kau terlihat sangat pucat, apa seperti ini bisa dibilang baik-baik saja?!" paruh baya itu menatap Leo dengan marah.
Leo merubah posisinya. Dia duduk bersandar pada tembok di belakangnya. Pandangannya lurus ke depan, sepertinya penyakit itu benar-benar menyerangnya. Karena beberapa tanda-tanda yang ia alami akhir-akhir ini persis seperti tanda orang yang terkena penyakit kellamin.
Dia berpikir dengan keras, seingatnya Leo tidak pernah berhubungan dengan siapapun selain Lia. Dan penyakit itu tidak bisa menular begitu saja tanpa berhubungan baddan, dan dia berpikir jika mungkin Lia yang membawa penyakit tersebut lalu menularkan pada dirinya.
Leo tiba-tiba tertawa sendiri. Jika penyakit itu benar-benar menyerangnya, itu artinya hidupnya tidak mungkin bisa terselamatkan. Cepat atau lambat, dia akan mati. Sungguh akhir yang tragis baginya.
.
.
Bersambung.
sungguh mantap ✌️🌹🌹🌹
terus lah berkarya dan sehat selalu 😘😘