Mencintaimu,...
seumur hidupku...
Selamanya, setia menanti.
Walau di hati saja,
seluruh hidupku.
Selamanya, kau tetap milikku...
Cinta pada pandangan pertama, cinta pertama, dan dia juga yang pertama mencium bibir ini hingga membawaku pada perbuatan yang dilarang agama.
Tapi setelah itu, dia mencampakkanku. Lalu kembali lagi ketika ada pria lain yang mengaku begitu mencintaiku setulus hati.
Mana yang harus kupilih? Dirimu atau dirinya? Yang pertama? Ataukah berharap yang terakhir?
-Sheila Herfiza-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AMY DOANK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KBAS 29
Nirina menangis mendengar niatan Zein yang ingin memberikan panggung pelaminan untuk Sheila dengan Anggara.
"Gege! Bagaimana bisa kamu berlaku seperti itu? Ini tidak adil bagimu! Sungguh tidak adil! Hik hik hiks..."
"Sudahlah, Ma! Sheila berhak bahagia! Gege telah memberinya noda hitam yang tak kan pernah hilang sampai kapanpun. Bahkan sampai Sheila serta Gege mati."
"Gege... hik hik hiks... kenapa hatimu mulia sekali? Seandainya kamu mau egois dan juga minta pertanggungjawaban atas tubuhmu yang jadi cacat begini juga karena mencari uang untuk menikahi Sheila di masa lalu. Seandainya Sheila berfikir jauh lebih dalam lagi mengingat betapa kamu begitu mencintainya! Tapi,... ya Tuhan. Hik hiks .."
Zein merengkuh bahu Nirina. Mencoba memberikan kekuatan kepada perempuan yang telah menganggap dirinya seperti anak kandung sendiri.
Sheila turut bersedih melihat Nirina yang merapuh.
"Maaf, Tante! Saya, saya tidak tahu harus bagaimana dan berbuat apa untuk memberikan pengertian kepada Tante. Mungkin ini adalah takdir yang harus saya jalani. Juga Zein dan Anggara. Kami... sepertinya memang harus seperti ini karena Allah Yang Maha Mengatur."
"Ya, Sheila! Tante berusaha menerima nasib dan takdir Gerald Alfaro yang membuat hati ini miris!"
"Tante, kumohon... tolong jangan bilang tentang rencana pernikahan saya dengan Anggara lebih dahulu sampai tiba waktunya nanti. Maaf, ya Tante!"
Sheila mencoba bernegosiasi dengan Nirina untuk tidak membuka rahasia rencana mereka sampai hari H.
...........
Hari yang telah ditentukan Zein, Sheila dan Anggara pun tiba jua.
Sheila yang telah berdandan rapi ala pengantin tradisional Jawa Barat terlihat sangat cantik.
Begitu pula Zein. Pria itu memakai pakaian kebesaran khas pengantin Sunda yang gagah dan tampan berwibawa.
Hingga waktu yang telah ditentukan, saatnya untuk mereka duduk di meja ijab kabul. Zein dan Sheila masih menunggu kehadiran Anggara hingga detik-detik terakhir.
Nomor ponsel Anggara susah dihubungi.
Kekasih hati Sheila itu tidak dapat terdeteksi keberadaannya hingga Zein terus didesak Bernard dan Yusherlan untuk segera melakukan sumpah janji pernikahan di hadapan penghulu dan para saksi juga wali hakim.
Niatan Zein menikahi Sheila hanya untuk hitungan jam saja. Setelah Anggara hadir di pesta pernikahan, Zein akan langsung mengucapkan talak hingga Sheila menyandang status janda pada saat itu juga.
Namun hingga waktu ijab kabul tiba, Anggara tak kunjung datang. Sampai Zein resmi jadi suami Sheila, Anggara tidak menampakkan batang hidungnya.
Ada apa dengan Anggara? Kemana Anggara? Kenapa belum juga datang ke tempat pernikahan Sheila dan Zein?
Kedua pasangan pengantin itu hanya saling bertatapan bingung.
Bahkan sampai pesta pernikahan usai, Anggara tak kunjung datang dan Zein belum berani mentalak Sheila dihadapan banyak orang. Belum ada Anggara yang akan bertanggung jawab atas keadaan Sheila kedepannya. Sehingga Zein memutuskan untuk menunda ucapan talaknya.
Setelah pesta usai, Sheila pergi di antar Zein ke rumah Anggara.
Tidak ada siapa-siapa, kecuali Venny Zahra dan Alya. Anggara sedang pergi keluar rumah katanya sedari pukul tujuh pagi.
Tentu saja Zein dan Sheila menjadi khawatir.
"Mama...! Apa Mama tahu kemana Anggara pergi?"
"Katanya ketempat yang penting, Shei! Mama sendiri gak tau kemana lebih tepatnya!"
Sheila dan Zein hanya bisa termenung. Berdoa semoga Anggara dalam keadaan baik-baik saja.
Hingga beberapa menit kemudian,
"Ma, Ma! Aku sudah dapat pekerjaan yang bagus di luar kota. Kita bisa tinggal di mess kantor. Aku bisa menjaga kalian berdua!"
Sheila termangu, Anggara berdiri di depan pintu depan wajah kikuk. Ternyata, Anggara mengingkari janji untuk menyaksikan pernikahan Sheila dengan Zeinul Abidin Taher.
"Sheila, maaf... Aku, Aku sengaja tidak datang di pesta pernikahan kalian. Aku, tidak percaya diri pada diriku sendiri. Kau adalah pemilik perusahaan sedang Aku, hanyalah karyawan biasa yang justru adalah basahanmu. Meskipun Aku mencintaimu dengan begitu besarnya, tetapi dalam pernikahan cinta saja tidaklah cukup, Sheila! Harta juga perlu. Uang juga penting. Aku, tidak punya itu semua. Maaf, Aku memilih mundur dari hubungan percintaan kita!"
"Ga. Secepat itu kamu memutuskan hubungan kita yang baru seumur jagung? Tidakkah kamu ingin kita bahagia bersama, Ga?"
"Shei! Kamu dan Aku, sepertinya akan sulit bersatu. Kita... susah untuk hidup bersama. Papamu, telah menghancurkan kehidupan Mamaku. Sangat sulit rasanya bagiku untuk menghilangkan rasa benci yang mendalam pada dia. Sedangkan kau begitu mencintai dan pastinya menyayangi Pak Yusherlan. Ini... adalah pilihan yang sulit, Sheila! Aku tidak bisa memilih antara kamu atau Mamaku! Pilihanku pastinya adalah Mamaku. Orang yang telah melahirkanku ke dunia!"
Sheila terisak.
Dadanya sesak.
Air mata terus meluncur membasahi pipinya yang merona karena bush on riasan pengantin yang belum Ia hapus sedari siang hari.
Sheila menangis pergi meninggalkan rumah Anggara.
Hatinya patah untuk yang kedua kali.
Cintanya layu sebelum berkembang. Sama seperti ketika Ia masih remaja dahulu. Sama pedihnya saat Zein pergi tinggalkan dirinya yang diketahui hamil benih yang ditanam.
Kini Sheila dan Zein hanya duduk diam di dalam mobil bagus Zein.
Tak ada suara yang keluar dari bibir keduanya.
Hanya sesekali terdengar deru motor dan mobil yang lewat melintas di samping jalan.
Sheila menangis sedih sekali. Dan Zein berusaha menghibur dengan memberikan punggung belakangnya pada Sheila.
Sheila yang merasa sedih dan sakit hati memukul-mukul bahu Zein sebagai pelampiasan.
"Bodoh kau Ga! Bodoh! Sangat bodoh! Hik hik hiks... Aku memasang badan untuk memilihmu, Aku menaruh harapan besar padamu. Tapi ternyata nyalimu tak sekuat yang kuharapkan. Hik hik hiks... Dasar pria lemah! Huaaa...huaaa..."
Sheila menangis keras.
Hatinya kian pedih. Anggara hanyalah pria pengecut yang berhasil memporak-porandakan hatinya jadi hancur berkeping-keping.
Zein tak berani ucapkan sepatah katapun. Karena Ia juga pernah mengecewakan Sheila di masa lalu.
Sungguh takdir memang kejam. Sepahit ini hidup yang harus Ia jalani.
Mungkin Tuhan punya rencana lain untuk hidup mereka lebih baik di masa depan.
BERSAMBUNG
next lgi...
buat nyicil.
salam dari novel terbaruku yg berjudul menuju bahagia
cinta 3 serangkai hadir kk...