Caitlin Magnolia, seorang gadis cantik yang jatuh cinta pada Aaron Smith, vampire cerdas dan tampan pemilik perusahaan mebel tempat Caitlin bekerja. Aaron berusaha menyembunyikan jati dirinya sebagai seorang vampire, namun seiring berjalannya waktu akhirnya Caitlin mengetahui bahwa Aaron merupakan sesosok vampire.
Perbedaan ras tak menyurutkan cinta di antara mereka, bahkan Aaron memberanikan diri untuk memperkenalkan Caitlin ke keluarga vampir-nya. Hal ini tentu saja menimbulkan goncangan pada hubungan mereka.
Keluarga besar vampir dari orangtua Aaron, dengan keras menentang hubungan mereka, bahkan Frank Smith, paman dari Aaron mengancam nyawa Caitlin jika Aaron tak memutuskan hubungan kisah asmaranya.
Lantas bagaimana mereka menyelesaikan masalah ini?
Kelanjutan kisahnya dapat kalian baca di novel The Hunter Bloods.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER - 30
Keesokan harinya Caitlin terbangun dalam kondisi yang sudah lebih baik, meski rangan-tangannya masih dipenuhi slang infus, dan ada sesuatu direkatkan di wajahnya tepatnya di bawah hidung.
Caitlin mengangkat tangannya untuk melepaskan selang di hidungnya yang terasa sedikit mengganggu.
“Jangan, tidak boleh.” Jari-jari dingin menangkap tangannya.
“Aaron?” Caitlin menoleh sedikit, dan wajahnya yang tampan hanya beberapa senti darinya. Aaron meletakkan dagunya di ujung bantal, sekali lagi Caitlin menyadari dirinya masih hidup, dengan perasaan bersyukur dan bahagia. “Oh, Aaron, aku benar-benar menyesal pergi diam-diam darimu!”
“Ssssttt,” Aaron menyuru Caitlin diam.
“Sekarang semuanya baik-baik saja.”
“Apa saja yang terjadi?” Caitlin tak bisa mengingat dengan jelas, yang ia tahu sesaat sebelum hilang kesadaran dirinya mendengar suara Aaron, Sean, Jesse dan dr.Smith yang menolongnya.
“Maafkan aku, aku nyaris terlambat,” Aaron berbisik, suaranya terdengar menyesal.
“Aku bodoh sekali, Aaron. Kupikir dia menyandera ayahku.”
“Dia mengelabuhi kita semua, Caitlin. Bahkan dia bukan pamanku.”
"Maksudmu?" Caitlin terkejut mendengar pria yang mencelakai dirinya bukanlah pamannya.
Kemudian Aaron bercerita jika pria yang mencelakai Caitlin adalah salah satu kawanan yang ikut bersama Alyssa saat, dia ke Indonesia. Alyssa bukan hanya mengajak saudara sepupunya saja, melainkan temannya yang bernama Jack.
Jack sangat terobsesi pada Caitlin, ketika ia tak berhasil mendapatkannya ketika malam saat Caitlin mengantar Helen mencari gaun pesta, dari situlah ia berusaha mencari strategi untuk mendapatkan Caitlin.
"Kebetulan Jack memiliki kekuatan merubah wajah, ia kemudian menyamar sebagai pamanku, dan membuat sekenario seolah keluargaku menentang hubungan kita," ucap Aaron dengan wajah serius, ia kemudian melanjutkan lagi ceritanya. "Saat Jack tahu bahwa aku mengelabuhi dengan Jesse mengenakan jaketmu, dia merubah sekenario dengan memperalat ayahmu. Dia tidak bisa menggunakan eyangmu karena ada mommyku yang menjaga eyang, untuk itulah Jack ke Jakarta."
"Dia menemui ayah? Tapi kata ibu tiriku ayah ke Solo sendirian."
Aaron menggeleng. "Dia hanya menghubungi ayahmu, berpura-pura menjadi dosenmu, ia mendapatkan nomor telepon dan alamat ayahmu dari staff kampus. Dia menunggu saat rumahmu kosong, dan ia menyelinap untuk mengambil video rekaman kebersamaan keluargamu, lalu dia kembali terbang ke Solo dan menggunakan video itu untuk memperalatmu."
Caitlin bergidig ngeri, betapa terencananya aksi Jack demi mencelakainya.
"Dia bukan hanya memiliki kemampuan merubah wajah, melainkan memiliki kemampuan menghilang dari pandangan masa depan Sean. Sehingga Sean tak bisa melihat rencana kejahatannya, tapi untung saja kami bisa menyelamatkanmu," Aaron meraih tangan Caitlin dan menggenggamnya erat. "Aku takut sekali kehilanganmu sayang," ia menciumi tangan Caitlin.
"Lalu sekarang Jack di mana?" tanya Caitlin penasaran akan nasib Jack. "Apa mungkin vampir bisa di penjara?"
Aaron menggeleng. "Tentu saja tidak, mana ada polisi yang mau memasukkan makhluk buas ke penjara," jawabnya. "Tak ada cara lain untuk menghentikannya, kami terpaksa memenggal kepalanya, kemudian membakarnya. Hingga menjadi abu tak tersisa."
Caitlin membekap mulutnya dengan tangannya. "Kau membunuhnya?"
"Jesse dan Sean yang melakukannya, aku hanya melemparkan api ke tubuhnya yang sudah tanpa kepala," terang Aaron. "Semuanya sudah berakhir, sayang. Kau tak lerlu cemas lagi."
“Tapi aku harus menelepon eyang dan ayahku, mereka pasti mengkhawatirkanku,” ucap Caitlin cemas.
“Mommy, eyang dan ayahmu sedang dalam perjalanan, kau tidak perlu khawatir." Aaron mengelus kepala Caitlin dengan lembut. "Aku mencintaimu," Aaron mengecup bibir Caitlin sesaat sebelum orangtua Caitlin datang.
"Ooh cucuku sayang," Lauren berhambur memeluk Caitlin. "Jesse bilang kalau kamu mengalami ke celakaan saat perjalanan pulang menuju Solo."
Wajah Caitlin berubah menjadi bingung, ia menatap Aaron dari balik punggung Lauren. Aaron memberi kode kepada Caitlin untuk mengiyakan saja, karena itu adalah rencana yang mereka susun, mereka tak mungkin mengatakan jika Caitlin di buru oleh vampir jahat, sehingga Sean yang membawa mobil Caitlin terpaksa sedikit merusaknya, membuatnya seolah-olah telah terjadi kecelakaan.
"Ya, karena aku sedikit lelah dan mengantuk sehingga aku hilang kendali dan mengalami kecelakaan," Caitlin sedikit mengarang. "Tapi kondisiku sudah jauh lebih baik, daddynya Aaron sudah merawatku dengan baik."
Caitlin menatap Lauren dalam-dalam. "Eyang, maafkan aku karena kemarin aku pasti membuat eyang terluka dan cemas," ucap Caitlin dengan rasa penyesalan.
Lauren menggeleng. "Tidak sayang, memang seharusnya eyang tak memperlakukanmu seperti bayi lagi, karena kau sudah dewasa." Sejujurnya Lauren melakukan hal tersebut lantaran ia merasa hanya Caitlin yang ia miliki dunia ini setelah kepergian putrinya.
"Tidak eyang, aku senang terus menjadi bayi mungilmu." Caitlin mencium tangan eyangnya sudah di penuhi oleh keriput.
Perlahan Dion mendekat ke arah Caitlin, wajahnya tertunduk lesu melihat putrinya terbaring lemah di atas tempat tidur. "Maafkan ayah, sayang," ucapnya dengan penuh rasa penyesalan. "Selama ini ayah terlalu sibuk dengan pekerjaan dan Claire, ayah tak sempat memperhatikanmu." Dion menggelengkan kepalanya.
"Tapi ayah sudah melayangkan gugatan perceraian kepada Claire, lewat pengacara ayah."
Lauren dan Caitlin terkejut mendengarnya, mereka langsung menatap Dion. 'Pantas saja saat aku meneleponnya sepertinya Claire sangat membenciku,' batin Caitlin. "Mengapa ayah menceraikannya?" Caitlin bertanya sesuatu yang sebenarnya ia sudah menebaknya.
"Dia berselingkuh, dia hanya menginginkan uang ayah saja," wajah Dion terlihat seperti menahan malunya terhadap Lauren dan juga putrinya yang sejak awal tak menyukai hubungannya dengan Claire.
"Maukah kau tinggal bersama ayah lagi di Jakarta?" punya Dion dengan penuh pengharapan. "Rumah kita sudah tidak ada Claire lagi."
Caitlin menatap wajah eyangnya, kemudian beralih ke Aaron. Dua orang yang kini paling ia sayangi. "Maaf ayah aku tidak bisa," tolaknya. "Aku tidak bisa meninggalkan eyang dan Aaron, aku sudah terlanjur nyaman tinghal di sini."
Dion mengangguk kecewa, sebenarnya ia sudah menduga hal ini, terlebih saat ia mengetahui hubungan putrinya dengan Aaron. "Ya, ayah tahu itu, nak."
Caitlin meraih tangan Dion dan menggenggamnya. "Tapi aku janji, akan rutin menghubungi ayah dan akan sering mengunjungi ayah di Jakarta," janji Caitlin sungguh-sungguh.
Dion mengangguk setuju. "Baiklah kalau begitu," ia beralih menatap Aaron. "Berikan waktu libur extra untuk putriku," ucap Dion sembari tertawa dan menepuk bahu Aaron.
"Aku yang akan menemaninya setiap kunjungannya ke Jakarta," jawab Aaron.
Seketika Lauren berpaling dari Caitlin dan menoleh ke arah Aaron. "Aku tidak suka kau terus menempel pada cucuku tanpa ikatan yang jelas!!"
"Kalau begitu izinkan aku menikahinya," ucapan Aaron terdengar halus namun sangat serius, ia berjalan mendekat ke arah tempat Caitlin. "Maukah kau menikah denganku?"
Caitlin sangat terkejut, lidah terasa kaku untuk menjawab pertanyaan Aaron. Ia takut jika keluarga besar Aaron ternyata menentang hubungannya dan terjadi pertikaian. Caitlin menatap satu persatu keluarga Aaron yang berada di ruangannya.
Sean, Laura, dan dr.Smith kompak menganggukan kepala, seraya memberikan restunya kepada Caitlin.
YESS i Will😄😄😄
Catlin maksudnya 😄😄😄
akhirnya kebahagiaan itu menyertaimu cat pikir keri yak gimana nanti akhirnya pokoknya kawin dulu eh nikah🏃🏃🏃
hmmmm masuk perangkap Frank kan go Aaron selamatkan Catlin
harta, tahta dan rupa