Menceritakan keluarga sombong yang sangat kaya di kota namun di benci banyak orang.
Ada seorang petani yang pernah datang untuk meminjam uang pada keluarga yang kaya ini untuk berobat anaknya yang sedang sakit parah.
Tak di sangka bukannya pertolongan yang di beri oleh keluarga kaya ini tapi tindasan yang bertubi-tubi pada petani ini.
Karena tersinggung dan tidak terima akan perlakuaan keluarga kaya, petani membantai semua keluarga sombong itu.
Hingga akhirnya rumah itu sangat angker, arwah keluarga yang kaya dan sombong itu penuh dengan kebenciaan dan dendam.
Berpuluh tahun kemudian ada sepasang suami istri yang membeli rumah keluarga sombong itu dengan harga murah, tak di sangka ternyata rumah itu berhantu.
Namun sang istri ternyata bisa berkomunikasi dengan arwah yang penuh dendam itu, Apa yang akan terjadi dengan sepasang suami istri serta keluarganya? Akankah misteri di balik pembantai itu akan terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alsya suci maesya putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Cia belum juga sadarkan diri.
Happy reading readers 📖📖
Tolong bantu aku naiki rate, like dan vote ya readers.👉👈😅😘
......
"Vivian jangan takut! Kamu harus berani! Lawan rasa takutmu!" Vivian memberanikan diri.
Vivian berusaha mengambil ponsel dengan cepat namun tetap kalah cepat oleh sosok pria yang memegang potongan tangan.
Sosok itu melirik tajam Vivian dengan terus tertawa sembari menjatuhkan tangan di atas ponsel Vivian.
"Ka kamu, a apa mau mu?" Tanya Vivian memberanikan diri.
"Hihihihi.. Pembunuh...! Harus...! Mati...! Hihihihi...." Ujar sosok pria pemilik potongan tangan.
"Pembunuh? Siapa pembunuh? Aku tak mengerti!" Tanya Viviam pada sosok pria pemilik potongan tangan.
"Hihihihihi..... Hahahaha.... Huhuhu... Hahahaha... Hisk hisk.. ...." Sosok pria pemilik potongan tangan itu tertawa serta menangis merintih kesakitan dengan suara yang terdengar mengerikan.
Vivian sangat terkejut dengan suara tawa serta tangis merintih kesakitan dari sosok pria pemilik potongan tangan.
Suara itu sangat mengerikan hingga membuat sekujur tubuh Vivian bergetar karena merinding.
"Apa pertanyaan ku ini salah? Mengapa sosok pria pemilik potongan tangan ini seperti sangat terpukul? Apa yang sebenarnya terjadi pada sosok pria pemilik potongan tangan itu?" Batin Vivian bertanya-tanya.
Sosok pria pemilik potongan tangan itu tiba-tiba berhenti tertawa dan menangis merintih kesakitan. Sosok ini diam tanpa ekspresi.
"......" Vivian kebingungan dengan sosok pria pemilik potongan tangan yang tiba-tiba diam tanpa ekspresi.
Suasana tiba-tiba mencekam di dalam mobil di penuhi dengan aura dendam dan kebencian.
Sosok pria pemilik potongan tangan itu mendekat pada Vivian dengan mata melotot nyaris mau keluar.
"Tidak! Jangan sakiti aku! Jangan!" Teriak Vivian menutup mata gemetaran terkejut dengan sosok pria pemilik potongan tangan yang terlihat sangat marah.
Pakk...
Lio menyentuh bahu Vivian.
"Uwaaaaa!!!!!" Teriak Vivian gemetaran.
"Vi! Ini Kakak! Kamu kenapa lama sekali mengambil ponsel nya dan mengapa kamu berteriak seperti orang ketakutan?" Tanya Lio penasaran.
"Ah eh, Kakak ya! Aku kira siapa" Vivian menghela nafas panjang melihat ke depan.
"Aneh, setiap orang lain datang pasti sosok apa pun itu akan pergi meninggalkan ku!" Batin Vivian
"Sudah naik ke atas yuk! Kakak pulang sebentar untuk melihat Cia pingsan. Cia belum sadarkan diri sampai sekarang." Tutur Lio menjelaskan pada Vivian.
"Pingsan? Cia pingsan? Kenapa bisa pingsan Kak?" Tanya Vivian khawatir.
"Tidak tahu, Ibu belum menceritakan apa pun pada Kakak." Jelas Lio dingin.
"....." Vivian terdiam.
"Ayo!" Lio berjalan duluan.
"Iya Kak." Vivian berjalan mengikuti Lio.
"Apa aku melakukan kesalahan lagi? Mengapa kak Lio sangat dingin kepada ku?" Batin Vivian.
"Vivian berapa banyak rahasia yang kamu sembunyika. dari aku? Bahkan kamu keluar pun tidak mintak izin dari aku!" Batin Lio kecewa.
Suasana hening sepanjang perjalanan menuju kamar Cia.
"Ibu, apa Cia belum juga sadar?" Tanya Lio pada Ibu.
"Belum nak, Ibu sangat khawatir Cia kenapa-napa nak!" Ibu bersedih.
Cia yang terbaring tidak sadarkan diri namun air mata nya mengalir.
"Aneh, mengapa Cia yang sedang tidak sadarkan diri bisa menangis? Batin Vivian.
"Ibu, Cia menangis!" Vivian khawatir.
"Iya Ibu dari tadi menunggu Cia siuman namun belum juga siuman. Aneh nya Cia terus mengalirkan air mata." Ibu menangis.
"Ibu, kapan Cia pingsan?" Tanya Vivian.
"Ibu tidak tahu nak, tadi Ibu mendengar Cia teriak histeris lalu Ibu mengejar Cia ke halaman namun Ibu mendapati Cia sudah tidak sadarkan diri nak." Ibu menangis.
"Ibu, bagaiman jika kita bawa Cia ke rumah sakit?" Tanya Lio memberi saran pada Ibu nya.
**Bersambung..
Salam dari...
❤️Yang ku cinta ternyata anak kandung ayah ku💔
❤️Kisah rumah angker👻
❤️Beautiful ceo love story💖
❤️Bereinkarnasi menjadi istri boss dingin💖
❤️Pacarku Sahabat Mantanku💖**
vivian jg ga bilang aja ke suaminya klo dia bisa lihat mereka 😔😔