Bagaimana jadinya jika persahabatan yang di jalin begitu lama, ternyata menimbulkan benih benih cinta ?
Ya, itulah yang di rasakan oleh Sasikirana, seorang gadis yang masih duduk di bangku SMA.
Si gadis tomboy, dan selalu menjadi biang ribut di sekolah, siapa yang menyangka ternyata memiliki perasaan cinta pada sahabatnya sendiri.
Akankah Sasi jujur dengan perasaan nya ? ataukah dia akan mengubur dalam dalam perasaan itu ?
Ikuti terus kisah nya, Sasi si gadis tukang bikin rusuh.
Happy Reading 🌹
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ratu_halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cherika Nayyara
"sabar cher sabar, tahan dulu beberapa bulan lagi !" gumam cheri sang sekretaris memberi semangat pada dirinya sendiri,
Cherika Nayyara, sekretaris pribadi bian yang dia pilih sendiri secara langsung di antara beberapa pelamar lainnya, entah apa alasan bian memilih wanita yang akrab di panggil cheri itu sebagai sekretaris pribadinya,
Tapi yang pasti hanya cheri yang bisa tahan dengan sikap bian selama hampir satu tahun terakhir ini, bian yang biasa bersikap konyol bersama orang orang terdekatnya malah berbanding terbalik dengan sikap yang dia tunjukan kepada bawahannya, dia adalah sosok yang di segani karna jarang sekali tersenyum bahkan tidak pernah membalas sapaan para bawahannya,
Sebenarnya cheri sudah ingin mengundurkan diri dari perusahaan itu, tapi saat dia sudah siap untuk memberikan surat itu selalu saja ada halangan. Tapi kali ini tekad nya sudah bulat, 3 bulan dari sekarang dia akan mengundurkan diri sebagai sekretaris bian. Karna dia hanya butuh waktu 3 bulan lagi untuk melunasi hutang keluarganya.
kring kring
Suara telepon di meja cheri, dia pun langsung mengangkat gagang telepon itu,
"Keruangan saya sekarang !!" pekik suara dibalik telepon itu seketika membuat cheri menarik nafas panjang
"salah apa lagi gue ?"
"baik pak" jawab cheri tapi telepon itu langsung ditutup, entah bian mendengar apa tidak jawaban cheri itu,
Tok..Tok
Ceklek,
Cheri langsung masuk ke ruangan bian,
"ada apa pak ?" tanya cheri,
bian melempar beberapa map di meja, cheri seketika membeku, dia takut dengan tatapan bian yang seperti akan memakannya hidup hidup,
"kenapa pak ?" tanya cheri
"kamu tanya kenapa ?" tanya bian lalu dia bangun dari tempat duduknya dan langsung berjalan ke arah cheri,
"sudah saya bilang, jangan terima kerjasama dengan perusahaan A !! Kenapa kamu lancang sekali membuat janji temu tanpa mengkonfirmasi dengan saya dulu ?" bentak bian,
Cheri bingung, seingatnya dia tidak pernah membuat keputusan tanpa seizin bosnya itu,
Cheri langsung mengambil berkas dan memeriksanya di hadapan bian,
"Maaf pak, tapi ini bukan dari perusahaan A, dan saya juga sudah konfirmasi ke bapak beberapa hari yang lalu mengenai perusahaan yang meminta kerjasama dengan perusahaan bapak !" jawab cheri,
Bian memijat keningnya,
"kamu tahu ? itu adalah anak perusahaan A !! Pokoknya saya tidak mau tahu, kamu batalkan sekarang juga !!" bentak bian
"Baik pak," jawab cheri cepat, cari aman agar tidak kena omelan lagi,
brug,
Cheri menjatuhkan beberapa map itu tepat di depan bian dan menyebabkan isi di dalam nya berhamburan keluar,
"ck, selalu saja ceroboh !!" ucap bian
Tanpa menjawab ucapan bian, cheri langsung menunduk untuk mengambil map yang isinya sudah berserakan di lantai.
dengan posisi cheri yang bertumpu pada kedua lututnya di hadapan bian, pasti akan membuat salah paham siapapun yang melihatnya,
Ceklek
Tanpa mengetuk dulu, sasi langsung membuka pintu tersebut,
"Ooppss.. Sorry !!" ucap sasi sambil tersenyum saat melihat sesuatu yang mengejutkan di hadapannya,
*
Flashback Off
*
Cheri langsung berdiri, setelah mendengar ada suara wanita dari arah belakangnya,
"cantik sekali !"
"Maaf," ucap cheri saat membalikkan badannya dan melihat wanita muda cantik dan anggun berdiri di hadapannya,
"Cepat kerjakan yang tadi saya minta, jangan sampai salah lagi !!" usir bian
Cheri pun tersenyum getir, dia lalu berjalan melewati sasi dan keluar dari ruangan itu,
"Kak !!" seru sasi tidak percaya kakaknya bersikap seperti itu pada bawahannya,
"kenapa ?" tanya bian yang memang masih kesal atas kejadian tadi
"kenapa kakak bersikap seperti itu ?"
"sudahlah, kamu gak perlu tau !" bian langsung berjalan ke tempat duduknya lagi,
"kamu temui sekretaris kakak tadi, dan minta dia untuk mengantarkan kamu ke ruangan wakil CEO !!"
Sasi yang melihat kemarahan dari raut wajah kakaknya pun hanya bisa mengikuti perintahnya lagi tanpa mau bertanya lebih lanjut, dia akan memberikan waktu agar kakaknya lebih tenang,
Sasi pun meninggalkan ruangan itu, dan langsung menemui sekretaris kakaknya,
Ceklek
Pintu di buka dari dalam, membuat Cheri langsung bangun dari duduknya,
"hai," ucap sasi menyapa dengan lembut "bisa tolong tunjukkan dimana ruangan wakil ceo ?" tanya sasi
"wakil ceo ? Untuk apa dia menanyakan ruangan wakil ceo ?"
"haloo.." sasi melambaikan tangannya tepat di depan wajah sekretaris kakaknya,
"oh, maaf maaf, mari saya antar !" ucap cheri lalu berjalan lebih dulu dengan Sasi mengekor di belakangnya,
Ceklek
"Ini ruangan nya" ucap cheri sambil membukakan pintu ruangan itu untuk sasi,
"terimakasih," kata sasi dengan tersenyum ramah,
"maaf boleh saya bertanya ?"
"silahkan.." jawab sasi ramah
"apa mba wakil ceo disini ? Maaf sebelumnya, karna selama saya disini, belum pernah bertemu dengan wakil ceo perusahaan ini, dan ruangan ini pun selalu kosong,"
sasi tersenyum "saya juga belum tau posisi saya disini sebagai apa ? Saya hanya mengikuti perintah bos besar saja, he he he" jawab sasi sekena nya sambil terkekeh,
Cheri pun tersenyum mendengar jawaban sasi, "emm, maaf kalau begitu saya permisi dulu, karna masih banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan" ucap cheri pamit dan sasi dibalas anggukan kepala oleh sasi
Setelah itu cheri kembali lagi ke meja kerjanya bertepatan dengan bian yang keluar dari ruangannya,
deg
Mata mereka seketika bertemu, saling menatap dan menyelami sorot mata dari orang yang ada hadapannya masing masing,
"ekhem.." bian berdehem untuk menetralkan kembali pikirannya, dan cheri yang sadar pun langsung memalingkan wajahnya dan segera berjalan ke mejanya,
"sudah selesai ?" tanya bian datar
"belum pak," jawab cheri
"kalau belum kenapa kamu malah jalan jalan ?" tanya bian lagi mengintimidasi
"siapa yang jalan jalan ?" tanya cheri kesal "tadi istri bapak itu meminta saya untuk mengantarkan nya ke ruangan wakil ceo !"
bian mengerutkan keningnya,
"istri gue?" tanya bian dalam hati bingung dengan ucapan sekretarisnya
Setelah mengucapkan itu cheri pun langsung duduk di tempatnya, dan mulai mengerjakan tugasnya kembali tanpa mau berbicara lagi dengan bos yang super menyebalkan itu,
Sementara bian langsung berjalan meninggalkan cheri menuju ke ruangan dimana adiknya berada,
Tanpa mengetuk pintu bian langsung masuk ke ruangan itu,
"dek," sapa bian yang melihat sasi sedang duduk di kursi bekas kebesarannya,
sasi pun mendongakkan kepalanya,
"keluar yuk, kakak suntuk !" ajak bian
tanpa banyak bicara, sasi segera mengambil tasnya dan berjalan ke arah bian,
Mereka berdua meninggalkan ruangan itu lalu berjalan bersama menuju lift khusus,
Setelah tiba di parkiran bian langsung meminta sasi untuk naik,
**
Di mobil,
"kak.."
"hem.."
"aku mau tanya, boleh ?" sasi takut takut untuk memulai pembicaraan
bian pun mengangguk tapi pandangannya tetap lurus ke depan,
"kenapa kakak bersikap seperti itu ke sekretaris kakak tadi ?" tanya sasi pelan,
bian menarik nafasnya pelan,
"kamu tau apa yang udah dia lakuin ? dia udah lancang banget nerima kerjasama dari perusahaan A !"
"hah ? perusahaan A ?"
...****************...