Pernikahan Lusia Mu dan Erald Liu, sebagai bukti konspirasi kerjasama dua perusahaan besar.
Tapi Lusia dan Erald, memiliki karakter yang sangat bertolak belakang, dan hanya saling mengira pernikahan ini hanyalah kontrak selama proyek berlansung. Proyek selesai, pernikahan pun harus berakhir.
Namun ayah Lusia meninggal tidak lama setelah hari pernikahan, dan telah mengubah wasiat pernikahan mereka harus berlangsung untuk selamanya.
Bagaimana dengan cinta baru yang datang? Aaron Shin, yang telah rela meninggalkan tunangannya hanya untuk merebut seorang wanita yang telah bersuami.
**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eouny Jeje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengantin Tanpa Riasan
...**Cast Ilustration: Erald Liu...
...( By. Dva Searching**)...
Part 30.
"Aku rasa dia terpaksa menikah. apakah terjadi sesuatu dalam kamar?" Helena dan yang lain mulai panik.
"Jangan sampai dia melakukan hal yang tidak wajar." Helena panik dan mulai menduga-duga mempelai wanita mengakhirinya hidupnya pada hari pernikahannya.
Alea berusaha menenangkan diri, tidak ingin berpikir buruk. Lagi pula, Nona muda Mu hidup dalam pengasuhannya selama ini, banyak karakter kuat dalam gadis itu. Nona muda Mu tidak akan serapuh itu. Alea kembali ke pemindai pintu, dan berteriak keras memanggil.
"Nona muda Mu, hari ini kau menikah!"
"Nona muda Mu, hari ini kau menikah!"
"Nona muda Mu!"
Lusia terhenyak, matanya melebar seketika dia tanpa sengaja terusik dengan suara speaker pintu di sisinya ranjangnya.
"Nona muda Mu, hari ini kau menikah!"
Lusia segera duduk beranjak bangun, mencari remote dan menekan tombol pembuka pintu. Sangat jelas, raut wajah masih terlihat sangat mengantuk .
Helena bersama tim perias dam tim busana segera masuk dalam kamar, dan semua di kejutkan dengan ucapan gadis itu dengan santai.
"Maaf, aku baru bangun ..., aku akan segera mandi." Lusia berjalan acuh dan tidak acuh, melangkah masuk kamar mandi, tanpa ada rasa cemas mengikutinya. Dia hanya mengira, dia tidak terlambat bangun pagi.
Helena menelan rasa cemasnya, di kala semua terasa sibuk mempersiapkan, mempelai wanita terlihat tidak perduli dengan hari pernikahannya.
Menunggu 30 menit.
Helena mengedipkan matanya, ketika melihat jam tangannya. Saat ini, seharusnya mempelai wanita telah berjalan di atas karpet merah menuju altar. Namun yang terjadi saat ini, sang mempelai wanita baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut yang tergerai basah.
"Nona, anda telah melewati sesi altar."
Lusia terlihat bingung sebentar, dan baru menyadari ketika sebuah telepon masuk untuk Helena, dan wanita setengah paruh baya itu berbincang sebentar.
"Tuan, maaf .... Nona muda Mu, sedang akan berdandan. Dia baru bangun tidur."
Mendengar perbincangan tersebut, Lusia mendongakkan kepalanya ke dinding, melihat gerak jarum jam. Barulah, ekspresi terkejut di wajahnya.
"Apakah kita terlambat?" Lusia bertanya tanpa melihat siapapun.
Alea diam-diam tersenyum memperhatikan Lusia, Nona muda Mu yang sangat jarang berbicara, Nona muda itu hanya sering menyebutkan dua kata dalam kesehariannya, 'Ya' dan 'Tidak'.
'Ternyata pernikahan bisa mengubah Nona muda, tidak menjadi orang pelit berkata.Dia menyebutkan tiga kata.'
"Sangat terlambat!" jawab Helena terdengar ketus yang di tahannya.
Lusia duduk di depan meja rias, "Alea, ambilkan pengering rambut untukku."
'Dia menyebutkan Lima kata,' Alea girang menghitung dalam hatinya.
Alea bergegas mengambil pengering rambut, dan mulai membantu mengeringkan rambut Nona muda majikannya.
Helena dan asistennya mulai membuka cover pack gaun yang telah di pilih Erald pada hari itu, gaun yang sangat sederhana, jauh dari kemewahan yang akan melingkari tubuh Lusia.
Lalu Helena meminta asisten membuka cover pack gaun yang terlihat lebih mewah, indah, dan akan sangat menarik jika Lusia mengenakannya, kemewahan gaun akan membuat dia cemerlang berjalan di atas karpet merah yang menyambut kehadirannya menuju mempelai pria yang menunggunya di altar.
"Nona apakah kau yakin akan menggunakan gaun? Gaun ini bukan mewakili anda. Aku membawa gaun terbaru."
Rika, asisten Helena maju memamerkan gaun terbaru. Lusia mengedipkan matanya, gaunya sangat indah di dalam bola matanya yang membingkai ketat keindahan gaun itu. Namun kalimat Ethan terpantri kembali dalam benaknya.
"Aku sangat menyukai kesederhanaan, jauh dari kemewahan."
Teringat akan ucapan Ethan. Lusia segera menggelengkan kepalanya, dan mengulangi perkataan yang sama, meluncur dari bibir tipisnya.
"Aku sangat menyukai kesederhanaan, jauh dari kemewahan, aku memilih gaun pertama," tolak Lusia yang segera menerima bantuan mengenakan gaun putih itu melingkar ketat di tubuhnya.
Alea tertegun sebentar akan kalimat yang di ucapkan Nona majikannya, sangat bijak berkata.
'Dia berkata sebelas kata yang di gabungkan menjadi satu kalimat bijak,' Alea menghitung kembali dalam hatinya, dan suara dering telepon membuyarkan pikirannya.
'Bepp—Bepp—Bepp'
Sementara Alea sibuk menjawab telepon dan berkata, "Nona baru bangun, Tuan. Dia baru saja akan berdandan."
"Ini sudah sangat terlambat," Pria paruh baya di seberang sana terdengar gelisah bercampur tegang dalam suaranya. Dia pikir telah terjadi sesuatu pada Lusia Mu, dan setiap detik jam terdengar menakutkan bagi David yang duduk gelisah menunggu mobil pengantin yang mengantarkan Mempelai wanita.
"Berikan padaku teleponnya!" Lusia meminta pada Alea. Alea segera menyerahkan telepon selulernya, dan menghitung kata kembali dalam hatinya, 'Dia berkata tiga kata yang menjadi satu kalimat perintah.'
"Menunggu sebentar lagi, aku pasti menjalani pernikahan ini," jawab Lusia sembari menatap pantulan di dirinya di cermin.
Mematikan telepon. Para perias segera maju mendekat, namun Lusia menolak. Dia menyerahkan teleponnya pada Alea.
'Dia berkata delapan kata menjadi satu kalimat menyakinkan seseorang,' hitung Alea dalam benaknya dan mengambil telepon yang di berikan padanya.
"Gina Han, Make Up Artist Pro yang akan siap mendadani mu," promo Helena mendorong seorang pria berpenampilan wanita.
Lusia tidak melirik sedikitpun.
"Aku tidak perlu berdandan, cukup berikan aku liptint dan concealer untuk menyamarkan mataku yang masih sedikit terlihat bengkak," pinta Lusia.
'Kalimat ini sangat panjang, aku terlambat menghitungnya,' girang Alea dalam hatinya, namun terus berdiri mengamati dalam diam.
Gin Han, Penata rias terlihat ragu namun segera memberikan apa yang diminta oleh Lusia, lalu membantu mengenakan tudung kepala mempelai wanita.
'Kau suka sederhana, maka aku harus terlihat sangat sederhana.' Lusia membantin.
Helena saling melirik dengan tim perias miliknya, dan hanya mendengus dalam hatinya, sembari tangannya memasukkan kembali perkakas make up miliknya.
Semua orang dalam ruangan tampak ingin berkomentar. Seorang mempelai wanita seharusnya berdandan cantik bak ratu semalam. Jika ingin terlihat riasan sederhana, bukan hanya menggunakan liptint dan concealer. Hal ini sama saja, di sebut Pengantin tidak butuh Helena Ming. Helena merasa kesal dalam hatinya, namun tidak berani berbicara. Uang yang banyak telah menutup jasanya. Lusia Mu adalah pelanggan VIP, bagaimana dia berani protes lagi.
Pengantin Wanita tanpa riasan.
'Mempelai wanita yang sangat aneh. Semua wanita akan meminta di dandan menjadi ratu semalam. Dia— malah menolak dirias.' Helena menggelengkan kepala, memberi isyarat pada Gina Han untuk segera mundur diri.
Dalam satu menit, Lusia selesai mengoleskan concealer dan liptint. Dia menatap dirinya pada pantulan cermin.
'Sangat sederhana, namun juga cantik.'
Helena berjalan ke sisi Lusia, membujuk kembali, "Tanpa berdandan, Nona muda Mu sangat cantik, bagaimana jika kita membuat le—"
Lusia mengangkat telapak tangan, sebagai isyarat dia menolak saran Helena.
......................
Bersambung ....
Jangan Lupa Like, Vote, dan coment 😍
Ups !!!
Ada nama Alea 😂 setelah nama Dva dan Elina 😝 Maaf yah nama-nama kalian di pakai jadi beranda lapak dulu 😁