Terbiasa hidup dijaga oleh pengawal pribadinya yang tampan, membuat Ellena diam-diam menaruh hati pada pria itu. Namanya Marco, dan usianya jauh lebih matang dari Ellena.
Saat tahu pengawalnya sudah dijodohkan, Ellena menyusun rencana licik untuk menjebak Marco agar menikahinya. Akankah Ellena berhasil menjerat Marco dengan tali pernikahan impiannya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itta Haruka07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MSP # Bab 30
Dada Ellena berdebar keras saat mendengar suara ayah Marco yang sedang bertanya pada ibu mertuanya itu. Wanita itu sangat tidak siap menghadapi mertuanya, karena itulah Sheren mengembalikan ponsel itu pada Marco.
“Kenapa?” tanya Marco dengan ekspresi bingung. Dia melihat wajah pucat Ellena yang sedang ketakutan tanpa tahu sebabanya. “Apa Ibu mengatakan sesuatu yang membuatmu takut?”
Ellena menggeleng pelan, lalu menundukkan kepala dengan cemas.
Marco langsung mendengarkan suara telepon di ponselnya. Dia langsung bisa menebak kenapa istrinya itu ketakutan.
“Ada ayah ya?” tanya Marco yang langsung dijawab anggukan oleh istrinya itu.
“Halo, Marco kamu di mana?” Suara ayahnya itu terdengar jelas di telinga Marco. Lalu, laki-laki itu menyalakan loudspeaker supaya Ellena juga bisa mendengarnya.
“Aku masih di London, Ayah. Istriku baru saja keguguran,” jawab Marco sembari melirik sang istri yang sama sekali tidak berani bersuara.
Hening. Sepertinya ayah Marco itu masih mencerna baik-baik apa yang putranya sampaikan.
“Istri kamu kenapa bisa keguguran?” tanya ayah Marco dengan lirih.
Kemudian terdengar suara ibu yang terkejut mendengar ucapan suaminya itu. Pasti mereka juga merasa sedih karena kehilangan calon cucu mereka.
“Belum rejekinya aja, Yah.”
Marco tidak mau membuat Ellena semakin sedih dengan mengungkit lagi penyebab keguguran yang dialaminya.
“Yang penting istri kamu masih selamat.”
Marco sampai menghentikan mobil agar bisa mendengar dengan jelas apa yang ayahnya itu katakan. Rasanya, seperti sebuah keajaiban yang tiba-tiba menghampiri.
“Ayah bilang apa?” tanya Marco untuk memastikan bahwa dia tidak salah dengar.
Ellena mengerutkan kening saat mendengar pertanyaan suaminya itu. Dia takut jika sang mertua kembali menentang hubungan mereka. Namun, melihat lengkungan senyum di wajah Marco, Ellena jadi ragu jika mertuanya masih se-arogan itu.
“Kalian menikah diam-diam. Seharusnya kalian menikah di depan ayah dan ibu. Sepulang dari sana nanti, kalian harus meminta restu kami,” kata ayah Marco yang menegaskan bahwa laki-laki itu akan merestui pernikahan Marco dan Ellena.
Tentu saja Marco merasa sangat bahagia karena sanga ayah sepertinya sudah membuka hati untuk menerima Ellena.
“Jadi, ayah sudah merestui kami?” tanya Marco dengan senyum yang mengembang sempurna.
“Asalkan kalian datang dengan baik-baik, ayah akan pertimbangkan,” jawab ayah Marco.
“Iya Ayah, kami akan segera pulang.”
Marco dan ayahnya menutup telepon dengan kabar yang cukup membahagiakan. Sementara itu, Ellena terlihat bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi pada suaminya saat ini.
“Ada apa, Kak? Apa terjadi sesuatu?” tanya Ellena dengan tidak sabar. Dia ingin segera tahu apa yang membuat suaminya itu tersenyum bahagia, sedangkan dia sendiri belum tahu bahwa Naina, mantan tunangan suaminya kini sudah meninggal.
“El, setelah ini kita akan pulang dan menemui orang tuaku. Aku sangat berharap mereka akan merestui kita,” jawab Marco dengan sangat bahagia. Laki-laki itu lalu lanjut mengemudi untuk bisa sampai ke London Eye yang ingin Ellena datangangi.
Istri Marco masih kepikiran dengan Naina. Dia masih belum tahu jika wanita itu sudah meninggal.
Tidak berapa lama, mobil akhirnya berhenti. Ellena dan Marco segera turun dan berjalan santai sebelum menaiki menara tinggi itu.
“Ellena, maaf untuk yang waktu itu!” kata Marco sembari meraih tangan Ellena.
Saat ini mereka berada di tepi sungai Thames dan menatap aliran sungai yang tenang. Ada beberapa kapal yang sedang melintas di sungai itu.
“Aku tahu Kak Marco nggak sadar saat bentak aku, jadi aku sudah maafin itu kok.”
Marco mengulas senyum dan akhirnya memeluk istrinya itu lalu menggerakkan tubuhnya supaya menghadap ke sungai. “Aku ingin memulai hidup yang bahagia sama kamu,” kata Marco sebelum akhirnya mendaratkan ciuman di pipi kanan Ellena.
“Bagaimana dengan Naina?”
“Naina sudah meninggal, El. Mungkin ini jalan yang terbaik untuk kita semua. Dia sudah tenang di alam yang berbeda.”
Jawaban yang keluar dari bibir Marco itu membuat Ellena terkejut bukan main. Benarkah Naina meninggal secepat itu? Apakah dia boleh bahagia karena kematian wanita itu?
**
Kembang kopinya jangan lupa.. Maaf kemarin kemarin nggak update, aku lagi sakit pinggang gaess 🥲🥲
sana sama Otor aja... pasti mau dia...